공유

Bab 17: Alibi Alice

last update 게시일: 2026-02-28 07:00:38

“Kalian berdua!”

Suara Lucien menggelegar, memantul di dinding-dinding kamar pelayan itu.

Lucien berdiri di ambang pintu. Tubuhnya yang tinggi itu mengisi seluruh bingkai pintu hingga menghalangi cahaya lampu lorong.

Wajahnya merah padam dengan rahangnya mengeras dan matanya dipenuhi kemarahan yang begitu intens.

Emily masih berdiri dengan tangan mencengkeram erat pergelangan tangan Alice. Napas Em

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Istri Gadai Marquess Kejam   Bab 105: Vonis

    "Tabib, Kenapa kau berhenti?!" bentak Adrian lagi.TanganAdrian mencengkeram bahu Emily lebih erat, seolah-olah kekuatannya bisa menahan nyawa wanita itu agar tidak melayang pergi.Sorot matanya yang sebiru safir dipenuhi oleh kepanikan yang berusaha ditekan di balik topeng kepemimpinannya. Dia melihat Elian mematung dengan wajah pucat. Sementara tangannya tertahan di udara, tidak lagi melanjutkan pembersihan luka.Dengan jari yang gemetar, Elian menunjuk ke arah bagian bawah gaun sutra ungu Emily yang sudah basah kuyup."Tuan... pendarahannya tidak hanya berasal dari luka tusuk di pinggang ini," bisik Elian.Rahang Adrian mengeras. "Bicara yang jelas, Elian! Apa maksudmu?"Elian menghembuskan napas gemetar. "Lihat di sana, Tuan. Darah ini mengalir dari jalan lahirnya. Prediksi saya, Nona ini... wanita ini sedang mengandung, Tuan."Kata-k

  • Istri Gadai Marquess Kejam   Bab 104: Bayangan Masa Lalu

    Malam itu langit Valoria seolah terbakar. Adrian yang masih seorang bocah berusia sepuluh tahun dengan pedang kayu mainan di tangannya, berlari menyusuri lorong istana.Suara dentingan pedang baja sungguhan dan jeritan bergema di mana-mana. Pemberontakan berdarah sedang terjadi. Mengancam untuk meruntuhkan kediaman keluarganya.Dia mengingat saat pintu kamar ibunya didobrak oleh ayahnya sendiri, sang Grand Duke lalu menyerahkan sebuah bungkusan selimut kepada seorang pria muda. Pria itu salah satu abdi kepercayaan keluarga yang selama ini selalu tersenyum ramah pada Adrian."Bawa mereka pergi! Bawa Adrian dan Emmeline keluar dari istana ini melalui jalur pelarian timur. Ambil kotak perhiasan ini untuk bekal kalian!" teriak sang ayah penuh otoritas dan tyidak bisa dibantah. "Lindungi mereka dengan nyawamu!""Saya bersumpah, Tuan," jawab pria kepercayaan itu.Adrian dapat mel

  • Istri Gadai Marquess Kejam   Bab 103: Bulan Sabit

    "Tuan? Apa yang Anda lihat?"Pertanyaan Kael dipenuhi kecemasan melihat komandannya yang tiba-tiba membeku.Namun, Adrian tidak mendengar karena seluruh dunianya menyusut menjadi satu titik fokus yang berada tepat di bawah tulang selangka kanan wanita ada di pangkuannya.Di atas kulit itu terdapat sebuah tanda lahir kemerahan. Warnanya sedikit lebih gelap dari warna kulit di sekitarnya dan menonjol.Jantung Adrian, yang selama bertahun-tahun dilatih untuk tetap tenang walau di tengah pertempuran paling berdarah sekalipun, kini berdebar dengan ritme yang kacau.Rasa terkejut begitu besar hingga merasa seolah-olah baru saja dihantam oleh balok kayu berat. Napasnya tercekat di tenggorokan.Tanda bulan sabit."Tuan Duke, Anda baik-baik saja?" Kael memberanikan diri menyentuh bahu Adrian tetapi pria itu segera menepisnya.

  • Istri Gadai Marquess Kejam   Bab 102: Jejak Kematian

    "Cepat panggil tabib rombongan! Sekarang!"Teriakan Adrian Goldwyn menggelegar, memecah kebekuan pasukannya yang masih bersiaga di tengah kabut hutan."Baik, Tuan!" balas Gareth sigap lalu segera memutar tubuhnya dan berlari kencang menuju barisan belakang, tempat tabib tua rombongan mereka berada.Adrian kembali memfokuskan perhatiannya pada wanita yang terbaring di atas tanah berlumpur. Dia melepaskan sebelah sarung tangan kulitnya dan membuang ke samping.Dengan hati-hati, Adrian menempelkan dua jari telunjuk dan tengahnya ke sisi leher wanita itu untuk mencari detaknya.Adrin mengerutkan alisnya dan menahan napas. Dia mencoba menyingkirkan suara bising dari zirah pasukannya dan fokus pada ujung jarinya.Satu detik... dua detik... tiga detik berlalu tanpa ada respons. Padahal dia yakin tadi wanita itu bernapas walau sangat lemah."Tuan, apakah dia masih hidup?" tanya Kael yang merupakan pengawal muda.Pria itu berdiri di dekat Adrian sambil memegang obor untuk memberikan penerangan

  • Istri Gadai Marquess Kejam   Bab 101: Tubuh di Semak-Semak

    "Semuanya tetap di posisi! Awasi perimeter, jangan sampai kita disergap!"Perintah Adrian menggema memecah keheningan hutan. Pasukan Valoria seketika menyebar, membentuk formasi pertahanan lalu mengelilingi area tempat komandan mereka berdiri.Dalam misi diplomatik rahasia ini, Adrian memang tidak menggunakan atribut atau lambang kebesaran Grand Duke Valoria. Dia hanya mengenakan zirah ksatria biasa dan jubah pelindung standar.Dia membaur sempurna dengan anak buahnya. Bagi siapa pun yang melihatnya dari luar, dia hanyalah seorang kapten ksatria biasa, bukan penguasa tertinggi salah satu wilayah terkuat."Gareth, Kael, cepat turun. Sisanya, tetap waspada," perintah Adrian tanpa menoleh.Dua pengawal kepercayaannya segera melompat turun dari kuda mereka dan berdiri di kedua sisi Adrian, pedang terhunus siap sedia. Mereka tahu, di perbatasan liar seperti ini, sebuah gundukan di sem

  • Istri Gadai Marquess Kejam   Bab 100: Rombongan Valoria

    "Tuan Duke, cuaca di perbatasan Ashwood ini memang selalu lebih buruk dari prediksi. Haruskah kita mencari tempat berteduh sementara?"Suara derap ratusan kaki kuda yang menghentak tanah basah akibat hujan semalaman. Irama itu diselingi oleh bunyi gemerincing halus dari zirah rantai dan pedang panjang yang beradu di pinggang para ksatria.Mereka bergerak membelah hutan yang berkabut tebal. Pasukan elit yang tidak seharusnya berada di wilayah ini.Di barisan paling depan, memimpin rombongan tersebut, adalah Adrian Goldwyn. Grand Duke Valoria yang baru berusia dua puluh sembilan tahun itu duduk tegak di atas pelana kuda jantan berwarna putih keabu-abuan.Wajahnya yang tegas dan bersudut tajam tampak tidak terpengaruh oleh hawa dingin yang menusuk tulang. Sorot matanya yang sebiru safir menyapu ke sekeliling dengan kewaspadaan.Adrian baru saja kembali dari sebuah misi diplomatik ra

  • Istri Gadai Marquess Kejam   Bab 32: Sisi Rapuh

    Tubuh Emily menegang seketika. Jantungnya berpacu di dalam dadanya."Mawar..."Kata itu, diucapkan dalam bisikan yang penuh kerinduan.Lucien mengenalinya. Bahkan dalam ketidaksadarannya dan dalam demam, indera penciuman pria itu masi

  • Istri Gadai Marquess Kejam   Bab 31: Demam Tinggi

    “Jangan. Sebaiknya tidak perlu,” bisik Emily lalu memutar tubuhnya kembali menuju kamarnya.Dia tidak ingin melihat Lucien dalam keadaan pakaiannya basah kuyup. Bukan hanya Lucien yang curiga nanti, tetapi Alice atau para pelayan lainnya ikut curiga.Emily segera menuju kamarnya. Dia menutup pintu

  • Istri Gadai Marquess Kejam   Bab 30: Hujan Badai

    “Saya bicara yang sebenarnya, Marquess.” Emily menyahut. “Pemberat kertasnya jatuh hingga membuat surat-surat itu berhamburan ke lantai. Saya hanya bermaksud merapikannya kembali.”Cengkeraman tangan Lucien di pergelangan tangan Emily perlahan melonggar, meski tatapan matanya masih setajam mata ela

  • Istri Gadai Marquess Kejam   Bab 29: Surat Rahasia

    “Akhirnya orang itu pergi,” bisik Emily.Suara derap langkah kaki kuda Henry menjauh di halaman depan menandakan kepergian tamu tersebut. Lucien ikut mengantar sahabatnya sampai ke pintu utama, meninggalkan ruang kerjanya yang luas.Emily yang

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status