Share

Bab 7. Menerima Rani

Penulis: DLaksana
last update Tanggal publikasi: 2024-06-23 15:53:58

“Aku tidak mau melepaskanmu! Asal kamu mau merahasiakan tentang Rani. Ini untuk kebaikan kita, Sayang. Rani berperan penting bagi anak kita nanti,” terang Galvin menenangkan istri pertamanya.

Isak tangis Siska semakin pecah. Ia memang menginginkan seorang anak. Namun, ada rasa tidak terima jika anaknya nanti dikandung oleh wanita semacam Rani.

“Aku mohon, kamu terima Rani. Bagaimana pun dia sudah rela mau memberikan anak untuk kita. Kamu mengerti ‘kan?” Galvin berkata kembali agar Siska paham.

Anggukkan kecil pun Siska berikan kepada suaminya. Meski hatinya sebenarnya menolak keras, tetapi ia akan mencoba menerima Rani berada di keluarganya.

“Maafkan aku, Mas. Aku terlalu egois. Sampai-sampai aku bersikap seperti ini,” sesal Siska lirih.

Galvin yang masih memeluk tubuh istri pertamanya langsung merasa lega. Sebab, Siska sudah mau menerima Rani kali ini.

“Tidak perlu meminta maaf. Ini semua salahku, harusnya dari awal aku memberitahumu. Akan tetapi, semua sudah terjadi,” kata Galvin menyesal.

Siska semakin mempererat pelukannya kepada sang suami. Ia merindukan hal seperti ini. Apalagi hampir 2 minggu ditinggal keluar kota, lalu pulang-pulang membawa madu. Hal itu pun membuat hati Siska terasa sakit tak berdarah.

Namun, berbeda dengan Rani yang melihat dua sepasang suami-istri itu yang sedang saling berpelukan. Entah kenapa ada rasa sensasi terbakar di bagian dadanya. Padahal memang sudah sepantasnya mereka berdua saling memaafkan satu sama lain. Akan tetapi, hati Rani serasa tidak bisa menerimanya.

Ia pun akhirnya berpamit untuk ke kamarnya agar hatinya bisa kembali seperti semula.

Baik Galvin maupun Siska ia hanya mengangguk pelan dan mereka pun melanjutkan kemesraannya yang sempat hilang dengan saling bertukar ciuman.

Tentu saja, interaksi mereka dilihat langsung oleh Rani yang melihat dari lantai atas.

“Harusnya aku senang melihat mereka berbaikan. Tapi ... Ah, lupakan. Ini hanya perasaanku yang sedang tidak baik-baik saja,” ungkapnya dalam hati dengan menutup pintu kamar dan berjalan ke arah jendela.

***

Keesokan harinya. Rani yang baru bangun, ia menurunkan kakinya dari ranjang dan berjalan ke arah jendela untuk merasakan udara sejuk di pagi hari.

Ia pun melihat ke arah cermin untuk memastikan penampilannya tak berantakan. Setelah itu, ia keluar dari kamar dikarenakan perutnya sedikit keroncongan. Sebab, tadi malam ia melewatkan makan malam akibat tertidur lebih awal.

“Pagi,” sapanya ke arah Galvin dan juga Siska.

Galvin sendiri hanya mengangguk. Sedangkan Siska, hanya memberikan senyuman dengan mengode agar Rani duduk di kursi seberangnya.

“Maafkan aku, Rani. Atas sikapku yang kemarin,” kata Siska lirih.

Rani tersenyum tipis dan mengangguk. “Lupakan saja, Nyonya. Dan terima kasih sudah mau menerimaku.”

Siska pun membalas anggukan. Sementara Galvin melihat istri mereka berbaikan, perasaan di hatinya begitu bahagia. Ia pun berjanji akan bersikap adil kepada mereka berdua.

Setelah sarapan selesai. Galvin pun bersiap berangkat ke kantor. Karena hari ini akan ada meeting besar bersama investor berasal dari Singapura.

“Mas, ini jasnya,” kata Siska yang mendekat.

“Terima kasih, ya, Sayang. Semoga acaramu nanti lancar. Maaf aku tidak bisa datang,” ucap Galvin dengan mengecup kening Siska secara lembut.

“Terima kasih, Mas. Nggak apa, kok. Lagian kamu juga sibuk.” Siska merasa dirinya bahagia, suaminya tetap bersikap romantis apalagi di depan Rani saat ini.

“Ya, sudah. Aku berangkat dulu, ya,” kata Galvin dengan tersenyum kepada Siska dan Rani.

Rani hanya menanggapi dengan senyuman tipis melihat kepergian suaminya.

Setelah mobil Galvin tak terlihat. Siska pun meninggalkan Rani begitu saja di teras rumah.

Rani pun tak mempermasalahkan. Ia juga tidak mau bersikap sok dekat atau sok akrab dengan istri pertama suaminya itu. Meski Siska sudah mau menerimanya.

Ia pun berjalan masuk ke dalam kamar, sebab bingung mau melakukan apa di rumah sebesar ini. Saat hendak masuk, ia berpapasan dengan Siska yang sudah rapi dan hendak keluar.

“Aku akan ada acara di butik milikku. Mungkin pulang malam, apa kamu mau ikut?” tawar Siska basa basi.

Rani sempat terkejut mendengar tawaran dari wanita di hadapannya yang memakai dress berwarna cokelat muda dengan rambut tergerai bergelombang. Karena merasa sungkan, membuat Rani hanya menggeleng pelan.

“Tidak Nyonya. Aku di rumah saja,” jawab Rani menolak.

Siska pun mengangguk. “Baiklah, aku tinggal dulu,” ucapnya dengan berjalan keluar ke arah parkiran mobil.

Setelah kepergian istri pertama suaminya itu. Rani kembali masuk dan melihat ke sekeliling rumah suaminya yang belum sempat ia lihat keseluruhannya. Tatapannya kini tak sengaja melihat ke sebuah bingkai foto maternity shoot istri pertama suaminya.

“Nyonya pernah hamil?” gumamnya terkejut.

Perut yang dikandung Siska cukup besar, kemungkinan kehamilan di foto itu sekitar usia 8 bulan. Rani pun menaruh foto yang ia pegang kembali ke atas meja. Di dalam benaknya banyak sekali pertanyaan tentang Siska. Yang membuat ia semakin penasaran.

“Kira-kira apa yang membuat Nyonya kini tak bisa hamil? Apalagi anak yang di kandungnya pun tak terlihat di rumah ini?” ungkap Rani menerka-nerka.

“Duh, kok, aku kepo gini, sih? Cari tahu nggak, ya? Atau biarin saja?” imbuhnya dengan memegang kepalanya.

Karena ia tidak ingin memusingkan hal itu. Ia pun melupakan pertanyaan tentang istri pertama suaminya. Rani akhirnya berjalan ke arah kamar, lalu merebahkan tubuhnya untuk beristirahat.

***

Berbeda di tempat lain. Yakni kantor milik Galvin. Ia yang sibuk fokus ke layar monitor. Tanpa di sadari ia terkejut saat melihat ibunya datang ke ruangannya.

Hatinya merasa tak enak, saat melihat raut wajah Helena yang tak biasa.

“Ibu?” sapa Galvin dengan berdiri dan langsung menyalami.

Namun, tangan Galvin langsung ditampik oleh Helena dengan kasar.

“Apa maksudmu ini?” hardik Helena dengan menunjuk layar ponselnya ke hadapan Galvin.

Wajah Galvin terkejut seketika. “Dari mana Ibu mendapatkan foto itu?”

“Dari seseorang. Apa benar Rani itu wanita malam?” cecar Helena berbalik tanya.

Galvin mengusap wajahnya secara kasar. Ia ingin mencurigai Siska, tetapi ia yakin jika istri pertamanya tak mungkin yang melakukan.

“Jawab, Galvin! Apa benar Rani wanita penghibur?” ulang Helena sambil berteriak.

Galvin membuang napas panjang sebelum menjawab. Lalu ia pun mengangguk pelan karena ia tak bisa mengelak lagi.

Helena menggeleng pelan. Entah kenapa dadanya terasa sesak saat tahu tentang kebenarannya.

“Berani-beraninya kamu membohongiku, Galvin. Ibu kecewa sama kamu! Kecewa!” desis Helena dengan memegang dadanya yang sakit.

Galvin merasa bersalah telah berbohong, bahkan menutupi asal usul istri keduanya itu. Ia pun memohon maaf atas kesalahannya.

Helena menggeleng, ia belum bisa menerima kenyataan tentang istri kedua putranya. Kepalanya tiba-tiba mulai berat dan tak berlangsung lama kesadarannya pun hilang. Helena terjatuh ke atas lantai dengan keadaan tak sadarkan diri.

Galvin seketika panik. Ia pun berlutut menghampiri ibunya yang tersungkur di lantai.

“Ibu, bangun, Bu. Maafkan aku, Bu,” ucapnya menyesal dengan mencoba membangunkan Helena.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
dindaalestari1310
bagus Siska mau menerima Rani tp beneran tulus ga nih dia terima Rani,moga aja iya ya,. tau dr mana mama Galvin siapa Rani ,apa iya Siska yg ngasih tau secara cuma dia dan Galvin yg tau
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Istri Kedua Sang Presdir    Bab 45. Panggilan Kepolisian

    Langit malam tampak mendung dengan angin kencang yang menerpa sebagian wilayah Ibukota.Sebuah mobil polisi berhenti di depan rumah Marshel yang megah. Dua petugas polisi berpakaian seragam keluar dengan surat panggilan resmi di tangan. Galvin ternyata membatalkan semua kerja sama bisnis dengan Marshel secara sepihak.“Pak Marshel Gunawan?” tanya salah satu petugas dengan sopan namun tegas saat Marshel baru saja keluar dari mobilnya, masih menggunakan perban di hidungnya.“Ya, saya. Ada apa?” tanya Marshel dengan wajah yang sedikit terpana. Dia sudah menduga akan ada konsekuensi dari perbuatannya, tapi tidak menyangka pihak berwenang akan datang dengan cepat.“Saya dari Kepolisian Resor Jakarta Pusat. Kami memiliki surat panggilan untuk Anda terkait kasus penganiayaan yang terjadi pada ibu Maharani beberapa waktu yang lalu di Hotel Grand Sentosa,” jelas petugas polisi sambil menunjukkan surat resmi yang ada di tangannya. “Mohon untuk bisa menyertai kami ke kantor polisi untuk memberik

  • Istri Kedua Sang Presdir    Bab 44. Pemeriksaan

    Keesokan harinya, cuaca yang cukup mendung juga udara dingin membuat Maharani yang berada di dalam mobil menatap ke sekeliling dengan perasaan bahagia. Hari ini adalah jadwal pemeriksaan kandungannya. Setelah menempuh hampir satu jam di perjalanan, akhirnya perjalanan itu sampai di waktu yang tepat.Namun, saat menunggu pemeriksaan tiba, Maharani yang sudah duduk di bangku tunggu selama hampir satu jam, sering kali melihat ke arah pintu masuk dengan ekspresi penuh harapan.Dia juga melihat waktu di jam tangannya menunjukkan pukul 10.30, bertepatan dengan waktu jadwal pemeriksaannya. Maharani menghela napas panjang dan mengeluarkan pesan singkat untuk Galvin: "Mas, aku mulai masuk pemeriksaan, ya. Semoga meetingnya lancar."Setelah mengirim pesan, dia berdiri perlahan dan mulai berjalan menuju loket pendaftaran. Rasa kecewa jelas terlihat di wajahnya, dia sangat berharap Galvin bisa menemaninya pada pemeriksaan penting ini, mengingat bayinya sudah memasuki usia 22 minggu dan mereka aka

  • Istri Kedua Sang Presdir    Bab 43. Anniversary

    Hari pun dengan cepat berganti, malam yang indah dengan taburan bintang di angkasa membuat suasana di restoran mewah begitu terasa hangat.Siska telah merencanakan segalanya dengan matang. Restoran yang dulu menjadi tempat pertama mereka berkencan dan kemudian bertunangan telah disewa secara eksklusif untuk malam itu. Dekorasi ruangan dihiasi dengan bunga mawar merah, bunga favorit Galvin untuknya, dan lilin yang menyala memberikan suasana hangat juga romantis.Ketika Galvin datang mengenakan jas hitam yang rapi, wajahnya masih tampak dingin dan tidak beremosi. Dia melihat dekorasi yang indah di sekelilingnya, lalu menatap Siska yang berdiri di tengah ruangan mengenakan gaun malam putih muda yang pernah dikenakannya saat malam tunangan mereka.“Kamu yang mengatur semua ini?” tanya Galvin dengan nada yang datar menatap ke sekeliling.Siska mengangguk pelan dengan senyuman lembut. “Ya, Mas. Hari ini adalah ulang tahun pernikahan kita yang kelima. Aku ingin kita bisa merayakannya bersama

  • Istri Kedua Sang Presdir    Bab 42. Bicara dengan Kalisa

    Setelah kejadian semalam, kini Maharani duduk di tepi ranjang, tangan kanannya pelan menyentuh perutnya yang semakin membuncit. Pikirannya terus terngiang pada pengakuan Siska tadi malam. Dia tidak bisa membayangkan kalau orang yang selama ini dia anggap kakak perempuan ternyata adalah orang yang ingin menyakiti dirinya dan anaknya.Lebih dari itu, kejutan yang lebih besar datang ketika tahu bahwa Siska bekerja sama dengan Marshel, pria yang pernah mencoba untuk menodainya saat malam pertama setelah akad nikahnya dengan Galvin. Saat itu, Marshel yang masuk begitu saja ke kamar hotel di mana Rani sedang menunggu Galvin, saat itu dia mencoba untuk mendekatinya dengan cara yang tidak senonoh, sebelum akhirnya Galvin datang dan menghalangnya.Tanpa berpikir dua kali, Maharani mengambil ponsel dan menghubungi Kalisa. Panggilan hanya berdering beberapa kali sebelum terhubung.“Ran? Ada apa? Lo terdengar tidak baik-baik saja,” suara Kalisa terdengar khawatir dari ujung telepon.“Sa... Gue pe

  • Istri Kedua Sang Presdir    Bab 41. Mengakui Kesalahan

    Di aula acara bisnis yang diadakan di malam hari oleh perusahaan ternama berjalan meriah dengan tamu undangan dari berbagai kalangan bisnis. Galvin datang mengenakan jas hitam yang rapi, ditemani oleh Lingga yang selalu siap membantu di sisi. Saat memasuki aula, dia langsung melihat Marshel yang tengah berbincang dengan beberapa pengusaha lain, wajahnya penuh senyum yang tampak akrab.Setelah beberapa saat, Marshel menyadari kehadiran Galvin dan langsung mendekatinya dengan langkah sigap. “Galvin! Kabarmu baik saja ‘kan? Sudah lama kita tidak bertemu seperti ini,” ucapnya dengan nada yang sangat akrab, bahkan ingin menjabat tangan Galvin.Namun Galvin hanya memberikan jabat tangan yang singkat dan kaku, wajahnya tetap dingin tanpa ekspresi. “Marshel. Aku hanya datang untuk urusan bisnis saja.”Marshel tampak sedikit terkejut dengan sikap Galvin, tapi tetap mencoba menunjukkan wajah yang ramah. “Baiklah, kalau begitu. Semoga kita bisa membahas kerja sama kita nanti.”Selama acara berla

  • Istri Kedua Sang Presdir    Bab 40. Mulai Penyelidikan

    Keesokan harinya di siang hari. Setelah menerima perintah dari Galvin, Lingga segera bergerak cepat. Dia datang ruang teknis hotel dengan surat izin resmi dari pihak manajemen perusahaan Galvin, menyatakan bahwa mereka sedang melakukan penyelidikan terkait keamanan tamu.Dengan bantuan seorang teknisi yang baru saja diperkerjakan dan tidak terlibat dalam kejadian sebelumnya, Lingga mulai memeriksa sistem komputer yang mengelola CCTV hotel. Meskipun rekaman utama sudah dihapus, teknisi itu menemukan bahwa ada file cadangan yang tidak terdeteksi oleh sistem utama."Dokumen ini tersembunyi di dalam folder sistem yang jarang digunakan, Pak," ucap teknisi sambil menunjukkan layar komputer. "Sepertinya orang yang menghapus rekaman tidak menyadari kalau ada salinan yang dibuat secara otomatis setiap lima menit."Lingga mendekat dengan hati-hati, melihat rekaman yang sudah dipulihkan sedikit demi sedikit. Pada awalnya, gambarnya masih buram, tapi perlahan-lahan mulai jelas. Mereka melihat sos

  • Istri Kedua Sang Presdir    Bab 12. Bertemu Tak Sengaja

    Rani pun membereskan sisa sarapannya dan merapikan semua yang ada di atas meja lalu membawanya ke dapur. Saat dirinya sibuk mencuci piring. Terdengar suara ponselnya yang dering. Di sana terlihat nama Marko yang muncul di layar pipihnya yang menyala. Sempat ragu akan menjawab atau tidak. Namun, kare

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-19
  • Istri Kedua Sang Presdir    Bab 11. Sensasi Yang Berbeda

    Malam yang dingin berubah menjadi malam yang panas bagi sepasang suami-istri yang baru menikah dua minggu yang lalu. Pernikahan yang terjadi secara kebetulan karena sebuah perjanjian demi memiliki seorang keturunan. Hal itu pun yang membuat mereka berdua kini saling bertukar gair*h tanpa direncana.

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-18
  • Istri Kedua Sang Presdir    Bab 10. Kejadian Tak Terduga

    Sepulang dari rumah sakit. Rani tampak senang karena ia sudah bisa diterima oleh keluarga Galvin seutuhnya. Ia juga sudah berjanji akan memberikan seorang cucu secepatnya kepada Helena. Rani bahkan akan meminta haknya kepada Galvin agar melakukan hubungan selayaknya suami istri. Karena Siska saat ke

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-18
  • Istri Kedua Sang Presdir    Bab 9. Rasa Cemburu

    Rani yang bingung akan pengusiran dari mertuanya itu hanya bisa terdiam dengan wajah polosnya. “Apa yang terjadi, Mas?” Siska yang baru saja datang dibuat bingung oleh ekspresi wajah ibu mertuanya yang tampak kesal. “Suruh wanita j*lang itu pergi, Siska! Aku tidak sudi melihat dia di sini!” usir Hel

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-17
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status