LOGIN
“Apa? Aku harus nikah sama dia?!”
Alena hampir menjatuhkan ponselnya. Suara di seberang sana terlalu mengejutkan untuk dicerna begitu saja. Jalanan di sekitar Medan sore itu penuh kendaraan berlalu-lalang, tetapi seakan lenyap dari pandangannya. Yang tersisa hanya gemuruh di telinga, berdering bersama suara sang ibu yang menggelegar di ponsel.
“Kau dengar ‘kan? Udah diputuskan, Na. Aziz itu orang baik. Keluarga kita berhutang budi sama mereka!” Ibunya terdengar tegas, bahkan nyaris tak memberi ruang untuk perlawanan. Sore yang cerah mendadak berubah menjadi kelabu bagi Alena.
Perempuan berusia 21 tahun itu mengerjapkan mata, menatap sepatu flat yang dipakainya, seolah berharap jawaban muncul dari sana. “Tapi... Tapi, Mak. Aku masih kuliah. Gimana aku bisa nikah? Lagi pula, aku enggak kenal sama dia!” ucapnya dengan nada putus asa. Suara lalu lintas yang bising mendadak menjadi latar yang sunyi dibandingkan ketakutan yang mendera di hatinya.
Ibunya mendesah di seberang, seperti berusaha menyabarkan anak kecil yang keras kepala. “Kau ingat, Na. Kita ini bukan orang kaya. Kalau bukan karena keluarga Aziz, kau enggak bisa sekolah sampai sekarang. Ini cara terbaik buat kita semua.”
Alena mengusap wajahnya, merasakan keringat dingin mulai mengalir.
Om Aziz? Pria galak yang pernah kudengar dari bisik-bisik tetangga? Duda 38 tahun dengan dua anak remaja? Itu sama sekali enggak masuk akal!
Bagaimana mungkin hidupnya yang tenang di bangku kuliah tiba-tiba berbalik 180 derajat menjadi kisah pernikahan terpaksa dengan seorang duda?
“Mak... Om Aziz itu galak ‘kan? Aku pernah dengar orang ngomongin soal dia,” suara Alena mulai bergetar. Ketakutannya semakin terasa nyata.
Terdengar tawa kecil di ujung telepon, bukan tawa menyenangkan, tapi seperti ada kepahitan di baliknya. “Orang-orang itu suka gosip, kau juga tahu itu. Mereka selalu cari-cari kesalahan. Aziz galak? Mungkin dia tegas, tapi itu wajar untuk seorang yang memimpin banyak orang. Jangan terlalu percaya omongan orang.”
Alena mendesah panjang, mencoba menata pikirannya. “Tapi, Mak… Aku belum siap. Masih banyak yang pengen aku capai. Aku masih semester enam. Mau gimana masa depanku?”
“Na, dengerin mamak. Hidup ini enggak selalu berjalan seperti yang kita mau. Kau pikir kita ada di posisi buat milih sekarang?” Jawaban ibunya semakin menekan perasaan Alena. “Keluarga Aziz udah bantu kita bertahun-tahun. Dan Aziz… dia pria yang tampan, kaya, dan siap membangun rumah tangga lagi. Kau akan nyaman hidup bersamanya.”
“Mak, ini bukan cuma soal nyaman! Aku enggak cinta sama dia. Lagian, tampan dan kaya enggak jamin kebahagiaan. Aku enggak kenal dia sama sekali!” Alena mencoba bertahan. Suara di tenggorokannya mulai terdengar serak.
“Apa kau pikir cinta itu segalanya? Eggak semua pernikahan diawali cinta, Na. Kadang, cinta itu datang belakangan, setelah kau mengenalnya lebih jauh,” ujar ibunya, kali ini dengan nada yang lebih lembut, mencoba menyisipkan pengertian.
Alena terduduk di bangku taman kecil di dekat jalan, memandangi langit yang mulai memerah. Seolah seluruh beban dunia menimpa bahunya sekaligus. Pernikahan tanpa cinta? Bukan itu yang ia bayangkan. Tetapi di satu sisi, apa pilihan yang dia punya?
Di saat pikiran masih berkecamuk, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk, menambah kerumitan hari itu.
[Besok sore kalian harus ketemuan. Aziz mau bicara langsung.]
Alena terpaku menatap layar ponsel yang barusan ia genggam. Jantungnya seakan berhenti berdetak. Besok? Secepat itu? Dadanya semakin sesak. Pertemuan langsung dengan Om Aziz? Pria yang selama ini hanya dia kenal sebagai sosok bayangan. Seorang pria yang ditakuti orang-orang, dengan dua anak yang kabarnya tidak mudah diatur. Bagaimana mungkin pertemuan ini bisa berakhir baik?
Tak lama, pesan lain menyusul.
[Jangan terlambat ya, Na. Aziz enggak suka nunggu.]
Alena menggigit bibir bawahnya. Seluruh tubuhnya merinding. Seperti ada beban yang lebih besar menghampiri dan dia tak bisa menolaknya. Ini benar-benar nyata? Aku harus menikah dengan pria yang bahkan belum pernah aku temui?
Dia mengusap kening, merasakan aliran darah yang tiba-tiba berdenyut lebih kencang. Besok dia akan bertemu pria yang akan jadi suaminya. Suami yang tak pernah dia harapkan. Dan lebih buruk lagi, dia tak tahu seperti apa Aziz di balik semua cerita yang beredar.
Alena menatap jauh ke depan, tetapi pikirannya penuh dengan kekhawatiran. Apa yang akan dia katakan pada Aziz? Apa yang harus dia lakukan?
Besok, segalanya akan berubah. Alena tahu, tidak ada jalan untuk mundur. Dia hanya bisa berharap yang terbaik, meski hatinya bergetar penuh keraguan.
Malam saat Alena mencoba tidur, bayangan pertemuan esok hari terus menghantuinya. Kata-kata ibunya berputar di kepala. Tentang budi, tentang pilihan yang tak ada. Tetapi yang paling menghantui adalah satu pertanyaan yang tak kunjung hilang dari pikirannya: Kenapa Om Aziz mau nikah denganku?
Besok, jawaban itu akan datang. Namun, apakah Alena siap mendengarnya?
Keesokan harinya. Pagi itu datang tanpa hujan, tapi udara terasa lebih berat dari biasanya.Aziz bangun lebih dulu. Bukan karena alarm, melainkan karena kebiasaan lama yang tak pernah benar-benar hilang. Ia bangun sebelum semua orang, duduk di tepi ranjang, lalu menatap kosong ke lantai. Ia menghela napas panjang, seolah sedang menghitung sesuatu yang tak kasatmata. Angka. Waktu. Kemungkinan. Di sampingnya, Alena masih terlelap dengan satu tangan memeluk bantal, wajahnya tampak damai. Aziz sempat menatap istrinya cukup lama, lalu bangkit perlahan agar tak membangunkannya. Ia berjalan ke kamar mandi, membasuh wajah, dan menatap pantulannya sendiri di cermin. Wajah itu tampak lebih tua dari usianya.&
Senin datang tanpa permisi. Udara pagi terasa lebih berat dari biasanya. Alena terbangun sebelum alarm berbunyi, jantungnya sudah berdegup tak wajar. Di sampingnya, Aziz masih berbaring telentang, mata terbuka menatap langit-langit. Sejak subuh, ia tidak bergerak.“Kamu enggak tidur, Mas?” tanya Alena pelan.“Tidur,” jawab Aziz cepat. Terlalu cepat. “Sedikit.” Alena tidak menimpali. Ia tahu, malam tadi bukan soal kurang tidur, melainkan pikiran yang tak pernah benar-benar berhenti. Di dapur, suara sendok beradu dengan cangkir terdengar kaku. Tidak ada obrolan ringan. Tidak ada candaan kecil. Bahkan aroma kopi pun terasa pahit sebelum disentuh.Aziz mengenakan kemeja putih. Dasi hitam. Terlalu formal. Terlalu serius.
“SHIT!!” Lagi. Suara itu meledak di kamar yang tadinya sunyi. Aziz menggeram penuh amarah, ponsel di tangannya bergetar hebat seiring jemarinya yang mengepal sempurna. Urat di lehernya menegang, napasnya ikut memburu.“Berita tentang perusahaan sudah naik ke media bisnis,” katanya tajam, lebih seperti meludah daripada berbicara. Alena tidak langsung mendekat. Ia berdiri beberapa langkah dari suaminya, menyandarkan punggung ke lemari. Dadanya naik turun perlahan. Tidak kaget. Hanya… lelah. Akhirnya sampai juga ke titik ini, batinnya. Ia sudah menduga sejak lama. Sejak pulang yang makin larut, sejak cerita yang terpotong-potong, sejak rokok yang tiba-tiba hadir di malam hari. Media hanya mempercepat sesuatu yang memang menunggu w
“Kenapa memangnya?” Suara barusan membuat ketiga perempuan itu menoleh. Pun Aksara yang semula fokus menyusun mobil-mobilannya di lantai ruang tengah, ikut mengangkat kepala. Pintu kamar utama terbuka. Aziz muncul dari sana, masih mengenakan kaus rumah dan celana santai. Rambutnya sedikit berantakan, seperti seseorang yang baru saja mencoba beristirahat tapi gagal benar-benar tidur. Di tangannya, ponsel masih menyala.“Papa akan periksa email dari sekolah dan langsung menuntaskan semua syaratnya,” lanjut Aziz kemudian, suaranya datar tapi tegas.Sontak Sasya berjingkrak senang. Gadis itu berlari kecil dan memeluk ayahnya.“Makasih, Papa!” Aziz tidak menjawab. Ia hanya mengusap pelan punggung
Suara Alena terdengar pelan, tapi cukup untuk memotong malam.“Mas…” suara Alena keluar lirih. “Kamu ngerokok di sini?” Aziz tersentak. Gerakannya cepat. Terlalu cepat. Ia mematikan rokok itu seketika, menekannya kasar ke asbak.“Kenapa kamu ke sini?” balasnya. Nada suaranya naik tanpa sadar.Alena menelan ludah. “Aku nyariin kamu.”“Jam segini?” Aziz mengusap rambutnya, berjalan mondar-mandir dua langkah. “Mau apa?”“Aku khawatir, Mas. Makanya aku susulin. Aku kira kamu cuma ke dapur.”Aziz hanya diam. Dia membelakangi Alena.“Mas,” lanjut Alena, masih berdiri di tempat yang sama. Ia tidak masuk, tidak juga mundur. “Kamu kenapa?”Pertanyaan itu membuat bahu Aziz mengera
Tangisan Aksara mereda di pelukan Alena. Ia berdiri cukup lama di samping boks, menepuk-nepuk punggung kecil itu dengan ritme yang teratur. Bukan karena Aksara sulit ditenangkan, justru karena dirinya sendiri yang butuh waktu.Di ruang keluarga, suara langkah Aziz terdengar ragu. Tidak mendekat, tidak juga menjauh.“Len…” panggilnya pelan dari balik pintu. Alena tidak menjawab. Ia menunggu sampai napas Aksara benar-benar stabil, sampai mata kecil itu kembali terpejam. Baru setelanya, ia meletakkan tubuh mungil sang buah hati perlahan, menutup selimut, lalu berbalik.Pintu kamar terbuka ketika ia hendak keluar. Aziz berdiri di sana.“Aku …kebablasan,” katanya cepat. “Tadi. Maaf ya.” Alena menatapnya. Wajah suaminya tampak lelah, tapi juga defensif. Campuran yang belakangan sering ia lihat.“Enggak apa-apa,” jawab Alena singkat.Justru jawaban itu yang membuat Aziz makin gelisah.“Bukan, Len. Itu bukan maksudku.”Alena melangkah melewatinya. “Aku mau ambil air min







