MasukSuara langkah sepatu bergema di koridor Arvanden Corp pagi itu. Semua karyawan menunduk ketika sosok tinggi berjas hitam lewat dengan langkah tenang namun tegas. Tatapan mata Nayel Arvanden cukup untuk membuat siapa pun diam dalam ketakutan. Di tangannya, tablet berisi laporan keuangan sempurna, seperti biasa.
Namun pagi itu, sesuatu sedikit bergeser dari rutinitasnya. Begitu ia masuk ke ruang kerjanya di lantai lima puluh tujuh, sekretaris pribadinya, Mira, sudah menunggu di depan meja, membawa berkas yang belum ia minta. Wajah wanita itu terlihat tegang, tapi mencoba tersenyum. “Selamat pagi, Tuan Arvanden. Saya menemukan dokumen yang... sepertinya penting.” Nada suaranya hati-hati, tapi tangannya bergetar halus saat menyerahkan map berwarna abu-abu ke atas meja. Nayel mengangkat alis sedikit. “Penting?” “Saya tidak yakin, Tuan. Tapi... dokumen ini terselip di antara arsip kontrak merger bulan lalu. Saya pikir itu file lama.” Nayel membuka map itu tanpa ekspresi. Tapi begitu matanya membaca lembar pertama, ketenangan yang biasanya ia pelihara dengan sempurna seketika retak. Sebuah salinan kontrak pernikahan rahasia. Lengkap dengan tanda tangan dirinya dan... Alaire Davina. Untuk sepersekian detik, dunia di sekitarnya berhenti. “Siapa yang membuka file ini?” tanyanya datar. “Saya saya tidak tahu, Tuan. Saya menemukannya sudah terbuka di sistem lama. Mungkin staff arsip salah unggah dokumen.” Nayel menatap Mira dalam-dalam, matanya dingin, menembus. “Dan kau membaca isinya?” Mira menelan ludah. “Sedikit, Tuan. Saya hanya memastikan bahwa—” “Sedikit pun sudah terlalu banyak,” potongnya tajam. Keheningan membeku di antara mereka. Ruangan yang biasanya terasa megah kini seolah menyempit. Mira mencoba menahan diri untuk tidak mundur, tapi napasnya mulai tak beraturan. Ia tahu kesalahan sekecil ini bisa berakibat fatal terutama bila menyangkut rahasia pribadi sang CEO. Akhirnya Nayel menutup map itu perlahan, suaranya datar tapi berisi ancaman halus. “Buang file ini. Hapus semua salinannya. Jika ada satu byte pun tersisa di sistem, aku akan tahu.” Mira mengangguk cepat. “Baik, Tuan. Saya akan pastikan—” “Dan mulai hari ini,” lanjut Nayel tanpa memberi kesempatan, “kau tidak lagi menangani arsip pribadiku. Aku akan menunjuk seseorang lain untuk itu.” Nada suaranya tidak meninggi, tapi dingin yang keluar darinya jauh lebih mengerikan dari kemarahan mana pun. “Pergi.” Mira menunduk, lalu keluar dengan langkah cepat, hampir tersandung di ambang pintu. Begitu pintu menutup, Nayel memejamkan mata dan mengembuskan napas panjang. Ia jarang kehilangan kendali, tapi kali ini, rasa khawatir yang muncul bukan karena ketakutan rahasianya bocor melainkan karena bayangan wajah Alaire yang muncul di pikirannya. Sore hari, Alaire duduk di perpustakaan kecil penthouse, menatap jendela besar dengan secangkir teh di tangan. Sejak pesta malam itu, ia dan Nayel hampir tidak berbicara lagi. Ciuman di depan publik menjadi berita utama di media ekonomi: “CEO Dingin Akhirnya Menikah Diam-diam?” Ia tidak tahu bagaimana Nayel akan menghadapinya di kantor, tapi ia tahu pria itu tidak pernah membiarkan sesuatu berjalan tanpa kendali. Dan benar saja, malam itu, ia pulang lebih awal. Begitu pintu lift terbuka, Alaire langsung tahu ada yang berbeda dari raut wajahnya. Dingin seperti biasa, tapi kali ini... ada kegelisahan yang samar. “Kau membaca berita?” tanya Nayel datar. Alaire menatapnya sekilas. “Sulit untuk tidak membaca, mengingat wajah kita terpampang di semua portal berita.” “Aku sudah menanganinya.” “Dengan cara apa? Menghapus semuanya?” Nada sinis itu lolos tanpa bisa ia tahan. Nayel menatapnya tajam. “Kalau aku bisa menghapus kebenaran, mungkin aku sudah melakukannya sejak lama.” Hening. Kata-kata itu menggantung di udara seperti bilah tipis yang siap melukai siapa pun yang menyentuhnya. Alaire meletakkan cangkirnya. “Apa ada sesuatu yang terjadi di kantor?” Nayel tidak menjawab. Ia menatap keluar jendela, menimbang sesuatu. “Sekretarisku tahu terlalu banyak,” katanya akhirnya. “Seseorang menemukan salinan kontrak kita di sistem arsip.” Alaire menegang. “Jadi ada orang lain yang tahu?” “Untuk saat ini, belum,” jawabnya singkat. “Tapi jika bocor ke media... permainan ini berakhir.” “Permainan?” Alaire mengulang kata itu dengan getir. “Itu yang kau sebut tentang hidupku? Permainan?” Tatapan Nayel menusuk. “Jangan mulai lagi.” “Bagaimana aku bisa diam? Pernikahan ini sudah cukup salah. Sekarang rahasianya bocor, dan kau masih menyebutnya permainan?” “Kalau kau tahu apa yang sedang kuhadapi, kau tidak akan bicara seperti itu.” “Lalu jelaskan padaku, Nayel!” serunya, suaranya pecah. “Jelaskan kenapa kau menikahiku kalau semua ini hanya tentang dendam? Kenapa kau memenjarakanku di tempat ini tapi juga melindungiku seolah aku sesuatu yang berharga?” Wajah Nayel mengeras, tapi matanya... menunduk sesaat, seolah kehilangan arah. “Karena aku tidak bisa memisahkan keduanya.” Kata-kata itu pelan, tapi cukup untuk membuat Alaire terdiam. Ia tidak tahu apakah itu pengakuan, atau justru peringatan. Nayel mendekat, menatapnya lekat-lekat. “Mulai besok, aku akan urus orang yang tahu tentang kontrak itu. Aku tidak ingin ada satu pun yang menyebut namamu lagi di kantor.” “Dan kalau mereka tetap membicarakannya?” Tatapannya menjadi dingin lagi. “Mereka tidak akan sempat.” Ada sesuatu dalam nada suaranya yang membuat darah Alaire berdesir ngeri. Untuk pertama kalinya, ia menyadari betapa jauh Nayel akan melangkah demi menjaga rahasia mereka tetap terkubur. Malam itu, ketika Nayel menghilang ke ruang kerjanya, Alaire berdiri di depan jendela, menatap lampu-lampu kota yang gemerlap di bawah sana. Dunia luar terus berputar, sementara hidupnya berhenti di balik dinding kaca. Ia tidak tahu siapa yang lebih berbahaya rahasia mereka, atau pria yang berusaha melindunginya.Malam itu hujan turun pelan, bukan yang deras sampai memaksa orang menutup jendela, tapi yang cukup untuk membuat suasana terasa lebih sunyi dan hangat. Alaire berdiri di dapur, menunggu air mendidih untuk teh jahe. Rambutnya masih agak basah habis mencuci piring, menyisakan aroma sabun lembut yang samar memenuhi udara.Nayel muncul dari ruang tamu, membawa handuk kecil.“Kamu lupa keringin rambut,” ujarnya sambil menghampiri, nada suaranya terlalu biasa—tapi tatapannya tidak. Ada perhatian kecil yang tidak berani ia akui, bahkan kepada dirinya sendiri.Alaire hanya mendengus pelan. “Lagi males. Lagian bentar lagi juga kering sendiri.”Nayel berhenti tepat di belakangnya, begitu dekat sampai Alaire bisa merasakan kehangatan tubuhnya. “Nanti masuk angin.”Alaire memutar mata. “Kamu kayak bapak-bapak aja.”“Kalau itu bikin kamu nurut, boleh.”Ia mengangkat handuk dan mulai mengeringkan rambut Alaire pelan.Gerakannya hati-hati. Tidak tergesa. Tidak juga ragu. Ada sesuatu yang berubah da
Senja turun perlahan, mewarnai langit desa dengan warna oranye kemerahan. Bayangan pepohonan memanjang, dan udara sore membawa aroma asin dari arah laut. Alaire menutup jendela ruang kelas setelah anak-anak pulang, lalu menghela napas lembut. Hari itu melelahkan, tapi menyenangkan.Ketika ia hendak pulang, ia melihat seseorang bersandar pada pagar sekolah.Galen.Dia tidak membawa barang apa pun. Tidak ada roti, tidak ada buku, tidak ada alasan yang bisa dipakai sebagai dalih. Hanya dirinya—dengan raut wajah yang lebih tenang dari biasanya, tapi matanya… menyimpan sesuatu.Sesuatu yang berat.“Kamu nungguin aku?” tanya Alaire, mendekat.Galen mengangguk kecil. “Boleh jalan bareng?”“Tentu.”Mereka berjalan menyusuri jalan setapak menuju desa. Langit makin gelap, suara jangkrik mulai terdengar. Untuk beberapa menit, tidak ada yang bicara—hening yang aneh tapi tidak menegangkan. Hening yang terasa seperti jeda sebelum seseorang mengatakan sesuatu yang penting.Alaire melirik sesekali. G
Pagi itu, embun masih melekat di daun flamboyan, membentuk titik-titik bening yang memantulkan sinar matahari. Udara dingin tapi segar, dan aroma tanah setelah hujan malam sebelumnya masih terasa pekat. Alaire berdiri di halaman, memeriksa pot-pot bunganya, memastikan akar muda flamboyan tidak tergenang air.Ia mengenakan sweater rajut tipis warna krem, rambutnya sedikit berantakan karena baru bangun. Ada rasa tenang yang mengalir di dalam dirinya—sejenis kenyamanan yang jarang ia rasakan beberapa tahun terakhir. Ia tidak menyadari bahwa pagi itu akan membawa sesuatu yang berbeda.Suara langkah mendekat membuatnya menoleh.Galen muncul di pagar, membawa bungkusan roti hangat. “Pagi,” sapanya sambil tersenyum canggung, seolah ia sendiri tidak yakin kenapa bisa berada di sana sepagi itu.Alaire mendekat. “Pagi. Kamu… bangun pagi banget.”“Bengkel lagi sepi. Dan aku lewat sini.”“Kamu selalu ‘lewat sini’, ya?”“…mungkin.”Jawaban terakhir disampaikan dengan nada rendah namun jujur, membu
Hujan turun tipis malam itu, seperti kabut yang merayap turun dari pucuk pohon. Rumput di halaman rumah Alaire mengilap, memantulkan cahaya lampu teras yang kekuningan. Suasana itu menenangkan, namun juga membuat hati mudah membuka diri—dan mungkin itu sebabnya Galen masih ada di sana, duduk di tangga teras bersama Alaire meski waktu sudah melewati pukul sepuluh malam.Alaire menatap cangkir teh hangat di tangannya. “Kamu yakin nggak mau pulang? Jalan ke rumah kamu gelap.”Galen terkekeh pelan. “Aku udah biasa jalan gelap-gelapan. Lagi pula…,” ia menatap langit yang mulai berkabut lagi, “sepertinya hujan mau turun lebih deras.”Alaire mengangguk, yakin alasan itu hanya separuh yang benar. Galen jarang pulang cepat akhir-akhir ini, entah karena pekerjaannya di bengkel meningkat atau karena dia mulai terbiasa singgah ke rumah Alaire. Kadang ia membawa roti, kadang hanya cerita receh, kadang hanya diam menemani.Dan entah sejak kapan, Alaire merasa keberadaannya bukan lagi hal yang cangg
Pagi itu, udara desa masih dingin dan lembut, seperti sedang mencoba memeluk siapa pun yang lewat. Alaire berjalan menuju sekolah dengan langkah tenang, mengenakan cardigan hijau tua yang membuat kulitnya tampak lebih hangat. Di tangannya ada sekeranjang kecil berisi kapur tulis, lem kertas, dan beberapa alat gambar untuk murid-muridnya.Saat ia tiba di gerbang sekolah, ia melihat seseorang sedang jongkok di depan taman kecil—menata batu-batu yang kemarin diacak-acak angin malam. Bahunya lebar, rambutnya sedikit berantakan seperti baru bangun.“Galen…?”Pria itu menoleh, tersenyum kecil seperti biasa—senyum yang tidak pernah meledak, tapi selalu terasa stabil.“Pagi, Bu Guru.”Alaire mengerutkan kening. “Sejak kapan tugasmu memperbaiki taman sekolah?”Galen berdiri sambil membersihkan tangannya. “Sejak kamu bilang anak-anak suka main di sini. Batu-batunya runcing. Aku takut ada yang jatuh.”Alaire menatapnya lama. “Kamu ke sini tiap pagi?”“Kalau sempat.” Galen mengangkat bahu. “Kebet
Hujan turun sejak subuh, membuat desa terbungkus aroma tanah yang lembap dan menenangkan. Alaire duduk di beranda rumahnya, memegang cangkir teh yang sudah tinggal setengah. Pandangannya menerawang ke pohon flamboyan mudanya yang bergoyang tertiup angin.Setiap kali hujan turun seperti ini, kenangan tentang Nayel datang tanpa diundang—tapi tidak lagi setajam dulu. Kini, kenangan itu seperti lagu lama yang lirih. Kadang membuatnya tersenyum, kadang membuat dadanya hangat dengan rasa rindu yang manis.Pintu pagar kecil diketuk pelan.Alaire menoleh. Galen berdiri di depan pagar, jaketnya sedikit basah. Ia menunduk sopan sebelum bicara.“Pagi, Bu Alaire. Maaf ganggu… tapi saya bawa ini.” Ia mengangkat keranjang anyaman kecil berisi ubi rebus.Alaire tersenyum samar. “Masuk saja, Galen. Dari pada kau kehujanan.”Galen ragu sejenak, lebih karena sifatnya yang selalu menjaga jarak, bukan karena takut. Lalu ia melangkah masuk perlahan. Setelah duduk di kursi kayu berhadapan dengannya, ia mem







