LOGIN
Namanya Alina, gadis cantik berusia dua puluh tahun.
Alina mempunyai kulit kuning Langsat, hidungnya mancung, bibir tipis yang berwarna merah alami. Rambut dan mata Alina sama-sama berwarna coklat. Ketika orang-orang melihatnya hanya satu kata yang terlintas, yaitu kata cantik.
Paras Alina sangat menawan, membuat orang-orang selalu memuji kecantikan nya. Bahkan Luna dijuluki sebagai kembang desa di desa ini. Banyak pria di desa ini menginginkan Alina menjadi istrinya, tapi sayang nasib Alina tidak sebaik wajahnya. Dari kecil dia sudah ditinggal oleh kedua orang tuanya. Orang tua Alina meninggal karena tertimbun tanah longsor saat dia masih berusia tujuh tahun.
Itu adalah memori paling menyeramkan yang dia punya. Pada saat dia pulang sekolah, dia sudah melihat rumahnya tertimbun dengan tanah, dan orang tua dia ikut terkubur di bawahnya.
Saat itu dia langsung menangis histeris, dia harus kehilangan orang tuanya untuk selama-lamanya.
Setelah kejadian itu Luna diurus oleh Bibi dan Pamannya. Tapi sayangnya mereka tidak pernah memperlakukan dia dengan baik.
Setiap hari Paman dan Bibinya selalu saja menyiksa dia, mereka hanya menjadikan dia sebagai pembantu dan mesin pencari uang.
Hidupnya selalu menderita, dia harus banting tulang untuk menafkahi keluarga paman dan Bibinya.
Keluarga Paman dan Bibinya hanya bisa meminta uang ke dia, dan kalau dia pulang tidak membawa uang maka dia akan disiksa habis-habisan. Bahkan hampir setiap hari tubuh Luna penuh dengan lebam, karena dipukul oleh Paman dan Bibinya.
Dia pernah dipukul pakai kayu sampai badannya memar semua, kadang dia juga tidak pernah dikasih makan oleh mereka
Seperti hari ini dia sedang menjadi buruh tani di perkebunan teh yang ada di desanya. Dari pagi sampai terik siang baru lah dia selesai bekerja.
"Alina.." panggil seseorang.
Membuat dia langsung menoleh ke arah orang yang memanggil namanya.
Dia tersenyum kala melihat Bu Tiwi datang menghampiri nya.
"Ini ada nasi sama lauk, kamu bawa pulang ya." Ucap Bu Tiwi dengan memberikan satu bungkus nasi dan lauk padanya.
Doa pun menerima nasi pemberian dari Bu Tiwi itu sambil tersenyum.
"Terimakasih Bu..." Ucap Luna.
"Kalau Bibi dan Paman kamu tidak kasih kamu makan lagi, kamu datang ke rumah Ibu ya.." Ucap Bu Tiwi.
Bu Tiwi memang tau seperti apa perlakuan Paman dan Bibinya. Dia sangat senang setidaknya masih ada yang peduli dengan dia.
"Iya Ibu, sekali lagi terimakasih. Kalau begitu saya pulang dulu." Ucapnya berpamitan.
Bu Tiwi menganggukkan kepalanya.
Bu Tiwi menatap kepergian Alina dengan tatapan sendu. Dia kasihan melihat anak sebaik Alina harus menderita.
Padahal Alina itu anak yang sangat baik dan sangat santun. Alina juga punya sifat yang lembut. Tapi sayang hidup Alina sangat malang.
Alina berjalan menelusuri perkebunan teh.
Dia sengaja berjalan dengan pelan, dia mau menikmati pemandangan dulu dan biar dia tidak terlalu cepat sampai rumah, karena rumah itu bagi dia seperti neraka.
Dia rasanya tidak sanggup lagi tinggal bersama Bibi dan Pamannya. Tapi mau pergi pun, dia tidak tau mau pergi kemana.
Dia tidak punya tujuan lain, tidak ada tempat lain yang bisa dia tinggali selain rumah Paman dan Bibinya. Rumah orang tuanya sudah hancur karena longsor.
Setelah sepuluh menit berjalan, dia pun tiba di rumah Paman dan Bibinya, dia langsung masuk ke dalam rumah.
BUK.
Baru saja dia masuk ke dalam rumah, Bibinya sudah melempar ember berisi pakaian ke arah dia. Membuat dia sangat terkejut.
"Kemana aja sih kamu, lama banget datangnya!" Ucap Bibinya dengan menatap dia tajam.
Luna menghembuskan napasnya mencoba sabar. Setiap hari dia selalu saja dimarahi seperti ini.
"Lihat tuh kerjaan kamu di rumah ini masih banyak, cucian baju numpuk, cucian piring juga!" Ucap Bibinya dengan berteriak.
Tak lama Pamannya juga datang, dan langsung mengarahkan tangan ke arahnya.
"Mana uang hasil kerja kamu hari ini," pinta Pamannya.
Begini lah setiap hari, dia yang bekerja keras. Paman dan Bibinya dengan seenak hati meminta uang dari dia.
Alina langsung menunduk dengan wajah sedihnya.
"CEPETAN MANA UANG NYA!" Bentak Pamannya saat dia tidak kunjung memberikan uang nya.
Dia pun mengeluarkan uang dari saku bajunya.
Pamannya langsung merampas uang itu.
"Segini doang, ini buat beli rokok Paman saja tidak cukup!" Ucap Pamannya dengan melototkan mata ke arah dia.
"Pokoknya nanti malam kamu harus kerja kupas bawang di rumah juragan biar dapat uang lagi." Ucap Pamannya.
Mereka benar-benar menjadikan dia seperti robot pencari uang saja.
"Ya udah ngapain bengong, sekarang cuci baju, sama piring di belakang. Jangan lupa ngepel sama nyapu juga, sama cari kayu bakar juga!" Ucap Bibinya.
Alina hanya bisa menganggukan kepalanya dengan pelan.
Akhirnya dia pun memunguti baju-baju yang di lemparkan Bibinya ke lantai tadi. Dia kembali memasukkan baju-baju itu ke dalam ember. Setelah itu dia langsung pergi ke belakang untuk mencuci baju.
Dia mengerjakan semuanya dengan badan yang terasa remuk, dan air nya juga terus mengalir di pipinya, beginilah kehidupannya yang menyediakan.
Selama ini dia hanya bisa berdoa semoga dia diberikan kekuatan untuk menghadapi semuanya.
.
Tepat jam sebelas malam Alina sudah berada di kamarnya, dan dia bersiap untuk tidur.Namun, baru saja dia naik ke atas ranjang pintu kamarnya malah diketuk dari luar.Tok… Tok..Dia segera melihat ke arah pintu.“Siapa yang datang malam-malam begini?” Ucap Alina.Perasaannya langsung berubah tidak enak, dia takut jika Defran yang datang, malam ini Alina tidak ada tenaga untuk meladeni Defran.“Tapi kalau Tuan Defran dia pasti akan langsung masuk.” Ucap Alina.Tok… Tok…Suara ketukan pintu itu kembali terdengar, mau tidak mau Alina pun akhirnya berjalan ke arah pintu dan membukanya.CeklekDia membuka pintu itu, dan saat dia buka terlihat Dewi yang berdiri didepan pintu kamarnya.“Dewi." Ucap Alina, dia sedikit lega saat tahu yang datang bukan Defran."Maaf ya Alina aku ganggu istirahat kamu. Kamu disuruh ke kamar Tuan sekarang. Besok Tuan mau pergi ke luar kota, jadi kamu disuruh nyiapin semua baju yang harus Tuan bawa." Ucap Dewi.Alina pun menganggukkan kepalanya dengan pelan. Walau
Alina menelan ludahnya susah payah saat melihat Defran, dia tidak menyangka jika pria itu akan datang ke kamarnya malam ini.“Sedang apa?” Tanya Defran, dia merasa ada yang aneh dengan Alina, apalagi wajah gadis itu terlihat sangat panik dan ketakutan.Alina berusaha untuk terlihat biasa saja agar Defran tidak curiga.“Se–dang memasukan baju ke dalam lemari.” Ucap Alina sedikit terbata.Defran hanya menganggukan kepalanya, dia pun akhirnya berjalan ke arah ranjang dan membuka dasinya.Alina langsung bernafas lega saat melihat Defran yang percaya dengan dia.“Untung dia nggak curiga!” Ucap Alina di dalam hati.Keringat dingin sudah muncul di dahi Alina sangking dia takutnya.Defran kembali menoleh ke arah Alina.“Kenapa diam disitu, ayo kemari!” Ucap Defran.Alina pun dengan takut-takut melangkah mendekat ke arah Defran.Dan tanpa di sangka Defran langsung menarik tanganya dengan kencang dan membuat tubuhnya terhempas ke atas ranjang.Deg!!Alina sangat terkejut dengan apa yang Defran
Alina tengah berada di dalam kamarnya sekarang. Dia sedang istirahat makan siang, hari ini dia memilih istirahat di dalam kamar saja, dia juga membawa makan siang nya ke dalam kamar. Dewi juga lagi banyak kerjaan hari ini, jadi dia jarang bisa bicara dengan Dewi. Di rumah ini kan hanya Dewi yang dekat dengan dia. Sedangkan pelayan lain dia belum begitu akrab.Selain makan Alina juga sedang memikirkan suatu rencana, rencana yang mungkin saja bisa menyelamatkan dia dari pernikahan terlarang antara dia dan Defran."Gimana ya caranya, Tuan Defran menikahi aku hanya karena ingin memiliki anak, dan nanti jika aku hamil dia pasti akan mengambil anak itu, aku akan terpisah dari anakku sendiri, setelah mendapatkan anak itu aku pasti akan di usir dari rumah ini. Belum lagi jika orang-orang tahu aku jadi istri kedua, aku pasti akan dihakimi semua orang." ucap Alina.Alina sedang berpikir keras sekarang. Dia harus punya rencana yang bagus."Ayo Alina kamu harus berpikir, kamu harus cari jalan kel
Kring...kring...Suara alarm di hp Alina berbunyi. Membuat dia langsung terbangun dari tidurnya.Semalam sebelum tidur dia memang sengaja menyalakan alarm di hp nya agar dia tidak bangun kesiangan lagi seperti kemarin.Dia membuka matanya secara perlahan, dan baru saja dia mau bangun dari tidurnya, pergerakannya langsung terhenti saat dia merasakan sebuah tangan melingkar dengan sempurna di pinggangnya, seperti ada seseorang yang tengah memeluknya dari belakang.Seketika mata Alina langsung membulat dengan sempurna. Siapa dengan lancang masuk ke dalam kamarnya dan memeluknya seperti ini. Dia tidak sadar jika ada yang menyelinap ke kamarnya."AAAAAAA..." Alina langsung berteriak dengan keras.Dia langsung melepaskan pelukan orang itu di pinggangnya lalu dia langsung turun dari ranjang.“AAAA…” Dia terus saja berteriak.Saat turun dari ranjang Alina menatap orang yang ada di ranjangnya dengan terkejut.Orang itu adalah Defran, Defran langsung terbangun saat mendengar teriakan Alina dan
Alina terus sibuk bekerja bahkan sampai malam. Kini dia tengah sibuk mencuci piring.Semua pelayan di rumah ini akan berhenti bekerja ketika jam sembilan malam dan bahkan lebih kalau di rumah ini sedang ada acara.Setelah selesai mencuci piring, dia pun mengerjakan pekerjaan lainnya.Sekarang dia sedang berjalan ke arah kamar Defran, dia mau memasukkan baju-baju bersih ke dalam lemari.Dia berjalan dengan cepat menuju kamar Defran. Dia takut jika Defran pulang. Dia tidak ingin bertemu dengan Defran.Dia pun segera menatap semua pakaian Damian ke dalam lemari dengan rapi.nSetelah selesai dia langsung keluar dari kamar itu.Namun, baru saja dia keluar dari kamar Defran, dia sudah melihat keributan di depan kamar itu.Dia melihat Isabel istri Defran yang dibopong oleh beberapa bodyguard. Alina sangat terkejut melihat itu semua, dia langsung terdiam di depan pintu kamar."Jangan pegang saya, saya bisa jalan sendiri!!" Ucap Isabel dengan mata yang terpejam, dan jalan yang terlihat sempoyon
Defran Mentapa Alina dengan sangat intens, tatapan yang penuh dengan arti."Jadi aku mau kau harus segera hamil." Ucap Defran dengan membaringkan tubuh Alina ke atas ranjang. Setelah itu dia langsung menindih tubuh Alina.DEG!!Alina sangat terkejut, wajahnya tampak ketakutan dan panik."Tidak, aku belum siap kalau sekarang." Ucap Alina dengan mata yang berkaca-kaca.Defran menatap Alina dengan tersenyum miring."Tidak ada yang bertanya kau siap atau tidak," ucap Defran.Defran mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Alina, membuat Alina semakin ketakutan.Sungguh dia tidak mau melakukan ini, walaupun mereka sudah sah menjadi suami istri, tapi tetap saja pernikahan mereka tidak sama dengan pernikahan lainnya. Apalagi Defran sudah memiliki istri.Alina berusaha mendorong tubuh Defran, tapi tetap saja tenaga Defran lebih kuat daripada dia. Dengan sekali gerakan Damian langsung menahan tangan Alina di atas kepala.Defran pun mulai menciumi wajah Alina, membuat gadis itu menangis dan tidak. D







