LOGINSore itu, sinar matahari menyusup lembut ke halaman luas keluarga Qin. Angin membawa aroma bunga kamelia bercampur tanah basah. Para pelayan sibuk menyiangi taman, tapi pandangan mereka selalu curi-curi ke arah teras, tempat Madam Qin duduk santai di kursi rotan.
“Anli,” panggil Madam Qin dengan suara tenang penuh wibawa. “Temani aku berjalan-jalan di taman. Kakiku sedang kaku, aku butuh seseorang yang menuntun.”
Sekejap, bisikan sinis terdengar di antara pelayan.
“Dia? Menuntun? Ha ha ha, buta menuntun buta?”
“Madam pasti bercanda. Jangan-jangan beliau sengaja mau mempermalukannya.”
“Kalau dia tersandung bunga, ayo kita lihat wajahnya jatuh ke tanah.”
Anli berdiri, menunduk hormat, lalu berjalan mendekat. Ia menyentuh punggung tangan Madam Qin dengan lembut. “Mari, Nenek,” ucapnya tenang, seolah benar-benar yakin bisa membawa wanita tua itu berkeliling.
Langkah mereka mulai menyusuri jalan setapak yang berkelok di antara pepohonan bonsai. Batu pijakan tidak rata, ada akar-akar kecil menyembul dari tanah, bahkan seekor kucing liar tiba-tiba melintas. Pelayan yang mengintip dari jauh hampir menahan tawa, menunggu Anli salah langkah.
Tapi anehnya, Anli selalu bisa menyesuaikan langkah dengan cepat. Ketika Madam Qin hampir terpeleset di akar, Anli lebih dulu menarik tangannya dengan gerakan tepat. Saat seekor kucing lewat, ia menggeser tubuh Madam sedikit ke samping, seolah ia benar-benar melihat jalannya.
Madam Qin menahan senyum. Ia melirik sekilas ke wajah tenang Anli. 'Dia tidak sekadar buta biasa. Instingnya sangat terlatih… bahkan aku merasa lebih aman dipegang olehnya daripada pelayan-pelayanku sendiri.'
Di belakang, para pelayan yang mengintip mulai gusar.
“Bagaimana mungkin… dia tidak tersandung sama sekali!”
“Mustahil, aku yang normal saja sering keseleo di jalan itu!”
“Perempuan itu… apa sebenarnya?”
Sementara itu, Anli hanya tersenyum samar, seolah berjalan di taman itu bukan beban, melainkan tarian yang sudah ia hafalkan sejak lama.
Langkah mereka terhenti di sebuah gazebo kecil di tengah taman. Madam Qin duduk perlahan di kursi rotan, tongkat peraknya disandarkan ke meja. Matanya menyipit, menatap hamparan semak teh yang tumbuh rapi di sisi taman. Aroma daunnya terbawa angin sore, segar dan menenangkan.
“Anli,” suara Madam Qin pelan dan jelas. “Apakah kamu tahu pohon apa itu?” Tangannya yang berurat menunjuk samar ke semak teh yang bergoyang halus diterpa angin.
Para pelayan yang mengintip dari balik pagar hampir terpingkal.
“Ha ha ha! Ditanya tanaman, padahal dia buta!”
“Paling jawabnya cuma rumput atau bunga liar.”
“Lihat deh, ini saatnya ketahuan kalau dia nggak pantes di sini.”
Namun, Anli justru melangkah mendekat, ujung jarinya menyentuh daun-daun muda itu dengan hati-hati. Ia mengusap pelan, lalu mendekatkan tangannya ke hidung, menghirup aromanya. Senyum samar terbit di wajahnya.
“Daun teh hijau,” ucapnya mantap. “Ukurannya kecil, pipih, dan tipis seperti kertas. Aromanya segar, agak manis… kemungkinan varietas Longjing. Dipetiknya pasti saat pucuk masih muda.”
Madam Qin sempat terdiam, lalu tatapannya melembut. “Kamu tahu hanya dengan sentuhan dan bau?” tanyanya, suaranya kini lebih hangat.
Bisikan di balik pagar makin heboh.
“Apa?! Kok bisa?”
“Dia bohong kali!”
“Tapi… Madam Qin malah terlihat senang, celaka!”
Anli menoleh sedikit, wajahnya teduh. “Seseorang… sering mengajarkanku membedakan tanaman. Katanya, kalau mata tertutup, hidung dan jari akan jadi mata kedua. Teh… salah satu yang paling sering dia ajarkan.”
Kata-kata itu meluncur begitu saja, namun dadanya sedikit bergetar. Ingatan samar melintas, tangan hangat seseorang pernah menggenggam jemarinya, membimbingnya meraba daun teh muda sambil tertawa pelan. Wajahnya buram, suaranya pun samar, tapi rasa lembut itu masih tertinggal jelas di hati.
Madam Qin menatapnya lama, lalu tersenyum tipis penuh arti. 'Gadis ini… ada sesuatu di balik dirinya.'
Sementara itu, para pelayan hanya bisa menggertakkan gigi, menahan panas hati.
“Dasar perempuan aneh! Kok bisa lolos lagi sih?!”
“Kalau Madam Qin makin suka padanya, tamatlah riwayat kita.”
Anli, seolah tahu dirinya tengah jadi bahan gunjingan, hanya menunduk sopan sambil tersenyum samar. 'Kalian kira, aku akan mudah dipermalukan? Dunia luar sudah lebih kejam daripada ejekan kalian.'
Senja menjelang sore, seketika suara deru mesin mobil terdengar dari kejauhan. Sedan hitam keluarga Qin meluncur masuk melewati gerbang besar, berhenti di pelataran dengan hentakan rem yang kasar. Para pelayan buru-buru berbaris rapi, menunduk, wajah mereka mendadak penuh hormat, kontras dengan ejekan yang barusan mereka lemparkan pada Anli.
Qin Yuze turun dengan langkah panjang, jas tergantung di lengannya, dasi longgar, wajahnya menampakkan lelah bercampur kesal. Begitu kakinya menyentuh marmer halaman, atmosfer rumah seolah berubah tegang.
Madam Qin masih duduk di gazebo, ditemani Anli yang berdiri tenang di sampingnya. Angin sore mengibaskan helai rambut hitam gadis itu, membuat sosoknya tampak teduh di bawah cahaya jingga. Saat Yuze mendongak, matanya langsung jatuh pada pemandangan itu. Neneknya yang tampak bahagia, dan di sebelahnya perempuan buta yang ia anggap hanya budak, berdiri anggun seolah menjadi pelindung.
Alis Yuze berkerut tajam. Ia berjalan mendekat, suaranya terdengar datar namun mengandung duri.
“Sepertinya nenek menemukan hiburan baru selama saya pergi.”
Madam Qin melirik cucunya, senyum tipis terbit di bibirnya. “Kau pulang, Yuze. Lihatlah, istrimu ini justru membuatku berjalan-jalan sore dengan tenang. Tidak seperti pelayanmu yang sering membuatku jengkel.”
Kata-kata itu bagai cambuk bagi para pelayan yang berdiri menunduk, wajah mereka merah padam menahan rasa malu. Namun bagi Yuze, justru terasa menohok. Rahangnya mengeras, sorot matanya beralih ke Anli, dingin dan penuh tuduhan.
Anli, meski samar hanya bisa menangkap garis besar wajahnya, menunduk sopan. Senyum tipisnya tetap terjaga, seakan ucapan kasar atau tatapan tajam itu hanyalah angin lalu.
'Biar kau menatapku seperti apa pun, Qin Yuze, aku tidak akan goyah,' batinnya tenang.
Yan Zhiyao tumbuh di tengah dua dunia yang sama-sama menuntut kesempurnaan. Sebagai satu-satunya putri Anli dan Yuze, ia dibesarkan dengan kasih sayang yang nyaris berlebihan, namun juga disiplin yang tidak pernah lunak. Sejak kecil, Zhiyao belajar bahwa kelembutan tidak sama dengan kelemahan, dan kekuasaan tidak selalu harus ditunjukkan dengan suara keras. Ia mengamati, menyerap, dan mengingat. Cara ibunya bertahan hidup, cara ayahnya memikul tanggung jawab tanpa banyak kata.Berbeda dari anak-anak lain, Zhiyao tidak pernah tumbuh menjadi gadis yang manja. Ia tenang, cerdas, dan memiliki ketajaman naluri yang membuat orang dewasa pun berhati-hati saat berbicara di hadapannya. Di usia muda, ia telah menguasai akupuntur dan pengobatan tradisional, warisan keluarga Jin dari garis neneknya, Jin Sua Luqi, teknik yang bukan hanya menyembuhkan, tetapi juga mampu melumpuhkan. Di sisi lain, ia dilatih beladiri sejak dini, bukan untuk pamer kekuatan, melainkan agar tak pernah menjadi korban.Ke
Yuze melangkah maju satu langkah.“Nama tabib itu sudah kami ketahui,” katanya dingin. “Ia ditangkap satu jam lalu. Mengaku menerima bayaran.”Beberapa pelayan langsung menangis tertahan.Anli menghela napas kecil.“Kesalahan ini bukan kelalaian biasa,” katanya. “Ini kelalaian yang nyaris membunuh pewaris kerajaan.”Ia berdiri perlahan. Pengawal refleks maju, tapi Anli memberi isyarat kecil agar mereka berhenti.“Dengar baik-baik,” ucapnya.“Dua orang yang langsung menangani obat,” katanya sambil menunjuk dua pelayan, “dilucuti dari jabatan. Diusir dari Kediaman Qin malam ini. Seluruh hak dan rekomendasi dicabut.”Dua pelayan itu ambruk, bersujud berkali-kali.“Tiga lainnya,” lanjut Anli tanpa ragu, “dikirim ke penjara istana. Menunggu keputusan akhir pengadilan kerajaan.”Tangisan pecah.Dengan mata buramnya, Anli menatap mereka sekali lagi.“Ini bukan karena aku kejam,” katanya pelan. “Ini karena aku bertahan hidup.”Ia menurunkan tangannya.“Bawa mereka pergi!"Pengawal bergerak se
“Tapi ibunya…” lanjut dokter itu, suaranya merendah. Kalimat itu menggantung di udara, tajam dan dingin. “Nyonya Qin mengalami komplikasi serius. Kehilangan banyak energi dan respons sarafnya melemah. Kami sudah menanganinya, tapi… tiga hari ke depan akan sangat krusial.”Tidak ada yang bertanya lebih lanjut.Karena semua orang mengerti arti kata itu.—Anli tidak terbangun.Hari pertama, ia hanya terbaring diam di ruang perawatan intensif. Mesin berdetak pelan, selang-selang menempel di tubuhnya. Wajahnya pucat, nyaris transparan.Yuze tidak pernah meninggalkan kursi di samping ranjang.Ia tidur dengan kepala tertunduk di tepi kasur, satu tangan menggenggam tangan Anli, seolah jika dilepas sedetik saja, istrinya akan menghilang.Hari kedua, bayi perempuan itu dipindahkan ke ruang neonatal.Dokter menjelaskan dengan tenang.“Efek obat yang menumpuk membuat responsnya sedikit lambat saat lahir,” kata mereka. “Tapi paru-parunya baik. Refleksnya kuat. Ia akan dirawat intensif beberapa ha
Sejak memasuki bulan kesembilan, Yuze bahkan hampir tidak memejamkan mata. Setiap gerakan kecil di sisi Anli selalu ia rasakan.Malam itu, perubahan datang terlalu pelan. Napas Anli tidak lagi berirama.Yuze terbangun seketika. Tangannya refleks menyentuh pinggang Anli yang dingin.“Anli?” panggilnya pelan.Tidak ada jawaban.Ia menegakkan tubuh, menyalakan lampu kecil. Wajah istrinya pucat, bibirnya sedikit terbuka seolah kekurangan udara. Satu tangan menekan perutnya, jari-jari gemetar.Yuze langsung duduk, menopang bahunya.“Lihat aku,” katanya tegas.Mata Anli terbuka perlahan.“Yuze…” suaranya lirih. “Aku rasa… ada yang salah.”Kalimat itu membuat dada Yuze seperti diremas.“Apa yang kau rasakan?”“Bayinya… bergerak sangat jarang,” jawab Anli jujur. “Seharian ini. Aku baru sadar sekarang.”Yuze tidak bertanya lagi.Tangannya sudah lebih dulu meraih bel darurat di sisi ranjang. Suaranya memecah keheningan kamar dalam satu tekan singkat.Beberapa menit kemudian, pintu terbuka. Dokt
Meilin tidak langsung berteriak.Ia hanya berdiri kaku, seolah kakinya tertanam di tanah. Pemandangan di depannya terlalu kejam untuk diproses dalam satu tarikan napas.Song Weiyan.Adiknya.Seragam putih sekolah kerajaan yang seharusnya bersih kini kotor oleh debu dan noda darah. Bahunya turun naik menahan sakit, tapi matanya tetap keras, menolak menangis di hadapan mereka.Zhenrui melangkah ke depan.Satu langkah.Dua langkah.Langkahnya tidak tergesa, tidak pula marah secara terbuka. Justru ketenangan itulah yang membuat suasana berubah.Para murid yang tadi tertawa mulai merasakan sesuatu yang salah.“Masih belum cukup?” tanya Zhenrui akhirnya.Suaranya datar. Hampir tenang.Tidak ada teriakan. Tidak ada ancaman.Namun entah mengapa, halaman belakang itu mendadak terasa sempit.Salah satu murid menelan ludah. “Kami hanya… mengajarinya tempatnya, Yang—”“Kau tidak tahu tempatmu sendiri,” potong Zhenrui.Ia berdiri tepat di depan mereka sekarang, tubuhnya menjadi penghalang alami an
Zhenrui langsung menyadari satu hal penting.Jika ia tidak menjelaskan sekarang juga, Meilin benar-benar akan merendah.Ia menghela napas kecil, lalu mundur setengah langkah, sengaja memberi jarak agar gadis itu tidak semakin panik.“Tenang,” katanya pelan. Nada suaranya berubah, tidak lagi menggoda, melainkan tenang dan serius. “Duduk dulu. Jangan berdiri tiba-tiba.”Meilin menelan ludah, lalu menurut, duduk kaku di ranjang dengan tangan mencengkeram selimut.Zhenrui melanjutkan, kali ini menatap lurus ke arahnya.“Aku tidak bercanda soal ini,” katanya jujur.Meilin berkedip.“…Eh?”Zhenrui menyilangkan tangannya di depan dada, sikap seorang raja muda kembali muncul, tenang dan rasional.“Kau baru saja menjadi target,” ujarnya. “Dan setelah apa yang terjadi hari ini, akan ada lebih banyak mata yang tertuju padamu.”Meilin menegang.“Orang-orang seperti Jia Liang,” lanjutnya, “tidak bekerja sendirian. Gosip, tekanan, intimidasi, itu semua akan datang. Terutama pada seseorang tanpa sta







