LOGINSuara bising beberapa menit yang lalu kembali menjadi hening saat dentingan piano menggema memenuhi gereja katedral yang berada di kota Shane.
Semua orang berpakaian mahal berdiri dengan khidmat. Berpuluh mata memandang pada pintu masuk gereja—di sana berdiri seorang wanita dengan gaun putih pengantin membalut tubuhnya, ditemani seorang pria paruh baya yang ikut berdiri di sampingnya. Langkah-langkah kecil mulai bergema dari enam pasang sepatu di belakang mereka berdua membawa buket bunga mawar dan beberapa bunga tulip yang merupakan bunga favorit mempelai wanita. Saat alunan musik klasik mulai dilantukan, wanita bergaun putih beserta pria paruh baya—yang adalah ayahnya melangkah menyusuri altar dengan hiasan bermacam bunga di sampingnya, dengan karpet merah membentang di depannya hingga menuju singgahsana di mana calon mempelainya telah menunggu kedatangannya. Raut wajah itu terpancar datar, tanpa senyum khas seorang pengantin, tak berbeda dengan calon mempelainya yang saat ini menatap tak suka ke arahnya dari atas altar. Suara bisikan mulai terdengar samar, dengan langkah anggun bak seorang puteri. Wanita itu terus melangkah mengabaikan tatapan penuh ejeka ndari orang-orang yang masih kerabat dekat pengantin pria karena wajahnya yang buruk rupa. Tangan berbalut sarung tangan putih menjulur, disambut jemari kokoh berkulit putih namun tak seputih pria berjas putih tersebut, yang siap menggenggamnya. Kedua mempelai berdiri tegap menghadap sosok pendeta di depannya membacakan janji pernikahan. Suasana mulai hening, menikmati saat kedua bibir berbeda bentuk mengucap janji di depan altar secara bergantian walau terkesan dingin . Janji pernikahan telah terucap, saatnya acara sakral bagi pasangan pengantin baru. Pendeta berambut putih itu menutup alkitab miliknya, mata tuanya menyorot teduh ke arah mereka berdua. "Silakan mencium pasanganmu." Akhirnya waktu yang paling menyenangkan bagi sepasang pengantin—namun ini adalah neraka bagi seorang Alaric Deveraux Smitt. Alaric bergeming di tempatnya, enggan untuk sekedar mendekat ke arah pasangannya, yang adalah Axelia Aruna itu. Wanita buruk rupa beraut datar tersebut berinisiatif mendekat, menempelkan bibir keduanya walaupun teramat singkat. Membuahkan sumpah serapah dari pasangannya walaupun hanya di dalam hati. Semua orang bertepuk tangan usai pemberkatan, bahkan kedua ibu tampak menangis terharu, melihat putra putri mereka telah sah dalam ikatan suci pernikahan. "Setelah ini, akan kucuci bibirku," desis Alaric, dan mendapat tatapan datar dari Aruna. "Cuci saja, pakai deterjen sana, sekalian cuci di samudra Hindia." Aruna mencibir. Alaric memalingkan wajah karena kesal. Ada saja kalimat sanggahan yang keluar dari bibir Aruna. Wanita ini benar-benar sialan karena berani melawannya. Aruna sendiri tak ingin menciptakan hidupnya seperti drama murahan yang menjual air mata karena menangis hanya akan membuatnya terlihat lemah. "Kau pikir bisa menyingkirkanku begitu saja, jangan mimpi." *** Ruang kamar pengantin dipenuhi wangi mawar. Kelopak merah bertebaran di atas ranjang besar, lilin-lilin kecil berpendar lembut di sekitar ruangan. Alaric menatapnya dengan muak, ketika kakinya melangkah masuk ke dalam kamar hotel. "Siapa yang menyiapkan semua ini? Aku muak dengan dekorasi norak seperti ini." "Entahlah," jawab Aruna acuh. Ia menaruh kopernya di pojok ruangan. "Mungkin ibumu ingin malam pertamamu terasa romantis." "Romantis?" Alaric menatapnya sinis. "Tidak ada yang romantis dari menikah denganmu." Aruna terkekeh pendek, lalu duduk di sofa panjang di sudut kamar. "Kalau begitu, kau bebas menganggap malam ini sebagai mimpi burukmu." "Tentu saja," balas Alaric dingin. "Aku bahkan tidak ingin berbagi ranjang denganmu." "Syukurlah," sahut Aruna cepat. "Aku juga tidak ingin kau menempeliku malam ini." Alaric mendengus, melempar jasnya ke kursi, lalu merebahkan diri di ranjang, tepat di antara kelopak mawar yang tampak ironis. "Terlalu percaya diri. Memang siapa yang au dekat-dekat denganmu. Kau hanya wanita jelek yang tidak pantas bersanding denganku, Aruna." "Aku tahu," ucap Aruna ringan, tanpa menatapnya. "Kau tidur di ranjangmu, aku di sofa. Dunia aman, reputasimu selamat, dan aku bisa tidur tanpa harus mencium aroma parfum mahalmu yang membuatku mual." Pria itu membuka mata, meliriknya dari sudut pandang dengan sengit. "Berani sekali kau bicara seperti itu padaku!" Aruna membuka matanya perlahan, menatapnya balik tanpa ekspresi. "Karena aku bukan wanita yang bisa kau injak, Tuan Smitt." "Kau!" "Apa? Aku mau tidur, jangan mengangguku." Keheningan kembali menyelimuti kamar itu. Keduanya akhirnya diam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Aruna sendiri melirik ke arah Alaric ketika memastikan pria itu berbaring membelakangi dirinya. "Sepuluh tahun yang lalu, kau menghancurkan harga diriku. Maka hari ini aku menuntut tanggung jawabmu.""Berengsek! Berani sekali kau datang kemari!" Alaric melangkah maju satu langkah, bahunya menegang, sorot matanya tajam seolah siap menerkam. Aura posesif itu tak sedikit pun ia sembunyikan. Alex Morgan tidak mundur. Pria itu justru menundukkan kepala lebih dulu—sebuah sikap yang jarang, nyaris tak pernah dilakukan oleh seseorang sepertinya. "Aku datang bukan untuk membuat masalah, Tuan Smith," ucap Alex tenang. "Aku datang untuk menyelesaikan segalanya." Aruna berdiri di antara dua pria itu. Wajahnya tenang, meski ia bisa merasakan ketegangan yang mengeras di udara. “Apa maksudmu?” tanya Aruna. Alex mengangkat wajahnya, menatap Aruna dengan sorot yang berbeda dari biasanya. Tidak ada lagi ambisi untuk memiliki, tidak ada lagi ketertarikan yang berusaha dia raih. Hanya sorot mata yang penuh keikhalasan. "Aku ingin meminta maaf." Alaric menyeringai dingin. "Meminta maaf? Setelah semua sikapmu yang ingin merebut istriku." "Aku tahu," Alex mengangguk pelan. "Aku pern
Hari ini adalah hari terakhir Aruna berada di Shane. Sore nanti dirinya harus kembali terbang ke Bersel untuk kembali bertugas mengemban kesatuannya di kepolisian. Apalagi dua hari kedepan dia harus segera menyiapkan persidangan tersangka kasus human traficking dengan tersangka atas nama Johan Whittaker. Ia telah mengepak semua pakaiannya kedalam koper ukuran sedang di sudut kamar apartemen milik Alaric. Tinggal menjemput Leonard dan juga Sean di rumah orangtuanya. Mata bulatnya merotasi seluruh ruangan kamar tersebut. Rasanya ia belum percaya, jika akhirnya ia telah berdamai dengan suami arogannya. Tak terasa bibirnya tersungging senyum tipis. Inilah yang ia impikan sejak dulu, berbahagia dengan orang yang ia cintai. Grepp Sepasang lengan melingkari perut ratanya. Terpaan napas hangat menyentuh leher jenjangnya, dan ia tahu siapa pelakunya. Siapa lagi jika bukan....... "Apa yang kau lakukan?" "Memeluk istriku, tentu saja." Alaric mulai menggombal. "Nanti ada yang liha
"Jam berapa Leonard tiba di Bandara?" tanya Alaric yang duduk di belakang kemudi, sedangkan Aruna duduk di sisinya dengan ponsel yang sejak tadi menjadi fokusnya. "Sekitar jam 10 pagi, pesawatnya tidak delay, jadi dia akan sampai tepat waktu." Alaric mengangguk, lalu mengenggam tangan sang istri. Aruna yang merasa hangat di telapak tangannya, lalu menoleh ke samping guna untuk menatap tangannya sendiri. "Al." "Kenapa? Apa tidak boleh?" Aruna menggeleng pelan. "Tidak, hanya saja kita sudah tak muda lagi." "Untuk jatuh cinta pada seseorang tak perlu di waktu muda saja. Karena aku akan mencintaimu sampai kita menua bersama, Sayang." Dikecupnya tangan Aruna, membuat dada wanita itu berdesir hebat. Wajahnya merona hebat. Ia tak pernah merasakan perasaan membuncah seperti ini. Apa seperti rasanya dicintai sepenuh hati? "Kenapa, Sayang?" Aruna menggeleng cepat. "Tidak ada, aku hanya bahagia."Alaric kembali tersenyum, dikecupnya lagi tangan sang istri, lalu menatap mata sekelam
Leonard dan Dylan berjalan pelan keluar dari area bandara. Sepanjang berada di pesawat Leonard menggerutu kesal, karena apa? Karena komandan menyebalkannya itu ternyata berada di pesawat yang sama dengannya dan Dylan.Andai saja dia tahu sejak awal, ia memilih untuk batalkan penerbangan, dan ikut penerbangan selanjutnya.Dia juga tak menyangka, kalau Klause Vincent juga memiliki jadwal libur yang sama dengannya. Atau mungkin pria itu mengambil cuti tahunannya.Dia bahkan baru tahu akhir-akhir ini, jika Klause Vincent berasal dari Shane.Kebetulan yang menyebalkan, bukan. Ia menyeret kopernya dengan brutal diikuti Dylan yang terus tertawa di sampingnya. Mata cokelatnya memincing dengan raut wajah kesal. "Tertawa saja terus, Sersan, dan habiskan kotak tertawamu biar wajah mu keriput dan Leona tak mau padamu." Leonard kesal sendiri. Kenapa nasibnya selalu sial begini. Sungguh sialan, dia harus segera mencari pacar agar dia tak disangka suka pria, dan lebih parahnya komandannya lah ya
"Lesu sekali kau, Sersan?" Dylan meletakan segelas kopi di hadapan polisi muda berwajah tampan tersebut. Kepalanya yang tertelungkup di atas meja, kini mendongak menatap pemuda berpangkat sersan polisi yang kini memilih duduk di depannya. Dylan Yi, pemuda itu masih asyik meniup secangkir americano yang ia pesan di kantin kantor, seraya melirik Leonard yang masih memainkan ponselnya dengan tak bersemangat. Kepalanya menggeleng pelan, tak mengerti apa yang terjadi dengan pemuda pewaris ADS grub itu. "Hei, ada apa denganmu, kau sakit?" tanya Dylan sekali lagi. "Aku rindu Mommy dan Sean." Dengan jengah Dylan memutar bola matanya. "Sudah sebesar ini kau masih merengek? Astaga Sersan. Komisaris juga baru pergi kemarin, besok akhir pekan, kau ada jadwal jaga tidak?" "Tidak ada." Dia menjawab dengan gelengan kepala. "Kita ke sana, aku juga rindu Shane." "Bilang saja kau ingin mencari gadis-gadis cantik di sana?" Leonard mencibir. Beberapa detik kemudian, dia menegakkan tubuh
Suara desahan saling bersahutan di kamar dengan nuansa romantisme yang terbangun di antara kedua pasangan yang kini merasakan kembali indahnya rasa cinta. Aruna mendongak memberi akses pada suaminya yang kini mengecup leher jenjangnya yang putih pucat. Wanita itu berusaha menahan desahannya di saat gelombang nikmat kini menghantamnya, hingga rasanya semua otot persendiannya melunak. "Ahhh, Kak Deve." "Yes Honey." "Sudah cukup aku...," Alaric merangkak naik. Membelai dada terbuka yang membuat hasratnya berada di puncak. Apalagi wajah cantik yang kini pasrah di bawahnya. Sepuluh tahun sudah dia menahannya. Sekarang Alaric tak lagi bisa membendungnya. Ingin mengeksekusi tubuh istrinya pagi ini. Bahkan tak ingin menunggu matahari kembali ke peraduannya. Nafsu untuk mencicipi tubuh putih mulus ini sudah tak bisa dirinya kuasai. "Runa, You are beautiful." "Jangan menggombal, Tuan muda Smith." "Aku tidak, bagi Alaric, Aruna sangatlah cantik." Termakan kata-kata manis suaminya. A







