LOGINDunia di sekitar seakan berhenti berputar.
“Apa…?” suara Lucy nyaris tak keluar.
“Menikahlah denganku,” ulang Kaelith tenang, seolah yang dibicarakan bukan hal yang besar. “Dan aku bisa memberikan segalanya yang kau inginkan, termasuk balas dendam.”
Lucy menggenggam jubah itu lebih erat. “Balas dendam… untuk siapa?”
“Untukmu,” jawab Kaelith tanpa ragu. “Dan untukku.”
Ia mencondongkan tubuh sedikit, cukup dekat hingga Lucy bisa melihat kelelahan yang disembunyikan di balik mata abu-abu itu. “Biarkan mereka melihat apa yang terjadi ketika mereka meremehkan seseorang yang berada di sisi Kaisar.”
Lucy terdiam lama. Angin masih berhembus, membuat jubah pria itu berkibar.
“Aku tidak akan memaksamu,” lanjut Kaelith lebih pelan saat tak mendapat balasan. “Tapi jika kau lelah mengalah… ini jalannya.”
Kaelith tidak mendesaknya. Ia menatap Lucy lebih lama, seolah sudah menduga reaksi itu.
“Pikirkan saja dulu,” ucapnya akhirnya, suaranya tenang. “Keputusan seperti ini tidak seharusnya lahir dari luka yang masih baru.”
Kaelith melangkah mundur satu langkah. Lalu ia berbalik, berjalan menjauh menuju ujung taman, tempat kedua ksatria pengawal menunggunya.
Sebelum benar-benar pergi, Kaelith berhenti sejenak, menoleh untuk yang terakhir kalinya.
“Simpan saja jubahnya,” katanya datar. “Lagipula, kita akan bertemu lagi dalam waktu dekat.”
***
Pagi itu, Lucy duduk di kursi besi putih di taman kecil kediaman Baron dengan secangkir teh hangat di tangannya. Uap tipis naik perlahan, tapi kehangatannya tak membuatnya tenang.
Pertemuannya semalam dengan Kaelith terus mengganggu pikirannya. Tatapan Kaelith, jubah besar yang menyelimuti bahunya, dan tawaran yang diucapkan dengan datar terus berputar di kepalanya.
Pernikahan.
Kata itu tak terdengar asing, tapi begitu berat saat seorang kaisar seperti Kaelith yang mengucapkannya.
“Apakah aku pantas menjadi istrinya?” gumam Lucy lirih.
Lucy menyesap tehnya pelan. Pasti ada sesuatu yang pria itu inginkan juga darinya. Tentu saja Kaelith tidak akan menawarkan kekuasaannya secara cuma-cuma.
Tapi apa? Sedangkan dirinya hanya seorang putri Baron rendahan yang bahkan tak memiliki apapun untuk ditawarkan.
Belum sempat pikirannya menemukan jawaban, langkah kaki terdengar mendekat. Seorang pelayan muncul di ujung taman, membawa sepucuk surat di atas nampan perak.
“Lady Mortayne,” ucapnya sopan. “Ada surat untuk Anda.”
Lucy menurunkan cangkir tehnya. Saat melihat segel keluarga Montclair, tubuhnya menegang. Ia langsung tahu, bahkan sebelum membaca nama pengirimnya.
Eldric Montclair.
Pria itu mengiriminya surat.
Setelah apa yang pria itu lakukan padanya, apa lagi yang ia inginkan darinya?
Meski begitu, ia tetap menerima surat itu dengan jemari yang sedikit gemetar. Ditatapnya lama amplop itu, seolah berharap tulisan di sana akan berubah. Namun segel itu tetap sama. Segel dari keluarga Montclair.
Akhirnya, ia membuka surat itu.
Lucy,
Kita harus bertemu hari ini. Ada sesuatu yang harus kukatakan langsung padamu. Tolong datang ke Aula Teh Valenrose sore ini sendiri. Jangan ajak Leon.
— Eldric
Tanpa sadar, Lucy meremas tepi kertas itu.
Ia menatap tulisan Eldric lama, menimbang apakah ia benar-benar harus menemui pria itu atau tidak.
Tapi secuil harapan di hati sedikit mengusiknya. Jauh di lubuk hatinya, ia masih mengharapkan setidaknya penjelasan atas apa yang sudah mereka lalui selama ini.
Setidaknya, Lucy ingin tahu apakah Eldric benar-benar mencintainya atau tidak.
Lucy menghela napas pelan, menyadari betapa bodohnya harapan itu.
Ia melipat surat itu rapi, lalu menyelipkannya ke saku gaunnya. Jemarinya masih dingin, entah karena udara atau karena nama Eldric yang kembali menyeretnya ke memori kelam malam itu.
“Baiklah,” gumamnya pada dirinya sendiri. “Satu pertemuan saja.”
***
Aula teh Valenrose sore itu cukup ramai. Banyak beberapa bangsawan menengah ke bawah sedang bersantai. Lucy melangkah masuk dengan langkah tenang, meski jantungnya berdetak tak karuan.
Di ujung aula di area paling sepi, Eldric sudah menunggunya di meja dekat jendela. Ia berdiri saat melihat Lucy, lalu memberi anggukan singkat.
Tidak ada senyum manis seperti dulu.
“Terima kasih sudah datang,” ucapnya pelan.
Lucy duduk di hadapannya. Ia tidak menjawab, hanya menautkan jemari di atas pangkuan dengan anggun. Pelayan datang, menuangkan teh, lalu pergi dengan cepat.
Hening jatuh sejenak di antara mereka.
“Aku minta maaf atas kemarin,” kata Eldric akhirnya. Suaranya rendah, hati-hati. “Caraku… tidak adil bagimu.”
Lucy menatapnya lama. “Itu saja?”
Eldric tampak ragu sesaat. “Apa yang Seraphine katakan tidak benar.” Ia menarik napas sesaat sebelum melanjutkan, “Perasaanku padamu nyata, Lucy. Dari dulu sampai sekarang.”
Kalimat itu jatuh di antara mereka. Lucy tidak bereaksi.
“Aku tidak pernah menganggapmu sekadar teman,” lanjutnya. “Waktu yang kita lalui… itu bukan kebohongan.”
“Tapi?” Lucy menyela, suaranya datar.
Eldric menunduk. “Tapi menikah dengan perasaan saja… tidak cukup…”
Lucy mengangguk pelan, seolah sudah menduga. Meski hatinya tetap terasa sakit. “Jadi ini tentang dirimu.”
“Ini tentang harga diriku,” jawab Eldric cepat. “Seraphine adalah pilihan yang masuk akal… untuk aku yang hanya putra bungsu Montclair.”
Lucy menatapnya lama. Ia baru mengerti, ternyata mantan kekasihnya itu mengincar gelar Grand Duke.
Sebuah pilihan yang tentu saja menggiurkan bagi semua pria bangsawan di kekaisaran Velcarion. Lucy akhirnya melihatnya dengan jelas, bagaimana ambisi Eldric merayap di balik kata-kata lembut yang ia susun rapi.
Menjadi menantu Grand Duke… berarti akses pada kekuasaan yang bahkan keluarga Montclair belum tentu miliki.
“Jadi itu alasannya,” ucap Lucy pelan. “Ternyata, bukan karena kau dipaksa Grand Duke Vallarond.”
Eldric terdiam sesaat. “Aku hanya melakukan apa yang perlu kulakukan.”
Lucy menarik napas dalam. “Itu hal yang bagus. Kau selalu tahu apa yang kau inginkan, Eldric.”
Ia mengangkat wajahnya, menatap pria itu tanpa amarah, dan berusaha tersenyum tegar. “Dan sekarang aku tahu, kau hanya tidak pernah menginginkanku cukup kuat untuk melawan semuanya.”
Eldric mengernyit, tak terima dengan apa yang diucapkan mantan kekasihnya. “Lucy—”
“Tidak apa-apa,” potong Lucy singkat. “Aku mengerti.”
Lucy berdiri, melemparkan senyum simpul. “Semoga semua persiapan pernikahanmu dengan Seraphine berjalan dengan lancar. Aku—”
Kalimatnya terpotong begitu saja saat sesuatu tiba-tiba menarik rambutnya ke belakang.
“Dasar pengkhianat!”
Rasa perih menyambar kulit kepalanya. Lucy terhuyung, refleks mencengkeram pergelangan tangan yang mencengkeram rambutnya.
Begitu ia mendongak, matanya menangkap sosok Seraphine. Wajahnya merah padam oleh amarah, dan mata hijaunya menyala penuh tuduhan.
Eldric tersentak. “Seraphine, lepaskan Lucy!”
Seraphine tak menghiraukan, cengkeramannya semakin kuat di rambut Lucy.
Lucy mengerang pelan, berusaha menarik kepalanya bebas. “S–sakit...”
"Sakit? Harusnya aku yang sakit di sini! Kau menemui Eldric seperti ini, apakah kau tidak terima aku bertunangan dengan Eldric dan ingin membuatnya ragu?!”
Seraphine menoleh ke sekitar, suaranya sedikit naik. “Lihatlah! Dia sengaja memanggil Eldric ke sini. Berpura-pura terluka, berharap Eldric berubah pikiran!”
Bisik-bisik langsung meledak si seluruh penjuru aula teh.
“Putri Baron benar-benar tidak tahu diri.”
“Sudah jelas Putra Marquis memilih yang lebih pantas.”
“Masih berani mengejar setelah ditinggalkan, memalukan.”
“Seraphine! Hentikan!” Eldric menarik bahu Seraphine, mencoba untuk menghentikannya.
Namun Seraphine tak mendengar apa pun lagi. Ia menyeret Lucy keluar dari aula teh dengan kejam.
Lucy terseret melewati pintu aula teh, langkahnya tersandung di tiap tarikannya. Jemarinya mencengkeram pergelangan tangan Seraphine, tapi cengkeraman itu tak goyah sedikitpun.
“L–lepaskan aku,” ucapnya tertahan, suaranya nyaris tak terdengar di antara derap langkah dan bisik-bisik yang masih mengikutinya.
Rambutnya masih tertarik kuat, membuat pandangannya mulai berkunang-kunang.
Eldric mengejar mereka. “Seraphine! Ini sudah keterlaluan!” Tangannya mencoba menarik lengan tunangannya, tapi wanita itu menepisnya dengan kasar.
Lucy akhirnya terjatuh berlutut saat Seraphine menghentaknya dengan kasar. Tarikan itu membuat kulit kepalanya terasa robek. Ia sampai terengah, napasnya sesak, dan kulit kepalanya terasa basah.
Beberapa bangsawan yang lewat sampai berhenti melihat keributan itu, tapi mereka tak mau ikut campur. Tak ada satupun yang berani mendekati putri Grand Duke yang sedang mengamuk.
“Lihat dirimu, Lucy,” ucap Seraphine tajam, ia menunduk sedikit, suaranya terdengar rendah penuh racun. “Seperti inilah akibatnya jika kau lupa diri dan melawan keluarga Grand Duke.”
Lucy menunduk, jemarinya gemetar saat menyentuh rambutnya sendiri. Saat ditarik kembali, ujung jarinya basah oleh darah.
Di sekeliling mereka, orang-orang hanya menonton. Tak ada satu pun yang bergerak. Tak ada satu pun yang menghentikan.
Untuk sesaat, Lucy berharap, seseorang saja datang dan menolongnya.
Hingga akhirnya, sebuah suara menghentikan semuanya.
“Apa yang sedang terjadi di sini?”
Lucy menegang di tempat, jantungnya seperti berhenti sesaat.Suara itu… ia sangat mengenalinya.Ia menoleh perlahan, tubuhnya seketika lemas saat melihat sosok yang ia takutkan terlihat nyata di hadapannya. Perempuan berambut perak itu tampak terkejut, sebelum senyum manis yang penuh racun menyusup ke wajahnya, seolah pertemuan ini adalah kebetulan yang ia nantikan.Seraphine.Beberapa langkah di belakangnya berdiri Eldric, dengan ekspresi terkejut yang cepat disembunyikan di balik sikap bangsawan yang terlatih.Lucy refleks menarik napas. Tangannya tanpa sadar mengepal di sisi tubuh.“Seraphine…” ucapnya pelan, nyaris tak terdengar di tengah riuh pasar.Namun Seraphine tidak langsung menjawabnya. Pandangannya justru tertuju pada sosok di sisi Lucy.Kaelith.Wajah Seraphine berubah seketika. Senyum kecil yang sempat muncul langsung tertahan. Ia segera melangkah maju setengah langkah, lalu menundukkan kepala dengan anggun.“Hormat kepada Yang Mulia Kaisar, Cahaya Agung Velcarion.”Eld
Lucy terdiam cukup lama setelah kalimat itu terucap.Pergi bulan madu…Kata-kata itu terasa ringan di mulut Kaelith, seolah ia hanya menawarkan jalan-jalan di hutan pinus, bukan perjalanan bersama seorang kaisar dan istrinya yang baru saja ia nikahi.Lucy menatapnya ragu. “Bulan madu?” ulangnya pelan, seakan memastikan ia tidak salah dengar.Kaelith mengangguk kecil. “Ya.”Nada suaranya datar, tapi matanya tidak. Sorot matanya terlihat seperti… penawaran yang sungguh-sungguh.“Apa… istana tidak akan keberatan?” tanya Lucy hati-hati. “Maksudku, kau baru saja—”“Seorang kaisar juga butuh liburan,” potong Kaelith tenang. “Dan tidak semua urusan harus kuselesaikan sendiri.”Lucy menunduk. Jarinya meremas gaunnya. Ia tak pernah membayangkan dirinya akan diajak pergi berlibur seperti ini. Setelah semua yang terjadi, setelah kehancuran harga dirinya, setelah pernikahan yang lebih terasa seperti penyelamatan daripada kisah cinta yang romantis.Terlebih, ini bukan hanya pergi berlibur biasa. I
Sylar mengangguk. “Benar, Nyonya.”Lucy melirik sekeliling, lalu kembali menatapnya.Tentu ia mengenal nama Sylar. Salah satu ksatria terkuat yang selalu berada di sisi Kaelith. Pengalaman perangnya tak terhitung, dan posisinya terlalu penting untuk dilepas begitu saja. Namun mengapa Kaelith menugaskan ksatria seperti itu untuk mendampingi Lucy yang… tak terlalu membutuhkannya?“Mengapa Anda… ditugaskan pada saya?” tanyanya hati-hati. “Bukankah biasanya Anda mendampingi Yang Mulia Kaisar?”Sylar tidak langsung menjawab, tapi raut wajahnya tetap tenang. “Atas perintah langsung dari Yang Mulia Kaisar, Nyonya.”Lucy menelan liurnya susah payah. Beberapa kemungkinan sempat terlintas, membuat dadanya sedikit menegang.“Di sini… aman, kan?” tanya Lucy lemah di akhir kalimat.“Tentu, Nyonya,” jawab Sylar tanpa ragu. “Yang Mulia hanya ingin memastikan Anda selalu didampingi.”Lucy mengerjap bingung. “...Didampingi?”“Sebagai istri dari seorang kaisar, Anda berhak memiliki ksatria pengawal sen
Lucy terbangun saat cahaya pagi menyusup tipis dari balik tirai jendela. Untuk sesaat, ia lupa di mana dirinya berada. Langit-langit kamar itu terlalu tinggi, terlalu mewah, tampak begitu asing.Lalu ia teringat.Pernikahan itu. Mansion itu. Dan Kaelith…Ia langsung menoleh ke arah sampingnya. Sisi lain ranjang itu sudah kosong dan dingin.Tatapannya lalu jatuh pada selembar kertas kecil di atas meja samping, dan ia langsung tahu siapa yang meninggalkannya.Ada hal yang harus kuselesaikan. Aku akan segera kembali dan makan malam denganmu. — Kaelith.Tulisan itu singkat, rapi, tanpa embel-embel yang berlebihan.Lucy melipat kertas itu kembali dengan hati-hati, lalu menyimpannya ke laci. Ia pun tak tahu kenapa ia melakukannya. Mungkin karena itu satu-satunya hal sederhana yang terasa… menyenangkan.Tak lama kemudian, ketukan pelan terdengar di pintu.Pelayan wanita yang kemarin diperkenalkan Kaelith masuk dengan langkah hati-hati. Lucy sempat terpaku, sebelum refleks hendak bangkit send
Malam sepenuhnya jatuh saat Lucy berdiri di depan pintu kamar utama.Tangannya terangkat setengah, ragu untuk mengetuk atau tidak. Jantungnya pun berdetak keras, menggema hingga telinga dan nyaris menutupi suara napasnya sendiri.Apakah… kita akan benar-benar melakukannya…Pikiran itu muncul begitu saja, membuat tenggorokannya mengering. Lucy menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, mencoba menenangkan diri. Mereka sudah menikah secara sah di mata dewa. Tidak ada yang salah dengan berada di sini, apalagi jika nantinya harus melakukannya dengan sang suami.Namun tetap saja, rasanya jauh lebih berat dari yang ia duga.Ia menarik napas panjang, sebelum akhirnya mendorong pintu perlahan.Cahaya lampu di dalam menyambutnya lembut. Di sana, Kaelith terlihat bersandar santai di tempat tidur, mengenakan pakaian tidur sederhana berwarna gelap. Sebuah buku terbuka di tangannya, rambut tebalnya terurai, ekspresinya tenang, jauh dari citra kaisar yang selama ini dikenal Lucy.Saat mendengar pintu ter
“Dengan ini, di hadapan Dewa Cahaya dan saksi yang hadir, Yang Mulia Kaisar Kaelith Rhaelis Vortigan del Velcarion dan Lucy Eleonora Mortayne dinyatakan sah sebagai suami dan istri.”Lucy nyaris tak bernapas saat Imam Agung Kekaisaran mengucapkan doa penutup. Cincin di jari manisnya masih terasa dingin, asing, seolah mengingatkan bahwa semua ini nyata.Ia sudah resmi menjadi istri Kaelith.Hari itu, pernikahan mereka berlangsung khidmat di kuil kecil yang cukup jauh dari ibu kota. Tidak ada bangsawan, tidak ada sorak perayaan hadirin tamu, tidak pula saksi yang berlebihan.Hanya ada Imam Agung Kekaisaran yang berdiri di hadapan altar, memastikan ikatan itu sah di mata Dewa Cahaya dan hukum kekaisaran, sebuah ikatan yang tidak dapat diputuskan oleh kuasa manus







