Share

Bab 88

Penulis: A mum to be
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-28 13:09:29

Wajah Aziz langsung pucat pasi. Pria itu dengan cepat melangkah ke pantry. Membuat para OB yang sedang beristirahat di sana seketika terkejut.

"Ada apa ya, Pak?" tanya salah satu di antara mereka. "Rantang makanan yang warna pink mana? Itu punya istri saya."

Dalam sekejap terjadilah kehebohan di sana. Mereka terus mencari kian kemari. Seorang OB bahkan sampai memeriksa kembali tempat sampah untuk memastikan rantang tersebut tidak terbuang.

"Pak, apa jangan-jangan kebawa orang yang tadi ngebersihin ruang rapat?" kata salah satu OB lagi dengan nada panik.

Aziz mengangguk cepat dan langsung mengejar ke ruangan tersebut. Hingga dia tiba di ruang rapat, seorang karyawan sedang asyik menata dokumen di meja.

"Maaf, Mas. Saya bisa minta waktunya sebentar? Saya sedang cari rantang warna pink, katanya terakhir ada di sini," tanya aziz, sedikit tergesa-gesa.

Karyawan tersebut ikut membantu mencari, namun hasilnya nihil. Aziz kembali ke pantry dengan wajah kecewa.

"Sudah dipastikan belum di
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Istri Baru Untuk Om Duda   Bab 123 Aku Akan Usahakan

    Keesokan harinya. Pagi itu datang tanpa hujan, tapi udara terasa lebih berat dari biasanya.Aziz bangun lebih dulu. Bukan karena alarm, melainkan karena kebiasaan lama yang tak pernah benar-benar hilang. Ia bangun sebelum semua orang, duduk di tepi ranjang, lalu menatap kosong ke lantai. Ia menghela napas panjang, seolah sedang menghitung sesuatu yang tak kasatmata. Angka. Waktu. Kemungkinan. Di sampingnya, Alena masih terlelap dengan satu tangan memeluk bantal, wajahnya tampak damai. Aziz sempat menatap istrinya cukup lama, lalu bangkit perlahan agar tak membangunkannya. Ia berjalan ke kamar mandi, membasuh wajah, dan menatap pantulannya sendiri di cermin. Wajah itu tampak lebih tua dari usianya.&

  • Istri Baru Untuk Om Duda   Bab 122 Belum Selesai

    Senin datang tanpa permisi. Udara pagi terasa lebih berat dari biasanya. Alena terbangun sebelum alarm berbunyi, jantungnya sudah berdegup tak wajar. Di sampingnya, Aziz masih berbaring telentang, mata terbuka menatap langit-langit. Sejak subuh, ia tidak bergerak.“Kamu enggak tidur, Mas?” tanya Alena pelan.“Tidur,” jawab Aziz cepat. Terlalu cepat. “Sedikit.” Alena tidak menimpali. Ia tahu, malam tadi bukan soal kurang tidur, melainkan pikiran yang tak pernah benar-benar berhenti. Di dapur, suara sendok beradu dengan cangkir terdengar kaku. Tidak ada obrolan ringan. Tidak ada candaan kecil. Bahkan aroma kopi pun terasa pahit sebelum disentuh.Aziz mengenakan kemeja putih. Dasi hitam. Terlalu formal. Terlalu serius.

  • Istri Baru Untuk Om Duda   Bab 121 Mereka Sudah Tahu

    “SHIT!!” Lagi. Suara itu meledak di kamar yang tadinya sunyi. Aziz menggeram penuh amarah, ponsel di tangannya bergetar hebat seiring jemarinya yang mengepal sempurna. Urat di lehernya menegang, napasnya ikut memburu.“Berita tentang perusahaan sudah naik ke media bisnis,” katanya tajam, lebih seperti meludah daripada berbicara. Alena tidak langsung mendekat. Ia berdiri beberapa langkah dari suaminya, menyandarkan punggung ke lemari. Dadanya naik turun perlahan. Tidak kaget. Hanya… lelah. Akhirnya sampai juga ke titik ini, batinnya. Ia sudah menduga sejak lama. Sejak pulang yang makin larut, sejak cerita yang terpotong-potong, sejak rokok yang tiba-tiba hadir di malam hari. Media hanya mempercepat sesuatu yang memang menunggu w

  • Istri Baru Untuk Om Duda   Bab 120. Masih Bisa

    “Kenapa memangnya?” Suara barusan membuat ketiga perempuan itu menoleh. Pun Aksara yang semula fokus menyusun mobil-mobilannya di lantai ruang tengah, ikut mengangkat kepala. Pintu kamar utama terbuka. Aziz muncul dari sana, masih mengenakan kaus rumah dan celana santai. Rambutnya sedikit berantakan, seperti seseorang yang baru saja mencoba beristirahat tapi gagal benar-benar tidur. Di tangannya, ponsel masih menyala.“Papa akan periksa email dari sekolah dan langsung menuntaskan semua syaratnya,” lanjut Aziz kemudian, suaranya datar tapi tegas.Sontak Sasya berjingkrak senang. Gadis itu berlari kecil dan memeluk ayahnya.“Makasih, Papa!” Aziz tidak menjawab. Ia hanya mengusap pelan punggung

  • Istri Baru Untuk Om Duda   Bab 119 Ambruk

    Suara Alena terdengar pelan, tapi cukup untuk memotong malam.“Mas…” suara Alena keluar lirih. “Kamu ngerokok di sini?” Aziz tersentak. Gerakannya cepat. Terlalu cepat. Ia mematikan rokok itu seketika, menekannya kasar ke asbak.“Kenapa kamu ke sini?” balasnya. Nada suaranya naik tanpa sadar.Alena menelan ludah. “Aku nyariin kamu.”“Jam segini?” Aziz mengusap rambutnya, berjalan mondar-mandir dua langkah. “Mau apa?”“Aku khawatir, Mas. Makanya aku susulin. Aku kira kamu cuma ke dapur.”Aziz hanya diam. Dia membelakangi Alena.“Mas,” lanjut Alena, masih berdiri di tempat yang sama. Ia tidak masuk, tidak juga mundur. “Kamu kenapa?”Pertanyaan itu membuat bahu Aziz mengera

  • Istri Baru Untuk Om Duda   Bab 118 Maaf Ya

    Tangisan Aksara mereda di pelukan Alena. Ia berdiri cukup lama di samping boks, menepuk-nepuk punggung kecil itu dengan ritme yang teratur. Bukan karena Aksara sulit ditenangkan, justru karena dirinya sendiri yang butuh waktu.Di ruang keluarga, suara langkah Aziz terdengar ragu. Tidak mendekat, tidak juga menjauh.“Len…” panggilnya pelan dari balik pintu. Alena tidak menjawab. Ia menunggu sampai napas Aksara benar-benar stabil, sampai mata kecil itu kembali terpejam. Baru setelanya, ia meletakkan tubuh mungil sang buah hati perlahan, menutup selimut, lalu berbalik.Pintu kamar terbuka ketika ia hendak keluar. Aziz berdiri di sana.“Aku …kebablasan,” katanya cepat. “Tadi. Maaf ya.” Alena menatapnya. Wajah suaminya tampak lelah, tapi juga defensif. Campuran yang belakangan sering ia lihat.“Enggak apa-apa,” jawab Alena singkat.Justru jawaban itu yang membuat Aziz makin gelisah.“Bukan, Len. Itu bukan maksudku.”Alena melangkah melewatinya. “Aku mau ambil air min

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status