Home / Rumah Tangga / Istri Kedua / Dipaksa Menikah

Share

Dipaksa Menikah

last update Last Updated: 2026-01-11 00:26:44

Sekarang sudah jam sepuluh pagi dan Alina sedang berada di dalam kamarnya. Semua pekerjaannya sudah selesai dan sekarang dia sudah bisa bersantai.

"Udah lama rasanya nggak ngerasain santai kayak gini." Ucapnya bicara ke dirinya sendiri.

"Biasanya aku selalu saja bekerja dari pagi sampai malam tiba." Ucap dia lagi.

Entah apa yang terjadi dengan Bibi Nya hari ini, hari ini sikap Bibiknya berubah menjadi sedikit baik. Bahkan tadi Bibinya memberikan dia makan juga. Padahal biasanya dia sering dibiarkan kelaparan oleh Bibinya.

Alina terus lanjut memakan ubi goreng lagi sampai terdengar suara ketukan dari luar pintu kamarnya.

Tok...

Tok...

Dia pun segera berdiri dan membuka pintu kamarnya. Dia melihat Bibi dan Pamannya sudah berdiri di depan pintu kamarnya.

"Ini kamu pakai baju ini, setelah itu kamu langsung pergi ke depan." Ucap Bibinya dengan memberikan baju ke dia.

Dia mengerutkan keningnya, dia melihat baju berwarna putih yang ada di tangannya.

"Kenapa aku harus ganti baju?" Tanyanya dengan menatap Paman dan Bibinya bergantian.

"Nggak usah banyak tanya, kalau kita suruh pakai ya pakai saja." Ucap Paman dengan marah.

"Pokoknya kita tunggu selama sepuluh menit dan kamu harus segera ke depan, kalau tidak kami seret kamu dari kamar ini!!" Kata Pamannya lagi.

Setelah itu Paman dan Bibi nya langsung pergi dari sana meninggalkan dia.

Dia masih terpaku di tempatnya, dia menatap baju yang ada di tangannya dengan bingung.

"Ada apa sebenarnya?" Ucapnya penasaran.

Tapi karena dia tidak mau dimarahi oleh Paman dan Bibinya, dia pun segera masuk ke dalam kamarnya dan mengganti bajunya.

Baju itu dress berwarna putih, dan baju itu sangat pas saat dia kenakan. Dia menyisir rambutnya sedikit agar terlihat lebih rapi. Namun dia menghentikan kegiatan menyisirnya.

Setelah merasa cukup rapi dia langsung keluar dari kamar.

Luna berjalan menuju ruang depan dia membuka tabir pembatas untuk ruang depan.

Setibanya di ruang depan dia dapat melihat banyak orang di ruangan itu termasuk paman dan Bibinya.

"Siapa orang-orang ini?" Ucapnya dalam hati.

Dia langsung melihat ke arah Paman dan Bibinya.

"Mereka siapa?" Tanya Alina.

"Nanti kamu juga tau." Ucap Bibinya.

"Tuan, semuanya sudah siap acaranya bisa langsung dilakukan." Ucap Pamanya ke orang-orang itu.

Alina langsung mengerutkan keningnya bingung, apa nya yang sudah siap batinnya.

Orang-orang itu pun menganggukkan kepalanya, tak lama salah satu dari mereka pun keluar dari rumah.

Alina masih berdiri di tempatnya dia hanya menatap bingung dengan apa yang terjadi sekarang. Banyak pertanyaan di benaknya.

Tak lama masuk lah beberapa orang lagi.

Orang berbaju hitam tadi, terus satu orang yang menggunakan peci dan ada tas berwarna hitam yang dia bawa.

Dan setelah itu masuk satu pria dengan tubuh yang sangat tinggi, badan tegap, hidungnya mancung dan kulitnya berwarna putih, orang itu terlihat sangat tampan.

"Mari silahkan duduk." Ucap Paman dan Bibinya dengan sangat ramah.

Mereka menyuruh pria yang dia bilang tampan tadi duduk, bersama dengan pria paruh baya yang menggunakan peci tadi.

Mereka pun duduk di kursi kayu yang ada di ruang depan rumah Bibi dan Pamannya.

Bibi Alina langsung menarik tanganya agar masuk ke dalam rumah dulu.

"Kamu tunggu disini dulu!!" Ucap Bibinya.

Alina hanya diam dengan wajah bingung nya, tadi dia disuruh ke depan dan sekarang dia malah disuruh masuk ke dalam lagi.

"Sebenarnya ada apa ini Bik? Siapa orang-orang tadi." Ucap dia ke Bibinya yang sedang berdiri di sebelahnya.

"Nanti kamu juga tau, nggak usah banyak tanya!" Ucap Bibinya.

Luna menghembuskan nafasnya sabar kenapa hanya itu jawaban yang Bibinya berikan sedari tadi. Dan entah kenapa perasaan dia menjadi tidak enak rasanya.

Sekitar sepuluh menit Alina menunggu sampai akhirnya Bibinya pun menarik tanganya untuk ke ruang depan lagi.

Saat dia sampai di ruang depan dia sudah tidak melihat pria tadi lagi. Yang ada hanya tiga pria berbaju hitam dan pria paruh baya yang memakai peci tadi.

"Acara ijab kabul nya sudah selesai, kalau begitu saya permisi dulu." Ucap Pria paruh baya itu ke Paman dan Bibinya.

Paman dan Bibinya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.

"Terimakasih Pak." Ucap Pamannya.

Setelah itu penghulu itu pun keluar dari rumah Paman dan Bibinya.

"Ijab kabul?" Ucap Alina tidak mengerti.

Alina tidak salah dengarkan kalau pria tadi bilang soal ijab kabul. Jadi pria tadi adalah penghulu. Dia semakin tidak mengerti dengan apa yang terjadi sekarang.

"Siapa yang menikah Bik?" Tanya Luna ke Paman dan Bibinya.

"Kamu lah, masa Bibik." Ucap Bibinya dengan santai.

DEG!.

Alina sangat terkejut saat mendengar ucapan Bibinya itu.

"APA?" Ucapnya tidak percaya.

"Kamu sudah kita nikahkan dengan Tuan Defran, dan sekarang kamu bisa pergi bersama dia." Ucap Pamannya.

"Iya, baru saja ijab kabul nya di laksanakan, kalian menikah secara Siri." Ucap Bibinya dengan tersenyum lebar.

Tes.

Air mata Alina langsung mengalir di pipinya, bagai disambar petir tubunuanmenjadi kaku rasanya.

"Apa-apaan ini!!" Ucap dia marah.

"KENAPA KALIAN NGELAKUIN INI SAMA AKU, APA TIDAK CUKUP SELAMA INI KALIAN SIKSA AKU!!" Teriak Alina.

"INI HIDUP AKU, AKU BERHAK MENENTUKAN PILIHAN AKU SENDIRI. AKU TIDAK TERIMA DIPERLAKUKAN SEPERTI INI, KALIAN BERDUA BENAR-BENAR TIDAK PUNYA HATI!!" Teriak dia dengan menunjuk-nunjuk paman dan Bibinya.

Paman dan Bibi Luna bukannya merasa bersalah tapi mereka malah tersenyum saat melihat Luna marah ke mereka.

"Udah nggak ada gunanya kamu marah sekarang, karena kamu sudah sah menjadi istrinya Tuan Defran. Harusnya kamu senang dong karena akhirnya kamu bisa keluar dari rumah ini. Bukannya kamu sering bilang kalau kamu sangat menderita tinggal bersama kami di sini." Ucap Bibinya.

Alina menyapa Bibinya dengan penuh amarah.

"Aku memang ingin pergi dari rumah ini. Tapi aku idak mau dinikahkan dengan orang asing seperti dia!!" Ucap Alina dengan menangis.

"Kamu ini memang bodoh, Tuan Defran itu sangat kaya kamu pasti akan bahagia kalau hidup sama dia, kamu seharusnya berterima kasih sama kami karena sudah menikahkan kamu dengan orang kaya!!" Ucap Pamannya.

Alina menggelengkan kepalanya dengan cepat, dia tetap tidak terima dengan pernikahan paksa ini. Dia bersiap ingin berlari dia harus kabur dari rumah ini.

Namun baru saja dia mau pergi, Paman nya sudah menahan tangannya.

"Lepasin!!" Ucap dia memberontak.

"Kamu nggak boleh pergi, kamu harus pergi bersama Tuan Defran. Paman udah jual kamu ke dia." Ucap Pamannya.

Alina langsung menatap pamannya tidak percaya ternyata karena uang Pamannya tega menikahkan dia secara paksa seperti ini.

"Kenapa Paman tega sama aku, aku ini anak adiknya Paman sendiri. Apa Paman tidak punya hati menjual aku kayak gini!!" Ucap dia dengan menangis histeris.

Alina menatap Pamannya dengan penuh kebencian.

"Kamu seharusnya berterima kasih dengan Paman, karena Paman sudah menikah kamu dengan orang kaya seperti Tuan Defran. Hidup kamu bakalan senang ketika menikah sama dia." Ucap Pamannya.

Luna menggeleng kepalanya dengan kuat.

"Tidak! Aku nggak mau nikah sama dia, aku nggak butuh uang. Aku cuma mau bahagia." Ucapnya.

Suara Luna terdengar sangat pilu, kenapa nasibnya jadi seperti ini.

"Sudah terlambat, sekarang kamu sudah sah menjadi istri Tuan Defran, dan kalau kamu sampai kabur siap-siap saja kamu masuk penjara dan bayar denda perjanjian yang sangat mahal. Karena Paman sudah menandatangani surat perjanjian dengan Tuan Defran tentang pernikahan ini." Ucap Pamannya.

Air mata Alina semakin mengalir dengan deras.

"Paman benar-benar tidak punya hati, paman tega jual aku seperti ini!” Ucap Alina.

Paman dan Bibinya sudah muak melihat Alina yang terus menangis. Mereka pun akhirnya menyuruh bodyguard Defran untuk membawa Alina pergi dari sana.

“Kalian bawa saja dia pergi dari sini sekarang juga.” Ucap pamanya.

Para bodyguard itu langsung memegang kedua tangan Alina.

Alina sebisa mungkin melepaskan tangannya, dan dia langsung berteriak dengan keras.

“LEPASIN, JANGAN BAWA AKU, AKU MENOLAK PERNIKAHAN INI!!” teriak Alina dengan keras.

Namun, bagaimanapun dia memberontak tetap saja tenaga nya tidak ada apa-apa jika dibanding dengan bodyguard-bodyguard itu.

Alina diseret keluar dari rumah Paman dan Bibinya. Dia dapat melihat orang-orang itu memberikan tas berwarna hitam ke Paman dan Bibinya, dia yakin kalau di dalam tas itu isinya adalah uang.

"KALIAN BENAR-BENAR KETERLALUAN!!" Teriak Alina kuat.

Paman dan Bibinya menatap dia sambil tersenyum dan melambaikan tangan ke arah dia.

Dalam hati Alina bersumpah dia akan balas dendam kepada Paman dan Bibinya suatu saat nanti.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri Kedua    Defran dan Alina

    Tepat jam sebelas malam semua pekerjaan Alina sudah selesai, dan dia pun sudah kembali ke kamarnya.Alina terdiam di atas ranjang dia meratapi nasibnya. Dia masih tidak percaya jika sekarang dia menjadi istri dari pria yang sudah memiliki istri.“Pasti ada maksud dari semua ini, Isteri Tuan Defran sangat cantik, dia pasti ada tujuan kenapa dia menikahi aku, apalagi menjadikan aku pembantu dan meminta menyembunyikan pernikahan ini?” Ucap Alina.Alina menghembuskan nafasnya dengan berat. Ada banyak pertanyaan di benaknya dan ada rasa takut juga.Alina terus melamun di kamarnya sampai terdengar suara ketukan pintu dari luar.Tok.. Tok…Dia langsung terkejut dan menoleh ke arah pintu.“Siapa yang datang malam-malam seperti ini?” Ucapnya.Dia pun berdiri dan turun dari ranjang, dia langsung membuka pintu kamarnya. Dan saat membuka pintu dia sangat terkejut dengan orang yang berdiri didepan pintu kamarnya, tubuhnya seketika langsung terdiam kamu."Kamu..” ucap Alina lirih.Defran lah yang d

  • Istri Kedua    Jadi Pembantu

    Dua jam lamanya yang dia lakukan hanya menangis meratapi nasibnya.CEKLEK.Pintu kamar itu kembali terbuka dari luar, membuat dia segera menoleh ke arah pintu..Seorang wanita muda yang Alina kira umurnya tidak jauh dari dia masuk ke dalam kamar. Wanita itu tersenyum ke arahnyaa."Hai..." Sapanya.Wajah wanita itu terlihat bingung saat melihat Alina yang menangis bahkan wajahnya terlihat sangat sembab. Tapi dia juga sungkan mau bertanya karena ini pertemuan pertama mereka.Wanita itu mengulurkan tangannya ke arah Alina "Kenalin nama aku Dewi." Ucap nya.Alina pun membalas uluran tangan Dewi."Alina." Ucapnya singkat.Perasaan Alina masih tidak karuan rasanya sekarang, membuat dia jadi malas untuk bicara dengan siapapun."Aku ke sini di suruh untuk jemput kamu, dan ngejelasin semua tugas kamu di rumah ini, kamu pelayan barukan di rumah ini?" Ucap Dewi.Alina tersenyum miris, mungkin seumur hidup dia hanya akan di jadi pembantu saja. Tidak cukup selama belasan tahun dia jadi budak di r

  • Istri Kedua    Perjanjian

    Alina sedang berada di dalam mobil entah mau di bawa kemana dia dengan orang-orang ini.Karena terus berontak sedari tadi tangan Alina sampai di ikat dengan tali, dan bahkan mulutnya juga di tutup mengunakan lakban. Alina sudah seperti tawanan saja sekarang. Bahkan tubuhnya di apit oleh dua orang yang berbaju hitam tadi.Orang yang katanya sudah sah menjadi suami Alina entah kemana perginya, dia tidak ada di dalam mobil ini.Alina membuang wajahnya keluar jendela, entah nasib seperti apa yang harusdia terima setelah ini. Dia sudah menikah sekarang menikah dengan pria asing yang bahkan namanya saja dia tidak tau. Dia ingin teriak sekuatnya rasanya, Paman dan Bibinya sudah sangat keterlaluan.Alina terus saja menangis mobil yang dia naikki sebentar lagi akan keluar dari desa yang sudah dia tinggali selama dua puluh tahun ini. Dia harus meninggalkan Desa ini karena terpaksa. Dan setelah ini dia tidak akan bisa lagi datang ke makam orang tuanya.Alina menangis sampai sesegukkan. Kalau tau

  • Istri Kedua    Dipaksa Menikah

    Sekarang sudah jam sepuluh pagi dan Alina sedang berada di dalam kamarnya. Semua pekerjaannya sudah selesai dan sekarang dia sudah bisa bersantai."Udah lama rasanya nggak ngerasain santai kayak gini." Ucapnya bicara ke dirinya sendiri."Biasanya aku selalu saja bekerja dari pagi sampai malam tiba." Ucap dia lagi.Entah apa yang terjadi dengan Bibi Nya hari ini, hari ini sikap Bibiknya berubah menjadi sedikit baik. Bahkan tadi Bibinya memberikan dia makan juga. Padahal biasanya dia sering dibiarkan kelaparan oleh Bibinya.Alina terus lanjut memakan ubi goreng lagi sampai terdengar suara ketukan dari luar pintu kamarnya.Tok...Tok...Dia pun segera berdiri dan membuka pintu kamarnya. Dia melihat Bibi dan Pamannya sudah berdiri di depan pintu kamarnya."Ini kamu pakai baju ini, setelah itu kamu langsung pergi ke depan." Ucap Bibinya dengan memberikan baju ke dia.Dia mengerutkan keningnya, dia melihat baju berwarna putih yang ada di tangannya."Kenapa aku harus ganti baju?" Tanyanya de

  • Istri Kedua    Alina

    Namanya Alina, gadis cantik berusia dua puluh tahun.Alina mempunyai kulit kuning Langsat, hidungnya mancung, bibir tipis yang berwarna merah alami. Rambut dan mata Alina sama-sama berwarna coklat. Ketika orang-orang melihatnya hanya satu kata yang terlintas, yaitu kata cantik.Paras Alina sangat menawan, membuat orang-orang selalu memuji kecantikan nya. Bahkan Luna dijuluki sebagai kembang desa di desa ini. Banyak pria di desa ini menginginkan Alina menjadi istrinya, tapi sayang nasib Alina tidak sebaik wajahnya. Dari kecil dia sudah ditinggal oleh kedua orang tuanya. Orang tua Alina meninggal karena tertimbun tanah longsor saat dia masih berusia tujuh tahun.Itu adalah memori paling menyeramkan yang dia punya. Pada saat dia pulang sekolah, dia sudah melihat rumahnya tertimbun dengan tanah, dan orang tua dia ikut terkubur di bawahnya.Saat itu dia langsung menangis histeris, dia harus kehilangan orang tuanya untuk selama-lamanya.Setelah kejadian itu Luna diurus oleh Bibi dan Pamanny

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status