بيت / Romansa / Istri Kedua Sang Jenderal / 75. ‘AKU MEMBENCIMU!’

مشاركة

75. ‘AKU MEMBENCIMU!’

مؤلف: rainaxdays
last update آخر تحديث: 2026-01-11 00:37:23

“Nyonya, Anda sudah sadar.”

Anna berkedip-kedip dan menatap Camila yang berdiri di tepi ranjang. Ia menyentuh sisi kepalanya, untuk sesaat merasa linglung.

Kemudian, bayangan kejadian sebelumnya melintas di kepalanya.

Anna langsung bangun dengan terburu-buru, membuat rasa pusing kembali melandanya. Camila memeganginya dengan khawatir.

“Sebaiknya Anda berbaring lagi, Nyonya.”

“Tidak.” Anna menurunkan tangan Camila dari bahunya. “Apa yang terjadi? Bagaimana keadaan Kaiden? Bagaimana dengan Panther dan Phoenix?”

Anna ingat pandangannya mulai memburam saat melihat Panther menyerang Kaiden sampai wajahnya berdarah-darah. Tubuhnya masih terlalu lemas karena kurang tidur, dan apa yang terjadi di halaman belakang membuatnya syok hingga kehilangan kesadaran.

Jadi, ia tidak tahu apa yang terjadi setelahnya.

“Camila?” panggilnya, melihat Camila tak kunjung bicara.

Mulut Camila terkatup rapat, tetapi matanya dengan jelas memancarkan ketakutan.

“Camila, katakan sesuatu! Apa yang terjadi setelah ak
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Istri Kedua Sang Jenderal   76. Mimpi?

    Anna murung selama berhari-hari.Ia menghabiskan waktunya di hutan halaman belakang, menatap ke arah kandang Panther yang telah kosong. Merenungi hari-hari ketika macan kumbangnya itu masih ada di sana, bermain dengannya bersama Phoenix.Hatinya terasa kosong dan sesak. Tetapi, ia tahu tidak ada yang bisa ia lakukan.Ia mulai mengabaikan eksistensi Kaiden.Kaiden sendiri lebih banyak menghabiskan waktunya di barak. Ketika pulang, dia hanya menatap Anna untuk sesaat, kemudian melangkah keluar menuju ruang kerjanya.Mereka tidur di ranjang yang sama, tetapi tak bicara satu sama lain.Hari demi hari berlalu dalam kebisuan.Anna terus menangisi kepergian Panther dan Phoenix. Panther telah dikirim ke tempat asalnya setelah kakinya diobati dan Anna tidak akan bisa melihatnya lagi.Lalu Phoenix...Setiap kali mengingat mata Phoenix yang meminta tolong padanya, Anna hanya berakhir menangis tersedu-sedu.Di sisi lain, Selena sangat bahagia sampai pelayan mulai menggosipi sikapnya yang kelewat

  • Istri Kedua Sang Jenderal   75. ‘AKU MEMBENCIMU!’

    “Nyonya, Anda sudah sadar.”Anna berkedip-kedip dan menatap Camila yang berdiri di tepi ranjang. Ia menyentuh sisi kepalanya, untuk sesaat merasa linglung.Kemudian, bayangan kejadian sebelumnya melintas di kepalanya.Anna langsung bangun dengan terburu-buru, membuat rasa pusing kembali melandanya. Camila memeganginya dengan khawatir.“Sebaiknya Anda berbaring lagi, Nyonya.”“Tidak.” Anna menurunkan tangan Camila dari bahunya. “Apa yang terjadi? Bagaimana keadaan Kaiden? Bagaimana dengan Panther dan Phoenix?”Anna ingat pandangannya mulai memburam saat melihat Panther menyerang Kaiden sampai wajahnya berdarah-darah. Tubuhnya masih terlalu lemas karena kurang tidur, dan apa yang terjadi di halaman belakang membuatnya syok hingga kehilangan kesadaran.Jadi, ia tidak tahu apa yang terjadi setelahnya.“Camila?” panggilnya, melihat Camila tak kunjung bicara.Mulut Camila terkatup rapat, tetapi matanya dengan jelas memancarkan ketakutan.“Camila, katakan sesuatu! Apa yang terjadi setelah ak

  • Istri Kedua Sang Jenderal   74. Anna Pingsan

    “Jenderal?”“Apa? Tidakkah kau lihat aku sedang sibuk menunjukkan cara kerja M2 Browning?” “Tapi ini mendesak, Tuan. Saya mendapat informasi bahwa ada masalah besar di mansion.”Kaiden langsung menoleh. Vargaz berdiri dengan tegang, wajahnya cemas.“Macan kumbang Anda mengamuk,” lanjut Vargaz dengan suara pelan.Mata Kaiden sedikit melebar. “Panther?”“Ya, Tuan. Dan tidak ada pengawal yang berani untuk mendekat karena takut akan melukai hewan peliharaan Anda,” tutur Vargaz cepat. “Nyonya Anna juga ada di sana. Nyonya mungkin akan membahayakan dirinya sendiri—”“Ayo pergi,” sela Kaiden sebelum Vargaz sempat menyelesaikan kalimatnya. Ia berjalan meninggalkan lapangan dan memberi isyarat pada Alexander untuk mengambil alih pekerjaannya.Mereka melangkah lebar memasuki barak, menuju parkiran bawah tanah yang terhubung ke sebuah terowongan besar.Itu adalah sebuah jalur bawah tanah rahasia yang terhubung langsung ke mansionnya.Terowongan itu dibangun di masa Treyton Damme. Ketika Kaiden

  • Istri Kedua Sang Jenderal   73. Panther Mengamuk

    “Kaiden, coba lihat? Buket bunganya sangat indah, bukan?” Sang ibu mendongak, menatap ke arah Kaiden yang berdiri di puncak tangga sambil memperlihatkan buketnya.Kaiden menaikkan satu alisnya. “Dari mana Ibu mendapatkannya?”“Dari dua orang anak kecil—”Sebelum ucapan ibunya sempat terselesaikan, sebuah ledakan besar mendadak terdengar. Dalam sedetik, tubuh ibunya hancur lebur tanpa menyisakan apa pun.Kaiden membelalak, tangannya terulur, tetapi tubuhnya sudah terlempar ke belakang, menghantam dinding, lalu jatuh ke lantai yang telah retak. Aroma hangus dan karat darah memenuhi penciumannya.Kaiden mencoba menarik napas, tetapi dadanya terasa dihimpit keras. Dunianya berputar di sekelilingnya dan pandangannya menggelap.“Ibu...” panggilnya lirih. Darah terasa mengalir di sisi tubuhnya. “Ibu...”Tidak ada jawaban.“Ibu!”Masih tidak ada respon.Kaiden akhirnya berteriak sekuat tenaga, “IBU!”“Ibumu sudah mati, bodoh!”Sebuah tamparan keras melayang di pipi Kaiden. Ia membuka mata de

  • Istri Kedua Sang Jenderal   72. Kaiden Murka

    “Lepaskan tangan anak itu,” perintah Kaiden.Suaranya kelewat tenang, berbanding terbalik dengan ekspresinya yang mematikan. Tatapan matanya menusuk, dan ada ancaman yang nyata di dalamnya.Anna sudah pasti akan menerima hukuman atas ‘pemberontakan’ yang ia lakukan.Dan itu bukan hukuman ringan.Anna berada dalam masalah besar. Masalah yang sangat besar.Namun, ia merasa enggan untuk melepaskan tangan anak malang di hadapannya.Ia tidak bisa pergi begitu saja. Ia harus melakukan sesuatu.“Aku bilang, lepaskan tangan anak itu, Annalise York.” Kaiden mengulang ucapannya dengan suara sedingin es.Anna menggeleng pelan dan rahang Kaiden mengeras. Tangan kirinya terkepal kuat, sementara tangan kanannya yang memegang pistol menegang.Jantung Anna berdebar tak karuan. Ia melirik anak yang menunduk takut dibalik jeruji dan hatinya terasa ditusuk-tusuk.Apa yang harus ia lakukan? Apakah mungkin baginya untuk meminta pengampunan untuk anak ini?“Lepaskan tangannya. Ini peringatan terakhir.” Kai

  • Istri Kedua Sang Jenderal   71. Tertangkap Basah

    Tidak mungkin...Anna mendekat dengan kaki gemetar. Kengerian yang luar biasa menyelimuti tubuhnya, membuatnya tidak bisa berkata-kata.Dalam sekejap, udara hangat di sekelilingnya menghilang. Suasana ruangan ini begitu berbeda, terasa lembap dan dingin. Aroma apak bersama amis darah yang pekat menusuk hidung, nyaris membuatnya muntah.Meskipun lampu bersinar terang di atasnya, koridor ini tampak suram.Kedua sisi koridor dipenuhi oleh sel penjara yang berdiri kokoh—berjejer rapi sampai ke ujung koridor yang gelap. Anna harus ke sana untuk membuat lampunya menyala dan memastikan di mana ujung jeruji besi itu. Namun, ia tidak bisa menggerakan kakinya.Matanya terpaku pada para tahanan yang dirantai di dalam sel. Ukuran jerujinya sangat kecil, mungkin sekitar 6 kaki. Masing-masing jeruji hanya berisi satu tahanan.Tidak ada alas, hanya lantai yang sedingin es. Pintu sel terkunci rapat dengan gembok yang sangat besar.Ada puluhan tahanan. Sejauh mata memandang, Anna memperhatikan bagaima

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status