LOGIN“Apa yang sedang terjadi di sini?”
Suara tegas itu berasal dari seorang pria yang melangkah maju dari kerumunan. Posturnya tinggi dan tegap, berseragam hitam berlis perak dengan pedang di pinggang, dan lambang kekaisaran di dadanya.
Aura yang menguar dari pria itu membuat beberapa bangsawan refleks bergerak mundur.
Pria itu Sylar. Pengawal kekaisaran yang sempat menegurnya di pesta pertunangan kemarin malam.
Tatapannya langsung jatuh pada Lucy yang berlutut, rambutnya yang berantakan masih dicengkeram, dan darah mulai mengalir di pelipisnya.
Ekspresi wajahnya seketika mengeras.
“Lepaskan,” katanya singkat.
Seraphine menoleh, napasnya tersengal oleh amarah. “Ini urusan pribadi keluarga Duke Vallarond.”
Sylar tidak mengubah ekspresi. “Tidak saat Anda menyeret seorang bangsawan perempuan di tempat umum.”
Ia melangkah lebih dekat. Tekanannya cukup untuk membuat Seraphine ragu. Beberapa detik kemudian, jari-jari itu akhirnya terlepas dari rambut Lucy.
Lucy hampir jatuh ke depan, tapi Sylar dengan sigap menahan lengannya.
“Lady Mortayne,” ucapnya pelan. “Anda terluka.”
Eldric berdiri kaku. “Lord Sylar, ini hanya salah paham—”
“Jika Yang Mulia Kaisar melihat ini sendiri,” potong Sylar datar. “Beliau pasti tidak akan menyukainya, terlebih keributan ini melibatkan nama-nama bangsawan besar.”
Mendengar kata “bangsawan besar” membuat Seraphine seketika memucat.
Sylar menoleh ke Lucy. “Mari ikut saya, Lady.”
Lucy terlalu lelah untuk membantah. Ia hanya mengangguk kecil.
Tanpa menunggu izin siapa pun, Sylar menggiringnya keluar dari halaman aula teh. Bisik-bisik kembali muncul, tapi tak ada yang berani menghalangi langkah ksatria kekaisaran.
Sylar menuntun Lucy menuju kereta hitam dengan lambang kekaisaran. Ia berdiri tepat di samping pintu dan mengulurkan tangannya.
“Naiklah, Lady,” ucapnya singkat.
Lucy mengerutkan keningnya samar. Ia menatap sesaat kereta itu dengan raut bingung.
Kenapa ada kereta kekaisaran? Apakah Kaelith ada di sini?
Meski Lucy ragu sesaat, ia tetap menurut. Ia meraih tangan Sylar dan masuk ke dalam kereta. Begitu ia duduk, Sylar ikut naik dan memberi isyarat pada kusir untuk berangkat.
Beberapa detik berlalu dalam hening. Lucy hanya terdiam, dan entah kenapa ia mempercayakan segalanya pada Sylar, pria “suruhan” Kaelith yang ia yakini akan melindunginya.
Dan pada akhirnya, ia membuka suara. “Terima kasih,” ucapnya pelan. “Karena… sudah menghentikannya.”
Sylar melirik sekilas, lalu kembali menatap ke depan. “Itu sudah menjadi tugas saya.”
Lucy mengangguk kecil. Namun pikirannya terus bekerja. Pria ini berbeda dari kesan pertama yang ia tangkap di aula pertunangan. Saat itu, suara Sylar dingin dan keras, cukup untuk membuatnya gemetar.
Sekarang, pria itu hanya terlihat tegas, bukan kejam.
Ternyata tidak seseram itu, pikir Lucy.
Sylar menoleh menatap Lucy lagi, kali ini lebih lama. “Kulit kepala Anda berdarah.”
Lucy refleks menyentuh kepalanya. Jari-jarinya terasa lengket. Ia menarik tangan itu cepat-cepat.
“Kita tidak langsung ke rumah Anda,” lanjut Sylar. “Saya akan membawa Anda ke rumah sakit kekaisaran.”
Lucy terkejut. “Tidak perlu—”
“Perlu,” potong Sylar datar. “Luka di kepala bisa berbahaya jika dibiarkan.”
Lucy terdiam. Kata rumah sakit kekaisaran menggantung di kepalanya dan membuatnya mual.
“Apakah… Yang Mulia ada di sana?” tanyanya akhirnya, nyaris seperti gumaman.
Sylar tidak langsung menjawab. “Tidak,” katanya kemudian. “Saat ini, Yang Mulia Kaisar berada di istana.”
Entah mengapa, dada Lucy terasa lega saat menyadari Kaelith tidak akan melihatnya dalam keadaan seperti ini. Namun seketika perasaan cemas mulai menghampirinya.
Karena cepat atau lambat, pria itu pasti tahu tentang kejadian hari ini.
Dan kecemasannya terjawab saat Sylar berkata,
“Setelah luka Anda ditangani,” katanya. “Anda akan ikut saya ke istana.”
Lucy menegang.
“Yang Mulia ingin bertemu dengan Anda.”
***
Lucy meneguk liurnya susah payah saat menatap pintu besar berukir lambang Kekaisaran Velcarion di hadapannya. Jantungnya berdetak keras, dan perban di pelipisnya masih berdenyut nyeri.
Dan sekarang, dalam keadaan seperti ini, Lucy harus menemui Kaelith.
“Yang Mulia Kaisar sudah menunggu,” ucap Sylar singkat dari sampingnya, sedikit mengejutkan lamunannya.
Lucy menarik napas dalam, lalu melangkah masuk.
Ruangan itu luas dan sunyi. Cahaya sore menembus jendela-jendela tinggi, memantulkan bayangan seorang pria di tengah ruangan—tanpa seragam dan jubah kekaisaran, tapi aura pria itu masih terasa kuat.
Kaelith Vortigan, kaisar sekaligus teman masa kecilnya itu menoleh begitu Lucy berjalan mendekat. Tatapannya langsung jatuh pada pelipis Lucy yang tertutup perban.
Sekilas, rahangnya terlihat mengeras. Namun dalam sepersekian detik, ekspresinya kembali datar.
“Duduk,” ucapnya datar, sambil menunjuk kursi di hadapannya dengan dagu.
Lucy langsung menurut. Ia duduk dengan gerakan anggun, lalu meletakan kedua tangannya di atas pangkuannya.
Beberapa detik berlalu dalam henin, hingga akhirnya Kaelith kembali bersuara. “Aku sudah dengar apa yang terjadi di aula teh Valenrose.”
Tubuh Lucy langsung menegang. “Saya—”
“Aku tahu.” Kaelith memotongnya cepat. “Karena itu aku memanggilmu.”
Lucy terdiam, tak tahu harus menanggapi seperti apa.
Kaelith meraih cangkir teh di depannya, memutarnya perlahan tanpa benar-benar meminumnya.
“Aku ingin mendengarnya darimu,” katanya ringan. “Apa yang kau rasakan setelah diperlakukan seperti itu?”
Lucy masih terdiam mendengar pertanyaan itu. Memorinya langsung melayang pada kejadian beberapa jam lalu, saat semua tatapan, bisikan cemooh, dan juga cengkeraman Seraphine di rambutnya.
Tentu saja, jawabannya adalah malu. Ia sangat malu. Terlebih saat Eldric tak melakukan banyak hal, seolah takut pada kekuasaan keluarga Grand Duke Vallarond, meskipun saat itu hanya sang putri sulung yang ia hadapi.
Tanpa ia sadari, air mata lolos dari matanya. Namun buru-buru Lucy menyekanya, tak ingin sang kaisar melihatnya selemah itu.
Akhirnya, Lucy mengangkat pandangannya pelan. “Tentu saja saya malu, Yang Mulia,” ujarnya hati-hati. “Eldric meminta bertemu. Kami hanya berbicara seadanya. Lalu Lady Seraphine datang dan… menuduh saya. Walaupun saya hanya putri Baron, saya tetap punya harga diri.”
Kaelith menatapnya tanpa menyela, seolah sedang menilai.
“Kau tidak membalas?” tanyanya.
Lucy menggeleng. “Tidak. Saya hanya ingin pergi dari sana. Namun sayang, tidak bisa. Beruntung Lord Sylar hadir dan menolong saya. Kalau tidak…”
Satu alis Kaelith terangkat samar. “Dan tetap saja kau sudah diseret dipermalukan, bukan?”
Lucy menunduk dalam. “Benar, Yang Mulia.”
Hening kembali jatuh. Kaelith akhirnya meletakkan cangkirnya ke meja dengan bunyi pelan.
“Kau tahu,” ucapnya datar. “Jika Sylar tidak datang, ceritanya bisa berbeda.”
Lucy meremas jemarinya. “Saya tidak berpikir sejauh itu.”
“Masalahnya,” lanjut Kaelith, ia bersandar di kursi sambil menatapnya lurus. “Kau selalu berpikir orang lain akan berhenti sendiri.”
Tatapannya tajam, masih terus memperhatikan Lucy yang tak berkutik.
“Mereka tidak akan berhenti, Lucy,” ucapnya pelan. “Itulah alasan aku menawarkan pernikahan itu.”
Dengan gerakan perlahan, ia bangkit dari duduknya. Tatapannya waspada saat Kaelith melangkah semakin dekat.
Kaelith berhenti tepat di sisi Lucy. Napasnya tercekat saat satu tangan pria itu bertumpu pada sandaran kursi yang Lucy duduki, jari-jarinya mencengkeram kayu itu dengan mantap.
Dengan gerakan perlahan, Kaelith menunduk. Terlalu dekat. Jarak di antara wajah mereka bahkan hanya menyisakan ruang napas yang sempit, cukup untuk membuat Lucy menahan hembusan udaranya sendiri.
“Aku tidak hanya menawarkan perlindungan kosong,” ucapnya rendah, nyaris berbisik. Jarinya menyentuh dagu Lucy, mengangkatnya sedikit. Ujung hidung mereka nyaris bersentuhan. “Aku menawarkan posisi.”
Lucy menelan ludah. Jantungnya berdetak tak karuan. “Posisi… sebagai Ratu,” gumamnya, lebih seperti memastikan pada dirinya sendiri. Batinnya bergejolak, entah apakah putri Baron pantas bersanding dengan kaisar seberkuasa Kaelith.
“Sebagai istriku,” koreksi Kaelith tanpa ragu. Tatapannya terkunci pada mata Lucy. “Dengan menjadi istriku, tidak akan ada lagi yang berani menyentuhmu tanpa konsekuensi.”
Ia sedikit memiringkan kepalanya. “Termasuk keluarga Grand Duke Vallarond.”
Nama itu membuat dada Lucy mengencang. Jemarinya makin meremas gaunnya.
“Tapi...” suaranya bergetar. “Itu berarti... saya akan terikat pada Yang Mulia.”
“Terikat pada kekaisaran,” balas Kaelith pelan. “Dan aku akan berdiri di belakangmu.”
Ia meluruskan tubuhnya perlahan, memberi Lucy ruang bernapas kembali, tapi tekanannya justru terasa lebih nyata.
“Aku tidak memintamu menjawab sekarang,” lanjutnya, kembali ke nada bicara yang tenang dan dingin.
“Tapi, pikirkanlah. Dengan menikah denganku, kau akan mendapatkan segalanya yang kau inginkan.”
Lucy menegang di tempat, jantungnya seperti berhenti sesaat.Suara itu… ia sangat mengenalinya.Ia menoleh perlahan, tubuhnya seketika lemas saat melihat sosok yang ia takutkan terlihat nyata di hadapannya. Perempuan berambut perak itu tampak terkejut, sebelum senyum manis yang penuh racun menyusup ke wajahnya, seolah pertemuan ini adalah kebetulan yang ia nantikan.Seraphine.Beberapa langkah di belakangnya berdiri Eldric, dengan ekspresi terkejut yang cepat disembunyikan di balik sikap bangsawan yang terlatih.Lucy refleks menarik napas. Tangannya tanpa sadar mengepal di sisi tubuh.“Seraphine…” ucapnya pelan, nyaris tak terdengar di tengah riuh pasar.Namun Seraphine tidak langsung menjawabnya. Pandangannya justru tertuju pada sosok di sisi Lucy.Kaelith.Wajah Seraphine berubah seketika. Senyum kecil yang sempat muncul langsung tertahan. Ia segera melangkah maju setengah langkah, lalu menundukkan kepala dengan anggun.“Hormat kepada Yang Mulia Kaisar, Cahaya Agung Velcarion.”Eld
Lucy terdiam cukup lama setelah kalimat itu terucap.Pergi bulan madu…Kata-kata itu terasa ringan di mulut Kaelith, seolah ia hanya menawarkan jalan-jalan di hutan pinus, bukan perjalanan bersama seorang kaisar dan istrinya yang baru saja ia nikahi.Lucy menatapnya ragu. “Bulan madu?” ulangnya pelan, seakan memastikan ia tidak salah dengar.Kaelith mengangguk kecil. “Ya.”Nada suaranya datar, tapi matanya tidak. Sorot matanya terlihat seperti… penawaran yang sungguh-sungguh.“Apa… istana tidak akan keberatan?” tanya Lucy hati-hati. “Maksudku, kau baru saja—”“Seorang kaisar juga butuh liburan,” potong Kaelith tenang. “Dan tidak semua urusan harus kuselesaikan sendiri.”Lucy menunduk. Jarinya meremas gaunnya. Ia tak pernah membayangkan dirinya akan diajak pergi berlibur seperti ini. Setelah semua yang terjadi, setelah kehancuran harga dirinya, setelah pernikahan yang lebih terasa seperti penyelamatan daripada kisah cinta yang romantis.Terlebih, ini bukan hanya pergi berlibur biasa. I
Sylar mengangguk. “Benar, Nyonya.”Lucy melirik sekeliling, lalu kembali menatapnya.Tentu ia mengenal nama Sylar. Salah satu ksatria terkuat yang selalu berada di sisi Kaelith. Pengalaman perangnya tak terhitung, dan posisinya terlalu penting untuk dilepas begitu saja. Namun mengapa Kaelith menugaskan ksatria seperti itu untuk mendampingi Lucy yang… tak terlalu membutuhkannya?“Mengapa Anda… ditugaskan pada saya?” tanyanya hati-hati. “Bukankah biasanya Anda mendampingi Yang Mulia Kaisar?”Sylar tidak langsung menjawab, tapi raut wajahnya tetap tenang. “Atas perintah langsung dari Yang Mulia Kaisar, Nyonya.”Lucy menelan liurnya susah payah. Beberapa kemungkinan sempat terlintas, membuat dadanya sedikit menegang.“Di sini… aman, kan?” tanya Lucy lemah di akhir kalimat.“Tentu, Nyonya,” jawab Sylar tanpa ragu. “Yang Mulia hanya ingin memastikan Anda selalu didampingi.”Lucy mengerjap bingung. “...Didampingi?”“Sebagai istri dari seorang kaisar, Anda berhak memiliki ksatria pengawal sen
Lucy terbangun saat cahaya pagi menyusup tipis dari balik tirai jendela. Untuk sesaat, ia lupa di mana dirinya berada. Langit-langit kamar itu terlalu tinggi, terlalu mewah, tampak begitu asing.Lalu ia teringat.Pernikahan itu. Mansion itu. Dan Kaelith…Ia langsung menoleh ke arah sampingnya. Sisi lain ranjang itu sudah kosong dan dingin.Tatapannya lalu jatuh pada selembar kertas kecil di atas meja samping, dan ia langsung tahu siapa yang meninggalkannya.Ada hal yang harus kuselesaikan. Aku akan segera kembali dan makan malam denganmu. — Kaelith.Tulisan itu singkat, rapi, tanpa embel-embel yang berlebihan.Lucy melipat kertas itu kembali dengan hati-hati, lalu menyimpannya ke laci. Ia pun tak tahu kenapa ia melakukannya. Mungkin karena itu satu-satunya hal sederhana yang terasa… menyenangkan.Tak lama kemudian, ketukan pelan terdengar di pintu.Pelayan wanita yang kemarin diperkenalkan Kaelith masuk dengan langkah hati-hati. Lucy sempat terpaku, sebelum refleks hendak bangkit send
Malam sepenuhnya jatuh saat Lucy berdiri di depan pintu kamar utama.Tangannya terangkat setengah, ragu untuk mengetuk atau tidak. Jantungnya pun berdetak keras, menggema hingga telinga dan nyaris menutupi suara napasnya sendiri.Apakah… kita akan benar-benar melakukannya…Pikiran itu muncul begitu saja, membuat tenggorokannya mengering. Lucy menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, mencoba menenangkan diri. Mereka sudah menikah secara sah di mata dewa. Tidak ada yang salah dengan berada di sini, apalagi jika nantinya harus melakukannya dengan sang suami.Namun tetap saja, rasanya jauh lebih berat dari yang ia duga.Ia menarik napas panjang, sebelum akhirnya mendorong pintu perlahan.Cahaya lampu di dalam menyambutnya lembut. Di sana, Kaelith terlihat bersandar santai di tempat tidur, mengenakan pakaian tidur sederhana berwarna gelap. Sebuah buku terbuka di tangannya, rambut tebalnya terurai, ekspresinya tenang, jauh dari citra kaisar yang selama ini dikenal Lucy.Saat mendengar pintu ter
“Dengan ini, di hadapan Dewa Cahaya dan saksi yang hadir, Yang Mulia Kaisar Kaelith Rhaelis Vortigan del Velcarion dan Lucy Eleonora Mortayne dinyatakan sah sebagai suami dan istri.”Lucy nyaris tak bernapas saat Imam Agung Kekaisaran mengucapkan doa penutup. Cincin di jari manisnya masih terasa dingin, asing, seolah mengingatkan bahwa semua ini nyata.Ia sudah resmi menjadi istri Kaelith.Hari itu, pernikahan mereka berlangsung khidmat di kuil kecil yang cukup jauh dari ibu kota. Tidak ada bangsawan, tidak ada sorak perayaan hadirin tamu, tidak pula saksi yang berlebihan.Hanya ada Imam Agung Kekaisaran yang berdiri di hadapan altar, memastikan ikatan itu sah di mata Dewa Cahaya dan hukum kekaisaran, sebuah ikatan yang tidak dapat diputuskan oleh kuasa manus







