เข้าสู่ระบบLima tahun berlalu dengan cepat, seperti air sungai yang mengalir tanpa henti. Jakarta tetap menjadi kota yang tidak pernah tidur, dengan gedung-gedung pencakar langit yang terus tumbuh dan jalanan yang selalu dipenuhi kendaraan. Namun bagi Maharani, lima tahun terasa seperti sebuah perjalanan panjang yang mengubah hidupnya selamanya.Pagi itu, matahari bersinar cerah di atas Yayasan Kasih Ibu, sebuah panti asuhan yang berdiri megah di atas tanah seluas dua hektar di kawasan Bogor. Bangunan berwarna putih dengan atap merah itu dikelilingi oleh taman yang hijau dan rindang, tempat anak-anak bermain dengan riang. Di depan gerbang, sebuah papan nama bertuliskan "Yayasan Kasih Ibu—Didirikan oleh Maharani Gunawan" terpampang dengan bangga.Maharani berdiri di beranda kantornya, menatap anak-anak yang sedang bermain di halaman. Wajahnya yang dulu penuh penderitaan kini berseri-seri dengan kebahagiaan yang tulus. Rambutnya yang panjang terura
Tiga Hari KemudianMaharani keluar dari rumah sakit dengan Hartono di pelukannya. Sri sudah menunggu dengan mobil. Kalisa juga ada di sana, meskipun dia masih dalam masa pemulihan."Kau yakin ingin melakukan ini?" tanya Sri dengan suara yang penuh kekhawatiran.Maharani mengangguk. "Ya. Aku harus melakukan ini. Untuk diriku sendiri. Untuk Hartono."Kalisa merangkul Maharani. "Kau tahu di mana aku berada kalau kau butuh aku. Aku akan selalu ada untukmu."Maharani tersenyum tipis. "Terima kasih, Lis."Dia masuk ke mobil dan menatap rumah sakit sekali lagi. Di jendela lantai tiga, dia melihat Galvin berdiri, menatapnya dengan mata yang penuh kesedihan. Maharani mengangkat tangannya, melambaikan salam perpisahan. Galvin membalas lambaian itu dengan tangan yang gemetar.Mobil melaju meninggalkan rumah sakit. Maharani menatap Hartono yang terti
Galvin masih terduduk di lantai lorong rumah sakit ketika Maharani muncul di ambang pintu dengan kursi roda yang didorong oleh seorang perawat. Wanita itu menatap suaminya dengan wajah penuh kekhawatiran."Mas? Ada apa? Kenapa kau di lantai?"Galvin mengangkat kepalanya dan menatap Maharani. Mata mereka bertemu, dan untuk sesaat, dunia seolah berhenti berputar. Galvin melihat wajah Maharani—wajah yang selama ini dia cintai, wajah yang dia pikir dia kenal sepenuhnya. Namun sekarang, wajah itu terasa berbeda. Wajah itu mengingatkannya pada seseorang. Pada Bryan. Pada Hartono."Mas, kau membuatku takut," ujar Maharani dengan suara yang bergetar. "Apa yang terjadi?"Galvin bangkit dengan susah payah. Dia meraih surat yang terjatuh di lantai dan memasukkannya kembali ke dalam amplop. Tangannya gemetar hebat."Rani... kita harus bicara," ujar Galvin dengan suara yang serak.
Di rumah sakit, Maharani langsung dibawa ke ruang bersalin. Galvin berdiri di lorong, tubuhnya gemetar. Dia mencoba menghubungi Sri dan Kalisa, namun tangannya terlalu gemetar untuk menekan tombol dengan benar.Lingga yang melihat kondisi Galvin segera mengambil alih. "Saya akan menghubungi Ibu Sri dan Bu Kalisa, Pak. Bapak tunggu di sini."Galvin mengangguk dan duduk di kursi di lorong rumah sakit. Dia menutup matanya, mencoba menenangkan diri. Namun pikirannya terus melayang ke Maharani—ke wajahnya yang pucat, ke tangannya yang gemetar, ke suaranya yang penuh ketakutan."Tuhan, tolong lindungi mereka," bisik Galvin. "Tolong lindungi istriku dan anakku."Beberapa menit kemudian, Sri dan Kalisa tiba. Sri langsung menghampiri Galvin dengan wajah yang penuh kekhawatiran."Bagaimana kondisi Maharani?" tanya Sri."Dokter masih memeriksa," jawab Galvin. "Mer
Tiga minggu berlalu sejak kematian Frans Gunawan. Jakarta kembali beraktivitas seperti biasa, seolah tidak pernah terjadi badai besar yang hampir menghancurkan keluarga Gunawan. Namun bagi Galvin dan Maharani, luka-luka yang ditinggalkan badai itu masih terasa segar.Pemakaman Frans berlangsung sederhana, hanya dihadiri oleh keluarga dekat. Helena menangis sepanjang upacara, tubuhnya yang rapuh seolah kehilangan kekuatan untuk berdiri. Galvin berdiri di samping ibunya, menopang tubuh wanita itu meskipun hatinya sendiri dipenuhi perasaan yang campur aduk. Di barisan belakang, Bryan hadir dengan kursi roda, ditemani dua perawat. Meskipun tubuhnya masih lemah akibat luka tembak, dia bersikeras untuk datang."Kau tidak perlu datang," ujar Galvin saat melihat Bryan di pemakaman.Bryan menatap pusara Frans dengan mata yang sulit dibaca. "Aku datang bukan untuk menghormatinya. Aku datang untuk memastikan bahwa dia benar-benar mati."Galvin tidak membalas. Dia hanya mengangguk dan kembali men
Galvin berdiri di dermaga dengan surat wasiat di tangan yang gemetar. Kata-kata di kertas itu seolah menari di depannya, menolak untuk dipahami. Dia membaca ulang kalimat itu berkali-kali, berharap bahwa matanya sedang menipunya."Galvin, anakku yang kucintai. Kau bukanlah darah dagingku. Kau adalah anak dari sahabatku, Hartono Wijaya—ayah kandung Bryan. Ibumu, Helena, mengandungmu saat hubungan terlarang mereka. Aku menerimamu sebagai anakku karena aku mencintai ibumu dan karena aku berjanji pada Hartono untuk melindungimu. Tapi sekarang, aku harus jujur. Kau adalah saudara kandung Bryan. Maafkan aku karena telah menyembunyikan kebenaran ini selama ini.""Tidak..." bisik Galvin dengan suara yang hampir tidak terdengar. "Tidak mungkin..."Maharani yang melihat perubahan di wajah suaminya segera menghampiri. "Mas? Ada apa? Apa isi surat itu?"Galvin tidak bisa menjawab. Dia hanya menyerahkan surat itu kepada Maharani dengan tangan yang gemetar. Maharani membacanya dengan mata yang sema







