LOGINTidak ada kesempatan untuk gadis yang baru beranjak dewasa itu melepas belitan Andra. Bahkan semakin berontak semakin Andra seperti cacing kepanasan. Hingga pada puncaknya.
“Shittt … kenapa kamu tidak bilang sejak tadi kalau sedang palang merah?” ucap Andra dengan napas memburu.
“Tadi saya mau bilang, tapi Tuan ….”
“Agrh … sudahlah! Sial betul aku hari ini,” ucap Andra seraya membereskan pakaiannya yang berantakan dan pergi dari kamar Kiara tanpa menutup pintu dengan keras.
Kiara yang ditinggal sendiri bengong tanpa dapat berbuat apapun. Setelah tersadar akhirnya merapikan pakaian yang sudah kusut. Menghempaskan tubuh yang berkeringat ke atas ranjang dibiarkan kering terkena sapuan AC di dalam kamar.
Sementara Andra sudah keluar dari rumah, dan pergi ingin menuntaskan hasratnya bersama wanita bayaran. Tetapi belum sempat dia menjamah wanita yang dipesan, dia teringat dengan kedua istrinya yang ada di rumah. Selama ini hasratnya tertahan karena Mimi baru sembuh pasca operasi pengangkatan rahim. Sedangkan Andra tidak pernah bermain dengan wanita sembarangan.
Sementara Mimi yang sudah bangun dari pengaruh obat tidur yang diberikan Andra. Tersadar tidak mendapati suaminya di dalam kamar.
“Ke mana Mas Andra? Bisa-bisanya aku ditinggal sendirian di dalam kamar. Awas, aku tidak akan tinggal diam jika kamu mengingkari janji, Mas! Akan kubawa sampai mati, jika hal itu sampai terjadi.”
Mimi berjalan sempoyongan ke luar dari kamarnya. Niatnya pergi ke kamar Kiara yang ada di sebelah. Hatinya sudah dipenuhi dengan kobaran api cemburu. Semenjak Andra dan Kiara mengucapkan kata SAH di depan penghulu, sakit dan sesak dadanya. Tidak rela jika Andra tidur bersama dengan Kiara. Padahal awalnya dia sendiri yang mengusulkan untuk menjebak Kiara dengan surat perjanjian.
Langkahnya terhenti ketika mendengar suara yang membuatnya risih. Dia teringat ketika malam pengantin dengan Andra, memutar lagu kesayangannya itu. Lagu tentang cinta, dari Nyndi. Rasa sesak dada Mimi dan kembali ke dalam kamarnya.
“Kurang ajar Kiara. Beraninya menggoda suamiku. Sudah mulai berani dia sekarang. Dasar cewek kegatelan, kagak tahu terima kasih. Awas kamu Kiara! Aku tidak akan main-main dengan ancamanku!” sarkas Mimi dengan nada geram.
Keesokan harinya, Andra yang baru datang dari luar rumah. Hanya minum minuman keras yang membuatnya sempoyongan ketika membuka kamar Kiara. Dia tidak sadar, jika Mimi menatap dengan mata tajam ke arahnya.
“Dari mana? Kurang bersenang-senang semalaman?” tuduh Mimi tepat di samping Andra.
Andra mencoba mengerjabkan matanya, mengucek beberapa kali memastikan yang ada di depannya adalah Mimi. “Sayang, kamu sudah bangun? Ayo kita mandi bareng.”
Mimi segera menepis tangan suaminya yang sedang mabuk berat. Membiarkan Andra sempoyongan berulangkali terjatuh dan bangun kembali. Suara racauan yang keluar dari mulut Andra yang tidak berhenti membuat Mimi bertambah geram.
“Awas kamu Kiara! Aku akan buat perhitungan denganmu sekarang juga!” ucapnya sambil memeluk tubuh Andra yang sudah ambruk di ranjang mereka.
Setelah Andra tertidur, Mimi mencoba mencari tahu tentang teman-teman Kiara. Dia menyuruh orang kepercayaan untuk menyelidikinya. Teman yang bisa diajak untuk kerjasama mempengaruhi dan menjauhkan Kiara dari suaminya.
Di sisi lain, Kiara yang ditinggalkan oleh Andra akhirnya duduk sendirian di dalam kamar. Karena tidak mengantuk, akhirnya mencari lagu di aplikasi untuk didengarkan. Lagu kesayangannya bersama temannya waktu itu yang menyatakan cinta, tetapi dia tolak. Ferdi, cowok yang paling tampan dan idola di sekolahnya. Dia merasa minder dengannya saat itu dengan kondisi ekonominya.
Ponsel berdering, terlihat nomer yang tidak dikenalnya. Awalnya Kiara ragu untuk mengangkat tetapi akhirnya menyerah.
“Hallo, ini Kiara. Dengan siapa, yak?”
“Hallo, Ke! Apa kabarnya, gue Ferdi. Kagak lupa ama gue kan?”
Deg!
Jantung Kiara rasanya mau lompat. Ferdi, cowok yang digandrungi oleh semua cewek satu sekolah saat itu, termasuk dirinya. Dari mana dia mendapatkan nomer ponsel Kiara? Mereka bahkan tidak pernah bicara lewat telpon sekalipun.
“Ferdi, alumni SMA Taruna Bangsa?” tanya Kiara memastikan.
“Bener, lo jahat banget udah lupa ama gue, cowok paling ganteng satu sekolah ini.”
Hari demi hari berlalu, namun kondisi Damar tak menunjukkan perbaikan berarti. Sementara itu, tekanan terhadap Andra semakin menggila. Rekening pribadi dibekukan. Aset-aset disita sementara. Beberapa klien besar memutus kontrak. Puluhan karyawan terancam kehilangan pekerjaan.Andra menjalankan rencana terakhir dengan bersedia memilih Mimi dan tinggal bersamanya. Kiara yang tidak mengetahui rencana suaminya sangat kecewa hingga terjadi pendarahan dan dilarikan ke rumah sakit. Tapi ia yakin bahwa Andra mempunyai rencana untuk masa depan mereka. Meski dengan penyesalan tetapi Andra yakin bahwa rencananya akan berhasil. “Apa bapak tega dengan Nyonya muda?” tanya asistennya. “Harus. Kalau rencana ini bocor aku bakal kehilangan semuanya termasuk Kiara. Aku janji tidak akan menceraikannya dan akan cerita setelah semuanya berhasil.” Sementara Mimi kini sangat tenang setelah Andra sehari-hari bersamanya. Mereka mulai hidup seperti awal pernikahan dulu, taka da Kiara di dalamnya. “Mas, apa
“Pak Andra? Kami dari IGD Rumah Sakit Cendana. Saudara Damar mengalami kecelakaan berat. Kondisinya kritis. Mohon segera datang.”Dunia Andra seakan runtuh dalam sekejap. Kaki-kakinya melemas. Ponsel nyaris terlepas dari genggamannya.“Apa?” bisiknya parau.Tanpa menunggu penjelasana anak buahnya, Andra langsung ke mobilnya, dan melaju secepat mungkin ke rumah sakit. Di sepanjang perjalanan, pikirannya berkecamuk. Damar—satu-satunya saksi kunci—mengalami kecelakaan di saat paling genting.“Kayaknya ada sabotase, Pak.” Asisten Andra melihat kegelisahan Tuannya. “Tentu. Terlalu kebetulan. Aku yakin ini memang sabotase. Cepatlah!” “Baik, Pak.”Mobil melaju dengan kencang. Tak hiaraukan teriakan dari pengendara lain yang mereka lewati. Dalam waktu beberapa menit tiba di Rumah sakit langsung menuju IGD. Di IGD, bau antiseptik bercampur dengan suara langkah cepat para perawat. Andra menemukan Damar terbaring tak sadarkan diri, tubuhnya penuh alat medis. Wajah sahabatnya pucat, dengan lu
Andra merasa benar-benar tersudut. Dalam beberapa hari belakangan, perusahaannya goyah, nyaris limbung, akibat sering ia tinggalkan demi mengurus konflik rumah tangga yang tak berkesudahan. Rapat-rapat penting terlewat, keputusan strategis tertunda, dan kepercayaan investor mulai mengendur. Kini, di tengah badai itu, ancaman kehilangan seluruh aset membuat napasnya terasa sesak.Kiara menarik tangan Andra, memaksanya duduk. “Tenang,” ucapnya, meski suaranya sendiri bergetar. “Kita cari jalan. Kita harus berpikir jernih. Kalau aset itu benar-benar jatuh ke tangan Mimi, masa depan kita… dan anak kita…” Kalimatnya terhenti. Tangannya refleks mengusap perutnya yang mulai membesar.Kata anak membuat dada Andra terasa diremas. Ia menatap Kiara lama, matanya berkaca-kaca. “Aku tidak boleh gagal,” gumamnya. “Aku tidak boleh membiarkan kalian hidup dalam ketidakpastian.”Pengacara yang duduk di seberang mereka menautkan jari, menatap Andra serius. “Tuan Andra, kita masih punya beberapa opsi. T
Hujan deras mengguyur kota, seakan ikut merasakan kegelisahan yang menyelimuti hati Andra. Ia baru saja berbincang dengan Kiara, membicarakan perkembangan kasus perceraiannya dengan Mimi. Sekarang berdiri dari balik pintu kaca seorang pengacara yang tadi di telpon. Tamatlah riwayatnya, seluruh hartanya habis. “Dia …” kata Andra dengan hati berdebar. Kedatangan pengacaranya membuat Andra terkejut. Tidak biasanya pengacara datang tanpa memberitahu terlebih dahulu. Terlebih beberapa saat lalu Andra masih telponan dengan pengacaranya dan mengatakan penangguhan waktu untuk sita aset. ."Siapa, ya?" tanya Kiara, suaranya sedikit gemetar menoleh kepada suaminya. Dengan isyarat Andra menyuruh Kiara untuk tetap duduk. Andra mengernyitkan dahi. Dengan langkah ragu, ia segera menuju pintu kaca dan membukanya. "Tidak mungkin," gumam Andra dalam hati. Ia baru saja berbicara dengan pengacaranya melalui telepon beberapa menit yang lalu. Kenapa pengacaranya datang ke sini sekarang? Dengan perasaa
Setelah beberapa saat berpelukan, Andra dan Kiara duduk di sofa. Mereka mulai berbincang-bincang tentang masalah yang mereka hadapi. Kiara mendengarkan dengan seksama semua keluhan Andra. Ia memberikan semangat dan dukungan penuh pada suaminya.Mata Kiara bertemu dengan tatapan penuh harap Andra. Ia mengulurkan tangannya, menggenggam jemari suaminya erat."Aku yakin kita bisa melewati semua ini bersama-sama, Mas," ujarnya lembut, suaranya bagai belali yang menenangkan. "Kita harus tetap kuat dan saling mendukung."Andra mengangguk pelan. Ia merasa sangat beruntung memiliki istri seperti Kiara. Di tengah badai kehidupan yang sedang mereka hadapi, kehadiran Kiara bagaikan oase di tengah gurun. Namun, kekhawatiran masih menghantui pikirannya."Aku tahu, Sayang," jawabnya, "Tapi aku khawatir kalau Mimi akan melakukan hal-hal yang tidak terduga. Dia tidak akan menyerah begitu saja."Kiara tersenyum pahit. Ia pun merasakan kegelisahan yang sama. "Aku juga khawatir," akunya, "Tapi kita tidak
Andra merasa detak jantungnya semakin cepat saat dia mencoba membujuk Mimi. Darah mengalir dari luka di tangan Mimi, dan perban yang Andra pasang terlihat kurang rapi.“Mimi,” bisik Andra, “kita harus segera ke klinik. Lukamu perlu diperiksa lebih lanjut.”Mimi menatap Andra dengan mata yang penuh ketakutan, tapi akhirnya mengangguk setuju. Mereka berdua berjalan pelan menuju mobil, Andra memastikan Mimi tetap tenang. Di dalam hati, Andra berdoa agar luka Mimi tidak terinfeksi.Mimi memandang Kiara dengan mata tajam, senyumnya menyiratkan kepuasan. Andra merasa jantungnya berdebar.“Kiara,” ucap Andra dengan suara bergetar, “aku akan mengantar Mimi ke klinik. Tapi setelah itu, kita harus bicara.” Kiara hanya mengangguk, dan Andra membantu Mimi berdiri.Mereka berdua keluar dari rumah, Andra memandang Kiara dengan ketegangan. Mimi berhasil membuat Andra meninggalkan Kiara sendirian. Ia merasa puas dengan keberhasilannya. Dengan begitu, ia bisa lebih leluasa untuk menjalankan rencana jah







