MasukSaat masuk ke dalam mobil, Kanaya dan Tania terlihat antusias menatap teman ibunya yang ada di dalam mobil.
"Tante Irma!" teriak keduanya dengan wajah senang.
Irma saat itu hanya membalas balik senyum kecil dari bibirnya, saat melihat dua anak kecil yang ada tepat di kursi belakang mobil itu.
"Anak-anak menyebalkan ini lagi! Kenapa aku harus mengiyakan Vania untuk membawa anak-anak berisik ini jalan-jalan bersamaku? Bikin tambah sakit kepala saja dibuatnya!" batin Irma yang terlihat tersenyum, tapi hatinya menolak keras kehadiran dua bocah perempuan di hadapannya itu.
"Kalian duduk yang benar. Pakai sabuk pengaman ya! Hari ini mama dan Tante Irma mau ajak kalian jalan-jalan ke taman hiburan. Bagaimana? Kalian senang tidak mau jalan-jalan dengan Tante Irma?" tanya Vania dengan senyum penuh semangat.
"Senang!" teriak kedua anak itu serentak.
Akhirnya mobil yang dikendarai Vania pun mulai berjalan menuju arah taman hiburan. Tentu saja anak-anak Vania terlihat senang, dan antusias menyanyi sepanjang jalan menuju arah taman hiburan itu. Sementara Irma, terlihat hanya sedikit meringis, merasa gendang telinganya tidak kuat mendengar nyanyian bocah-bocah yang ada di kursi belakang mobil itu.
"Berisik sekali! Kenapa mereka tidak bisa diam? Kalau bukan karena Vania banyak uang, dan bisa memberikan manfaat untuk hidupku, aku tidak akan sudi satu mobil dengan dua anak berisik ini," batin Irma yang terus menggerutu dalam hati selama mereka berada di dalam mobil.
Tak beberapa lama, mobil Vania pun sampai di taman hiburan. Dia mencari tempat parkir mobil, dan membawa dua anaknya keluar dari mobil menuju taman hiburan itu. Sementara Vania begitu antusias ajak dua anaknya ke teman hiburan itu, terlihat Irma berjalan mengiringi mereka dengan wajah yang sedikit lesu.
"Benar-benar bocah sialan! Apa mereka tidak capek sepanjang jalan terus bernyanyi dan mengoceh ini itu? Kepalaku sakit sekali!" batin Irma sambil sesekali memijat keningnya.
Vania membeli tiket masuk wahana, dan mulai menaiki beberapa wahana anak untuk membahagiakan dua anak perempuannya itu. Biasanya Vania datang ke taman hiburan dengan suaminya, tapi kali ini dia ditemani sahabatnya bermain dengan kedua anaknya di taman hiburan itu.
Di mata Vania, Irma sudah dia anggap seperti saudara perempuannya sendiri. Tapi bagi Irma, Vania tak lebih hanya sekedar pohon uangnya, yang bisa dia gunakan saat dia benar-benar kepepet. Irma tahu kondisi keuangan Vania yang serba berkecukupan. Dibandingkan kehidupan dia, tentu kehidupan Vania adalah impian yang dia inginkan selama ini.
Irma semakin iri pada Vania, saat tahu selain bergelimang harta, Vania juga punya suami yang tampan dan perkasa. Saat melihat foto pernikahan Vania dan suaminya, dia sudah bisa membayangkan rasanya bersetubuh dengan suami sahabatnya itu.
"Aku harus cari kesempatan untuk bertemu langsung dengan suami Vania. Aku yakin dia akan tergoda padaku setelah dia melihat aku nanti. Dia harus jadi milikku. Aku harus rebut semua hal-hal baik yang Vania miliki," batin Irma yang mulai berpikir jahat untuk merebut suami teman baiknya itu.
Vania masih mengajak kedua anaknya bermain, sementara Irma hanya diam di kursi tunggu yang ada di taman itu. Tidak tertarik dirinya bergabung dengan Vania bak bocah seperti itu. Dia harus tetap terlihat elegan, dia harus tetap terlihat cantik, siapa tahu ada seseorang yang memperhatikannya dan mengajak dia kencan nanti.
Seperti yang dibayangkan Irma, seorang pria berusia 33 tahun datang menghampirinya. Dia cukup tampan. Tubuh tinggi dan terlihat perkasa. Hal pertama yang dilihat Irma adalah isi dompet, dan barang tersembunyi dibalik celana pria itu.
Setelah dia memastikan pria itu bisa memuaskannya, Irma pun berbisik pelan di telinga pria itu. Dengan wajah cantik, dia mulai menggoda pria di hadapannya itu.
"Aku mau tahu isi dompetmu!" bisik Irma saat itu.
"Aku ada uang tunai satu juta. Apakah ini cukup?" ucap pria itu sambil memberikan dompetnya pada Irma.
"Cukup. Mau ajak aku ke mana? Aku pasrah!"
"Ayo, ayo ikut aku!" ucap pria itu dengan senyum mesumnya menarik tangan Irma untuk ikut bersamanya ke arah gudang di sekitar taman hiburan itu.
Pria itu tak tahan lagi. Dia mencium bibir Irma secara brutal. Sementara tangan pria itu menjelajahi tubuh seksi gadis itu.
"Pelan-pelan! Lakukan sampai kamu puas!" bisik binal gadis itu.
Mendengar kata-kata Irma, pria itu pun makin bernafsu. Seperti itulah selama ini cara Irma mencari uang. Dia berpura-pura bekerja sebagai tukang cuci piring di sebuah rumah makan, padahal sebenarnya dia menjual tubuhnya pada suami pemilik rumah makan itu. Saat istri pemilik rumah makan tahu perselingkuhan suami dan pekerjanya, tentu saja dia langsung memecat Irma. Bukan hanya itu, bahkan dia menyebarkan informasi tentang Irma yang menjual diri pada suaminya yang berusia lima puluh tahunan.
Bagi Irma tidak perduli seperti apa bentuk rupa pria yang dia setubuhi, selama diberi uang dan kepuasan, dia tidak menolak. Selama ini orang-orang di sekitarnya tahu Irma seorang janda baik dan terhormat, tapi kenyataannya dia bisa tidur dengan siapa saja yang mampu membayarnya. Namun bagaimanapun dia tidak mungkin seumur hidup terus menjual diri. Jadi dia memutuskan untuk mengejar suami Vania dan mencari cara menggoda suami temannya itu agar mau menjadikan dia istri keduanya.
Setelah cukup lama tinggal dengan pria asing itu, akhirnya keduanya keluar dari gudang terbengkalai, yang ada di sekitar taman hiburan. Irma mengambil uang dari dompet pria yang menyetubuhinya itu. Dia langsung merapikan bajunya dan pergi meninggalkan pria itu. Sepertinya Irma sudah lihai dalam hal itu. Setelah membuat pria itu mabuk dengan tubuhnya dan kelelahan, dia langsung mengambil uang dan pergi dari tempat itu.
Sementara Vania terlihat kebingungan mencari Irma yang tiba-tiba menghilang tanpa kabar. Saat sedang mencari Irma, Vania terkejut melihat sang suami datang untuk menjemput mereka. Karena tidak juga bertemu dengan Irma, akhirnya Vania memutuskan untuk pulang dengan suaminya. Sementara mobil yang sebelumnya dibawa Vania, dikendarai oleh supir yang mengantar Candra ke taman hiburan itu.
"Kalian baru pulang dari sekolah, bisa-bisanya main ke taman hiburan tanpa ajak papa. Kalian benar-benar mencari kesenangan sendiri ya? Papa tidak akan belikan ice cream lagi untuk kalian," ucap Candra sambil mengendarai mobil, tapi sesekali melihat dua anaknya di kursi belakang mobil dari kaca spion.
"Papa gak diajak! Kamu main dengan teman mama!" ucap Kanaya dengan wajah polosnya.
"Teman? Teman mama yang mana?" tanya Candra bingung.
"Itu loh Tante Irma. Teman kampus mama dulu!" balas Kanaya lagi.
Mendengar nama Irma, Candra langsung menoleh ke arah Vania dengan wajah tidak suka.
"Ma, bukankah aku sudah bilang kalau kamu gak boleh punya hubungan apapun dengan janda itu. Dia bukan wanita baik-baik. Aku gak mau kamu terpengaruh hal buruk karena dekat dengannya. Terlebih lagi dia suka memanfaatkanmu untuk bayar kontrakannya. Dia bukan teman yang baik, yang pantas kamu anggap saudara," ucap Candra yang membuat Vania terkejut melihat ekspresi marah suaminya saat itu.
Selepas Candra pergi ke luar negeri, Vania dan Galang memulai hari baru mereka. Sebagai pasangan suami istri baru, Galang nampak lengket dengan Vania. Bahkan pagi itu, saat jam menunjukkan pukul 5 pagi, tubuh Vania dipeluk erat-erat oleh suaminya. Tak diizinkan pergi kemanapun olehnya. "Kak Galang, lepaskan pelukanmu! Aku harus bangun untuk membuatkan sarapan anak-anak," keluh Vania, berusaha berontak dari pelukan Galang. "Masih pagi. Tidurlah sebentar lagi!" balas Galang, tanpa membuka matanya yang masih tidur. "Ahk, aku benar-benar tidak bisa tidur lagi! Kak Galang, lepaskan aku! Aku harus bangun!" "Tidak boleh bangun! Temani aku tidur sebentar lagi!" balasnya lagi sambil mempererat pelukannya. Melihat sikap manja Galang, Vania hanya bisa pasrah. Dia pun kembali memejamkan mata, berusaha tidur lagi, walaupun matanya sudah tidak mengantuk. "Vania, kapan kita buat adik untuk Kanaya, dan Tania?" bisik Galang, yang tiba-tiba berbisik di telinga Vania. "Apa? Adik? Bu
Candra mengikuti langkah Vania ke arah pesta pernikahannya. Di sana nampak seorang pria dan wanita paruh baya, menatap sedih melihat kondisi Candra saat itu. "Nak, kamu kenapa jadi begini? Bagaimana bisa jadi seperti ini? Kenapa tidak mengabari kami jika kamu mengalami kesulitan?" tanya ayah Candra, khawatir. "Ma, Pa, aku tidak apa-apa. Aku tidak mengabari kalian, karena tak mau kalian khawatir. Ma, Pa, maafkan aku! Aku tidak bisa mempertahankan perusahaan." "Sudahlah, jangan menangis! Yang penting kamu tidak apa-apa. Vania menikah dengan kakakmu, kamu tidak keberatan kan? Papa berharap kita sekeluarga bisa hidup rukun selamanya." "Ya, Pa, aku tidak keberatan. Aku bahagia melihat Vania dan kakakku bahagia. Aku percaya kakakku bisa menjaga dan membahagiakan Vania seumur hidupnya." "Baguslah, bagus. Akhirnya keluarga kita bisa rukun dan berkumpul kembali. Sekarang, ayo kita lanjutkan pesta pernikahan ini." Candra menganggukkan kepalanya. Dia kembali memfokuskan perhatiann
Beberapa hari setelah kematian Irma, Candra mulai gelisah. Dia mendapati dirinya juga tertular penyakit yang sama yang dimiliki mantan istrinya itu. Tiga kali dia memeriksa kondisinya ke tiga rumah sakit, tapi hasilnya sama, dia positif HIV. Dengan kondisi keuangan yang tak memadai, tentu saja Candra khawatir. Pengobatan rutin yang cukup menguras kantong, tak menjamin kesembuhan penyakitnya. Rasanya, nyawanya sudah diujung tanduk. Dalam hati Candra terus berpikir, apakah ini karmanya karena telah mengkhianati wanita baik seperti Vania. Candra bermodal nekad, kembali ke rumah Vania untuk melihat mantan istrinya itu. Dari jauh dia meratapi nasibnya penuh kesedihan. Rasa sesal pada pengkhianatan yang dia lakukan berujung menghancurkan dia sehancur-hancurnya. "Vania, jika waktu bisa diulang kembali, aku tidak akan membiarkan diriku memilih pilihan bodoh untuk mengkhianatimu. Vania, maafkan aku! Aku menyesal!" gumamnya sambil meneteskan air mata. Saat masih fokus menatap Vania yang
Galang yang melihat kejadian itu, menatap kesal ke arah Candra. Dia mendekat, dan menarik kerah baju Candra dengan penuh amarah. "Candra, jika kamu tahu malu, jangan pernah lagi datang temui Vania! Jangan sampai tinjuku ini melayang di wajahmu! Kalau ada lain kali, kamu datang untuk mengganggu Vania dan putrinya lagi, aku tidak akan sebaik ini. Pergilah! Kamu tidak diterima di sini!" "Sialan kamu! Beraninya kamu bersikap sekasar ini padaku? Tidak takutkah kamu jika nanti aku mengadu pada ayah dan ibu kita? Seorang kakak harusnya tidak merebut mantan istri adik kandungnya. Jelas, di sini siapa yang tidak tahu malu!" BRUKKK... Pukulan keras melayang di wajah Candra. Sepertinya Galang enggan untuk bersabar lagi. Tentu melihat emosi yang meledak-ledak dari wajah Galang, Candra pun langsung berlari pergi meninggalkan rumah itu. "Galang, awas kamu!" ancam Candra sambil terus berlari. Candra berjalan tak tentu arah. Rumahnya disita bank, perusahaan bangkrut, dan tak punya ua
Candra kembali menitikkan air mata, saat melihat kedua anaknya membuka pintu pagar rumah untuk menemuinya. Jika ingat, dulu dia memperlakukan kedua buah hatinya itu dengan buruk, tidak mengira jika mereka masih sudi menemuinya. "Putri papa. Putri-putri papa yang cantik. Maafkan papa! Papa menyesal menyia-nyiakan kalian selama ini. Papa minta maaf!" Kata-kata itu terus berulang, keluar dari mulut Candra. Kanaya dan Tania mengusap air mata ayah mereka, dengan ekspresi wajah simpati mereka. "Papa, jangan nangis! Kanaya sudah maafin papa." "Tania juga, Tania juga. Tania sudah maafin papa," sambung putri bungsu Candra. "Terima kasih, terima kasih sudah mau maafin papa. Bisakah kalian bujuk mama agar memaafkan papa juga? Bujuk mama agar bisa kembali sama papa, biar kita bisa jadi kelurga utuh lagi seperti dulu," bujuk Candra, yang seketika membuat Kanaya merubah kesal. "Papa, jangan rebut mama dari om Galang. Papa kan sudah punya Tante jahat. Papa tidak bisa sama mama lagi." Ca
Candra tak bicara. Tangannya mengepal, menahan amarahnya. Tetesan air mata jatuh membasahi pipinya. Tentu hal itu membuat Irma khawatir dan ketakutan. "Mas, ada apa? Jangan buat aku takut!" ucap Irma lagi. "Kamu darimana? Seminggu tidak pulang, apa kamu masih anggap aku sebagai suamimu?" tanya Candra, dengan suara penuh tekanan, menahan marah. "Itu, aku... Aku ada urusan. Ini urusan pekerjaan. Aku benar-benar tidak bisa meninggalkan pekerjaan. Jadi aku...." PLAKKK... Tamparan keras mengenai pipi Irma. Hal itu membuat Irma kaget, dan melotot menatap ke arah suaminya itu. "Mas, apa maksud kamu menampar aku begini? Aku tahu aku salah. Aku tidak seharusnya meninggalkan rumah demi pekerjaan. Tapi anak kita sakit, kita butuh banyak uang jadi aku...." "Aku apa? Jual diri? Kamu jual diri? Pekerjaan yang kamu bilang itu, maksudnya menemani pria tua tidur? Irma, seumur hidup ini, hal satu-satunya yang aku sesali adalah berselingkuh denganmu, meninggalkan Vania, dan menjadikan







