مشاركة

Bab 2

مؤلف: VAD_27
last update تاريخ النشر: 2026-07-28 19:30:52

Evelyn menarik selimut menutupi leher, memaksa matanya terpejam namun nihil. Dia sudah berguling ke kanan dan kiri tapi tetap saja kantuk tidak datang.

Evelyn menghela napas kasar, dia jadi kesal sendiri. Perkataan pria gila di Cafe terus menghantui otaknya.

Dirinya adalah istri dari suami tujuh Raja iblis?

"Pftt, gila." Tawa Evelyn menghambur.

Bahkan di hidupnya, Evelyn sudah melupakan tentang indahnya dunia dongeng.

Karena dongeng tidak nyata.

Kehidupannya yang pahit dan perih tidak sama dengan dongeng yang akhirnya bahagia.

Evelyn jadi berdecak kesal setelah membandingkan hidupnya, darahnya mendidih karena takdirnya jelek.

Dia menjadi gerah dan berkeringat, Evelyn jadi membuka kaos dan celananya, menyisakan tanktop ungu dan hot pants putih yang membentuk lekuk tubuhnya.

Pada akhirnya Evelyn menendang selimutnya. Mendadak kantuknya muncul, matanya berat dan Evelyn tertidur begitu saja.

Seperti disihir.

Di tengah tidurnya, Evelyn bergidik dingin, namun dia merasakan hawa panas dari sebelahnya.

Evelyn jadi mendekati hawa panas itu dan memeluknya nyaman. Seingatnya dia tidak punya guling, tapi Evelyn tidak peduli sekarang.

Selagi nyaman, dia akan terus memeluknya sambil tidur.

"Tapi sepertinya enak juga kalau punya suami raja iblis. Artinya aku akan jadi ratu, kan? Ekonomiku pasti mudah bukan? Tidak sesulit sekarang." Bisik Evelyn mengigau.

Sosok hangat yang dipeluk Evelyn akhirnya bergerak, dia membenarkan anak rambut yang menutupi wajahnya sebelum berbisik lembut.

"Kenapa ragu, Evelyn? Kenapa kau segan sekali memimpikan kehidupan yang bahagia seperti dongeng? Padahal dulu kau sangat menyukai dongeng. Itu sebabnya kau menyukai kami."

***

Mata Evelyn mengerjap mendengar alarm yang berisik. Dia harus bangun untuk kerja tapi dia malas bangun.

"Kenapa waktu cepat sekali. Rasanya baru tidur satu jam." Bisik Evelyn sambil menduselkan hidung ke sosok hangat yang dia kira guling.

"Tidur lagi saja sampai kau puas." Jawab sebuah suara dingin.

"Tapi aku harus kerja. Jam berapa sekarang?" Tanya Evelyn masih memejamkan mata.

"Pukul enam. Kau tidur sangat lama. Apa kau memang sepemalas ini? Bahkan pelayan istana bangun dua jam lebih awal."

"Hah?!"

Sontak Evelyn terkejut setengah mati setelah sadar sesuatu ... Suara yang menjawabnya bukan mimpi!

Dia membuka matanya paksa, mulutnya menganga lebar saat guling yang dia peluk ternyata lelaki berbadan kekar dan liat, serta suhu tubuhnya panas.

Bukan hanya itu!

Kedua tangan memeluk perutnya erat dari belakang, Evelyn bahkan bisa merasakan punggungnya dan dada orang itu menempel.

Belum lagi kedua betis Evelyn dipeluk erat seperti guling, Evelyn bisa merasakan hembusan napas panas di kulit betisnya yang polos.

Sampai sebelah tangan yang awalnya memeluk perut bergerak lebih ke atas dan menyentuh dadanya yang hanya berlapis tanktop.

"ARGHHH MESUM!" Evelyn menjerit kencang dan bangun dari kasur.

Jantungnya hampir melompat saat mendapati banyak pria asing di dalam kamarnya.

Tiga di atas kasur, satunya duduk sambil memejamkan mata di kursi sudut kamar.

"ARGHHH PENCURI!" Jerit Evelyn berlari ke arah pintu kamar dengan napas memburu.

Brak!

Mata Evelyn melotot saat pintu kamarnya tertutup sendiri tepat di depan wajahnnya.

"Hah? Kenapa bisa?" Tukas Evelyn panik sambil menarik gagang pintu yang terkunci.

Apa dirinya di kunci dari luar  oleh komplotan orang-orang ini?

"HEI BUKA! TANTE! KAK KANIA! APA INI CANDAAN KALIAN?! INI TIDAK LUCU SAMA SEKALI!" Teriak Evelyn sambil menggedor pintu.

Sampai Evelyn tersentak saat menyadari dua saudaranya sedang tidak ada di rumah.

Artinya rumahnya benar-benar kemalingan!

"Tolong! Tolong ak—,"

"Berisik."

Badan Evelyn sontak mematung saat mendengar teguran bernada dingin yang menusuk tulangnya. Ekor mata Evelyn melirik ke samping, tepatnya pada lelaki yang duduk di kursi sambil memejamkan matanya.

Evelyn jadi membalikan badan, punggungnya dia banting ke pintu dengan satu tangan mencengkram gagang pintu—siapa tahu akan terbuka nanti.

Sedangkan satu tangan lagi merampas ponsel dari meja samping dan mengarahkannya ke  tiga lelaki di ranjangnya bagai pistol.

"Kalian siapa? Bagaimana bisa masuk ke rumah ini?" Tanya Evelyn bergetar.

Seingatnya semua pintu sudah dia kunci, apalagi jendela memakai tralis yang mustahil maling bisa masuk.

Evelyn jadi melirik jendela kamarnya, tralis dan gordennya masih disana, seperti tidak tersentuh sama sekali.

Lantas bagaimana keempat pria mencurigakan ini masuk ke kamarnya?

"Wow, kau sampai pucat. Tenanglah."

Evelyn sontak mengarahkan ponselnya pada pria barusan yang berbicara.

Pria berambut cokelat kemerahan bergaya buz cut, badannya besar, kekar dan liat serta berkulit cokelat tanpa baju atasan, hanya memakai celana kolor pendek navy.

Mata Evelyn menyipit dengan kening berkerut, "kau?! Pria gila yang menghabiskan minuman matchaku di Cafe kemarin?!"

"Iya dan pria gila ini yang kau peluk erat sepanjang malam tadi." Jawabnya tertawa meledek sontak membuat pipi Evelyn memerah.

Evelyn jadi mengguncang gagang pintu dengan brutal tapi masih terkunci juga.

"JAWAB AKU! SIAPA KALIAN? KENAPA ADA DI KAMARKU? PENCURI? PEMERKOSA? PEMBUNUH BAYARAN?"

"Kami bukan salah satu dari yang kau sebutkan, Evelyn." Ujar pria yang tadi memeluk perutnya.

Evelyn sontak memeluk dadanya sendiri dengan mata melotot garang.

"Bukan apanya! Kau tadi menyentuh dadaku sembarangan, dasar mesum!" Jerit Evelyn kesal.

"Aku tidak bermaksud melakukannya, kupikir kau guling yang empuk." Jawab pria berambut merah sambil mengedikan bahu santai.

"Berhentilah berteriak, Evelyn. Kami tidak akan memakanmu. Justru aku yang takut, kau akan menerjangku duluan karena terpikat wajah tampanku." Ujar pria berambut hijau tua gelap yang tadi memeluk betisnya.

Evelyn sontak menganga sambil mendengus mendengarnya.

Evelyn tersentak saat pintunya bisa dibuka, sontak dia melarikan diri sambil mengetik cepat di ponsel.

"Aku akan menelpon polisi!" Tukas Evelyn sebelum,

Dugh.

Ponselnya jatuh ke lantai dengan Evelyn yang menganga lebar saat melihat ada tiga pria asing lain di ruang tamunya.

Pria berambut biru muda keriting panjang sedang duduk di kursi tamu, pria berambut blonde sedang berdiri di depan jendela sambil mengawasi sedangkan pria berambut putih tengah duduk di meja makan sambil melambai santai pada Evelyn.

Sekali lagi,

ADA TUJUH PRIA ASING DI DALAM RUMAHNYA?!

Evelyn hampir gila dibuatnya.

Sebenarnya siapa mereka semua?

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Istri 7 Raja Iblis   Bab 25

    Evelyn sontak bangkit berdiri dan menjauh, napasnya memburu dengan mata bergetar ketakutan. Keringat dingin bercucuran saat kilasan mimpi baru itu muncul lagi menguasai rasa takutnya. "Kau kenapa?" Tanya Lucian bingung. Tangannya hendak menggapai bahu Evelyn, ingin menenangkan namun dia tersentak saat Evelyn menepisnya dengan air mata turun membasahi pipinya. Mata hitam gelap yang tajam itu beradu dengan mata hazel terang yang teduh. Angin menerbangkan bunga-bunga beserta helaian rambut keduanya. "Ada yang salah dengan ucapanku?" Tanya Lucian menurunkan intonasi. Evelyn jadi meneguk ludah sebelum menggeleng pelan. Melihat Evelyn yang tidak sewaspada barusan membuat Lucian berani mendekat, dia menarik pakaian Evelyn dan menggunakannya untuk menghapus air matanya. "Ck, memangnya air mataku kotor sampai kau jijik menyentuhnya." Omel Evelyn kesal, ini sudah kedua kalin

  • Istri 7 Raja Iblis   Bab 24

    "Apa maksudmu? Rendi itu manusia ... Dimana kalian pernah bertemu?" Tanya Evelyn bingung. Evelyn jadi memutar otak sebelum terkejut, melotot menatap Lucian. "Jangan bilang ... Rendi bukan manusia?" Lucian menggeleng sambil menghela napas panjang, "imajinasimu tinggi sekali." "Bukan? Lalu dimana kau melihatnya? Dunia ini?" Tanya Evelyn menghampiri Lucian yang duduk di atas rumput pendek. "Tentu saja dunia manusia. Kau pikir aku tidak pernah pergi ke sana di masa lalu?" Tanya Lucian. Tangannya menempel ke atas rumput, ranting tipis dan kuat mencuat muncul dari sana—dahan itu saling melilit sebelum melengkung membentuk bulat. Evelyn ikut duduk di depannya, "dulu kau ke dunia manusia untuk bertemu siapa?" Lucian yang tengah memetik bunga di sampingnya jadi terhenti, dia menatap Evelyn sebelum kilasan masa lalu muncul di otaknya. ~~~ "Hah?

  • Istri 7 Raja Iblis   Bab 23

    Rendi membanting pintu, menarik dasi yang terasa mencekik dan bergegas menuju lantai tiga menggunakan lift. Dia membuka dua kancing teratas kemeja dan pergelangan tangan. Keluar dari lift, Rendi masuk ke dalam satu-satunya ruangan di sana. "Hai, honey." Sapa wanita rambut pendek sebahu. Rendi langsung menenggak wine yang ada di meja kerja si wanita. "Ada masalah?" Napas Rendi memburu sebelum berdecak. "Aku ketahuan, Virda. Evelyn tahu!" Tukas Rendi gusar. "Apa dia tahu pacarmu itu aku?" Tanya Virda, nada bicaranya tenang. Seolah tidak terganggu. Rendi menggeleng, Virda menarik lengannya lembut dengan senyuman sensual yang menggoda, membuat Rendi mendekat dan duduk di kursi kerjanya. "Lalu apa yang dia tahu?" Tanya Virda duduk di pangkuan Rendi. Tangannya bergerak memijat bahu Rendi yang tegang. Berusaha membuatnya tenang

  • Istri 7 Raja Iblis   Bab 22

    "Aku tidak bisa menggunakannya." Ujar Evelyn menutup kopernya. Lucian berdecak gemas, "jangan keras kepala. Jika kau tidak mau, aku akan merusak kertas ini sekarang juga dengan kekuatanku." Lucian berdecih saat Evelyn lekas memeluk kopernya erat. "Dasar munafik." Sungut Lucian menggeleng pelan. Evelyn hanya memajukan bibir bawahnya, "sayang jika dirusak. Lagipula ini sudah jelas untukku, kan. Kau tidak mengerti, aku hanya terkejut. Selama bekerja, belum pernah aku memegang uang dua digit." "Tentu saja aku tidak mengerti. Karena aku adalah Raja yang terbiasa bergelimang harta." Ujar Lucian menyugar rambutnya sombong membuat Evelyn mengumpat dalam hati. "Dan kau adalah istri Raja. Jangan bersikap seperti rakyat jelata, sayang." Tukas Lucian. "Tidak masalah meskipun aku belum sepenuhnya mengakui kalian sebagai suamiku?" Evelyn memastikan.

  • Istri 7 Raja Iblis   Bab 21

    Evelyn melirik Rendi yang fokus menyetir, ia menoleh ke kursi belakang dimana Lucian duduk. Pria hijau itu menaikan alisnya sok tampan yang dibalas wajah garang Evelyn. Tidak tahu apa yang Lucian lakukan, tapi Rendi tidak bisa melihat keberadaannya. Evelyn tidak begitu mengerti kenapa, tapi katanya mahluk supranatural seperti Lucian sulit di rasakan apalagi dilihat jelas oleh manusia. Kecuali manusia yang punya kepekaan tinggi terhadap hal supranatural. Sedangkan kondisi Evelyn adalah pengecualian karena dia terikat hubungan suami-istri yang membuatnya bisa melihat dan merasakan kehadiran mereka dengan jelas. Meskipun ada bagian dari diri Evelyn yang tidak mengakui hubungan suami-istri itu, tapi dia tidak banyak bicara. "Eh," gumam Rendi dan Evelyn waktu jari mereka bersentuhan saat akan menekan layar. "Kau ingin memutar lagu?" Tanya Rendi mempersilahkan.

  • Istri 7 Raja Iblis   Bab 20

    "Kau terlihat cantik sekali, Evelyn." Ujar Rendi menyampirkan anak rambut ke belakang telinga. Evelyn jadi tersenyum dengan wajah memerah sebelum menyuapinya kue. Keduanya duduk di atas karpet polkadot merah putih yang di gelar di pinggir danau. "Pencarian rumahmu berjalan lancar?" Tanya Rendi duduk santai, menikmati piknik mereka. "Bagaimana jika aku tinggal di rumahmu saja? Bukankah itu lebih mudah?" Tanya Evelyn. "Eh?" Tanya Rendi terkejut sebelum berdehem. "Tidak bisa, Evelyn. Kita kan belum menikah, nanti tetangga bertanggapan jelek. Namamu jadi buruk." "Lalu kenapa kau tidak mengajak aku menikah? Kita sudah berpacaran tiga tahun tapi kau sekalipun tidak pernah membicarakan tentang pernikahan." Tukas Evelyn membuat Rendi gelagapan. "Karirku masih stuck, aku juga masih punya cicilan mobil, kenapa harus buru-buru?" Tanya Rendi. Evelyn mengerut dengan raut wajah menurun, "meman

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status