MasukSekarang sudah jam sepuluh pagi dan Alina sedang berada di dalam kamarnya. Semua pekerjaannya sudah selesai dan sekarang dia sudah bisa bersantai.
"Udah lama rasanya nggak ngerasain santai kayak gini." Ucapnya bicara ke dirinya sendiri.
"Biasanya aku selalu saja bekerja dari pagi sampai malam tiba." Ucap dia lagi.
Entah apa yang terjadi dengan Bibi Nya hari ini, hari ini sikap Bibiknya berubah menjadi sedikit baik. Bahkan tadi Bibinya memberikan dia makan juga. Padahal biasanya dia sering dibiarkan kelaparan oleh Bibinya.
Alina terus lanjut memakan ubi goreng lagi sampai terdengar suara ketukan dari luar pintu kamarnya.
Tok...
Tok...
Dia pun segera berdiri dan membuka pintu kamarnya. Dia melihat Bibi dan Pamannya sudah berdiri di depan pintu kamarnya.
"Ini kamu pakai baju ini, setelah itu kamu langsung pergi ke depan." Ucap Bibinya dengan memberikan baju ke dia.
Dia mengerutkan keningnya, dia melihat baju berwarna putih yang ada di tangannya.
"Kenapa aku harus ganti baju?" Tanyanya dengan menatap Paman dan Bibinya bergantian.
"Nggak usah banyak tanya, kalau kita suruh pakai ya pakai saja." Ucap Paman dengan marah.
"Pokoknya kita tunggu selama sepuluh menit dan kamu harus segera ke depan, kalau tidak kami seret kamu dari kamar ini!!" Kata Pamannya lagi.
Setelah itu Paman dan Bibi nya langsung pergi dari sana meninggalkan dia.
Dia masih terpaku di tempatnya, dia menatap baju yang ada di tangannya dengan bingung.
"Ada apa sebenarnya?" Ucapnya penasaran.
Tapi karena dia tidak mau dimarahi oleh Paman dan Bibinya, dia pun segera masuk ke dalam kamarnya dan mengganti bajunya.
Baju itu dress berwarna putih, dan baju itu sangat pas saat dia kenakan. Dia menyisir rambutnya sedikit agar terlihat lebih rapi. Namun dia menghentikan kegiatan menyisirnya.
Setelah merasa cukup rapi dia langsung keluar dari kamar.
Luna berjalan menuju ruang depan dia membuka tabir pembatas untuk ruang depan.
Setibanya di ruang depan dia dapat melihat banyak orang di ruangan itu termasuk paman dan Bibinya.
"Siapa orang-orang ini?" Ucapnya dalam hati.
Dia langsung melihat ke arah Paman dan Bibinya.
"Mereka siapa?" Tanya Alina.
"Nanti kamu juga tau." Ucap Bibinya.
"Tuan, semuanya sudah siap acaranya bisa langsung dilakukan." Ucap Pamanya ke orang-orang itu.
Alina langsung mengerutkan keningnya bingung, apa nya yang sudah siap batinnya.
Orang-orang itu pun menganggukkan kepalanya, tak lama salah satu dari mereka pun keluar dari rumah.
Alina masih berdiri di tempatnya dia hanya menatap bingung dengan apa yang terjadi sekarang. Banyak pertanyaan di benaknya.
Tak lama masuk lah beberapa orang lagi.
Orang berbaju hitam tadi, terus satu orang yang menggunakan peci dan ada tas berwarna hitam yang dia bawa.
Dan setelah itu masuk satu pria dengan tubuh yang sangat tinggi, badan tegap, hidungnya mancung dan kulitnya berwarna putih, orang itu terlihat sangat tampan.
"Mari silahkan duduk." Ucap Paman dan Bibinya dengan sangat ramah.
Mereka menyuruh pria yang dia bilang tampan tadi duduk, bersama dengan pria paruh baya yang menggunakan peci tadi.
Mereka pun duduk di kursi kayu yang ada di ruang depan rumah Bibi dan Pamannya.
Bibi Alina langsung menarik tanganya agar masuk ke dalam rumah dulu.
"Kamu tunggu disini dulu!!" Ucap Bibinya.
Alina hanya diam dengan wajah bingung nya, tadi dia disuruh ke depan dan sekarang dia malah disuruh masuk ke dalam lagi.
"Sebenarnya ada apa ini Bik? Siapa orang-orang tadi." Ucap dia ke Bibinya yang sedang berdiri di sebelahnya.
"Nanti kamu juga tau, nggak usah banyak tanya!" Ucap Bibinya.
Luna menghembuskan nafasnya sabar kenapa hanya itu jawaban yang Bibinya berikan sedari tadi. Dan entah kenapa perasaan dia menjadi tidak enak rasanya.
Sekitar sepuluh menit Alina menunggu sampai akhirnya Bibinya pun menarik tanganya untuk ke ruang depan lagi.
Saat dia sampai di ruang depan dia sudah tidak melihat pria tadi lagi. Yang ada hanya tiga pria berbaju hitam dan pria paruh baya yang memakai peci tadi.
"Acara ijab kabul nya sudah selesai, kalau begitu saya permisi dulu." Ucap Pria paruh baya itu ke Paman dan Bibinya.
Paman dan Bibinya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
"Terimakasih Pak." Ucap Pamannya.
Setelah itu penghulu itu pun keluar dari rumah Paman dan Bibinya.
"Ijab kabul?" Ucap Alina tidak mengerti.
Alina tidak salah dengarkan kalau pria tadi bilang soal ijab kabul. Jadi pria tadi adalah penghulu. Dia semakin tidak mengerti dengan apa yang terjadi sekarang.
"Siapa yang menikah Bik?" Tanya Luna ke Paman dan Bibinya.
"Kamu lah, masa Bibik." Ucap Bibinya dengan santai.
DEG!.
Alina sangat terkejut saat mendengar ucapan Bibinya itu.
"APA?" Ucapnya tidak percaya.
"Kamu sudah kita nikahkan dengan Tuan Defran, dan sekarang kamu bisa pergi bersama dia." Ucap Pamannya.
"Iya, baru saja ijab kabul nya di laksanakan, kalian menikah secara Siri." Ucap Bibinya dengan tersenyum lebar.
Tes.
Air mata Alina langsung mengalir di pipinya, bagai disambar petir tubunuanmenjadi kaku rasanya.
"Apa-apaan ini!!" Ucap dia marah.
"KENAPA KALIAN NGELAKUIN INI SAMA AKU, APA TIDAK CUKUP SELAMA INI KALIAN SIKSA AKU!!" Teriak Alina.
"INI HIDUP AKU, AKU BERHAK MENENTUKAN PILIHAN AKU SENDIRI. AKU TIDAK TERIMA DIPERLAKUKAN SEPERTI INI, KALIAN BERDUA BENAR-BENAR TIDAK PUNYA HATI!!" Teriak dia dengan menunjuk-nunjuk paman dan Bibinya.
Paman dan Bibi Luna bukannya merasa bersalah tapi mereka malah tersenyum saat melihat Luna marah ke mereka.
"Udah nggak ada gunanya kamu marah sekarang, karena kamu sudah sah menjadi istrinya Tuan Defran. Harusnya kamu senang dong karena akhirnya kamu bisa keluar dari rumah ini. Bukannya kamu sering bilang kalau kamu sangat menderita tinggal bersama kami di sini." Ucap Bibinya.
Alina menyapa Bibinya dengan penuh amarah.
"Aku memang ingin pergi dari rumah ini. Tapi aku idak mau dinikahkan dengan orang asing seperti dia!!" Ucap Alina dengan menangis.
"Kamu ini memang bodoh, Tuan Defran itu sangat kaya kamu pasti akan bahagia kalau hidup sama dia, kamu seharusnya berterima kasih sama kami karena sudah menikahkan kamu dengan orang kaya!!" Ucap Pamannya.
Alina menggelengkan kepalanya dengan cepat, dia tetap tidak terima dengan pernikahan paksa ini. Dia bersiap ingin berlari dia harus kabur dari rumah ini.
Namun baru saja dia mau pergi, Paman nya sudah menahan tangannya.
"Lepasin!!" Ucap dia memberontak.
"Kamu nggak boleh pergi, kamu harus pergi bersama Tuan Defran. Paman udah jual kamu ke dia." Ucap Pamannya.
Alina langsung menatap pamannya tidak percaya ternyata karena uang Pamannya tega menikahkan dia secara paksa seperti ini.
"Kenapa Paman tega sama aku, aku ini anak adiknya Paman sendiri. Apa Paman tidak punya hati menjual aku kayak gini!!" Ucap dia dengan menangis histeris.
Alina menatap Pamannya dengan penuh kebencian.
"Kamu seharusnya berterima kasih dengan Paman, karena Paman sudah menikah kamu dengan orang kaya seperti Tuan Defran. Hidup kamu bakalan senang ketika menikah sama dia." Ucap Pamannya.
Luna menggeleng kepalanya dengan kuat.
"Tidak! Aku nggak mau nikah sama dia, aku nggak butuh uang. Aku cuma mau bahagia." Ucapnya.
Suara Luna terdengar sangat pilu, kenapa nasibnya jadi seperti ini.
"Sudah terlambat, sekarang kamu sudah sah menjadi istri Tuan Defran, dan kalau kamu sampai kabur siap-siap saja kamu masuk penjara dan bayar denda perjanjian yang sangat mahal. Karena Paman sudah menandatangani surat perjanjian dengan Tuan Defran tentang pernikahan ini." Ucap Pamannya.
Air mata Alina semakin mengalir dengan deras.
"Paman benar-benar tidak punya hati, paman tega jual aku seperti ini!” Ucap Alina.
Paman dan Bibinya sudah muak melihat Alina yang terus menangis. Mereka pun akhirnya menyuruh bodyguard Defran untuk membawa Alina pergi dari sana.
“Kalian bawa saja dia pergi dari sini sekarang juga.” Ucap pamanya.
Para bodyguard itu langsung memegang kedua tangan Alina.
Alina sebisa mungkin melepaskan tangannya, dan dia langsung berteriak dengan keras.
“LEPASIN, JANGAN BAWA AKU, AKU MENOLAK PERNIKAHAN INI!!” teriak Alina dengan keras.
Namun, bagaimanapun dia memberontak tetap saja tenaga nya tidak ada apa-apa jika dibanding dengan bodyguard-bodyguard itu.
Alina diseret keluar dari rumah Paman dan Bibinya. Dia dapat melihat orang-orang itu memberikan tas berwarna hitam ke Paman dan Bibinya, dia yakin kalau di dalam tas itu isinya adalah uang.
"KALIAN BENAR-BENAR KETERLALUAN!!" Teriak Alina kuat.
Paman dan Bibinya menatap dia sambil tersenyum dan melambaikan tangan ke arah dia.
Dalam hati Alina bersumpah dia akan balas dendam kepada Paman dan Bibinya suatu saat nanti.
Tepat jam sebelas malam Alina sudah berada di kamarnya, dan dia bersiap untuk tidur.Namun, baru saja dia naik ke atas ranjang pintu kamarnya malah diketuk dari luar.Tok… Tok..Dia segera melihat ke arah pintu.“Siapa yang datang malam-malam begini?” Ucap Alina.Perasaannya langsung berubah tidak enak, dia takut jika Defran yang datang, malam ini Alina tidak ada tenaga untuk meladeni Defran.“Tapi kalau Tuan Defran dia pasti akan langsung masuk.” Ucap Alina.Tok… Tok…Suara ketukan pintu itu kembali terdengar, mau tidak mau Alina pun akhirnya berjalan ke arah pintu dan membukanya.CeklekDia membuka pintu itu, dan saat dia buka terlihat Dewi yang berdiri didepan pintu kamarnya.“Dewi." Ucap Alina, dia sedikit lega saat tahu yang datang bukan Defran."Maaf ya Alina aku ganggu istirahat kamu. Kamu disuruh ke kamar Tuan sekarang. Besok Tuan mau pergi ke luar kota, jadi kamu disuruh nyiapin semua baju yang harus Tuan bawa." Ucap Dewi.Alina pun menganggukkan kepalanya dengan pelan. Walau
Alina menelan ludahnya susah payah saat melihat Defran, dia tidak menyangka jika pria itu akan datang ke kamarnya malam ini.“Sedang apa?” Tanya Defran, dia merasa ada yang aneh dengan Alina, apalagi wajah gadis itu terlihat sangat panik dan ketakutan.Alina berusaha untuk terlihat biasa saja agar Defran tidak curiga.“Se–dang memasukan baju ke dalam lemari.” Ucap Alina sedikit terbata.Defran hanya menganggukan kepalanya, dia pun akhirnya berjalan ke arah ranjang dan membuka dasinya.Alina langsung bernafas lega saat melihat Defran yang percaya dengan dia.“Untung dia nggak curiga!” Ucap Alina di dalam hati.Keringat dingin sudah muncul di dahi Alina sangking dia takutnya.Defran kembali menoleh ke arah Alina.“Kenapa diam disitu, ayo kemari!” Ucap Defran.Alina pun dengan takut-takut melangkah mendekat ke arah Defran.Dan tanpa di sangka Defran langsung menarik tanganya dengan kencang dan membuat tubuhnya terhempas ke atas ranjang.Deg!!Alina sangat terkejut dengan apa yang Defran
Alina tengah berada di dalam kamarnya sekarang. Dia sedang istirahat makan siang, hari ini dia memilih istirahat di dalam kamar saja, dia juga membawa makan siang nya ke dalam kamar. Dewi juga lagi banyak kerjaan hari ini, jadi dia jarang bisa bicara dengan Dewi. Di rumah ini kan hanya Dewi yang dekat dengan dia. Sedangkan pelayan lain dia belum begitu akrab.Selain makan Alina juga sedang memikirkan suatu rencana, rencana yang mungkin saja bisa menyelamatkan dia dari pernikahan terlarang antara dia dan Defran."Gimana ya caranya, Tuan Defran menikahi aku hanya karena ingin memiliki anak, dan nanti jika aku hamil dia pasti akan mengambil anak itu, aku akan terpisah dari anakku sendiri, setelah mendapatkan anak itu aku pasti akan di usir dari rumah ini. Belum lagi jika orang-orang tahu aku jadi istri kedua, aku pasti akan dihakimi semua orang." ucap Alina.Alina sedang berpikir keras sekarang. Dia harus punya rencana yang bagus."Ayo Alina kamu harus berpikir, kamu harus cari jalan kel
Kring...kring...Suara alarm di hp Alina berbunyi. Membuat dia langsung terbangun dari tidurnya.Semalam sebelum tidur dia memang sengaja menyalakan alarm di hp nya agar dia tidak bangun kesiangan lagi seperti kemarin.Dia membuka matanya secara perlahan, dan baru saja dia mau bangun dari tidurnya, pergerakannya langsung terhenti saat dia merasakan sebuah tangan melingkar dengan sempurna di pinggangnya, seperti ada seseorang yang tengah memeluknya dari belakang.Seketika mata Alina langsung membulat dengan sempurna. Siapa dengan lancang masuk ke dalam kamarnya dan memeluknya seperti ini. Dia tidak sadar jika ada yang menyelinap ke kamarnya."AAAAAAA..." Alina langsung berteriak dengan keras.Dia langsung melepaskan pelukan orang itu di pinggangnya lalu dia langsung turun dari ranjang.“AAAA…” Dia terus saja berteriak.Saat turun dari ranjang Alina menatap orang yang ada di ranjangnya dengan terkejut.Orang itu adalah Defran, Defran langsung terbangun saat mendengar teriakan Alina dan
Alina terus sibuk bekerja bahkan sampai malam. Kini dia tengah sibuk mencuci piring.Semua pelayan di rumah ini akan berhenti bekerja ketika jam sembilan malam dan bahkan lebih kalau di rumah ini sedang ada acara.Setelah selesai mencuci piring, dia pun mengerjakan pekerjaan lainnya.Sekarang dia sedang berjalan ke arah kamar Defran, dia mau memasukkan baju-baju bersih ke dalam lemari.Dia berjalan dengan cepat menuju kamar Defran. Dia takut jika Defran pulang. Dia tidak ingin bertemu dengan Defran.Dia pun segera menatap semua pakaian Damian ke dalam lemari dengan rapi.nSetelah selesai dia langsung keluar dari kamar itu.Namun, baru saja dia keluar dari kamar Defran, dia sudah melihat keributan di depan kamar itu.Dia melihat Isabel istri Defran yang dibopong oleh beberapa bodyguard. Alina sangat terkejut melihat itu semua, dia langsung terdiam di depan pintu kamar."Jangan pegang saya, saya bisa jalan sendiri!!" Ucap Isabel dengan mata yang terpejam, dan jalan yang terlihat sempoyon
Defran Mentapa Alina dengan sangat intens, tatapan yang penuh dengan arti."Jadi aku mau kau harus segera hamil." Ucap Defran dengan membaringkan tubuh Alina ke atas ranjang. Setelah itu dia langsung menindih tubuh Alina.DEG!!Alina sangat terkejut, wajahnya tampak ketakutan dan panik."Tidak, aku belum siap kalau sekarang." Ucap Alina dengan mata yang berkaca-kaca.Defran menatap Alina dengan tersenyum miring."Tidak ada yang bertanya kau siap atau tidak," ucap Defran.Defran mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Alina, membuat Alina semakin ketakutan.Sungguh dia tidak mau melakukan ini, walaupun mereka sudah sah menjadi suami istri, tapi tetap saja pernikahan mereka tidak sama dengan pernikahan lainnya. Apalagi Defran sudah memiliki istri.Alina berusaha mendorong tubuh Defran, tapi tetap saja tenaga Defran lebih kuat daripada dia. Dengan sekali gerakan Damian langsung menahan tangan Alina di atas kepala.Defran pun mulai menciumi wajah Alina, membuat gadis itu menangis dan tidak. D







