Mag-log inSetengah jam berlalu..
Mobil yang di tumpangi Aras dan Stefani berhenti di dekat pintu masuk Pemakaman Golden hils. Lewat kaca, Stefani membaca tiga kalimat yang terpampang besar, Pemakaman Golden Hils. Seketika wajahnya memucat. Satu-satunya alasan dia pulang adalah, untuk mengunjungi neneknya yang sakit. Hanya karena nenek. "Apa nenek ada di sini?" Tanya Stefani terengah-engah. "Teresa yang ada di sini." Ujar Aras acuh tak acuh. "Teresa? Teresa di makamkan di sini?" Stefani menghela napas lega, untung bukan neneknya. "Apa ini Remembrance Day? Atau All Saints Day? Kenapa kita di sini?' (Remembrance Day atau All Saints Day adalah hari untuk berkunjung ke makam keluarga, tentara dan orang-orang suci di negara eropa.) "Aaaa... kamu masih memiliki perasaan untuk Teresa, aku tahu itu! Maksudku, apa lagi yang bisa menjelaskan kelahiran Archie kalau bukan itu?" Teriak Stefani kegirangan. Aras sudah mengambil langkah panjang masuk kedalam pemakaman. Mendengar kalimat Stefani dia berhenti, dan menghela napas putus asa. "Archie hanyalah kecelakaan dan bukan hasil dari cinta." "Kalau begitu, kenapa Kakak tidak melakukan lebih banyak kecelakaan? Gen-mu sangat bagus, sepertinya sia-sia jika kamu jarang menggunakannya." Decak Stefani. "Tidak setiap anak akan seberuntung Archie, karena tidak mewarisi gen ibunya." Ketika membicarakan Archie, jejak kehangatan muncul di wajah Aras. Anak laki-lakinya-- Archie Yohan, tidak hanya mirip secara fisik dengan ayahnya, tapi juga mewarisi talenta ayahnya. Saat berusia lima tahun, anak itu sudah menjadi peretas hebat. "Ya, dia mewarisi semua sifat baikmu, tapi juga mewarisi semua sifat burukmu. Ibu bilang bahwa dia lebih nakal dan pendiam dari mu waktu kecil. Ibu sempat khawatir dia mengidap autisme." Cibir Stefani geli dengan kenarsisan Aras. "Bagaimana jika kamu berhenti bicara?" Sentak Aras. Baginya Archie tidak memiliki masalah apapun. Stefani menghela napas pasrah. "Apa kamu belum pernah bertemu anak-anak lain sebelumnya? Mereka menangis dan tertawa, seperti anak-anak pada umumnya." Aras tiba-tiba teringat dengan gadis kecil yang menabraknya di pintu keluar bandara. "Aku baru saja bertemu dengan seorang anak. Dia memang menggemaskan dan sangat lucu, tapi tidak ada yang istimewa pada dirinya. Lebih baik, Archie tidak perlu menjadi anak-anak seperti itu." Mendengar Aras yang tetap kekeh dengan argumennya, Stefani memilih diam dan tidak melanjutkan perdebatan mereka. "Berapa nomor makam Teresa?" Tanya Stefani. "537." "537?" Stefani terperangah. "Teresa benar-benar tidak beruntung. Bagaimana mungkin dia bisa mendapatkan angka sial itu?" Stefani tidak menyadarinya, tetapi Aras sudah terhenti. Sepertinya awan gelap menutupi wajah tampannya. '537?' 'Sial?' 'Apa itu artinya... ini kebetulan atau di sengaja? Kalau ini adalah kebetulan, ini berarti wanita sialan itu memalsukan kematiannya. Apa dia sengaja melakukannya untuk mempermainkanku?' Mereka sudah menemukan makam dengan nomor 537 dan membaca nama yang terpahat di atasnya, mereka benar-benar membeku. Kali ini Aras yakin bahwa dia benar-benar telah di bodohi oleh Teresa. Di batu nisan itu tertulis, nama 'Rose Severe' "Rose?" "Ya, Tuhan! Kak, ini adalah Rose!" Aras menatap ke arah makam itu, dia tidak bisa membayangkan bagaimana makam Teresa berubah menjadi makam Rose. Rose Severe adalah seorang wanita muda yang berpendidikan tinggi dan berasal dari keluarga terhormat, sementara Teresa adalah pelacur dari pedesaan. Bagaimana dua orang yang berlawanan bisa berakhir berbagi batu nisan yang sama? pikir Aras tidak masuk akal. "Jika, ini makam Rose. Lalu, dimana Teresa di makamkan?" Ucap Stefani heran. Aras tersenyum miring, "Jadi, dia belum mati ya? Tenang saja, aku akan membuatnya segera mati." Cibir Aras penuh ancaman. Kali ini dia akan memastikannya secara langsung. Aras memandang ke sekitar pemakaman sesaat. Dia sedang mengingat sesuatu tapi ada keraguan di matanya. Setelah beberapa saat mereka akhirnya pergi dari sana. "Temukan cara untuk membuat keluarga pasien Jennie memindahkannya ke Rumah sakit milik keluarga Yohan secepatnya!" Perintah Aras pada Grayson- Asistennya. Di ujung telepon, Grayson tidak bisa berkata-kata. Jennie adalah Ibu kandung dari Teresa. Grayson ingat dengan jelas hari ketika mengetahui ibu dari Teresa sakit keras, Grayson meminta intruksi langsung dari Aras untuk membantu. Bosnya setuju, dan akan membayar semua perawatan asal dia tidak mendengar lagi tentang keluarga mendiang istrinya itu. 'Mengapa presiden mengubah pikirannya secepat ini?' Batin Grayson. Aras menutup sambungan teleponnya, dan senyum tipis terbentang di bibirnya. Melihat ekspresi Aras yang tidak menyenangkan, Stefani memilih berpaling. Dia tahu apa arti senyuman itu, artinya Teresa dalam masalah besar. ___ Teresa tiba di rumah ibunya, seharian mereka membereskan barang-barang sebelum beristirahat karena lelah. karena sementara mereka akan tinggal di sini, untuk menjaga Ibunya di rumah sakit. Tapi, Teresa tiba- tiba mendapat panggilan dari rumah sakit saat membereskan bekas makan malam mereka. Katanya kondisi ibunya memburuk, dan secara tiba-tiba dia harus memindahkan ibunya ke spesialis nefrologi di Pusat Medis Zenith secepat mungkin. Teresa terdiam, Pusat Medis Zenith adalah rumah sakit milik Aras. pikirannya tiba-tiba kosong. Dia sudah berjanji tidak akan pernah menginjakkan kakinya di wilayah Aras lagi. Sayangnya, dia tidak pernah tahu kemana hidup akan membawanya pergi. "Ada apa, Mami?" Tanya Alice penasaran. "Tidak apa-apa. Mami besok harus mengunjungi Nenek, kondisinya tidak baik." Jawab Teresa dengan senyum lembut. "Alice ikut! Alice rindu pada Nenek, Alice juga mau mendoakan Nenek supaya cepat sembuh." Seru Alice dengan pipi mengembung lucu. Tapi Teresa menggeleng, "Rumah Sakit bukan tempat untuk---" "Anak sekecil kami? Aku sampai hafal dengan ucapan Mami." Sambung Alice dengan bibir mengerucut. Teresa terkekeh, mencubit pipi tembam Alice gemas. "Anak pintar! Ayo tidur! lihat, Arthur sudah mengorok dan bermimpi." Keesokan paginya, Teresa sudah bersiap untuk datang ke rumah sakit. Dan sebagai tindakan pencegahannya, Teresa membuang penampilan wanitanya. Dia berdandan dan mengubah gayanya menjadi lebih nyentrik. Teresa menyisir rambutnya menjadi gimbal dan merias wajahnya dengan riasan trend- menggunakan celak mata hitam dan lipstik merah tua. Selain itu, dia juga mengenakan kacamata hitam berbingkai bulat yang lucu. "Astaga, Mami mau ke rumah sakit dengan penampilan ini?" Kaget Alice terperangah melihat penampilan aneh ibunya. "Ini trend baru di sini, Sayang." "Trend apa seperti ini, Mami lebih mirip berandalan jalanan." Timpal Arthur berdecak tidak suka. "Ah, kalian tidak tahu gaya. sudah ya, Mami mau berangkat sekarang. Kalian jangan kemana-mana sampai Mami pulang!" Peringat Teresa sebelum berlalu dan naik ke taksi. "Arthur, kenapa Mami jadi seperti itu?" Tanya Alice pada saudara kembarnya. Arthur mengangkat bahunya. "Aku tidak tahu. Tapi, aku sering melihat ibu teman-temanku sedikit gila karena suaminya." "Tapi, Mami tidak punya Suami." "Benar juga." Sementara itu, Teresa sudah tiba di Pusat Medis Zenith. Dia segera ke bagian administrasi untuk memberikan data ibunya dan bertemu dengan dokter yang akan menanganinya. Melihat penampilan Teresa yang aneh, bahkan dokter yang berjaga tidak berani menatap Teresa. Tapi, diam-diam dokter itu mengirimkan sebuah pesan ke seseorang. Ting! Pemberitahuan langsung muncul di ponsel milik Aras, dia mengambilnya dengan penuh semangat dan membaca pesan di layar dengan bibir yang tersenyum lebar, hingga berubah menjadi seringai jahat. "Teresa, kamu bisa berlari.. tetapi kamu tidak bisa bersembunyi!" ***Cahaya biru redup dari pergelangan tangan Archie memantul di dinding kamar yang gelap. Aras Yohan, yang baru saja melangkah masuk dengan niat mengecek putranya sebelum tidur, menghentikan langkahnya. Matanya menyipit saat melihat bayangan hologram kecil yang baru saja menghilang saat pintu terbuka. "Archie?" panggil Aras lembut, namun penuh selidik. "Kau belum tidur?" Archie segera menarik tangannya ke bawah selimut. Ia membalikkan tubuh, memunggungi ayahnya. "Aku sedang tidak ingin bicara, Ayah. Aku mengantuk," sahutnya ketus. Suaranya terdengar datar, namun ada nada permusuhan yang belum pernah Aras rasakan sekuat ini sebelumnya. Aras mendekati ranjang besar itu, duduk di tepinya. Ia menatap jam tangan pintar yang melingkar di pergelangan tangan Archie. "Tadi Ayah melihat cahayanya menyala. Kau baru saja menghubungi siapa?" "Bukan siapa-siapa. Hanya mengecek jam," jawab Archie pendek. Ia menarik selimut hingga menutupi kepalanya, menciptakan benteng kain antara dirinya dan pria
Alice menatap tumpukan uang di tangannya, lalu menatap Aras dengan mata hitamnya yang bulat dan tegas. Bukannya takut, ia justru melangkah maju, berdiri tepat di depan kaki Maminya yang gemetar. "Paman Pedagang Manusia," suara Alice terdengar lantang, "Mami tidak pernah memintaku bicara buruk tentang Paman. Tapi kalau Paman datang ke sini hanya untuk memarahi Mami dan membuatnya takut, berarti Paman bukan bos yang baik!" Aras tertegun. Ia terbiasa ditakuti oleh kolega bisnisnya, bahkan Archie pun jarang berani menentangnya secara terbuka. Namun, gadis kecil ini menatapnya seolah Aras hanyalah pengganggu jalanan. "Alice, jangan bicara begitu..." bisik Teresa panik, mencoba menarik Alice kembali. "Tidak, Mami! Paman ini sombong sekali karena punya mobil besar," lanjut Alice, menunjuk Rolls Royce Aras. "Mami bekerja keras. Dia sering pulang dengan mata lelah karena mengurus putra Paman. Bukannya berterima kasih, Paman malah membentak-bentak. Paman harus minta maaf!" Aras merasa
Setelah menidurkan Archie yang kelelahan dan mengobati luka-lukanya dengan tangan gemetar, Teresa tidak bisa lagi menahan amarahnya. Dia segera mengambil ponselnya dan menekan nomor Aras. Dadanya sesak melihat putra sulungnya diperlakukan seperti sampah di sekolah elit itu. "Halo, Tuan Yohan," suara Teresa bergetar, antara sedih dan marah. "Ada apa lagi, Teresa? Aku sedang dalam perjalanan pulang," jawab Aras dingin dari seberang telepon. "Archie sudah pulang. Tapi... dia hancur, Aras! Seragamnya penuh tinta, wajahnya memar, dan bibirnya pecah. Anak itu mengalami perundungan dan penghinaan yang luar biasa hari ini. Aku harap kau segera mengurus masalah ini—" "Cukup, Teresa!" Aras menyela dengan nada tajam yang membuat Teresa tersentak. "Aku sudah ingatkan berkali-kali, ini bukan tempatmu mengajariku cara mendidik putraku sendiri. Perkelahian antar anak laki-laki adalah hal biasa. Jangan mendramatisir keadaan hanya untuk menarik perhatianku." Teresa memejamkan mata, air matan
"Kalau begitu ayah akan berangkat bekerja, pengasuhmu yang akan mengantar ke sekolah. Tidak masalah, kan?" Pamit Aras mengacak rambut hitam putranya. "Em, huh!" Archie mengangguk enggan, dari matanya bisa terlihat kalau sebenarnya dia menolaknya. Aras memperhatikan semua itu, dia teringat apa yang di katakan Teresa tempo hari. Kalau anak-anak dan orang tua di sekolah itu tidak menyukai Archie. Rasa khawatir muncul di hati Aras. "Bilang pada ayah, apa benar kamu tidak suka pergi ke sekolah?" Tanya Aras menatap Archie serius. Archie memalingkan wajahnya, membukam mulutnya. Aras mendesah pelan. Selalu saja, setiap kali dia berusaha berkomunikasi pada putranya tentang masalah seperti ini, Archie selalu menghindar dan menolak untuk jujur. Bocah itu selalu acuh tak acuh, merasa bisa menyelesaikan semuanya sendiri. Merasa bahwa dengan posisi dan otoritasnya, tidak akan ada yang berani padanya. "Baik, kalau kamu tidak bisa mengatakannya. Ayah anggap semuanya baik-baik saja. Kalau beg
Aras dan Teresa langsung memandang Arthur yang berdiri di depan mereka, kaget. Arthur yang berpura-pura menjadi Archie, hanya menatap Ayahnya dengan tatapan penuh menuntut. "Apa semua itu benar?" Tanya Aras mencibir dengan bibirnya yang tipis, mengarahkan tatapan tajamnya pada Teresa. Mendapat serangan intimidasi dari Aras, Teresa semakin gelisah. Dia tahu Arthur sedang bertindak, tetapi dia harus melindungi rahasia keberadaan Alice. "Ya, aku memang punya anak perempuan," kata Teresa pelan, memilih untuk memberitahu setengah kebenaran. "Dia lebih muda dari Archie. Dan selama dua hari ini dia demam. Aku terlambat karena harus merawatnya." Aras mengerutkan keningnya. Wajahnya menunjukkan rasa jijik. Bagaimana bisa dia memacari pria lain dan memiliki anak lagi setelah meninggalkan bayinya sendiri? "Aku tidak ingin tahu tentang drama keluargamu," usir Aras, tidak ada belas kasihan. "Yang aku tahu, kau harus mengurus Archie dengan sepenuh hati. Jika tidak bisa, lebih baik kau b
Archie menarik tangan Arthur turun ke bawah, tapi saat mereka tiba di tangga lantai dua. Mereka justru mendengar perdebatan sengit antara Teresa dan Aras. Mereka akhirnya memutuskan untuk bersembunyi dan menyaksikan perdebatan kedua orang tua mereka. Teresa yang berdiri dengan berani, terus membela dirinya. "Tuan Yohan, kau selalu menyalahkan semuanya kepadaku. Kau tidak pernah puas akan apa yang sudah aku lakukan. Padahal kau sendiri berbuat hal yang tidak benar dengan membiarkan wanita berbeda untuk mengantar dan menjemput anakmu ke sekolah, tapi kau tidak pernah berpikir apakah itu akan mempengaruhi Archie atai tidak?" "Jangan meremehkan caraku mengasuh Archie. Aku tidak perlu mendengar protesanmu. Selain itu, wanita yang kau bilang itu adalah saudara dan kerabat Archie. Kenapa harus mempermasalahkannya?" Balas Aras marah. "Lalu, bagaimana dengan Nasya? Apa dia kerabat Archie?" "Teresa, kau tidak berhak ikut campur dalam kehidupan pribadiku!" "Siapa yang perduli dengan ke







