LOGIN"Tabib, Kenapa kau berhenti?!" bentak Adrian lagi.TanganAdrian mencengkeram bahu Emily lebih erat, seolah-olah kekuatannya bisa menahan nyawa wanita itu agar tidak melayang pergi.Sorot matanya yang sebiru safir dipenuhi oleh kepanikan yang berusaha ditekan di balik topeng kepemimpinannya. Dia melihat Elian mematung dengan wajah pucat. Sementara tangannya tertahan di udara, tidak lagi melanjutkan pembersihan luka.Dengan jari yang gemetar, Elian menunjuk ke arah bagian bawah gaun sutra ungu Emily yang sudah basah kuyup."Tuan... pendarahannya tidak hanya berasal dari luka tusuk di pinggang ini," bisik Elian.Rahang Adrian mengeras. "Bicara yang jelas, Elian! Apa maksudmu?"Elian menghembuskan napas gemetar. "Lihat di sana, Tuan. Darah ini mengalir dari jalan lahirnya. Prediksi saya, Nona ini... wanita ini sedang mengandung, Tuan."Kata-k
Malam itu langit Valoria seolah terbakar. Adrian yang masih seorang bocah berusia sepuluh tahun dengan pedang kayu mainan di tangannya, berlari menyusuri lorong istana.Suara dentingan pedang baja sungguhan dan jeritan bergema di mana-mana. Pemberontakan berdarah sedang terjadi. Mengancam untuk meruntuhkan kediaman keluarganya.Dia mengingat saat pintu kamar ibunya didobrak oleh ayahnya sendiri, sang Grand Duke lalu menyerahkan sebuah bungkusan selimut kepada seorang pria muda. Pria itu salah satu abdi kepercayaan keluarga yang selama ini selalu tersenyum ramah pada Adrian."Bawa mereka pergi! Bawa Adrian dan Emmeline keluar dari istana ini melalui jalur pelarian timur. Ambil kotak perhiasan ini untuk bekal kalian!" teriak sang ayah penuh otoritas dan tyidak bisa dibantah. "Lindungi mereka dengan nyawamu!""Saya bersumpah, Tuan," jawab pria kepercayaan itu.Adrian dapat mel
"Tuan? Apa yang Anda lihat?"Pertanyaan Kael dipenuhi kecemasan melihat komandannya yang tiba-tiba membeku.Namun, Adrian tidak mendengar karena seluruh dunianya menyusut menjadi satu titik fokus yang berada tepat di bawah tulang selangka kanan wanita ada di pangkuannya.Di atas kulit itu terdapat sebuah tanda lahir kemerahan. Warnanya sedikit lebih gelap dari warna kulit di sekitarnya dan menonjol.Jantung Adrian, yang selama bertahun-tahun dilatih untuk tetap tenang walau di tengah pertempuran paling berdarah sekalipun, kini berdebar dengan ritme yang kacau.Rasa terkejut begitu besar hingga merasa seolah-olah baru saja dihantam oleh balok kayu berat. Napasnya tercekat di tenggorokan.Tanda bulan sabit."Tuan Duke, Anda baik-baik saja?" Kael memberanikan diri menyentuh bahu Adrian tetapi pria itu segera menepisnya.
"Cepat panggil tabib rombongan! Sekarang!"Teriakan Adrian Goldwyn menggelegar, memecah kebekuan pasukannya yang masih bersiaga di tengah kabut hutan."Baik, Tuan!" balas Gareth sigap lalu segera memutar tubuhnya dan berlari kencang menuju barisan belakang, tempat tabib tua rombongan mereka berada.Adrian kembali memfokuskan perhatiannya pada wanita yang terbaring di atas tanah berlumpur. Dia melepaskan sebelah sarung tangan kulitnya dan membuang ke samping.Dengan hati-hati, Adrian menempelkan dua jari telunjuk dan tengahnya ke sisi leher wanita itu untuk mencari detaknya.Adrin mengerutkan alisnya dan menahan napas. Dia mencoba menyingkirkan suara bising dari zirah pasukannya dan fokus pada ujung jarinya.Satu detik... dua detik... tiga detik berlalu tanpa ada respons. Padahal dia yakin tadi wanita itu bernapas walau sangat lemah."Tuan, apakah dia masih hidup?" tanya Kael yang merupakan pengawal muda.Pria itu berdiri di dekat Adrian sambil memegang obor untuk memberikan penerangan
"Semuanya tetap di posisi! Awasi perimeter, jangan sampai kita disergap!"Perintah Adrian menggema memecah keheningan hutan. Pasukan Valoria seketika menyebar, membentuk formasi pertahanan lalu mengelilingi area tempat komandan mereka berdiri.Dalam misi diplomatik rahasia ini, Adrian memang tidak menggunakan atribut atau lambang kebesaran Grand Duke Valoria. Dia hanya mengenakan zirah ksatria biasa dan jubah pelindung standar.Dia membaur sempurna dengan anak buahnya. Bagi siapa pun yang melihatnya dari luar, dia hanyalah seorang kapten ksatria biasa, bukan penguasa tertinggi salah satu wilayah terkuat."Gareth, Kael, cepat turun. Sisanya, tetap waspada," perintah Adrian tanpa menoleh.Dua pengawal kepercayaannya segera melompat turun dari kuda mereka dan berdiri di kedua sisi Adrian, pedang terhunus siap sedia. Mereka tahu, di perbatasan liar seperti ini, sebuah gundukan di sem
"Tuan Duke, cuaca di perbatasan Ashwood ini memang selalu lebih buruk dari prediksi. Haruskah kita mencari tempat berteduh sementara?"Suara derap ratusan kaki kuda yang menghentak tanah basah akibat hujan semalaman. Irama itu diselingi oleh bunyi gemerincing halus dari zirah rantai dan pedang panjang yang beradu di pinggang para ksatria.Mereka bergerak membelah hutan yang berkabut tebal. Pasukan elit yang tidak seharusnya berada di wilayah ini.Di barisan paling depan, memimpin rombongan tersebut, adalah Adrian Goldwyn. Grand Duke Valoria yang baru berusia dua puluh sembilan tahun itu duduk tegak di atas pelana kuda jantan berwarna putih keabu-abuan.Wajahnya yang tegas dan bersudut tajam tampak tidak terpengaruh oleh hawa dingin yang menusuk tulang. Sorot matanya yang sebiru safir menyapu ke sekeliling dengan kewaspadaan.Adrian baru saja kembali dari sebuah misi diplomatik ra
Beberapa jam kemudian, di tempat yang sama tetapi dari arah yang berlawanan.Emily baru saja berhasil menyelinap kembali ke dalam mansion. Tubuhnya basah oleh keringat, tetapi hatinya dipenuhi kepuasan yang luar biasa.Pertunjukan malam itu sukses. Si
“Hah... hah...”Napas Emily tersengal-sengal di sela-sela debu dan karat yang memenuhi saluran udara sempit itu.Dadanya terasa sesak seolah-olah dihimpit batu dan setiap inci kulitnya perih tergores dinding batu kasar di sekelilingnya.
Dia mengulurkan tangannya, mencoba melangkah hati-hati. Kakinya menyentuh sesuatu yang lunak dan berdebu. Itu tumpukan karung tua.Emily terus meraba-raba sekelilingnya. Dinding batu yang kasar dan berlumut. Lantai tanah btidak rata. Tumpukan kotak kayu yang hancur.&n
“Aku tidak pernah mengatakan itu!” bantah Emily. Suaranya keras. Menggelegar.“Diam!” Lucien mengangkat tangannya untuk menghentikan perdebatan itu.Dia memijat pelipisnya yang berdenyut. Kepalanya mendadak sakit. Dia seharusnya su







