MasukKirana menoleh kepada ayah mertuanya yang berdiri tidak jauh darinya.Kirana tersenyum tipis memandangi wajah ayah mertuanya yang terlihat begitu tenang.
Bahkan pria paruh baya itu itu tidak pernah menunjukkan kemarahannya di depannya. Kirana mendekati ayah mertuanya dan meraih tangannya. Laki-laki yang sudah di anggap seperti ayahnya sendiri. "Maafkan putraku nak karena sudah menyakiti hatimu.Ayah tahu jika kamu begitu terluka saat ini.Tapi ayah tidak bisa menentang pernikahan mereka ketika ada bayi di dalam perut Jihan." Kirana menatap ayah mertuanya, ternyata dia sudah tahu.Apa mungkin hanya dirinya yang tidak tahu.Kirana semakin merasakan sakit hati ketika mengetahui sebuah fakta. Hermawan memandang wajah menantunya yang terlihat menyimpan sebuah kesedihan yang begitu dalam.Pria paruh baya itu jelas bisa merasakan kesedihan menantunya. Hermawan menepuk bahu Kirana dan tersenyum. "Jika kamu tidak sanggup,ayah tidak bisa memaksa mu nak.Kamu juga berhak bahagia, Nathan sudah menyakiti mu." Kirana menatap ayah mertuanya.Perkataan mertuanya itu jelas menyimpan makna yang cukup dalam. "Terima kasih ayah,sepertinya hanya ayah yang mengerti aku." Hermawan tersenyum tipis dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam. Baru beberapa langkah dia menginjakkan kakinya di ruang tamu.Hermawan sudah melihat putranya bersama dengan istri keduanya. Saat ini, Nathan sedang memijat kaki Jihan. Hermawan menatap mereka sejenak kemudian menoleh ke arah Kirana yang baru saja masuk.Kirana jelas menyaksikan semua itu dengan matanya sendiri.Bagaimana Nathan begitu memanjakan istri barunya. Kirana tidak menoleh sedikit pun ke arah mereka.Wanita berhijab itu melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamarnya.Kirana jelas menyaksikan semua itu tapi dia pura-pura tidak melihatnya. Di satu sisi, Nathan terus memijat kaki Jihan. Pria itu jelas melihat Kirana yang lewat begitu saja.Bahkan Nathan memandangi kepergian Kirana sejenak sebelum ia kembali fokus pada Jihan. "Kamu milik ku sekarang Nathan. Kirana tidak boleh mendapatkan hati mu lagi bagaimana pun caranya."Batin Kirana Jelas melihat bagaimana Nathan memandang Kirana. Jihan jelas menyadari bagaimana Nathan mencintai Kirana di masa lalu. "Sebaiknya aku kembali ke kamar sayang. "Jihan beranjak dari tempat duduknya dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamarnya. Nathan merebahkan tubuhnya di sofa begitu Jihan masuk ke dalam kamar. Hermawan yang terus melihat kepergian menantunya kemudian menghampiri putranya. "Boleh ayah bicara nak?"Hermawan duduk tidak jauh dari Nathan. Nathan tersenyum. "Silahkan ayah.Kenapa ayah malah bertanya. " Hermawan memandang wajah putranya. Wajah yang cukup tampan dan cukup di idamkan oleh banyak wanita.Hermawan jelas tahu bagaimana para wanita menginginkan putranya. Pria paruh baya itu juga tahu bagaimana putranya begitu mencintai Kirana tapi entah mengapa putranya malah melakukan pengkhianatan kepada Kirana. "Jangan terlalu menunjukkan bagaimana kamu begitu peduli terhadap Jihan nak.Kirana akan terluka ketika melihat kalian."Hermawan menatap putranya. Nathan tersenyum tipis mendengar ucapan dari ayahnya.Pria itu sama sekali tidak menunjukkan ekspresi apa pun.Nathan juga tidak memikirkan bagaimana perasaan Kirana. "Kenapa ayah begitu peduli dengan Kirana?Dia juga tidak bisa memberikan mu cucu. Aku sudah cukup lama bersabar ayah tapi dia tidak bisa memberikanku keturunan. Aku begitu mendambakan keturunan tapi dia tidak bisa mewujudkan hal itu.Seharusnya dia tidak merasa begitu di khianati karena dia tidak bisa menjadi wanita seutuhnya. " Tanpa berpikir panjang, Nathan mengatakan hal itu.Tanpa pria itu sadari jika saat ini,Kirana sedang berdiri di belakangnya. Wanita itu hendak ke dapur tapi ketika mendengar ucapan menyakitkan itu. Langkah Kirana terhenti,wanita itu kembali melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamarnya.Kirana kembali merasakan sakit hati ketika mendengar bagaimana laki laki yang begitu ia cintai tega mengatakan hal seperti itu. Sementara Nathan dan Hermawan sama sekali tidak menyadari kehadiran Kirana tadi.Saat ini wanita itu sedang berdiri di balkon kamarnya. Tatapannya begitu sendu saat ini.Dia merasakan sakit hati untuk kesekian kalinya. "Kenapa begitu menyakitkan ya Allah. "Gumam Kirana memegangi dadanya yang terasa begitu perih.Jihan menoleh. Wanita itu jelas mengenal pemilik suara itu dengan sangat baik. Dia tersenyum ketika melihat kehadiran suaminya. "Kamu tidak mengantar kepergian pak Tony?" Kini tubuh mereka sejajar dengan pandangan yang sama-sama tertuju kepada pak Tony. Nathan melirik istrinya. Pria itu merasakan ada sesuatu yang aneh dengan sikap istrinya. Feelingnya mengatakan jika ada rahasia yang di sembunyikan oleh istrinya. Nathan melihat ada tatapan yang berbeda ketika istrinya melihat pak Tony. Hal itu menimbulkan perasaan khawatir di hati Nathan. "Ayo kita mengucapkan salam perpisahan dengan pak Tony." Nathan menarik tangan istrinya tapi wanita itu menarik tangannya. Nathan menoleh kepada istrinya. "Ada apa sayang?" Nathan terlihat bingung. "Kamu saja yang pergi. Aku ada urusan yang harus kuselesaikan." Jihan meninggalkan Nathan begitu saja. Wanita itu tiba di meja kerjanya. Dia memegangi dadanya. Jihan merasakan gugup dan juga takut. "Apa yang terjadi?" Batinn
Pria itu tersenyum kecil dan duduk di hadapan pak Tony. "Ada apa pak Tony? Apa anda sakit? Anda terlihat begitu pucat." Zakki tersenyum meski dia tahu apa yang membuat pak Tony seperti itu. Dia berpura-pura tidak tahu tapi dia menikmatinya. "Tidak terjadi apa-apa pak Zakki. Apa anda butuh sesuatu?" Pak Tony mempersilahkan Zakki duduk. "Benarkah?" Zakki tersenyum miring. Dia tahu pak Tony sedang berbohong kepada dirinya. "Aku dengar jika kamu melakukan pengkhianatan kepada bu Kirana. Apa itu benar?" Raut wajah pak Tony semakin pucat. Suaranya tercekat di kerongkongan. Tiba-tiba dia tidak bisa bersuara. Dia hanya menatap Zakki yang juga menatap ke arah dirinya. "Apakah dia yang di maksud pak Antonio?" Batin pak Tony dengan pandangan yang masih tertuju kepada Zakki. Pria itu tersenyum kepada dirinya dengan tatapan yang tidak bisa di artikan. Hal itu semakin membuatnya gugup. "Kamu tidak mengenal ku pak Tony? Jangan pernah berpikir untuk menyentuh Kirana. Kamu tahu
Ke esokan paginya... Kirana menatap layar ponselnya. Sorot matanya menunjukkan kemarahan yang begitu besar. Tangannya mencengkram erat ponselnya. Pagi ini dia telah menjadi pembicaraan oleh semua orang. "Pria tua itu benar-benar melakukannya."Gumam Kirana dengan pandangan yang masih tertuju kepada layar ponselnya. "Bu Kirana, bagaimana kalau hari ini anda tidak perlu ke kantor?" Ana terlihat khawatir memandang ke arah atasannya. "Kenapa aku harus menghindar? Semua yang terjadi bukan salah ku. Lagi pula aku adalah atasannya Ana. Dia yang seharusnya takut dan menghindar bukan aku." Kirana tidak menunjukka rasa takut sedikit pun. Ana yang melihat sikap berani atasannya tersenyum tipis. Akhirnya dia melihat keberanian atasannya itu. Tanpa berpikir panjang, Kirana beranjak dari tempat duduknya dan melangkah keluar dari kediamannya dan di susul oleh sekertarisnya. Sepanjang perjalan menuju ke perusahaan. Kirana hanya diam. Wanita itu jelas memikirkan apa yang terjadi begit
"Jangan katakan hal seperti itu bu Kirana." "Memangnya kenapa pak Tony?" Kirana menatap pak Tony seolah-olah menantang pria paruh baya di hadapannya itu. Wanita itu jelas tahu apa tujuan pria paruh baya di hadapannya itu. Dia yakin jika dia memiliki maksud yang tidak baik. Pak Tony tersenyum miring melihat keberanian Kirana. Selama ini dia selalu mendengar cerita dari Jihan yang mengatakan bahwa Kirana adalah wanita yang penurut dan begitu patuh kepada Nathan tapi sepertinya dia telah salah. Kirana berani melawan dirinya dan bahkan tidak menunjukka rasa takut sedikit pun kepada dirinya. "Kamu tahu jika berita perceraian anda tersebar bukankah itu memalukan? Di tambah lagi jika suami anda selingkuh. Sebagai seorang Ceo, karyawan anda akan mengolok-olok anda. Pikirkan saja bu Kirana. Apakah anda ingin berita ini tersebar atau anda melakukan apa yang aku katakan tadi." Kirana tersenyum miring dan memandang laki-laki yang di anggap tidak tahu malu itu. "Apa anda sedang men
"Jangan khawatir, aku hanya merindukan mu. Kembalilah, malam ini aku akan menemui Kirana. Pastikan suami mu tidak mengejar istrinya kembali." Pak Tony menepuk pundak Jihan setelah mengatakan hal itu. Pria paruh baya itu kemudian meninggalkan Jihan yang masih berdiri menatap kepergiannya. Begitu pak Tony menghilang dari pandangannya, Jihan segera meninggalkan kediaman pria paruh baya itu. Wanita itu kembali menggunakan mobil taksi yang dia pesan. "Semuanya akan baik-baik saja." Gumam Jihan sepanjang perjalanan. Wanita itu terlihat begitu khawatir. Dia jelas takut jika suaminya menaruh curiga kepadanya. Wanita itu juga tahu jika dia bisa kehilangan pria yang begitu ia cintai dan tidak sampai di situ saja, dia juga tahu jika suaminya masih menyimpan perasaan untuk Kirana. Memikirkan semua itu membuat Jihan khawatir. Bahkan kini dia tidak sadar jika dia sudah tiba di depan rumahnya. Dia terus melamun memikirkan nasibnya jika hal itu terjadi. "Maaf bu, kita sudah tiba." Ucap sa
"Brengsek!" Pak Tony menghancurkan ruangan tersebut setelah kepergian pak Antonio. Wajahnya memerah, sorot matanya begitu tajam. Dia mengepalkan tangannya dan menggebrak meja-meja berkali-kali. Sekertarisnya hanya berdiri dan menyaksikan kemarahan atasannya. "Kita kembali. "Ucap Pak Tony setelah dia merasa tenang. Pria paruh baya itu meninggalkan ruangan tersebut setelah meluapkan emosinya. Pak Tony kembali ke kediaman miliknya. Di sisi lain, pak Antonio kembali ke bali tanpa beristirahat terlebih dahulu. Dia sudah melakukan apa yang seharusnya dia lakukan. Pria paruh baya itu hanya akan memantau apa yang terjadi selanjutnya. Di tempat lain, Kirana sedang berada di perusahaan miliknya. Wanita itu sedang sibuk menyelesaikan pekerjaan yang belum ia selesaikan. Kedatangan Ana menghentikan pekerjaan wanita itu. Kirana menatap wajah sekertarisnya yang seakan mengkhawatirkan sesuatu yang akan terjadi. "Ada apa? Apa terjadi sesuatu?" Kirana menatap wajah Ana yang berjalan ma







