Share

4. Wk wk

Author: Donat Mblondo
last update Last Updated: 2025-08-18 05:52:37

Yuze meletakkan sendok supnya dengan dentuman kecil, menatap Anli dengan sorot dingin.

“Ternyata, kau cukup pandai menahan diri. Tapi jangan salah sangka, di rumah ini, bukan berarti kau dihormati hanya karena bisa bicara tenang.”

Ia menyibakkan koran, lalu menambahkan dengan nada menghina, "kalau aku bilang kau budak, maka bahkan pelayan pun di atasmu. Jadi, kalau mereka menertawakanmu, anggap saja itu tempatmu yang sebenarnya.”

Pelayan-pelayan di sekitarnya langsung tertawa lepas, kali ini tanpa perlu menutup mulut. Seorang pelayan pria berani menambahkan, “Benar, Nyonya… kalau ingin dihormati, paling tidak gunakan mata Anda dengan benar.”

Tawa meledak, menusuk telinga.

Namun Anli tidak goyah. Ia hanya mengangkat wajahnya sedikit, menoleh ke arah suara si pelayan pria, seolah matanya yang buram mampu menembus wajahnya. Senyum tipis muncul.

“Lucu. Seekor anjing pun bisa menggonggong keras kalau majikannya memberi izin. Tapi ujung-ujungnya, tetap saja anjing. Tidak lebih.”

Tawa mendadak berhenti. Beberapa pelayan tercekat, saling melirik panik, sementara wajah si pelayan pria memerah karena murka.

Yuze terdiam sesaat, lalu tawa dingin lolos dari bibirnya.

“Berani juga lidahmu, ya. Hati-hati, Anli! Anjing bisa menggigit kalau dipancing terlalu jauh.”

Anli meraih sendoknya kembali, mengaduk bubur hambar itu tanpa tergesa. Suaranya lembut, tapi menusuk.

“Saya tidak takut gigitan anjing, Tuan Qin. Yang kutakutkan hanya kehilangan diriku sendiri. Dan itu tidak akan pernah terjadi, bahkan di rumah ini.”

Sejenak ruangan jatuh hening. Para pelayan menunduk, tak tahu apakah harus kembali menertawakan atau justru gemetar karena keberanian Anli.

Yuze menyipitkan mata, jelas tidak terbiasa menghadapi lawan bicara yang tidak gentar, apalagi dari seorang gadis buta yang dianggapnya sampah. Namun alih-alih marah, ia hanya meneguk kopinya perlahan, bibirnya menyunggingkan senyum tipis penuh ancaman.

“Bagus. Pertahankan arogansimu itu… sampai aku hancurkan sendiri suatu hari nanti.”

Selesai sarapan hambar itu, Anli bangkit perlahan dari kursinya di ujung ruangan. Tanpa menoleh, ia meraba meja sebentar, lalu berjalan keluar dengan langkah tegap.

Ia berjalan pelan menyusuri halaman samping, menyentuh dinding-dinding rumah untuk menghafal letak ruang dan jalan setapak.

Walau buta, ia punya cara sendiri, menghitung langkah, mendengar gema, bahkan merasakan arah angin. Pelayan-pelayan yang mengintip hanya bisa mencibir, “Seperti kucing liar, mondar-mandir tanpa tujuan.”

Beberapa pelayan mengikuti dengan tatapan mengejek. Salah satunya, seorang pelayan muda berwajah licik, sengaja menjulurkan kaki di jalur Anli saat gadis itu melintas. Ia bahkan menahan tawa, membayangkan bagaimana “Nyonya Buta” itu akan jatuh tersungkur.

Namun sebelum kakinya benar-benar mengait gaun, Anli berhenti setengah langkah. Kepalanya sedikit menoleh, telinganya menangkap suara gesekan kain dan tarikan napas kecil yang tak biasa.

Tanpa ragu, ia menggeser langkahnya ke samping. Dalam sekali gerakan ia berbalik setengah lingkaran, melewati kaki yang terjulur dengan mulus, seolah sedang menari.

Pelayan itu membeku. Kakinya masih terjulur di lantai, tapi Anli berjalan melewati dengan kepala tegak, sama sekali tidak tersandung.

Yang lebih mengejutkan, Anli bahkan sempat menoleh samar ke arah suara, bibirnya melengkung tipis.

“Kalau kamu ingin menjatuhkan seseorang, sebaiknya jangan lakukan dengan langkah ceroboh. Suara napasmu terlalu jelas.”

Pelayan itu pucat, mulutnya terbuka tapi tak bisa berkata-kata. Teman-temannya yang ikut menonton buru-buru menahan tawa, antara kaget dan tak percaya.

Anli melangkah tenang menuju taman dalam, jemarinya sempat menyentuh pilar marmer sebagai penanda arah, lalu ia terus berjalan seakan mata butanya bukan kelemahan, melainkan senjata.

Sementara di belakang, pelayan yang gagal menjebaknya hanya bisa menggertakkan gigi.

Udara pagi di taman dalam keluarga Qin terasa sejuk, dedaunan berkilau karena embun. Anli berjalan perlahan di jalur setapak berbatu, tangannya menyentuh lembut pagar tanaman rendah, kepalanya tegak seolah ia bisa melihat semua yang ada di sekeliling.

Dua pelayan muda mengikuti dari belakang, berbisik sambil menahan tawa.

“Ayo coba sekali lagi. Katanya dia lincah, kan?”

“Hah, gadis buta mana mungkin bisa menahan diri kalau digertak.”

Salah satu dari mereka mendahului, pura-pura menata pot bunga di jalur sempit. Saat Anli mendekat, pelayan itu mendadak mendorong pot besar agar meluncur ke arah kaki Anli.

Namun, detik terakhir sebelum pot itu menabrak, Anli berhenti. Tubuhnya sedikit miring, lalu ia melangkah ke samping dengan gerakan ringan. Pot itu lewat begitu saja, hanya menyentuh ujung kain gaunnya.

Pelayan-pelayan itu melongo. “A-apa tadi dia… mendengar suara pot?”

Anli tersenyum tipis, meski wajahnya tetap menghadap kosong. “Bau tanah basahnya tercium jauh sebelum aku sampai.”

Pelayan itu menelan ludah, sementara temannya melirik takut-takut.

Dari beranda lantai atas, Madam Qin berdiri diam sambil bertopang pada tongkat peraknya. Tatapan tuanya meneliti sosok Anli yang berjalan tenang, seperti gadis yang sudah terbiasa hidup dengan dunia tanpa bentuk, tapi tidak pernah kehilangan kendali.

Senyum samar muncul di wajah Madam Qin. Ia berbisik lirih, nyaris hanya untuk dirinya sendiri.

“Gadis ini… tidak selemah yang mereka kira.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ternyata Aku Seorang Putri Kerajaan   Squel

    Yan Zhiyao tumbuh di tengah dua dunia yang sama-sama menuntut kesempurnaan. Sebagai satu-satunya putri Anli dan Yuze, ia dibesarkan dengan kasih sayang yang nyaris berlebihan, namun juga disiplin yang tidak pernah lunak. Sejak kecil, Zhiyao belajar bahwa kelembutan tidak sama dengan kelemahan, dan kekuasaan tidak selalu harus ditunjukkan dengan suara keras. Ia mengamati, menyerap, dan mengingat. Cara ibunya bertahan hidup, cara ayahnya memikul tanggung jawab tanpa banyak kata.Berbeda dari anak-anak lain, Zhiyao tidak pernah tumbuh menjadi gadis yang manja. Ia tenang, cerdas, dan memiliki ketajaman naluri yang membuat orang dewasa pun berhati-hati saat berbicara di hadapannya. Di usia muda, ia telah menguasai akupuntur dan pengobatan tradisional, warisan keluarga Jin dari garis neneknya, Jin Sua Luqi, teknik yang bukan hanya menyembuhkan, tetapi juga mampu melumpuhkan. Di sisi lain, ia dilatih beladiri sejak dini, bukan untuk pamer kekuatan, melainkan agar tak pernah menjadi korban.Ke

  • Ternyata Aku Seorang Putri Kerajaan   204.

    Yuze melangkah maju satu langkah.“Nama tabib itu sudah kami ketahui,” katanya dingin. “Ia ditangkap satu jam lalu. Mengaku menerima bayaran.”Beberapa pelayan langsung menangis tertahan.Anli menghela napas kecil.“Kesalahan ini bukan kelalaian biasa,” katanya. “Ini kelalaian yang nyaris membunuh pewaris kerajaan.”Ia berdiri perlahan. Pengawal refleks maju, tapi Anli memberi isyarat kecil agar mereka berhenti.“Dengar baik-baik,” ucapnya.“Dua orang yang langsung menangani obat,” katanya sambil menunjuk dua pelayan, “dilucuti dari jabatan. Diusir dari Kediaman Qin malam ini. Seluruh hak dan rekomendasi dicabut.”Dua pelayan itu ambruk, bersujud berkali-kali.“Tiga lainnya,” lanjut Anli tanpa ragu, “dikirim ke penjara istana. Menunggu keputusan akhir pengadilan kerajaan.”Tangisan pecah.Dengan mata buramnya, Anli menatap mereka sekali lagi.“Ini bukan karena aku kejam,” katanya pelan. “Ini karena aku bertahan hidup.”Ia menurunkan tangannya.“Bawa mereka pergi!"Pengawal bergerak se

  • Ternyata Aku Seorang Putri Kerajaan   203.

    “Tapi ibunya…” lanjut dokter itu, suaranya merendah. Kalimat itu menggantung di udara, tajam dan dingin. “Nyonya Qin mengalami komplikasi serius. Kehilangan banyak energi dan respons sarafnya melemah. Kami sudah menanganinya, tapi… tiga hari ke depan akan sangat krusial.”Tidak ada yang bertanya lebih lanjut.Karena semua orang mengerti arti kata itu.—Anli tidak terbangun.Hari pertama, ia hanya terbaring diam di ruang perawatan intensif. Mesin berdetak pelan, selang-selang menempel di tubuhnya. Wajahnya pucat, nyaris transparan.Yuze tidak pernah meninggalkan kursi di samping ranjang.Ia tidur dengan kepala tertunduk di tepi kasur, satu tangan menggenggam tangan Anli, seolah jika dilepas sedetik saja, istrinya akan menghilang.Hari kedua, bayi perempuan itu dipindahkan ke ruang neonatal.Dokter menjelaskan dengan tenang.“Efek obat yang menumpuk membuat responsnya sedikit lambat saat lahir,” kata mereka. “Tapi paru-parunya baik. Refleksnya kuat. Ia akan dirawat intensif beberapa ha

  • Ternyata Aku Seorang Putri Kerajaan   202.

    Sejak memasuki bulan kesembilan, Yuze bahkan hampir tidak memejamkan mata. Setiap gerakan kecil di sisi Anli selalu ia rasakan.Malam itu, perubahan datang terlalu pelan. Napas Anli tidak lagi berirama.Yuze terbangun seketika. Tangannya refleks menyentuh pinggang Anli yang dingin.“Anli?” panggilnya pelan.Tidak ada jawaban.Ia menegakkan tubuh, menyalakan lampu kecil. Wajah istrinya pucat, bibirnya sedikit terbuka seolah kekurangan udara. Satu tangan menekan perutnya, jari-jari gemetar.Yuze langsung duduk, menopang bahunya.“Lihat aku,” katanya tegas.Mata Anli terbuka perlahan.“Yuze…” suaranya lirih. “Aku rasa… ada yang salah.”Kalimat itu membuat dada Yuze seperti diremas.“Apa yang kau rasakan?”“Bayinya… bergerak sangat jarang,” jawab Anli jujur. “Seharian ini. Aku baru sadar sekarang.”Yuze tidak bertanya lagi.Tangannya sudah lebih dulu meraih bel darurat di sisi ranjang. Suaranya memecah keheningan kamar dalam satu tekan singkat.Beberapa menit kemudian, pintu terbuka. Dokt

  • Ternyata Aku Seorang Putri Kerajaan   201.

    Meilin tidak langsung berteriak.Ia hanya berdiri kaku, seolah kakinya tertanam di tanah. Pemandangan di depannya terlalu kejam untuk diproses dalam satu tarikan napas.Song Weiyan.Adiknya.Seragam putih sekolah kerajaan yang seharusnya bersih kini kotor oleh debu dan noda darah. Bahunya turun naik menahan sakit, tapi matanya tetap keras, menolak menangis di hadapan mereka.Zhenrui melangkah ke depan.Satu langkah.Dua langkah.Langkahnya tidak tergesa, tidak pula marah secara terbuka. Justru ketenangan itulah yang membuat suasana berubah.Para murid yang tadi tertawa mulai merasakan sesuatu yang salah.“Masih belum cukup?” tanya Zhenrui akhirnya.Suaranya datar. Hampir tenang.Tidak ada teriakan. Tidak ada ancaman.Namun entah mengapa, halaman belakang itu mendadak terasa sempit.Salah satu murid menelan ludah. “Kami hanya… mengajarinya tempatnya, Yang—”“Kau tidak tahu tempatmu sendiri,” potong Zhenrui.Ia berdiri tepat di depan mereka sekarang, tubuhnya menjadi penghalang alami an

  • Ternyata Aku Seorang Putri Kerajaan   200.

    Zhenrui langsung menyadari satu hal penting.Jika ia tidak menjelaskan sekarang juga, Meilin benar-benar akan merendah.Ia menghela napas kecil, lalu mundur setengah langkah, sengaja memberi jarak agar gadis itu tidak semakin panik.“Tenang,” katanya pelan. Nada suaranya berubah, tidak lagi menggoda, melainkan tenang dan serius. “Duduk dulu. Jangan berdiri tiba-tiba.”Meilin menelan ludah, lalu menurut, duduk kaku di ranjang dengan tangan mencengkeram selimut.Zhenrui melanjutkan, kali ini menatap lurus ke arahnya.“Aku tidak bercanda soal ini,” katanya jujur.Meilin berkedip.“…Eh?”Zhenrui menyilangkan tangannya di depan dada, sikap seorang raja muda kembali muncul, tenang dan rasional.“Kau baru saja menjadi target,” ujarnya. “Dan setelah apa yang terjadi hari ini, akan ada lebih banyak mata yang tertuju padamu.”Meilin menegang.“Orang-orang seperti Jia Liang,” lanjutnya, “tidak bekerja sendirian. Gosip, tekanan, intimidasi, itu semua akan datang. Terutama pada seseorang tanpa sta

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status