공유

Bab 17: Alibi Alice

last update 게시일: 2026-02-28 07:00:38

“Kalian berdua!”

Suara Lucien menggelegar, memantul di dinding-dinding kamar pelayan itu.

Lucien berdiri di ambang pintu. Tubuhnya yang tinggi itu mengisi seluruh bingkai pintu hingga menghalangi cahaya lampu lorong.

Wajahnya merah padam dengan rahangnya mengeras dan matanya dipenuhi kemarahan yang begitu intens.

Emily masih berdiri dengan tangan mencengkeram erat pergelangan tangan Alice. Napas Em

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Istri Gadai Marquess Kejam   Bab 95: Tubuh yang Menyerah

    Emily berada di atas punggung kuda cokelatnya. Kuda yang kelelahan semalam akhirnya bisa bergerak lagi. Emily tidak lagi memacu hewan itu. Dia tidak sanggup.Semenjak hujan reda semalam, sudah lebih dari dua belas jam dia berkuda tanpa henti, melintasi perbatasan Ashwood menuju arah utara yang tidak menentu. Tangannya kini basah dan kotor oleh lumpur mencengkeram tali kekang dengan sisa-sisa tenaga yang nyaris habis.Jemarinya kaku, membiru karena kedinginan, seolah-olah telah menyatu dengan kulit kekang yang kasar."Ayo, kawan... sedikit lagi," bisik Emily parau. Suaranya nyaris hilang, hanya berupa hembusan napas yang bergetar di udara dingin.Kuda itu meringkik lemah. Hewan malang itu berjalan gontai, kakinya gemetar setiap kali menginjak jalanan setapak yang lembek dan penuh lubang. Langkahnya berat dan tidak stabil.Pandangan Emily mulai mengabur. Kabut di depannya seolah-ol

  • Istri Gadai Marquess Kejam   Bab 94: Titik Lemah yang Terbuka

    "Keluar dari sini, Alice! Aku tidak punya waktu untuk mendengarkanmu sekarang!"Suara Lucien Montague menggelegar. Dia tidak suka memikirkan jika Emily kabur dengan pria lain.Ditatapnya Alice dengan mata yang merah perpaduan antara kemurkaan, kurang tidur, dan sisa alkohol yang masih membakar kepalanya.Alice tersentak, tangannya yang semula mencoba menyentuh lengan Lucien segera ditarik kembali. Wajah cantiknya memucat karena gertakan yang belum pernah diterima sebelumnya."Lucien, aku hanya ingin membantumu menyadari kebenarannya," Alice mencoba membela diri dengan suara gemetar, air mata palsunya mulai menggenang. "Emily mengkhianatimu. Dia lari seperti pengecut setelah semua kemurahan hati yang kau berikan. Tidakkah kau sadar kalau dia hanya memanfaatkan celah untuk—""Kemurahan hati?" Lucien memotong ucapan Alice lalu tertawa sinis. Langkahnya mendekat hingga Alice terpojok ke pintu. "Aku tahu apa yang kulaku

  • Istri Gadai Marquess Kejam   Bab 93: Amukan Sang Marquess

    "Buka pintunya. Aku ingin melihat apakah dia sudah cukup merenungi kesalahannya."Suara bariton Lucien Montague menggema di lorong sayap utama yang masih remang. Sinar matahari pagi yang pucat mencoba menembus kaca jendela mansion setelah badai besar semalaman.Namun, suasana di dalam rumah itu tetap terasa dingin. Lucien berdiri tegak di depan pintu kamar utamanya seraya merapikan kerah kemejanya yang masih sedikit berantakan.Ada kegelisahan yang tidak wajar merayap di dadanya sejak terbangun. Dia mencoba meyakinkan diri bahwa itu hanyalah sisa amarah, namun tangannya sedikit gemetar saat meraih gagang pintu.Dia berniat memberikan sedikit "kelonggaran" pada Emily. Mungkin membiarkannya makan di ruang makan atau sekadar memberinya udara segar di balkon setelah penyatuan paksa dan pengakuan dosa keluarga Fitzwilliam kemarin."Nyonya Emily belum bersuara sejak kemarin, Milord," l

  • Istri Gadai Marquess Kejam   Bab 92: Menembus Tirai Malam

    "Lari! Lebih cepat, kawan! Jangan biarkan mereka mengejar kita!"Suara Emily pecah di tengah deru angin badai seolah-olah sedang menantang petir yang baru saja menyambar.Dia membungkuk rendah di atas leher kuda cokelatnya, mencengkeram tali kekang dengan jari-jari yang sudah mati rasa karena kedinginan. Hujan deras yang turun bagaikan ribuan jarum tajam langsung menyapu wajahnya begitu memacu kudanya meninggalkan perbatasan terakhir mansion Montague."Hanya sedikit lagi, kita akan aman. Kita harus menjauh dari kota terkutuk ini!" teriaknya lagi, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada kuda di bawahnya.Air hujan masuk ke matanya, membuatnya perih dan memburamkan pandangan, namun Emily tidak peduli. Dia terus menendang sisi perut kuda itu, menuntut kecepatan yang lebih tinggi menembus kegelapan malam.Emily tidak memiliki peta, tidak memiliki rencana, dan tidak memiliki tuju

  • Istri Gadai Marquess Kejam   Bab 91: Senyum Sang Pemenang

    "Malam yang sangat sempurna untuk sebuah akhir yang tragis, bukan begitu?"Alice berbisik pelan pada pantulannya sendiri di kaca jendela lantai dua sayap utama.Suaranya hampir tenggelam oleh deru angin badai yang menghantam dinding mansion Montague, namun getaran kepuasan dalam nadanya tidak bisa disembunyikan.Tangannya yang ramping, masih terbungkus sarung tangan sutra, menyibak sedikit tirai beludru berat, memberikan celah kecil baginya untuk mengintip ke arah kegelapan halaman belakang.Di bawah sana, di tengah guyuran hujan, Alice melihat bayangan samar sesosok wanita yang sedang bersusah payah menaiki seekor kuda. Kilatan petir yang menyambar menerangi siluet Emily selama sepersekian detik sebelum kegelapan kembali menelannya.Alice memperhatikan dengan saksama hingga kuda itu dipacu menembus gerbang belakang dan menghilang di balik pepohonan hutan yang hitam. 

  • Istri Gadai Marquess Kejam   Bab 90: Keluar Menembus Badai

    "Apakah ini benar-benar akhir dari segalanya, ataukah awal dari kehancuran yang lebih besar?"Emily berbisik pada kegelapan kamar utama yang kini terasa asing baginya. Suaranya bergetar, hampir tenggelam oleh deru angin yang menghantam kaca jendela.Cuaca Ashwood seolah tidak pernah mengizinkan Emily untuk bernapas lega. Badai baru kembali menggulung di atas kota, membawa awan hitam yang tampak menindih atap-atap mansion Montague.Kilat menyambar di kejauhan, menerangi ruangan itu selama sepersekian detik, memperlihatkan siluet Emily yang terbungkus jubah perjalanan tebal berwarna hitam pemberian Alice.Emily menarik tudung jubahnya untuk menutupi kepala dan sebagian wajahnya yang pucat. Dia membalikkan badan, menatap ranjang berkanopi besar yang menjadi saksi bisu penghinaan dan rasa sakitnya selama beberapa malam terakhir.Kemudian, dia menatap meja rias di mana cincin

  • Istri Gadai Marquess Kejam   Bab 28: Rumor Si Cantik

    “Biarkan saja pelayan itu terluka tangannya!”Alice bersuara dengan keras. Lucien meletakkan surat kabarnya. Matanya menatap Alice datar.“Aku tidak suka kau bersikap seperti itu pada pelayan rendahan!” Alice kembali bersuara.

  • Istri Gadai Marquess Kejam   Bab 26: Rute Berbahaya

    "Bagaimana ini?" desis Emily pelan.Dia menyandarkan punggungnya ke dinding koridor yang dingin dan mulai berpikir.Jika dia tidak datang, Jordan akan kalang kabut. Penonton yang sudah membayar mahal untuk melihat Si Cantik Bertopeng akan mengamu

  • Istri Gadai Marquess Kejam   Bab 25: Alibi Sempurna

    “Katakan, Pelayan,” ulang Lucien. “Dari mana kau mendapatkan sabun mahal itu?”Pertanyaan Lucien yang dibisikkan itu membuat jantung Emily serasa berhenti berdetak. Seluruh darah di tubuhnya seolah membeku, dan rasa dingin yang menjalar dari ujung kaki hingga ke ujung kepalanya.Dia ketahuan.‘Tida

  • Istri Gadai Marquess Kejam   Bab 23: Pagi yang Membingungkan

    Untuk sesaat Emily terhanyut. Ciuman kasar yang dipenuhi rasa putus asa itu dibalas Emily dengan kerinduan yang sama besarnya.Dalam kegelapan lorong, Emily lupa siapa dirinya. Dia lupa statusnya, hukumannya, dan kebencian yang seharusnya dia pelihara rapat-rapat di dalam hati.“Emily.”Ilusi itu p

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status