LOGIN"Berapa semuanya, Pak?" tanya Alena sembari menyodorkan beberapa lembar uang lima puluh ribuan kepada tukang ledeng tetangga yang baru saja selesai memperbaiki keran dapurnya.
"Sudah pas, Bu Alena. Lain kali kalau ada apa-apa, panggil saja saya," jawab pria paruh baya itu ramah.
Alena tersenyum tipis, mengantar pria itu sampai ke depan pagar. Setelah pintu tertutup, ia kembali ke dapur, menatap lantai yang kini s
Udara pagi buta di Bandara Kualanamu terasa dingin, namun ada api kecil yang hangat di dada Alena. Ia menggendong Arkananta yang masih terlelap dalam balutan selimut tebal, sementara tangan kanannya menarik koper besar berisi seluruh sisa hidupnya di Medan. Langkahnya mantap melewati gerbang keberangkatan. Di dalam pesawat, Alena menatap awan gelap dari balik jendela, membayangkan reaksi Aziz. Apakah saat ia tiba nanti suaminya itu sedang menyesap kopi dengan wajah kuyu? Ataukah Zizi sedang menggerutu karena harus bangun pagi untuk ujian? Alena tersenyum sendiri. Ini adalah balas dendam paling manis untuk kesabaran Aziz selama sebulan terakhir. Ia sengaja mematikan notifikasi ponselnya, ingin benar-benar memutus koneksi hingga ia menapakkan kaki di lantai marmer rumah mereka di Jakarta. Dua jam kemudian, hawa panas dan kebisingan Jakarta menyambutnya di Soekarno-Hatta. Alena memesan taksi online menuju kawasan perumahan elit tempat rumah
"Aku enggak maksa, Sayang. Aku cuma mau kamu pulang dengan hati yang tenang tanpa paksaan dari siapa pun, ya?" Suara bariton Aziz di seberang telepon terdengar begitu lembut, namun bergetar oleh kerinduan yang ditahannya sekuat tenaga. Alena terdiam, jemarinya mengusap pinggiran layar ponsel yang terasa hangat. Di kamar yang tenang di Medan itu, ia bisa merasakan beban berat yang dipikul suaminya di Jakarta menghadapi rumah yang sepi, menjaga Zizi yang kian kritis, dan mengelola perusahaan sendirian.Alena mengangguk, seolah Aziz bisa melihatnya melalui gelombang sinyal. "Iya, Mas. Terima kasih sudah mengerti." Setelah panggilan terputus, Alena tidak langsung memejamkan mata. Ia duduk bersandar di kepala ranjang, menatap Arkananta yang terlelap dalam ayunan.
Matahari pagi di Medan menyapa dengan kehangatan yang pas, tidak terlalu terik, namun cukup untuk mengeringkan deretan pakaian bayi yang tergantung rapi di jemuran belakang rumah. Alena bergerak dengan cekatan, tangan kirinya menyangga Arkananta Aziz Aksara yang tertidur pulas dalam dekapan jarik, sementara tangan kanannya mengibaskan baju-baju mungil berwarna pastel sebelum menjepitnya di tali jemuran. Ada kepuasan tersendiri yang membuncah di dada Alena. Di sini, di rumah masa kecilnya, ia merasa telah menemukan kembali kedaulatan atas dirinya sendiri. Ia bangga karena mampu mengurus Arka tanpa bantuan perawat berseragam atau pengasuh mewah yang biasanya disiapkan Aziz di Jakarta. Suara denting sudit yang beradu dengan wajan dari arah dapur, tempat Bu Ratih sedang menyiapkan sarapan menjadi musik latar yang menenangkan. Hidup terasa begitu stabil, sempurna, dan jauh dari hiruk-pikuk drama ibu kota yang sempat membuatnya nyaris gila."Arka sehat se
Rumah besar di kawasan elit Jakarta itu menyambut Aziz dengan keheningan yang menyesakkan. Begitu pintu jati ganda itu terbuka, aroma pengharum ruangan yang dingin dan steril menyergap indranya. Sungguh sangat kontras dengan aroma minyak telon dan sisa bau bedak bayi yang tertinggal di penciumannya saat di Medan. Langkah kakinya yang mengenakan pantofel mengema di atas lantai marmer, menciptakan bunyi yang terasa asing setelah seminggu ia terbiasa berjalan berjinjit di atas lantai kayu rumah Alena agar tidak membangunkan sang putra."Papa!" Pekikan nyaring itu memecah sunyi. Zizi berlari menuruni anak tangga dengan wajah berseri-seri. Namun, langkah gadis kecil itu melambat, lalu terhenti tepat tiga meter di depan Aziz. Matanya yang bulat menyisir ke belakang tubuh ayahnya, mencari sosok yang sangat ia rindukan."Mana Mama Alena, Pa? Dek Arka... mana?" tanya Zizi, suaranya yang semula ceria mendadak menciut. Aziz merentangkan tangan, namun Zizi berg
Perjalanan Aziz di dalam taksi menuju Bandara Kualanamu terasa jauh lebih lambat dari biasanya. Pikirannya tertinggal di kamar sempit yang masih menyisakan aroma minyak telon dan kehangatan pelukan Alena. Ia menyandarkan kepala pada kaca jendela, menatap deretan ruko dan pohon sawit yang berlari menjauh, memikirkan bagaimana ia akan menjelaskan pada Zizi bahwa Mama sambungnya dan Arka masih memilih untuk tinggal di Medan. Sementara itu, di ambang pintu rumah, Alena masih berdiri mematung meski debu dari ban taksi Aziz sudah lama mengendap. Ia mengeratkan pelukannya pada tubuh sendiri, merasakan kekosongan yang mendadak menyerang rumah itu. Seminggu penuh didampingi Aziz bergadang, berbagi tawa di sela kantuk yang hebat, dan melihat sisi paling manusiawi dari suaminya, membuat keputusan untuk tetap di Medan terasa sedikit lebih berat dari yang i
Seminggu setelah perayaan akikah yang khidmat itu, rutinitas di rumah kecil Medan berubah total. Malam-malam yang biasanya tenang kini diisi dengan simfoni tangis bayi yang menuntut perhatian setiap dua jam sekali. Aziz, sang CEO yang biasanya terbiasa dengan jadwal rapat yang presisi, kini menjelma menjadi sosok Papa Siaga yang jauh lebih tangkas. Malam itu, jam dinding sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Arkananta sedang berada dalam fase begadang, matanya yang bulat menatap langit-langit kamar dengan sisa-sisa energi yang tak kunjung habis. Alena tampak terkantuk-kantuk di samping ayunan, tangannya sesekali mengayun pelan namun kepalanya sudah berkali-kali tertunduk lemas."Tidurlah, Sayang. Biar aku yang jaga Arka," bisik Aziz sembari mengambil alih posisi A







