LOGIN“Mendapatkan… segalanya?”
Kaelith tersenyum samar. Tatapannya terus mengunci Lucy, tenang tapi cukup menekan.
“Termasuk balas dendam,” ucapnya pelan. “Apa pun yang mereka lakukan padamu nanti, aku pastikan mereka akan menerima pembalasan yang lebih kejam.”
“Tidak perlu sampai seperti itu…” cicit Lucy, suaranya mengecil di akhir kalimat.
Kaelith tidak langsung menjawab. Senyum samarnya memudar, digantikan dengan tatapan tenangnya.
“Kau masih berpikir mereka akan berhenti jika kau diam saja?”
Lucy diam tak menjawab. Dan diamnya berarti iya.
Kaelith menegakkan tubuhnya. Ia menghela napas keras, tangan sambil memijat pelipis frustasi.
“Balas dendam bukan soal kemarahan, Lucy. Ini soal memastikan mereka tidak pernah punya kesempatan mengulanginya lagi.”
Lucy menunduk, jemarinya saling meremas. “Saya hanya… tidak ingin menimbulkan masalah yang tidak seharusnya.”
“Masalah itu sudah ada sejak mereka berani menyentuhmu,” balas Kaelith datar.
“Yang aku tawarkan hanya kendali atas bagaimana kau mengontrol semuanya.”Lucy meneguk liurnya gugup. Jemarinya kembali saling meremas di pangkuan.
Kaelith… terlihat sungguh-sungguh dan tak bisa dibantah. Namun bagaimanapun itu, ia tetap harus memikirkannya dahulu.
Pernikahan dengan seorang kaisar… bukan hal main-main.
Lucy juga hanya bangsawan biasa. Apa yang akan dikatakan orang-orang jika mereka tahu istri dari kaisar adalah bangsawan rendahan seperti dirinya?
Tapi kesempatan seperti ini… jarang datang dua kali. Terlebih, orang yang menawarkan adalah pria paling berkuasa di kekaisaran ini—seorang kaisar.
Tak ada yang salah dengan menerima penawaran itu, bukan? Lagipula, pria itu bukan orang asing. Kaelith adalah teman masa kecilnya, dan Lucy bisa percaya padanya.
Kaelith… tidak sama seperti kedua “teman” yang sudah menyakitinya.
Setelah hening beberapa saat, Lucy akhirnya bersuara, “Yang Mulia… saya ingin memikirkannya terlebih dahulu.”Tak ada kemarahan, tak ada paksaan. Kaelith hanya menatapnya beberapa detik. Lalu ia mengangguk pelan.
“Tentu,” katanya singkat.“Aku akan mengantarmu pulang,” ucapnya lagi, ia mengulurkan tangannya di hadapan Lucy.
Lucy refleks melambaikan tangannya panik. “Yang Mulia, itu tidak perlu—”
“Aku antar,” potong Kaelith singkat, mutlak dan tanpa nada tinggi. “Aku tidak berniat membiarkanmu kembali sendirian setelah apa yang terjadi hari ini.”
Lucy terdiam. Ia menatap tangan Kaelith beberapa detik, lalu perlahan menerima uluran itu.
Sentuhan mereka ringan, nyaris formal, tapi cukup untuk membuat jantung Lucy berdetak tak karuan.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Kaelith melangkah lebih dulu sambil menggenggam tangan Lucy lembut. Pipinya bersemu hangat saat melihat tautan itu, mengingatkannya pada masa kecil dulu.
Saat keduanya berjalan melewati lorong, tak satu pun pelayan berani bersuara ketika melihat Kaisar bersama seorang putri Baron.
“Tenang saja,” ucap Kaelith tiba-tiba. “Mereka tidak akan berani macam-macam selama mereka masih menghargai kepala mereka sendiri.”
Lucy tersentak kecil, lalu menoleh ke arahnya. Kaelith terlihat cukup tenang saat mengatakan kalimat seperti itu, dan itu membuatnya bergidik ngeri.
Sesampainya di luar, kereta kekaisaran sudah menunggu. Kaelith membuka pintu sendiri, menahannya hingga Lucy naik dengan aman, lalu ikut duduk di sampingnya.
Kereta kekaisaran pun melaju meninggalkan istana, kali ini dengan suasana yang jauh lebih sunyi. Lucy duduk tegak, pandangannya menatap ke luar jendela, mencoba merapikan pikirannya yang masih kacau.
Tak lama kemudian, kereta berhenti. Kaelith turun lebih dulu, mengulurkan tangannya ke arah Lucy dan menuntunnya turun.
“Kau tidak perlu menjelaskan apa pun malam ini,” ucapnya singkat pada Lucy. “Istirahatlah.”
Lucy mengangguk pelan. “Terima kasih… atas hari ini.”
Kaelith mengangguk singkat. Lucy sempat melihat tangan pria itu tersentak kecil, tapi tak benar-benar bergerak.
“Hubungi aku jika kau sudah memutuskannya.”
***
“Kak, apakah kau baik-baik saja?!”
Lucy tersentak begitu Leon masuk begitu saja ke kamarnya. Tangannya refleks menahan perban di pelipisnya yang baru saja ia lepaskan.
“Leon—” napasnya tersengal kecil. “Ketuklah pintu kamarku dahulu, jangan mengagetkan aku seperti itu.”
Leon sudah berdiri di ambang pintu dengan wajah panik. Ia segera masuk dan menutup pintu di belakangnya. Matanya langsung tertuju pada pelipis Lucy yang memerah samar.
“Aku mendapatkan kabar kalau kau terluka, bagaimana bisa aku tenang?!”
“Sudah tidak,” jawab Lucy cepat. Ia mengambil perban bersih dan mulai membalutnya kembali dengan gerakan tenang. “Obat dari rumah sakit kekaisaran itu… cukup ajaib. Besok pasti sudah membaik.”
Leon mengernyit. “Kau mengatakan itu seolah diseret dan dilukai di aula teh adalah hal sepele.” Adik laki-lakinya itu mendekat, mengambil alih perban Lucy dan memakaikannya dengan hati-hati.
Lucy tersenyum kecil melihat betapa khawatirnya sang adik pada keadaannya. Hatinya sedikit menghangat, mengingat bahwa adik kecil yang dulu selalu mengekorinya sudah sebesar ini, bahkan sudah mewarisi gelar Baron dari mendiang ayahnya.
“Aku baik-baik saja sekarang. Kau tak perlu khawatir lagi.”
Leon mendengus, lalu duduk di kursi di sampingnya. “Bagaimana aku tidak khawatir? Kau bertemu Eldric, lalu Seraphine muncul dan melukaimu seperti ini. Dan entah bagaimana kau berakhir di rumah sakit kekaisaran, lalu diantar pulang oleh—” ia berhenti mendadak, menatap Lucy cemas. “Kaisar.”
Lucy merapikan perbannya. “Yang Mulia Kaisar sungguh baik hati.”
“Justru itu yang membuatku cemas,” balas Leon cepat. “Kaelith Vortigan bukan lagi anak bangsawan yang sering bermain bersamamu dulu. Dia seorang kaisar. Setiap langkahnya pasti punya tujuan.”
Lucy terdiam. Ia berdiri dari kursinya dan berjalan ke jendela, menatap taman yang gelap.
Tujuan.
Adiknya itu benar. Kaelith pasti punya tujuannya sendiri dengan mengajaknya menikah.
Ia mendengar Leon menghela napas panjang. “Aku seharusnya ada di sana. Aku seharusnya—”
“Leon,” Lucy memotong pelan. “Kau tidak salah, berhenti membebankan dirimu seperti itu.”
Keheningan mengambil alih. Lucy sempat menoleh ke arah Leon yang menunduk, wajahnya terlihat sendu.
Lalu, ia menoleh ke arah jendela lagi. Pandangannya terlihat jauh.
Akhirnya, Lucy berkata, “Kalau… suatu hari aku menikah…”
Leon membeku. “Apa?”
Lucy menoleh perlahan. “Apakah kau akan memberiku restu?”
Leon tertawa pendek, terdengar tidak percaya. “Kak. Aku sedang bertanya apakah kau baik-baik saja setelah dipermalukan dan disakiti di depan umum, dan kau malah bertanya soal menikah?”
“Aku serius.”
Leon menatapnya lama. “Menikah dengan siapa?”
Lucy menggeleng pelan. “Itu belum penting.”
“Bagiku penting,” tegas Leon. “Kalau seseorang membuatmu harus mempertimbangkan pernikahan di saat seperti ini, maka patut dicurigai.”
Lucy menunduk. “Aku hanya ingin tahu… apakah aku masih punya pilihan.”
Mendengar itu, Leon sedikit melunak. Ia melangkah mendekat. “Kau selalu punya pilihan, Kak. Dan selama aku ada, kau tidak akan pernah sendirian membuatnya.”
Lucy tersenyum, mengusap lembut puncak kepala sang adik yang lebih tinggi darinya.
“Terima kasih, Leon,” ucapnya nyaris berbisik.
Leon tersenyum tipis, lalu merengkuh sang kakak dalam pelukannya.
Keduanya saling menikmati momen tersebut, hingga akhirnya Lucy kembali membuka suara,
“Jadi… apakah kau akan memberikan restu?”
Leon refleks mendorong pelan Lucy menjauh. Ia menatap sang kakak tajam, tapi tak terlihat mengancam.
“Aku harus tahu dulu siapa orangnya.”
“Kau sudah tahu orangnya, Leon.” Lucy kembali menoleh ke arah jendela. Senyum tipis terulas di wajahnya.
“Aku akan menyuruhnya untuk segera menemuimu.”
Lucy menegang di tempat, jantungnya seperti berhenti sesaat.Suara itu… ia sangat mengenalinya.Ia menoleh perlahan, tubuhnya seketika lemas saat melihat sosok yang ia takutkan terlihat nyata di hadapannya. Perempuan berambut perak itu tampak terkejut, sebelum senyum manis yang penuh racun menyusup ke wajahnya, seolah pertemuan ini adalah kebetulan yang ia nantikan.Seraphine.Beberapa langkah di belakangnya berdiri Eldric, dengan ekspresi terkejut yang cepat disembunyikan di balik sikap bangsawan yang terlatih.Lucy refleks menarik napas. Tangannya tanpa sadar mengepal di sisi tubuh.“Seraphine…” ucapnya pelan, nyaris tak terdengar di tengah riuh pasar.Namun Seraphine tidak langsung menjawabnya. Pandangannya justru tertuju pada sosok di sisi Lucy.Kaelith.Wajah Seraphine berubah seketika. Senyum kecil yang sempat muncul langsung tertahan. Ia segera melangkah maju setengah langkah, lalu menundukkan kepala dengan anggun.“Hormat kepada Yang Mulia Kaisar, Cahaya Agung Velcarion.”Eld
Lucy terdiam cukup lama setelah kalimat itu terucap.Pergi bulan madu…Kata-kata itu terasa ringan di mulut Kaelith, seolah ia hanya menawarkan jalan-jalan di hutan pinus, bukan perjalanan bersama seorang kaisar dan istrinya yang baru saja ia nikahi.Lucy menatapnya ragu. “Bulan madu?” ulangnya pelan, seakan memastikan ia tidak salah dengar.Kaelith mengangguk kecil. “Ya.”Nada suaranya datar, tapi matanya tidak. Sorot matanya terlihat seperti… penawaran yang sungguh-sungguh.“Apa… istana tidak akan keberatan?” tanya Lucy hati-hati. “Maksudku, kau baru saja—”“Seorang kaisar juga butuh liburan,” potong Kaelith tenang. “Dan tidak semua urusan harus kuselesaikan sendiri.”Lucy menunduk. Jarinya meremas gaunnya. Ia tak pernah membayangkan dirinya akan diajak pergi berlibur seperti ini. Setelah semua yang terjadi, setelah kehancuran harga dirinya, setelah pernikahan yang lebih terasa seperti penyelamatan daripada kisah cinta yang romantis.Terlebih, ini bukan hanya pergi berlibur biasa. I
Sylar mengangguk. “Benar, Nyonya.”Lucy melirik sekeliling, lalu kembali menatapnya.Tentu ia mengenal nama Sylar. Salah satu ksatria terkuat yang selalu berada di sisi Kaelith. Pengalaman perangnya tak terhitung, dan posisinya terlalu penting untuk dilepas begitu saja. Namun mengapa Kaelith menugaskan ksatria seperti itu untuk mendampingi Lucy yang… tak terlalu membutuhkannya?“Mengapa Anda… ditugaskan pada saya?” tanyanya hati-hati. “Bukankah biasanya Anda mendampingi Yang Mulia Kaisar?”Sylar tidak langsung menjawab, tapi raut wajahnya tetap tenang. “Atas perintah langsung dari Yang Mulia Kaisar, Nyonya.”Lucy menelan liurnya susah payah. Beberapa kemungkinan sempat terlintas, membuat dadanya sedikit menegang.“Di sini… aman, kan?” tanya Lucy lemah di akhir kalimat.“Tentu, Nyonya,” jawab Sylar tanpa ragu. “Yang Mulia hanya ingin memastikan Anda selalu didampingi.”Lucy mengerjap bingung. “...Didampingi?”“Sebagai istri dari seorang kaisar, Anda berhak memiliki ksatria pengawal sen
Lucy terbangun saat cahaya pagi menyusup tipis dari balik tirai jendela. Untuk sesaat, ia lupa di mana dirinya berada. Langit-langit kamar itu terlalu tinggi, terlalu mewah, tampak begitu asing.Lalu ia teringat.Pernikahan itu. Mansion itu. Dan Kaelith…Ia langsung menoleh ke arah sampingnya. Sisi lain ranjang itu sudah kosong dan dingin.Tatapannya lalu jatuh pada selembar kertas kecil di atas meja samping, dan ia langsung tahu siapa yang meninggalkannya.Ada hal yang harus kuselesaikan. Aku akan segera kembali dan makan malam denganmu. — Kaelith.Tulisan itu singkat, rapi, tanpa embel-embel yang berlebihan.Lucy melipat kertas itu kembali dengan hati-hati, lalu menyimpannya ke laci. Ia pun tak tahu kenapa ia melakukannya. Mungkin karena itu satu-satunya hal sederhana yang terasa… menyenangkan.Tak lama kemudian, ketukan pelan terdengar di pintu.Pelayan wanita yang kemarin diperkenalkan Kaelith masuk dengan langkah hati-hati. Lucy sempat terpaku, sebelum refleks hendak bangkit send
Malam sepenuhnya jatuh saat Lucy berdiri di depan pintu kamar utama.Tangannya terangkat setengah, ragu untuk mengetuk atau tidak. Jantungnya pun berdetak keras, menggema hingga telinga dan nyaris menutupi suara napasnya sendiri.Apakah… kita akan benar-benar melakukannya…Pikiran itu muncul begitu saja, membuat tenggorokannya mengering. Lucy menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, mencoba menenangkan diri. Mereka sudah menikah secara sah di mata dewa. Tidak ada yang salah dengan berada di sini, apalagi jika nantinya harus melakukannya dengan sang suami.Namun tetap saja, rasanya jauh lebih berat dari yang ia duga.Ia menarik napas panjang, sebelum akhirnya mendorong pintu perlahan.Cahaya lampu di dalam menyambutnya lembut. Di sana, Kaelith terlihat bersandar santai di tempat tidur, mengenakan pakaian tidur sederhana berwarna gelap. Sebuah buku terbuka di tangannya, rambut tebalnya terurai, ekspresinya tenang, jauh dari citra kaisar yang selama ini dikenal Lucy.Saat mendengar pintu ter
“Dengan ini, di hadapan Dewa Cahaya dan saksi yang hadir, Yang Mulia Kaisar Kaelith Rhaelis Vortigan del Velcarion dan Lucy Eleonora Mortayne dinyatakan sah sebagai suami dan istri.”Lucy nyaris tak bernapas saat Imam Agung Kekaisaran mengucapkan doa penutup. Cincin di jari manisnya masih terasa dingin, asing, seolah mengingatkan bahwa semua ini nyata.Ia sudah resmi menjadi istri Kaelith.Hari itu, pernikahan mereka berlangsung khidmat di kuil kecil yang cukup jauh dari ibu kota. Tidak ada bangsawan, tidak ada sorak perayaan hadirin tamu, tidak pula saksi yang berlebihan.Hanya ada Imam Agung Kekaisaran yang berdiri di hadapan altar, memastikan ikatan itu sah di mata Dewa Cahaya dan hukum kekaisaran, sebuah ikatan yang tidak dapat diputuskan oleh kuasa manus







