Home / Rumah Tangga / Istri Kedua Sang Presdir / Bab 6. Kecemburuan Siska

Share

Bab 6. Kecemburuan Siska

Author: DLaksana
last update Petsa ng paglalathala: 2024-06-22 08:16:50

“Kenapa kamu diam? Karena memang benar makanya kamu tidak berani berkutik?” tawa Siska sinis.

“Kalo memang benar kenapa? Lagi pula yang menginginkan diriku, suamimu bukan aku!” jawab Rani spontan.

Siska pun tak habis pikir. Jika Rani masih berani melawannya.

“Ingat, Nyonya! Meski aku wanita malam. Tapi, aku yang akan mengandung anakmu!” timpal Rani lagi lalu pergi meninggalkan Siska yang terdiam mematung.

Tentu saja, Siska menghentakan kakinya saking kesalnya kepada istri kedua suaminya itu.

“Lama-lama aku jadi g*la gara-gara dia! Semua gagal total karena mas Galvin!” gumam Siska dengan pergi meninggalkan kamar Rani.

Di dalam kamar. Rani menghela napas panjang. Sebenarnya, dia sedikit takut karena Siska sudah tahu dari mana ia berasal. Entah kenapa ia mempunyai firasat yang tidak enak.

“Ku kira ancaman Marko paling menakutkan. Ternyata ini lebih menyeramkan dari yang dibayangkan! Astaga, bagaimana aku bisa hidup tenang selama 10 bulan ke depan,” sesalnya dalam hati.

Rani pun berjalan ke arah jendela yang menghadap ke pemukiman warga. Karena posisi kamarnya di lantai atas. Ia pun bisa melihat pemandangan yang tak pernah ia lihat dengan angin yang menghembus ke wajahnya saat jendela itu sengaja ia buka.

“Kamu di sini?” ucapan seseorang dari arah belakang mengagetkan Rani yang melamun.

“Tuan!” suara Rani yang terkejut membuat Galvin tersenyum melihatnya.

“Kamu melamuni apa siang-siang begini?” tanya Galvin saat mendekat.

Rani menggeleng pelan. “Tidak, Tuan. Bukan apa-apa, hanya ingin mencari angin segar!” jawabnya spontan.

Galvin pun hanya mengangguk. “Baiklah. Cepatlah bersiap, kita akan berbelanja baju untukmu sesuai janjiku tadi pagi. Aku tunggu di bawah,” titahnya dengan berjalan keluar ke arah pintu.

Rani hanya bisa menurut. Ia pun lekas berganti pakaian yang menurutnya sedikit sopan.

Setelah selesai dan ia pun turun menghampiri Galvin yang sudah menunggunya sedari tadi.

Saat sudah berada di dalam mobil. Rani mempertanyakan keberadaan Siska yang sedari tadi tak terlihat.

“Istriku sedang berkunjung ke butiknya. Karena besok ada acara pameran yang akan ia ikuti di luar kota,” jawab Galvin sambil mengemudi.

“Kenapa Anda tidak mengantarnya, Tuan? Kenapa malah mengantarku berbelanja,” tanya Rani polos.

“Karena kamu belum terlalu paham daerah Jakarta. Kalau kamu hilang, aku juga yang repot nanti,” sahut Galvin terkikik.

Rani tersenyum malu mendengarnya. Ia pun menatap ke arah suaminya ingin menanyakan suatu hal.

Namun, gerak gerik Rani langsung terbaca oleh Galvin yang bertanya lebih dulu.

“Kamu mau ngomong apa?”

Rani lagi-lagi tersenyum kaku. “Ah, itu, Tu-an. Kapan rencanamu membuat anak. Ehem, maksudku—,”

“Nanti saja kita bicarakan hal itu,” timpal Galvin menyela ucapan Rani yang belum selesai.

Rani hanya terdiam sambil tersenyum kaku. Entah kenapa, ia menginginkan semua ini secepatnya berakhir.

Sesampainya di mall kawasan Jakarta Barat. Galvin mengajak Rani masuk dan berkeliling ke setiap toko pakaian. Jujur saja, Rani sedikit sungkan berjalan berdampingan dengan Galvin yang selalu menjadi pusat perhatian setiap orang.

Setelah masuk ke salah satu butik terkenal. Rani diperintahkan untuk memilih pakaian kesukaannya tetapi harus sopan.

“Silakan pilih sesukamu, kalau bisa sebanyak-banyaknya. Aku tunggu di sini,” titah Galvin sambil duduk di sofa yang disediakan.

Rani pun mengangguk senang. Ini adalah kesukaannya berbelanja banyak tanpa harus memikirkan pembayarannya.

“Duh, enak juga jadi Nyonya,” gumam Rani sambil memilih beberapa pakaian dress selutut.

Tanpa Rani sadari, Galvin sedari tadi memperhatikannya dari tempat satu ke tempat yang lain. Galvin sendiri merasa ada sedikit yang berbeda di perasaannya. Namun, ia tak menyadari akan hal itu.

“Tuan, aku sudah memilih beberapa baju yang aku suka,” kata Rani mendekat ke arah Galvin.

Galvin bahkan sampai terkejut saat istri keduanya sudah berada di hadapannya kini.

“Apa segitu cukup?” tanyanya gugup.

Rani mengangguk. “Cukup, Tuan. Sangat cukup.”

“Baiklah, kalo cukup aku akan membayar semuanya,” kata Galvin sambil beranjak dari kursi sofa dan berjalan ke arah kasir.

Setelah membayar semua belanjaan Rani. Galvin lalu mengajak Rani untuk makan siang bersama. Sebenarnya, Rani menolak. Akan tetapi, Galvin memaksa terus menerus.

Mereka berdua pun berjalan ke arah makanan khas Jepang yang berada di lobi mall.

Makanan sudah mereka pesan. Namun, di antara Rani maupun Galvin mereka saling terdiam satu sama lain. Rani pun mengedarkan pandangannya ke sekeliling area mall. Tiba-tiba dari arah pintu masuk lobi, ia melihat seseorang yang wajahnya terlihat tidak asing.

“Astaga! Bukankah dia pelanggan terakhirku waktu itu,” gumam Rani terkejut. Ia pun mengambil buku menu untuk menutupi wajahnya agar tak terlihat.

“Kenapa?” tanya Galvin bingung.

Rani menggeleng. “Ti-dak, Tuan. Tidak apa-apa,” sahutnya gugup.

Galvin menurunkan buku menu itu dari wajah Rani. Lalu ia melihat ekspresi raut wajah Rani yang sedikit panik.

“Apa kamu melihat sesuatu?” tanyanya menebak.

Rani akhirnya mengangguk pelan. “Kita pulang saja, Tuan. Lagi pula aku masih kenyang,” ajaknya dengan beranjak dari kursi.

Galvin pun mau tak mau hanya bisa menuruti keinginan istri keduanya. Padahal makanan sudah mereka pesan.

Setelah keluar dari lobi mall, mereka berjalan ke arah basemen untuk mengambil mobil. Di perjalanan Rani lebih banyak diam tak seperti biasanya. Hal itu membuat Galvin menjadi cemas. Namun, ia tak berani bertanya lebih banyak.

Hampir 25 menit perjalanan. Kini mobil yang dikendarai Galvin pun sampai kediamannya. Setelah memarkirkan mobil, mereka masuk secara bersamaan. Tanpa mereka sadari Siska ternyata sudah menunggunya di ruang tamu sedari tadi.

“Dari mana saja kamu, Mas?” tanya sinis Siska.

“Aku mengantar Rani berbelanja baju,” sahut Galvin terus terang.

Siska mendecih. “Apa dia nggak bisa berbelanja sendiri sampai kamu mau direpotkan?”

Galvin menghela napas panjang. “Ini kemauanku sendiri, Sayang. Karena Rani belum tahu jalan. Lagi pula aku sudah izin sama kamu, tapi kamu tidak membalas pesanku?”

Siska tetap saja tidak mempercayai. Jujur ia cemburu kepada Rani. Sebab, sikap Galvin menurutnya terlalu berlebihan.

“Itu hanya alasan dia saja ‘kan, Mas?” tunjuk Siska ke arah Rani. “Seorang wanita malam memang tugasnya menggoda. Lalu kamu gunakan kepolosanmu untuk menggoda suamiku, hah?” teriak Siska membuat Galvin ikut tersulut emosi.

“Cukup, Siska! Rani tidak salah, karena aku sendiri yang ingin mengantarnya!” bentak Galvin tak bisa terkontrol.

Siska yang mendapat bentakan dari suaminya terkejut. Kedua matanya mengembun seketika.

“Maaf, Sayang. Aku tidak bermak—,”

“Cukup, Mas! Aku tidak mau mendengar penjelasanmu!” isak Siska menggeleng. Ia berjalan mundur secara perlahan. Sebab, Galvin mencoba mendekat.

Hati Siska terasa sakit mendengar bentakan suaminya. Selama ia menikah dengan Galvin. Baru kali ini ia dibentak untuk yang kedua kalinya hanya karena seorang wanita.

“Akan aku beri tahu ke orang tuamu. Siapa Rani sebenarnya!” ancam Siska serius.

“Tolong, Sayang. Aku mohon jangan,” pinta Galvin lirih. “Aku tahu, aku salah. Tolong, maafkan aku!”

Siska tak menggubrisnya sama sekali. Ia langsung berjalan ke arah pintu keluar dengan air mata yang membanjiri wajahnya.

Galvin dengan cepat mencegahnya. Siska pun memberontak, tetapi tenaga suaminya lebih besar darinya.

“Lepaskan aku, Mas. Lepas!”

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Mga Comments (1)
goodnovel comment avatar
dindaalestari1310
wajar sih klu Siska cemburu krn Galvin juga sdh lebih perhatian sama Rani tp emang itu yg seharusnya Galvin lakukan.
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Istri Kedua Sang Presdir    Bab 45. Panggilan Kepolisian

    Langit malam tampak mendung dengan angin kencang yang menerpa sebagian wilayah Ibukota.Sebuah mobil polisi berhenti di depan rumah Marshel yang megah. Dua petugas polisi berpakaian seragam keluar dengan surat panggilan resmi di tangan. Galvin ternyata membatalkan semua kerja sama bisnis dengan Marshel secara sepihak.“Pak Marshel Gunawan?” tanya salah satu petugas dengan sopan namun tegas saat Marshel baru saja keluar dari mobilnya, masih menggunakan perban di hidungnya.“Ya, saya. Ada apa?” tanya Marshel dengan wajah yang sedikit terpana. Dia sudah menduga akan ada konsekuensi dari perbuatannya, tapi tidak menyangka pihak berwenang akan datang dengan cepat.“Saya dari Kepolisian Resor Jakarta Pusat. Kami memiliki surat panggilan untuk Anda terkait kasus penganiayaan yang terjadi pada ibu Maharani beberapa waktu yang lalu di Hotel Grand Sentosa,” jelas petugas polisi sambil menunjukkan surat resmi yang ada di tangannya. “Mohon untuk bisa menyertai kami ke kantor polisi untuk memberik

  • Istri Kedua Sang Presdir    Bab 44. Pemeriksaan

    Keesokan harinya, cuaca yang cukup mendung juga udara dingin membuat Maharani yang berada di dalam mobil menatap ke sekeliling dengan perasaan bahagia. Hari ini adalah jadwal pemeriksaan kandungannya. Setelah menempuh hampir satu jam di perjalanan, akhirnya perjalanan itu sampai di waktu yang tepat.Namun, saat menunggu pemeriksaan tiba, Maharani yang sudah duduk di bangku tunggu selama hampir satu jam, sering kali melihat ke arah pintu masuk dengan ekspresi penuh harapan.Dia juga melihat waktu di jam tangannya menunjukkan pukul 10.30, bertepatan dengan waktu jadwal pemeriksaannya. Maharani menghela napas panjang dan mengeluarkan pesan singkat untuk Galvin: "Mas, aku mulai masuk pemeriksaan, ya. Semoga meetingnya lancar."Setelah mengirim pesan, dia berdiri perlahan dan mulai berjalan menuju loket pendaftaran. Rasa kecewa jelas terlihat di wajahnya, dia sangat berharap Galvin bisa menemaninya pada pemeriksaan penting ini, mengingat bayinya sudah memasuki usia 22 minggu dan mereka aka

  • Istri Kedua Sang Presdir    Bab 43. Anniversary

    Hari pun dengan cepat berganti, malam yang indah dengan taburan bintang di angkasa membuat suasana di restoran mewah begitu terasa hangat.Siska telah merencanakan segalanya dengan matang. Restoran yang dulu menjadi tempat pertama mereka berkencan dan kemudian bertunangan telah disewa secara eksklusif untuk malam itu. Dekorasi ruangan dihiasi dengan bunga mawar merah, bunga favorit Galvin untuknya, dan lilin yang menyala memberikan suasana hangat juga romantis.Ketika Galvin datang mengenakan jas hitam yang rapi, wajahnya masih tampak dingin dan tidak beremosi. Dia melihat dekorasi yang indah di sekelilingnya, lalu menatap Siska yang berdiri di tengah ruangan mengenakan gaun malam putih muda yang pernah dikenakannya saat malam tunangan mereka.“Kamu yang mengatur semua ini?” tanya Galvin dengan nada yang datar menatap ke sekeliling.Siska mengangguk pelan dengan senyuman lembut. “Ya, Mas. Hari ini adalah ulang tahun pernikahan kita yang kelima. Aku ingin kita bisa merayakannya bersama

  • Istri Kedua Sang Presdir    Bab 42. Bicara dengan Kalisa

    Setelah kejadian semalam, kini Maharani duduk di tepi ranjang, tangan kanannya pelan menyentuh perutnya yang semakin membuncit. Pikirannya terus terngiang pada pengakuan Siska tadi malam. Dia tidak bisa membayangkan kalau orang yang selama ini dia anggap kakak perempuan ternyata adalah orang yang ingin menyakiti dirinya dan anaknya.Lebih dari itu, kejutan yang lebih besar datang ketika tahu bahwa Siska bekerja sama dengan Marshel, pria yang pernah mencoba untuk menodainya saat malam pertama setelah akad nikahnya dengan Galvin. Saat itu, Marshel yang masuk begitu saja ke kamar hotel di mana Rani sedang menunggu Galvin, saat itu dia mencoba untuk mendekatinya dengan cara yang tidak senonoh, sebelum akhirnya Galvin datang dan menghalangnya.Tanpa berpikir dua kali, Maharani mengambil ponsel dan menghubungi Kalisa. Panggilan hanya berdering beberapa kali sebelum terhubung.“Ran? Ada apa? Lo terdengar tidak baik-baik saja,” suara Kalisa terdengar khawatir dari ujung telepon.“Sa... Gue pe

  • Istri Kedua Sang Presdir    Bab 41. Mengakui Kesalahan

    Di aula acara bisnis yang diadakan di malam hari oleh perusahaan ternama berjalan meriah dengan tamu undangan dari berbagai kalangan bisnis. Galvin datang mengenakan jas hitam yang rapi, ditemani oleh Lingga yang selalu siap membantu di sisi. Saat memasuki aula, dia langsung melihat Marshel yang tengah berbincang dengan beberapa pengusaha lain, wajahnya penuh senyum yang tampak akrab.Setelah beberapa saat, Marshel menyadari kehadiran Galvin dan langsung mendekatinya dengan langkah sigap. “Galvin! Kabarmu baik saja ‘kan? Sudah lama kita tidak bertemu seperti ini,” ucapnya dengan nada yang sangat akrab, bahkan ingin menjabat tangan Galvin.Namun Galvin hanya memberikan jabat tangan yang singkat dan kaku, wajahnya tetap dingin tanpa ekspresi. “Marshel. Aku hanya datang untuk urusan bisnis saja.”Marshel tampak sedikit terkejut dengan sikap Galvin, tapi tetap mencoba menunjukkan wajah yang ramah. “Baiklah, kalau begitu. Semoga kita bisa membahas kerja sama kita nanti.”Selama acara berla

  • Istri Kedua Sang Presdir    Bab 40. Mulai Penyelidikan

    Keesokan harinya di siang hari. Setelah menerima perintah dari Galvin, Lingga segera bergerak cepat. Dia datang ruang teknis hotel dengan surat izin resmi dari pihak manajemen perusahaan Galvin, menyatakan bahwa mereka sedang melakukan penyelidikan terkait keamanan tamu.Dengan bantuan seorang teknisi yang baru saja diperkerjakan dan tidak terlibat dalam kejadian sebelumnya, Lingga mulai memeriksa sistem komputer yang mengelola CCTV hotel. Meskipun rekaman utama sudah dihapus, teknisi itu menemukan bahwa ada file cadangan yang tidak terdeteksi oleh sistem utama."Dokumen ini tersembunyi di dalam folder sistem yang jarang digunakan, Pak," ucap teknisi sambil menunjukkan layar komputer. "Sepertinya orang yang menghapus rekaman tidak menyadari kalau ada salinan yang dibuat secara otomatis setiap lima menit."Lingga mendekat dengan hati-hati, melihat rekaman yang sudah dipulihkan sedikit demi sedikit. Pada awalnya, gambarnya masih buram, tapi perlahan-lahan mulai jelas. Mereka melihat sos

  • Istri Kedua Sang Presdir    Bab 8. Di Rumah Sakit

    Galvin langsung membawa Helena ke rumah sakit terdekat dari kantor dibantu oleh asisten pribadinya. Setelah menempuh perjalanan kurang dari 20 menit. Kini mobil Galvin sudah sampai di halaman lobi rumah sakit. Lingga, asisten Galvin langsung membantu membukakan pintu mobil dan membantu mengangkat He

    last updateHuling Na-update : 2026-03-17
  • Istri Kedua Sang Presdir    Bab 9. Rasa Cemburu

    Rani yang bingung akan pengusiran dari mertuanya itu hanya bisa terdiam dengan wajah polosnya. “Apa yang terjadi, Mas?” Siska yang baru saja datang dibuat bingung oleh ekspresi wajah ibu mertuanya yang tampak kesal. “Suruh wanita j*lang itu pergi, Siska! Aku tidak sudi melihat dia di sini!” usir Hel

    last updateHuling Na-update : 2026-03-17
  • Istri Kedua Sang Presdir    Bab 15. Mengajak Bertemu

    Rani seketika menggeleng menolak permintaan dari Galvin yang meminta lebih. “Kenapa?” tanya Galvin penasaran. Padahal gair*hnya sudah di ujung puncak. “Maaf, Tuan. Jangan di mobil, kita bisa melakukannya nanti setelah makan. Aku sangat lapar,” jawab Rani dengan polos. Galvin yang tadinya sedikit kec

    last updateHuling Na-update : 2026-03-20
  • Istri Kedua Sang Presdir    Bab 12. Bertemu Tak Sengaja

    Rani pun membereskan sisa sarapannya dan merapikan semua yang ada di atas meja lalu membawanya ke dapur. Saat dirinya sibuk mencuci piring. Terdengar suara ponselnya yang dering. Di sana terlihat nama Marko yang muncul di layar pipihnya yang menyala. Sempat ragu akan menjawab atau tidak. Namun, kare

    last updateHuling Na-update : 2026-03-19
Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status