Share

Api di Gedung Utama

Penulis: Maidina Asifa
last update Tanggal publikasi: 2026-09-17 21:11:44

"Jalan pintas ke pusat kota, Devan! Sekarang!"

Jeritan Maya memotong raungan mesin SUV yang melaju keras menembus malam. Wajahnya pucat pasi, matanya menatap lekat pada angka hitungan mundur di layar navigasi yang terus berkurang secara kejam.

142 detik.

Devan membanting setir ke kanan, membuat ban mobil mencicit nyaring di atas aspal basah. Tangannya yang bebas mencabut radio komunikasi, menekan tombol panggil darurat.

"Bagas! Lakukan RCR manual dan bilas pembuluh darah Pak Wijaya dengan larut
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Istri Buta Yang Terlambat Kau Cintai   Siapa Musuh Devan?

    "Kapan kau akan memberitahu Devan bahwa kau tidak pernah mencintaiku?" tanya Adrian.Maya berhenti tepat di ambang pintu kamar perawatan privat lantai tiga klinik Kensington. Jari telunjuk tangan kirinya yang biasa mengetuk paha kini tertahan kaku di balik saku mantel hitamnya. Aroma antiseptik pekat bercampur dinginnya pendingin udara ruangan menusuk hidung."Aku tidak perlu menjelaskan apa pun pada Devan," sahut Maya.Adrian bersandar kaku di atas tempat tidur medis. Selang infus menempel di punggung tangan kirinya, sementara bahu kanannya terbebat kain kassa tebal yang merembes merah tipis. Matanya yang redup menatap lurus ke arah Maya."Devan mengemas barang-barangnya di Richmond satu jam lalu," kata Adrian. Suaranya serak, rendah, dan kaku. "Dia pikir panikmu semalam adalah bukti bahwa aku masih memegang hatimu."Maya tidak menjawab. Ia melangkah mendekati meja kecil di samping ranjang, meletakkan cangkir kopi panas yang uapnya membumbung tipis."Kau membiarkannya berpikir begitu

  • Istri Buta Yang Terlambat Kau Cintai   Bagaimana Dengan Hati Devan?

    "Bawa dia ke klinik privat di Kensington," kata Maya. Suaranya gemetar, nada yang belum pernah Devan dengar selama empat tahun mereka menguasai London.Maya tidak menunggu respons Devan. Tangannya cemas menekan luka di bahu Adrian, membiarkan gaun sutra tebalnya bernoda darah pekat yang masih hangat. Jari telunjuk tangan kirinya tidak lagi mengetuk paha dalam irama konstan, melainkan gemetar hebat sewaktu menyapu keringat dingin di dahi Adrian.Devan berdiri kaku di ambang pintu kamar yang remang. Matanya tertancap pada jemari Maya yang sibuk mengusap luka Adrian, jemari yang sama yang tak pernah goyah saat menandatangani pengalihan saham bernilai jutaan poundsterling."Tim medis sipil sudah di jalan, Maya," ujar Devan. Suaranya datar, tetapi ada jeda tipis di antara kalimatnya. "Lebih aman jika dia dibawa dengan ambulans rahasia ke pelabuhan Felixstowe seperti rencana awal.""Tidak!" potong Maya cepat, kepalanya mendongak menatap Devan dengan tatapan panik. "Luka tembak ini menembus

  • Istri Buta Yang Terlambat Kau Cintai   Aku Teman Lama Bundamu, Arka

    "Bawa Arka keluar dari rumah sekarang," kata Maya.Maya tidak menunggu jawaban Devan. Jari telunjuk tangan kirinya mengetuk paha luar tiga kali dengan ritme konstan yang tajam. Sepatu hak tingginya berbunyi nyaring menembus keheningan koridor Blackwood Tower sewaktu ia membalikkan badan.Devan merampas ponsel enkripsinya dari saku mantel, jarinya menggeser panel panggilan cepat tanpa melepaskan pandangan dari Adrian. "Sinyal kamera pengawas di Richmond mati sepuluh menit lalu."Adrian melangkah dua tindak mendekati pintu keluar. Langkah kaki kirinya yang tumpat menyisakan gesekan halus di atas marmer. "Hendarto menyewa tim eksekutor dari Marseille. Pria yang memimpin mereka memakai nama samaran Gaspard.""Gaspard?" Devan menegang. Matanya membelalak kaku. "Pria itu pembunuh bayaran yang membakar gudang cadangan di Singapura lima tahun lalu.""Dia sudah di dalam hunian Richmond sejak pukul delapan malam," desis Adrian. "Dia tidak mencari uang atau saham. Hendarto memerintahkannya mengh

  • Istri Buta Yang Terlambat Kau Cintai   Adrian Yang Kembali

    "Jangan terlambat, Nyonya Maya," kata Julian Blackwood. Suaranya bergema halus dari pengerat suara di ruang rapat lantai empat puluh Blackwood Tower.Maya tidak menjawab. Jari telunjuk tangan kirinya mengetuk paha luar tiga kali dengan ritme konstan. Karpet tebal bernuansa biru dongker menyerap bunyi langkah kakinya saat ia melangkah mendekati meja kaca berbentuk oval di tengah ruangan."Dua menit lagi pukul sembilan," sahut Devan dari sampingnya. Pria itu menyilangkan tangan di dada, mantel hitamnya yang masih basah oleh gerimis London mengalirkan tetesan air kecil ke atas marmer.Julian berdiri dari kursi kulitnya. Jas tiga lapis berwarna abu-abu gelap membungkus tubuh jangkungnya yang tegap. Sepasang mata birunya yang tajam menatap lurus ke arah Maya, tanpa sedikit pun keramahan."Aku mengagumi ketepatan waktumu," ujar Julian sambil menggeser sebuah dokumen bersampul kulit merah ke tengah meja. "Terutama di hari pertama setelah kematian ayah biologismu."Maya tidak menyentuh dokume

  • Istri Buta Yang Terlambat Kau Cintai   Kabar Kematian Haryo

    "Haryo Wibowo meninggal dunia satu jam lalu di klinik Zurich," kata Devan.Maya tertegun. Jari telunjuk tangan kirinya yang biasa mengetuk paha dengan irama cepat mendadak terhenti kaku."Meninggal?" suara Maya tercekat, tenggorokannya mendadak terasa amat kering."Gagal organ," Devan merapikan mantel hitamnya yang lembap oleh gerimis London. "Tim medis di sana mengonfirmasi fisiknya menyerah. Tanpa konspirasi, tanpa sabotase. Haryo sudah tidak ada, Maya."Maya berbalik membelakangi Devan, menatap lurus ke luar jendela kaca besar yang membias rintik hujan malam. Sepersekian detik, bayangan pria tua berpipi cekung yang terbaring lemah di ruang perawatan Swiss melintas di benaknya. Pria yang selama ini menjadi sumber dari segala benang kusut dalam hidupnya, pria yang menyumbang separuh darah di dalam nadinya."Dia ayah biologisku, Devan," bisik Maya. Suaranya serak, bergetar tipis meski ia mencoba menahannya mati-matian. "Selurus apa pun garis hukum memisahkan kami, pria itu tetap ayahk

  • Istri Buta Yang Terlambat Kau Cintai   Papan Catur Dan Benang Yang terurai.

    Lampu gantung kristal di ruang pertemuan lantai atas Wijaya Empire Tower membiaskan cahaya keemasan di atas meja rapat lonjong berbahan kayu mahoni. Di luar, rintik gerimis London menyapu kaca-kaca jendela raksasa, mempertegas jarak antara kenyamanan hangat ruangan ini dengan dinginnya udara malam.Devan menggeser sebuah tablet tipis ke hadapan Maya. Di layarnya, terpampang struktur kepemilikan saham Blackwood Holdings yang rumit, melintasi belasan cangkang perusahaan dari Kepulauan Cayman hingga rekening rahasia di Zurich."Pernyataanmu kemarin terbukti presisi, Maya," ujar Devan, suaranya terdengar berat dan terukur. "Julian Blackwood bukan sekadar investor independen yang tergiur oleh keuntungan ekspansi bisnis kita di Eropa. Dia adalah perpanjangan tangan dari konsorsium Wibowo cabang Asia—lebih tepatnya Paman Hendarto Wibowo."Maya menyilangkan jemarinya di atas meja, menatap bagan silsilah dan aliran dana di layar. "Hendarto... adik kandung Haryo Wibowo.""Tepat," Devan mengangg

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status