Share

Bab 3

Author: Fiery
"Kalau ada waktu, tolong tanda tangani surat cerainya. Setelah selesai, minta wakil keluarga hubungi aku, nanti aku suruh orang buat ambil."

Melihatnya menekan cerutu dengan marah ke atas meja marmer, saat itu aku hampir saja keceplosan untuk mengingatkannya.

Namun, aku langsung tersadar kalau kami mau bercerai. Untuk apa aku peduli lagi pada sikap dinginnya yang selalu mengabaikan hasil kerja keras dan pengabdianku selama ini.

Baru sekarang aku paham. Ternyata semua sikap masa bodoh itu adalah bukti kalau dia memang tidak pernah menempatkan aku di dalam hatinya.

Aku hanya bisa tersenyum sinis meratapi diri sendiri, lalu berbalik jalan menuju kamar tidur.

Dari belakang terdengar suara marah Ryuga.

"Wina, selama bertahun-tahun ini aku udah terlalu manjain kamu. Kamu tenangin diri aja dulu di rumah."

Selesai bicara, dia membanting pintu dan pergi.

Kepalaku terasa makin berat, seluruh tubuh terasa panas tapi sekejap kemudian menggigil. Aku pun tahu kalau aku pasti demam tinggi.

Dengan kesadaran yang kabur, aku mencari obat penurun panas di laci lalu menelannya dan langsung tertidur di balik selimut.

Saat terbangun lagi, hari sudah siang keesokan harinya.

Aku mengambil ponsel dan melihat tidak ada satu pun panggilan tak terjawab. Semalam Ryuga tidak pulang dan tidak meneleponku sama sekali.

Setelah membereskan dokumen-dokumen penting, aku kembali ke ruang ganti dan melihat hanya ada sedikit pakaian milikku yang tergantung di sudut kecil.

Aku tertawa getir lagi, lalu dengan mantap menenteng tas dan melangkah keluar dari penjara yang mengurungku selama 10 tahun ini.

Bercerai dari suami bos mafia cuma gara-gara dia melirik sekretarisnya memang terdengar tidak masuk akal.

Tapi, hanya aku yang tahu berapa banyak rasa cinta dan kasih sayang yang tersirat dalam lirikan itu.

Ini adalah rahasia yang tidak diketahui siapa pun selain aku dan Ryuga.

Waktu kami baru kenal, dia sedang melewati masa-masa sulit di sekolah.

Saat itu dia dibuang oleh keluarganya dan dikirim ke sekolahku sebagai murid pindahan.

Karena konflik kekuasaan keluarga, dia dirundung oleh murid-murid lain di sekolah demi menekan mentalnya.

Saat dia memperkenalkan diri di depan kelas, tatapan matanya yang dalam langsung menarik perhatianku.

Dia ditempatkan di posisi paling pojok di barisan belakang.

Sepanjang jalan menuju bangkunya, dia disandung tidak kurang dari tujuh kali.

Malam hari saat baru mau pulang sekolah, aku melihat banyak teman yang berlarian menuju gang di belakang sekolah.

Aku pun berpapasan dengan Merry yang berlari terengah-engah ke arahku lalu menarik tanganku.

"Wina, katanya anak baru itu dipukuli habis-habisan di gang belakang, yuk kita lihat."

Dia langsung menarikku paksa menuju gang belakang.

Begitu masuk ke gang, aku mendengar suara. "Dasar anak haram, berani-beraninya kamu rebut cewekku!"

Kemudian aku melihat Ryuga yang tergeletak di tanah, dia dipukuli secara keji oleh sekelompok orang itu memakai tongkat.

Saat itu dia penuh luka, terkapar di tanah dan nyaris tidak bernapas.

"Aku nggak melakukannya." Ryuga memaksakan tiga kata itu keluar dari sela giginya dengan suara yang pecah tapi terselip keangkuhan.

Dia baru saja pindah ke sekolah kami, bahkan belum mengenal siapa-siapa, mana mungkin dia bisa merebut pacar orang.

Mendengar itu, Bobby langsung menendang tubuhnya dua kali.

Suara erangan tertahan dari Ryuga terdengar lagi.

Teman-teman yang menonton tidak ada yang berani menentang kelompok itu, tidak ada yang berani melerai.

Melihat gelagatnya, mereka sepertinya tidak ada niat untuk berhenti.

Kalau terus dipukuli seperti itu, Ryuga bisa-bisa cacat total.

"Polisi datang!"

Aku bersembunyi di balik kerumunan teman-teman lalu berteriak sekencang mungkin di tengah keributan.

"Sialan!"

Kelompok itu memaki-maki dan langsung pergi dari sana dalam sekejap.

Aku pun memanggil sopir dan pengawal, lalu mengangkatnya ke mobilku untuk dibawa ke rumah sakit.

Setelah dokter selesai memberi pertolongan darurat dan biaya administrasi dilunasi, aku pun pulang ke rumah.

Besoknya saat baru sampai di kelas, aku melihat ada bunga mawar biru kesukaanku di atas meja.

Begitu mendongak, aku melihat tatapan matanya yang dalam tidak lagi suram, tapi mulai ada secercah harapan.

Aku bertemu dengannya lagi di koridor menuju kamar mandi.

Seluruh tubuhnya basah kuyup saat keluar dari kamar mandi. Setelah melihatku dia langsung menunduk malu dan bergegas lewat.

Seminggu kemudian, setelah makan siang aku pergi ke hutan bambu di sekolah untuk jalan-jalan.

Tiba-tiba terdengar suara dingin. "Patahin kakinya, kita lihat apa dia masih berani macam-macam sama aku!"

Aku melihat seorang pria yang sedang memainkan belati. Dia tersenyum licik mengambil balok kayu sebesar paha dan berjalan ke arah Ryuga.

Begitu melihat itu Ryuga, aku segera mengirim pesan ke pengawal agar cepat datang ke sini.

Saat balok kayu itu hampir saja menghantam tempurung lutut Ryuga.

"Kalian lagi ngapain?"

Aku berteriak sekuat tenaga.

Mereka menoleh dan melihat kalau yang datang cuma seorang gadis muda, lalu mereka tertawa mengejek.

"Kenapa? Adik manis, kamu mau ikutan juga?"

"Ini lingkungan sekolah. Perbuatan kalian ini salah. Kalian lakuin perundungan, aku bakal laporin ke guru."

Aku memberanikan diri untuk mengulur waktu sambil menunggu pengawal datang.

Sebenarnya hal seperti ini terjadi di sekolah, lapor ke guru pun tidak ada gunanya karena mereka tidak pernah mau ikut campur dalam konflik keluarga mafia.

Saat itu ada yang mengenali kalau aku adalah putri dari Keluarga Marisa, lalu membisikkannya ke orang di sebelahnya.

Orang itu menoleh menatapku dengan tajam, lalu melambaikan tangan membawa kelompoknya pergi begitu saja.

Aku pun langsung menghampiri Ryuga dan melihat lengannya tertekuk tidak wajar di samping tubuhnya, jelas sekali kalau sudah patah.

Hatiku pedih melihat wajahnya yang hancur karena dipukuli.

Dengan bantuan pengawal dan sopir, aku membawa Ryuga ke vila tempat tinggalku sementara.

Dokter pribadi segera datang untuk memeriksa Ryuga dan menyambung lengannya yang patah.

Sepanjang proses itu Ryuga tidak sadarkan diri.

Dokter bilang dia butuh istirahat total dan sudah melewati masa kritis.

Karena tahu tidak ada yang akan merawatnya, kali ini aku memutuskan untuk tidak mengirimnya ke rumah sakit.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri Geniusku Ternyata Putri Mafia   Bab 9

    Ryuga baru saja melangkah pergi, ruang kopi langsung geger."Kalau Wina itu Nyonya Bos, terus Lisa itu apa?""Gila, ternyata mereka nikah siri? Misterius banget.""Tadi aku sempat maki-maki Wina, apa Bos tahu ya? Bakal diusir dari keluarga nggak ya aku?""Berarti Lisa itu pelakornya? Terus tiap hari dia sok berkuasa dan pamer di depan kita, cuma akting doang?"Hanya dengan satu kalimat, Ryuga membuat status Lisa di keluarga langsung terjun bebas.Ryuga tidak peduli lagi apa yang dipikirkan Lisa yang sedang cuti itu.Satu-satunya pikirannya sekarang adalah segera menemukan Wina dan membawanya kembali ke sisinya.Setelah menenangkan diri semalaman, dia akhirnya sadar.Dia dan Wina bukan sekadar suami istri. Mencintainya sudah menjadi kebiasaan, hingga dia sempat tidak menyadari perasaannya sendiri.Semua kesalahan ada pada dirinya.Asalkan Wina mau kembali ....Dia rela melakukan apapun untuk menebus kesalahannya.Dia mengambil ponsel, lalu teringat kalau Wina sudah menghapus nomor telep

  • Istri Geniusku Ternyata Putri Mafia   Bab 8

    Ryuga teringat sikap Wina yang tidak biasa, sangat dingin dan begitu teguh saat meminta cerai.Dia langsung menelepon Kevin sambil menahan amarahnya."Wina minta cerai itu ajaranmu, ya? Kamu sekarang udah jadi orang ketiga di pernikahan kami, jangan keterlaluan!""Oh, ya?" Suara yang rendah dan karismatik terdengar perlahan dari seberang."Ngomong-ngomong, aku benar-benar harus berterima kasih sama kamu. Kalau bukan karena kamu berpaling, aku nggak akan pernah dapat telepon dari Wina."Kedua belah pihak terdiam dalam keheningan yang mencekam, konfrontasi tanpa suara pun telah dimulai.Setelah sekian lama, Kevin baru berbicara dengan suara rendah setelah mendengar napas Ryuga yang makin berat, "Aku udah kasih kamu kesempatan, tapi kamu sendiri yang mengkhianatinya.""Sekarang kamu nggak bisa salahin aku. Dia pantas mendapatkan yang terbaik, sedangkan kamu nggak layak."Telepon ditutup.Ryuga duduk di lantai marmer yang dingin dan gelap, tidak lagi merasakan hawa dingin yang merayap.Dia

  • Istri Geniusku Ternyata Putri Mafia   Bab 7

    Tidak bisa dipungkiri kalau Lisa memang memberinya rasa segar yang berbeda dari Wina.Namun, rasa segar itu tidak cukup kuat untuk mengguncang pernikahannya.Apalagi sampai merusak perasaannya pada Wina.Dia selalu merasa dirinya tinggi dan paling meremehkan orang yang berselingkuh.Dia juga pernah mengucap sumpah di gereja kalau dia tidak akan pernah mengkhianati Wina seumur hidupnya.Karena itulah, saat menyadari ada perasaan untuk Lisa, dia berusaha menghindar dan melarikan diri.Dia bahkan merasa sangat bersalah.Untunglah, rasa suka itu tidaklah banyak.Tapi, dia tidak menyangka kalau Wina tetap bisa menyadarinya.Sikap marah dan kasar yang dia tunjukkan sebenarnya hanyalah cara untuk menutupi perasaan batinnya yang sesungguhnya.Secara logika, dia tetap menganggap cuma Wina yang bisa menjadi istrinya.Lisa hanyalah seorang sekretaris, orang asing yang cuma lewat sebentar dalam hidupnya.Dibandingkan perkataan Lisa, dia tentu lebih memercayai istrinya yang sudah melewati suka duka

  • Istri Geniusku Ternyata Putri Mafia   Bab 6

    Ryuga menyambar gelas di atas meja lalu membantingnya sekuat tenaga ke lantai marmer.Tato belati yang bersilangan di lengannya kini tampak makin mengerikan.Beberapa saat kemudian, Ryuga melambaikan tangan dengan lunglai. "Kamu keluar dulu, nanti aku yang hubungi dia.""Kamu selidiki keluarga mana yang berani ambil itu. Cari tahu apa mereka punya hubungan bisnis sama kita atau nggak.""Kalau ada pengkhianat di dalam keluarga, langsung habisi aja."Selama 10 tahun memimpin keluarga ini, tidak pernah sekalipun dia mengalami kerugian sebesar ini.Dulu kalau ada masalah, Wina selalu setia mendampinginya.Sesulit apa pun masalahnya, selama Wina yang turun tangan, semua pasti bisa selesai dengan mudah.Namun sekarang, Wina ingin gugat cerai dia.Dia terpaksa menghadapi situasi darurat ini seorang diri.Rasa panik dan frustrasi yang tidak berujung mulai menenggelamkannya.Fakta bahwa semua transaksi direbut orang lain berarti seluruh investasi awal keluarga sudah lenyap sia-sia.Kalau dia ti

  • Istri Geniusku Ternyata Putri Mafia   Bab 5

    Belum sempat aku menjawab."Ibu pasti ada urusan mendesak makanya lupa ketuk pintu.""Wina, kamu makin nggak ada tata krama ya. Kayaknya aku udah terlalu manjain kamu sampai kamu jadi ngelunjak begini."Seketika aku merasa sangat sesak karena menahan amarah. Jariku meremas surat pengunduran diri itu kuat-kuat."Aku ke sini mau ambil surat cerai.""Keluar! Jangan masuk kalau nggak bisa ketuk pintu."Suara kemarahan Ryuga menggelegar ke seluruh ruangan.Lisa langsung panik begitu mendengar soal surat cerai."Aduh Bos, jangan marah-marah dong. Ibu pasti nggak sengaja.""Pasti Ibu lagi emosi aja makanya ngomong sembarangan."Sambil bicara begitu, dia menarik lenganku dengan gaya sok polos dan berkata, "Bu, jangan emosi dulu ya. Ada apa-apa tuh diomongin baik-baik aja."Baru saja aku hendak menarik lenganku, Lisa sudah jatuh terjatuh ke samping hingga dahinya membentur lantai marmer dengan keras."Bu, aku nggak nyalahin Ibu kok. Ini emang aku aja yang kurang hati-hati."Aku baru saja ingin

  • Istri Geniusku Ternyata Putri Mafia   Bab 4

    Setelah kejadian itu, tatapan Ryuga selalu tertuju padaku.Saat aku menyadari hal itu dan balas menatapnya, dia selalu membuang muka secepat mungkin.Terkadang kalau aku ingin jalan kaki dan tidak minta dijemput sopir, di belakangku selalu ada ekor kecil yang mengikuti dari jauh.Suatu akhir pekan, aku dan teman-temanku janjian untuk pergi panjat tebing.Baru saja sampai di lokasi, kami berpapasan dengan Joseph, pewaris dari keluarga musuh.Aku membuang muka untuk menghindar, tapi tangan Joseph yang memegang cerutu tampak mengencang. Tatapan matanya yang kejam terus mengincarku.Baru sekitar lima menit kami turun tebing, muncul suara batu berjatuhan dan perkelahian dari puncak gunung yang seharusnya tidak ada orang di sana.Aku melihat tali utama kami bergoyang hebat, seolah ada seseorang yang sedang sekuat tenaga memotong tali itu.Belum sempat terpikir rencana darurat, terdengar teriakan Ryuga dari atas, "Wina, aku di sini!""Jangan takut, aku tarik kamu ke atas!"Setelah selamat dar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status