Home / Rumah Tangga / Istri Buta Yang Terlambat Kau Cintai / Malam Yang Tidak Seharusnya Terjadi.

Share

Malam Yang Tidak Seharusnya Terjadi.

Author: Maidina Asifa
last update publish date: 2026-07-21 16:55:19

"Jangan lakukan ini, Adrian!"

Maya mendorong dada tegap suaminya dengan kedua tangannya. Suaranya rendah tetapi penuh penolakan. Ia berusaha menggeser tubuh Adrian agar menjauh di atas kasur, menolak setiap jejak sentuhan dari tangan pria yang sudah meremukkan hatinya.

"Jangan berpura-pura seolah kamu tidak pernah menginginkan ini, Maya!"

Dari sela bibir dan napas Adrian menguar aroma alkohol yang menyatu dengan udara malam. Bak singa kelaparan, dengan lengan tegapnya Adrian tidak membiarkan Maya lepas. Mengunci kedua pergelangan tangan istrinya di atas kepala, ia menekan bahu Maya ke atas sprei sutra yang dingin

"Kau mabuk berat, Adrian!"

"Mengapa kau terus menjauh dariku, Maya? Kau istriku. Kenapa kau bertindak seolah-olah aku orang asing?"

"Karena sejak awal kita memang selalu asing!" pangkas Maya. "Lepaskan aku, Adrian! Ini bukan kamar Larisa!"

"Tutup mulutmu!" bentak Adrian rendah, rahangnya mengeras. "Jangan sebut nama Larisa saat aku menginginkan dirimu!"

"Kau pembohong!" seru Maya, meronta sekuat tenaga untuk melepaskan himpitan tubuh Adrian.

"Aku tidak mau! Cukup, Adrian!"

Adrian mengabaikan penolakan itu. Logikanya habis terkikis oleh emosi, mendominasi sepenuhnya, ia tak memberi celah bagi Maya untuk menghindar. Adrian mendaratkan ciuman secara paksa, membungkam kasar ocehan-ocehan tajam istrinya.

"Layani aku! Tidak ada penolakan!"

Di bawah keremangan lampu, gaun tidur sutra hitam yang dikenakan Maya tersingkap oleh jemari Adrian, dengan rasa kepemilikan yang sah ia bergerak bebas meremas pinggang ramping istrinya.

"Kamu sungguh kejam, Adrian," lirih Maya tak berdaya, ia terhimpit oleh kekuatan fisik suaminya yang tak sebanding, tetesan air matanya menjadi saksi keterikatan pernikahan yang telah retak itu terjadi pertama kali di atas ranjang mereka.

Sinar matahari pagi menembus celah gorden. Maya terbangun dengan posisi menyamping. Mata kosong seperti biasa dia bawa menatap lurus ke arah bayangan tegap Adrian yang sedang sibuk mengancingkan kemeja kerjanya di depan cermin besar. Pria itu bergerak cepat, tanpa sedikit pun menoleh ke arah tempat tidur.

"Adrian," panggil Maya dari balik selimut.

"Rapikan pakaianmu," perintah Adrian tanpa menoleh sama sekali, suaranya kembali dingin seolah kehangatan semalam hanyalah ilusi.

"Anggap saja semalam tidak pernah terjadi apa-apa di antara kita."

Harusnya Maya sudah dapat menduga sebelumnya, tapi sakit yang menghantam dadanya tetap saja terasa nyata. Kehatangan yang sempat singgah tadi malam sontak menguap, berganti dengan sentilan keras meremukkan hatinya.

"Anggap tidak pernah terjadi?" Maya menghembuskan napas kasarnya, lalu memiringkan kepala, menatap kosong ke arah cermin. "Kau masuk ke kamarku, Adrian. Kau yang memaksa aku semalam!"

"Aku mabuk!" potong Adrian tajam seraya menyambar jas hitamnya di atas kursi. "Aku salah masuk kamar karena pengaruh alkohol. Jangan membuang waktumu untuk mengartikan hal-hal yang tidak ada."

"Kau pembohong, Adrian!" jerit Maya, baru kali ini dia berani meninggikan suara di hadapan suaminya. "Kalau ini cuma kesalahan, kenapa kau tidak pergi saat menyadari ini kamarku? Kenapa kau memperlakukanku seolah aku istri yang kau inginkan?"

Adrian berhentu di depan pintu. Sepatu kulitnya mengetuk lantai sekali, sebelum ia memutar gagang pintu tanpa membalas tatapan redup istrinya.

"Kamu yang memaksaku, Adrian!" murka Maya.

"Jangan bahas ini lagi, aku tidak ingin mendengarnya," pungkas Adrian lalu melangkah keluar dan membanting pintu rapat-rapat.

Maya menarik selimut menutupi dadanya. Air mata yang sempat membanjiri pipinya sontak tertahan dan tidak lagi menetes. Hatinya membatu seketika. Kepalsuan Adrian pagi ini menunjukkan betapa pandainya pria itu menyembunyikan kebenaran di balik topeng dinginnya.

Namun, Adrian tidak tahu satu hal.

Semalam, ketika pria itu tertidur lelap di sampingnya dengan napas terengah-engah akibat pengaruh alkohol, Maya tidak langsung memejamkan mata. Di balik kegelapan kamar, matanya yang sebenarnya bisa melihat merekam lekat raut wajah suaminya. Ia mendengarkan gumaman rumit yang keluar dari bibir Adrian sepanjang malam.

Dalam lelapnya yang gelisah, Adrian tidak pernah menyebut nama Larisa. Pria itu mencengkeram jemari Maya erat-erat di dalam mimpi, membisikkan satu nama berulang-ulang dengan nada penuh penyesalan.

"Maya... maafkan aku, Maya."

Bahkan nama itu terucap belasan kali hingga fajar menyingsing. Maya memegang tepi ranjang, meraba ukiran kayu di sana berpura-pura menjadi wanita buta yang rapuh, sementara pikirannya merenungkan kepingan teka-teki baru yang muncul.

Jika Adrian benar-benar membencinya dan hanya menginginkan Larisa, mengapa nama Maya yang keluar dari lubuk hatinya saat pertahanannya runtuh? Apakah kebenaran di rumah ini jauh lebih rumit daripada sekadar perselingkuhan biasa? Apakah ada kebohongan besar lain yang memaksa Adrian berpura-pura membencinya selama lima tahun ini?

Tiga minggu berlalu dalam kesunyian yang mencekat. Maya semakin matang mempersiapkan rencana kepindahannya ke London bersama Devan. Berkas tiket dan dokumen residensinya sudah tersimpan rapi di tempat aman.

Hingga pagi itu, rumah megah terasa lengang. Adrian sudah berangkat ke kantor sejak subuh, sementara Larisa sedang keluar entah ke mana.

Maya berdiri di dalam kamar mandi utama. Ia sengaja mengunci pintu rapat-rapat. Rasa mual yang mendadak menyerang sejak dua hari lalu kembali bergejolak hebat di perutnya. Maya berlutut di depan wastafel, memuntahkan cairan bening dengan dada bersusah payah menghirup udara.

Tubuhnya terasa sangat lemas. Suasana perutnya berantakan, disertai pusing yang memutar hebat di kepala. Maya memutar kran air, membasuh wajahnya. Begitu dipastikan tidak ada orang lain atau pelayan di sekitar kamar, fokus matanya kembali jernih dan tajam menatap pantulan dirinya di cermin.

Wajahnya pucat pasi. Ia memiringkan kepala, menghitung tanggal di dalam kepalanya. Siklus menstruasinya sudah terlambat lebih dari dua minggu.

Dengan jemari yang mulai gemetar kaku, Maya merogoh tas kecilnya dan mengeluarkan sebuah strip plastik putih yang baru dibelinya kemarin secara diam-diam. Ia meletakkannya di tepi wastafel miring, menanti detik demi detik yang terasa berjalan sangat lambat.

Satu garis merah tebal muncul pertama kali.

Napas Maya tertahan di tenggorokan. Matanya menatap tanpa berkedip pada celah indikator kecil itu.

Beberapa detik kemudian, garis merah kedua menyusul samar-samar, lalu perlahan merapat dan menebal tajam di samping garis pertama.

Dua garis merah.

"Ini tidak mungkin."

Maya memegang alat tes kehamilan itu erat-erat hingga plastik tipisnya berderit. Seluruh rencananya untuk pergi meninggalkan rumah ini dalam tiga bulan mendadak dihantam gelombang kenyataan baru yang tidak pernah ia perhitungkan sebelumnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri Buta Yang Terlambat Kau Cintai   Persiapan Wedding D****e

    "Aku mau pernikahan ini bukan cuma sekadar pesta megah, Devan. Aku mau ini jadi awal dari hidup yang baru untuk kita dan Arka," ujar Maya pelan, menatap lurus ke sepasang mata Devan saat berita pertunangan mereka melesat cepat bak gempuran badai, mendominasi headline media cetak, televisi, hingga portal berita bisnis internasional. Kabar bahwa dua sosok terkuat di balik kejayaan Wijaya Empire akan bersatu tak hanya mengguncang ibu kota, tetapi juga menyebar hingga ke luar daerah dan pelosok negeri. Semua orang membicarakan bagaimana Maya berhasil bangkit dari pengkhianatan masa lalu, menghentikan intrik kejam musuh-musuhnya, dan kini melangkah menuju pelaminan bersama pria yang selalu berdiri di sisinya."Serahkan semuanya padaku, Baby." Di tengah riuk-pikuk pemberitaan yang kian liar, Devan fokus pada satu hal: mewujudkan wedding dream Maya tanpa celah sedikit pun. Bagi Devan, Maya telah terlalu banyak menelan pahitnya penderitaan dan pengkhianatan. Kini, sudah saatnya ia merayakan

  • Istri Buta Yang Terlambat Kau Cintai   Lamaran Untuk Maya

    "Terima kasih atas perhatian palsumu selama ini, Chandra," potong Maya dingin menembus mikrofon, suaranya mengalun tajam menghentikan langkah pria itu di tengah kerumunan.Layar proyektor raksasa di belakang panggung masih memancarkan dokumen resmi penolakan hak waris klan Wibowo saat dua petugas kepolisian mengunci pergelangan tangan Chandra dan Lavina dengan borgol besi. Bunyi klik logam yang beradu bergema kaku, memutus seluruh ambisi kedua dalang kejahatan itu di hadapan ratusan pasang mata elit London.Devan melangkah perlahan mengikis jarak. Langkah kakinya mantap, penuh dominasi mutlak. Dengan kedua tangan tersimpan santai di saku celana bahan mewahnya, ia menghampiri Chandra yang kini berdiri kaku menahan kemurkaan.Devan menyunggingkan senyum kemenangan yang teramat dingin, menatap lurus ke dalam iris mata Chandra yang menyala oleh rasa benci."Bukan hanya ular cobra yang bisa tertangkap, Chandra," bisik Devan rendah, intonasinya begitu tenang namun meneteskan cemoohan tajam.

  • Istri Buta Yang Terlambat Kau Cintai   Titik Akhir Dendam Lavina dan chandra

    Layar proyektor raksasa itu memancarkan pendar cahaya terang, menampilkan cuplikan video secara gamblang. Suara Lavina terdengar begitu jernih memantul di setiap sudut grand ballroom, mengakui setiap niat jahatnya, aksinya memancing emosi Maya, hingga tawa ejekannya yang menghina sisa penderitaan keluarga Maya.Belum sempat para tamu memproses rasa terkejut mereka, layar berganti menampilkan dokumen rahasia: lembar demi lembar bukti transfer bank Zurich dengan angka fantastis. Aliran dana rahasia itu mengalir langsung dari rekening cangkang milik klan Wibowo—keluarga yang sudah menjadi rahasia umum di dunia bisnis sebagai musuh bebuyutan yang terobsesi meruntuhkan Maya sejak bertahun-tahun lalu."Bohong! Semua ini rekayasa! Video ini editan!" jerit Lavina histeris. Wajah cantiknya kini merah padam, hancur oleh rasa malu yang teramat sangat. Ia mengamuk tanpa kendali, menghempaskan cangkir dan peralatan makan di mejanya hingga berdenting keras menghantam lantai.Dengan mata memerah ibl

  • Istri Buta Yang Terlambat Kau Cintai   Pertunjukkan Lukisan

    Malam puncak peringatan ulang tahun Wijaya Empire di grand ballroom hotel Rosewood London berlangsung megah. Ratusan kolega bisnis, investor kelas atas, dan jajaran pemegang saham hadir memenuhi ruangan bernuansa emas tersebut. Di antara kerumunan, Chandra berdiri anggun menggenggam gelas sampanye, sementara Lavina tampil memukau dalam balutan gaun merah, bergelayut manja di lengan Devan yang berpura-pura menikmati sandiwara itu."Tatap semua orang di sini, Devan," bisik Lavina penuh kemenangan di samping Devan. "Malam ini, semua mata tertuju pada kita. Maya bukan lagi siapa-siapa bagimu."Devan menyunggingkan senyum tipis yang dipaksakan. "Fokus saja pada acaranya, Lavina. Jangan sampai karena hal kecil kau merusak malam ini."Tak lama kemudian, Maya melangkah naik ke atas panggung utama dalam balutan gaun hitam polos yang elegan. Tepuk tangan riuh seketika membahana memenuhi ruangan."Selamat malam, para hadirin yang terhormat," sapa Maya anggun di depan mikrofon, suaranya mengalun

  • Istri Buta Yang Terlambat Kau Cintai   Drama Di Balik Kemesraan

    "Saya tidak sudi memulai rapat ini jika ada orang yang tidak berkepentingan di sini," ucap Maya tajam, melemparkan pandangan jijik ke arah Lavina."Jaga sikapmu, Maya!" hardik Devan kencang, berdiri dari kursinya seraya mengebrak meja rapat. "Lavina di sini sebagai perwakilan pemegang saham baru! Jangan bawa dendam pribadimu ke dalam urusan profesional perusahaan!"Chandra menyandarkan tubuhnya dengan santai. Pria itu menyela dengan nada protektif yang biasa, "Tuan Devan, tidak perlu membentak Maya seperti itu. Jika kehadiran Nona Lavina memicu ketidaknyamanan sang CEO, bukankah sebaiknya diselesaikan secara bijak?"Maya membuang muka, menatap jendela kaca besar dengan bahu gemetar—sebuah akting frustrasi yang teramat sempurna. Dari sudut matanya, Maya merekam bagaimana kilatan puas terpancar dari mata Lavina, sementara Chandra menyunggingkan senyum misterius yang makin meyakinkan dugaan mereka.Permainan cat and mouse itu berlanjut selama berminggu-minggu. Maya terus membiarkan Chand

  • Istri Buta Yang Terlambat Kau Cintai   Bisa Berpura-Pura Buta, Tapi Tidak Bisa Membiarkan Menjadi Miliknya

    Sinar matahari pagi menembus celah gorden kamar utama, membiaskan pendar keemasan di atas sprei putih yang berantakan. Maya perlahan membuka matanya. Rasa hangat yang melingkupi tubuhnya seketika membuat kesadarannya pulih sepenuhnya. Ia tertegun kaku sewaktu menyadari dirinya berbaring tanpa sehelai benang pun, terkungkung rapat di dalam dekapan dada bidang Devan yang telanjang.Perasaan menyesal dan kecewa seketika merayapi benaknya. Di tengah badai konflik dan kebohongan yang belum terurai, bagaimana bisa ia terbuai hingga menyerahkan dirinya sedalam ini? Namun, Maya tidak bisa membohongi hatinya sendiri. Ia tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Devan, sebab semalam ia pun larut dan menikmati setiap sentuhan sensual yang mengikis logikanya.Ingatan tentang tujuan utamanya mendadak menyengat pikiran Maya. Rekaman itu.Dengan perlahan dan hati-hati, Maya berusaha menggeser lengan tegap Devan yang melingkar posesif di pinggangnya. Ia bergerak hendak bangun dari ranjang, namun pergerakan i

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status