Share

Istri Baru Untuk Om Duda
Istri Baru Untuk Om Duda
Penulis: A mum to be

Bab 1

Penulis: A mum to be
last update Tanggal publikasi: 2025-11-05 22:59:45

“Apa? Menikah?”

            Tangan Alena bergetar hebat hingga ponselnya nyaris tergelincir dari genggaman. Suara di seberang sana terasa seperti hantaman ombak yang tiba-tiba. Jalanan kota Medan sore itu tetap sibuk, namun di mata Alena, segalanya mendadak buram. Yang tersisa hanyalah denging panjang di telinga, beradu dengan suara ibunya yang terdengar begitu penuh beban.

“Sudah diputuskan, Na. Aziz itu orang baik. Kita sudah terlalu banyak menerima budi dari keluarga mereka,” suara ibunya melunak, namun justru nada pasrah itulah yang paling menyakiti Alena.

            Perempuan 21 tahun itu menunduk dalam, menatap ujung sepatu flatnya yang sudah mulai kusam, seperti masa depannya yang mendadak tak menentu.

“Tapi... tapi aku ‘kan masih kuliah, Mak. Belum juga tamat. Gimana masa depan aku nanti?” bisiknya, suaranya nyaris tercekat di tenggorokan.

Ibunya menghela napas panjang, sebuah desahan yang sarat akan rasa bersalah sekaligus harapan. “Kau ingat ‘kan, Nak? Tanpa bantuan mereka, mungkin kau sudah berhenti sekolah sejak SMA. Mamak cuma ingin yang terbaik untukmu, dan Aziz... dia sanggup melindungimu.”

            Alena memejamkan matanya rapat-rapat. Keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya.

            Om Aziz? Sosok yang selalu dibicarakan tetangganya dengan nada segan sekaligus takut? Duda dengan dua anak perempuan yang sudah remaja?

            Pikiran itu membuat dadanya sesak. Bagaimana mungkin ia yang masih sibuk dengan tugas kuliah, tiba-tiba harus memikul tanggung jawab sebagai seorang istri sekaligus ibu sambung?

“Aku takut, Mak... Aku dengar kalau Om Aziz itu orangnya keras. Aku enggak tahu harus gimana menghadapi orang seperti dia,” suara Alena mulai bergetar, mencerminkan ketidakberdayaan yang murni.

“Jangan dengarin gosip, Na. Nak Aziz itu tidak seperti yang kau dengar. Dia hanya tegas karena memimpin banyak orang. Mamak yakin dia orang yang bisa bertanggung jawab,” hibur ibunya lembut.

"Mak, aku..."

"Sudah ya, Na. Percaya saja sama Mamak. Pokoknya kau tinggal terima beres," potong ibunya.

            Alena menyandarkan punggungnya di kursi taman yang keras, memandangi langit yang mulai memerah. Ia merasa seperti burung kecil yang sayapnya tiba-tiba diikat. 

“Mak, kenapa harus mendadak begini? Paling enggak ‘kan kami masih bisa kenalan dulu?” Alena berusaha membuat penawaran.

            Namun, sang ibu tetap keukeuh dengan permintaannya.

“Cinta itu bisa tumbuh, Na. Mamak dulu juga begitu sama Bapakmu. Yang penting adalah rasa hormat dan tanggung jawab,” sahut ibunya lirih.

            Alena tertunduk lesu setelah obrolan via udara tadi berakhir. Tak lama kemudian ponselnya berdenting. Sebuah pesan singkat masuk, membuat jantungnya berdegup kencang karena cemas.

[Besok sore kalian harus bertemu. Aziz ingin bicara langsung.]

            Alena terpaku. Rasanya seperti baru saja dijatuhi vonis tanpa sempat membela diri. Besok? Secepat itu ia harus berhadapan dengan takdir yang tak pernah ia pilih?

Pesan berikutnya menyusul.

 [Jangan terlambat ya, Na. Aziz itu orang yang sangat menghargai waktu.]

            Alena menggigit bibir bawahnya, menahan air mata yang mulai menggenang. Bukan kemarahan yang ia rasakan, melainkan rasa sesak karena tidak memiliki pilihan. Ia terikat pada hutang budi keluarganya, pada harapan ibunya, dan pada kenyataan bahwa ia hanyalah seorang gadis muda yang tak punya kuasa untuk menolak.

            Malam itu, di dalam kamarnya yang sunyi, Alena hanya bisa menatap langit-langit. Pertanyaan itu terus berputar, merayap di sela-sela ketakutannya. Kenapa pria sehebat Aziz memilih gadis biasa sepertinya?

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Istri Baru Untuk Om Duda   Bab 213 Pelabuhan Terakhir (Tamat)

    "Aku sangat yakin, Mas. Mbak Sandra butuh kebahagiaannya sendiri.” Aziz menatap istrinya dengan kekaguman yang sulit disembunyikan. Ia menarik napas lega, seolah beban berat yang selama ini menghimpit pundaknya luruh begitu saja. "Terima kasih, Sayang. Kamu jauh lebih bijaksana daripada yang aku kira." Satu bulan berlalu dengan cepat, membawa perubahan atmosfer yang luar biasa di kediaman mereka. Jakarta sedang memasuki musim yang lebih bersahabat, sama seperti hubungan Alena dan Aziz yang kini kian merekat. Tidak ada lagi sindiran tentang takaran gula aren atau kecemburuan buta. Semuanya terasa lebih ringan. Sore itu, halaman belakang rumah mereka tampak lebih ramai dari biasanya. Suara tawa pecah dari arah kolam renang. Sasya akhirnya pulang untuk liburan semester. Kehadirannya membawa energi baru yang ceria di rumah tersebut."Ma! Lihat Dek Arka, dia sudah bisa merespons panggilanku!" seru Sasya dengan riang. Ia mengenakan kaus santai, wajahnya t

  • Istri Baru Untuk Om Duda   Bab 212 Dia Tidak Tahu Apa-Apa

    "Tapi Mas Jimmy benar, Mas. Kamu memang enggak pernah melamarku secara romantis," ucap Alena lirih, memecah keheningan yang sempat menggantung setelah kepergian Jimmy yang terburu-buru. Ruangan itu mendadak sunyi senyap. Jimmy baru saja pamit dengan wajah kikuk, membawa serta aura canggung setelah tanpa sengaja memantik api dari masa lalu yang sensitif. Sementara kini Alena memperhatikan Aziz yang masih berdiri mematung di dekat meja kerja. Napas suaminya masih sedikit memburu, rahangnya terkatup rapat, sisa dari pembelaan emosional yang baru saja ia lontarkan di depan Jimmy. Ada rasa bangga sekaligus haru yang merayap di hati Alena. Ia tidak menyangka bahwa Aziz akan sebegitu tersinggungnya saat sejarah pernikahan mereka dianggap remeh. Meski dimulai dengan kata terpaksa, Aziz seolah menegaskan bahwa proses setelahnya adalah sesu

  • Istri Baru Untuk Om Duda   Bab 211 Mbak Sandra??

    Tangisan Arka pecah, melengking tinggi bersahutan dengan isak tangis Alena yang tidak lagi bisa dibendung. Pertahanan yang ia bangun selama sebulan ini runtuh seketika melihat kemeja Aziz yang terbuka dan barang-barang wanita yang berserakan di sofa. Di mata Alena, ruangan ini bukan lagi kantor suaminya, melainkan bukti nyata dari pengkhianatan yang paling rendah.“Sayang, tenang dulu ya. Aku bisa jelasin,” Aziz mencoba mendekat dengan tangan gemetar.“Apa, hah?? Apa yang mau kamu jelasin, Mas?” jerit Alena pilu. “Sepatu ini? Pakaian ini? Atau kemejamu yang terbuka itu?” Tepat saat ketegangan itu berada di puncaknya, pintu jati besar itu kembali terbuka. Seorang pria bertubuh tegap masuk dengan wajah ceria sembari menenteng sekotak cokelat mewah. Namun, langkahnya terhenti seketika melihat Alena

  • Istri Baru Untuk Om Duda   Bab 210 Apa-Apaan Ini??

    Satu bulan telah berlalu sejak kepulangan Alena ke rumah itu. Perlahan namun pasti, Alena mulai menata kembali kepingan otoritasnya yang sempat tercerai-berai. Ruang makan kini kembali beraroma masakannya, dan setiap sudut rumah mulai memancarkan kembali seleranya yang lembut namun tegas. Pukul sebelas siang, matahari Jakarta sedang terik-teriknya, namun suasana di dapur Alena terasa sejuk. Ia baru saja selesai menata kotak bekal mewah berisi nasi daun jeruk, empal gentong, dan sambal goreng ati kesukaan Aziz. Hari ini, Alena memiliki rencana spesial. Ia ingin memberikan kejutan makan siang ke kantor suaminya, sesuatu yang sudah lama sekali tidak ia lakukan. Alena berdiri di depan cermin besar di lorong, merapikan gamis berwarna pastel yang ia kenakan. Kerudung senadanya

  • Istri Baru Untuk Om Duda   Bab 209 Biar Kamu Dengar Sendiri

    "Angkat saja. Nyalakan pengeras suaranya," kata Aziz sambil tersenyum penuh arti. Ia bisa merasakan tubuh Alena yang seketika menegang di dalam dekapannya. Aziz tahu bahwa istrinya kembali merasa tidak nyaman, sebuah naluri pertahanan yang wajar muncul setelah kejadian di meja makan tadi pagi. Ia ingin membuktikan sesuatu, ingin menunjukkan bahwa tidak ada rahasia yang ia sembunyikan di balik layar ponsel itu."Enggak ah. Kan hape Mas yang bunyi," sewot Alena. Ia membuang muka, mencoba mengabaikan getaran ponsel yang seolah-olah sedang menggedor pintu privasi mereka yang baru saja kembali rekat."Angkatlah, Sayang. Biar kamu dengar sendiri," rayu Aziz lembut, sambil menyodorkan ponselnya ke tangan Alena. Alena akhirnya menurut meski dengan bibir yang sedikit mengerucut. Ia menyentuh tombol hijau dan mengaktifkan pengeras suara. Seketika, suara Sandra yang menggebu-gebu memenuhi kesunyian kamar yang masih hangat itu."Mas, aku baru saja telepon pihak perwakilan

  • Istri Baru Untuk Om Duda   Bab 208 Kata Maaf

    Keheningan yang pekat mendadak jatuh di antara mereka, menelan sisa-sisa gema suara Aziz yang baru saja meninggi. Alena terdiam, napasnya masih memburu kecil, namun matanya yang tadinya tajam kini mulai melunak oleh rasa bersalah yang merayap. Di sisi lain, Aziz berdiri mematung, menatap istrinya dengan gurat penyesalan yang mendalam karena telah kehilangan kendali atas emosinya. Detik demi detik berlalu hanya dengan suara detak jam dinding yang seolah mengejek kekakuan mereka. Sampai akhirnya, bibir keduanya bergerak hampir secara bersamaan, memecah kesunyian dengan satu kata yang sama."Maaf..." Mereka tertegun sejenak, saling menatap dengan mata yang berkaca-kaca. Tanpa perlu aba-aba lagi,

  • Istri Baru Untuk Om Duda   Bab 140 Kita Hadapi Bersama

    Alena menunggu. Ia tidak bergerak, tidak juga menyela. Tangannya masih berada dalam genggaman Aziz, hangat, tapi terasa seperti dua orang yang berdiri di tepi jurang yang sama, memandang arah berbeda.Aziz menghela napas panjang sebelum akhirnya berbicara. “Aku sudah tanda tangani surat

  • Istri Baru Untuk Om Duda   Bab 139 Kamu Dari Mana?

    “Maaf ya, Len.” Ucapan itu membuat Alena mengangguk pelan. Gerakannya canggung, seperti seseorang yang ingin segera menutup sebuah momen tapi tidak tahu caranya. Ia berdiri di hadapan Tommy dengan tangan terlipat rapi di depan tubuh, senyum tipis terpasang di wajahnya. Senyum yang lebih menyerupai

  • Istri Baru Untuk Om Duda   Bab 138 Ayo Lamar Alena!

    Alena mendengarkan sampai selesai. Ia tidak memotong. Tidak menyela. Bahkan tidak mengangguk berlebihan. Ia membiarkan setiap kalimat jatuh ke tempatnya masing-masing, meski beberapa di antaranya terasa berat dan nyeri.&nb

  • Istri Baru Untuk Om Duda   Bab 137 Kenapa Kamu Diam Saja?

    “Len, kenapa kamu diam saja?” Pertanyaan itu meluncur lembut, tapi cukup untuk menarik Alena kembali ke permukaan. Wajahnya yang semula membeku lekas berubah. Senyum muncul, rapi, seolah sudah terlatih.&

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status