LOGIN“Dengan ini, di hadapan Dewa Cahaya dan saksi yang hadir, Yang Mulia Kaisar Kaelith Rhaelis Vortigan del Velcarion dan Lucy Eleonora Mortayne dinyatakan sah sebagai suami dan istri.”
Lucy nyaris tak bernapas saat Imam Agung Kekaisaran mengucapkan doa penutup. Cincin di jari manisnya masih terasa dingin, asing, seolah mengingatkan bahwa semua ini nyata.
Ia sudah resmi menjadi istri Kaelith.
Hari itu, pernikahan mereka berlangsung khidmat di kuil kecil yang cukup jauh dari ibu kota. Tidak ada bangsawan, tidak ada sorak perayaan hadirin tamu, tidak pula saksi yang berlebihan.
Hanya ada Imam Agung Kekaisaran yang berdiri di hadapan altar, memastikan ikatan itu sah di mata Dewa Cahaya dan hukum kekaisaran, sebuah ikatan yang tidak dapat diputuskan oleh kuasa manusia.
Di sisi Kaelith, Sylar dan Xander berdiri tegak. Wajah mereka terlihat tegang, tapi sorot di mata keduanya menyiratkan kelegaan dan rasa syukur yang tak terucap.
Beberapa langkah di belakang Lucy berdiri seorang pelayan wanita muda yang secara langsung dipilih oleh Kaelith, dan telah bersumpah akan mengabdi pada sang permaisuri yang akan ia layani mulai hari itu.
Dan dari pihak Lucy, hanya ada satu orang yang berdiri di sana.
Leon, adiknya, hadir sebagai wali sekaligus satu-satunya saksi yang ia miliki. Pemuda itu mengenakan pakaian resmi Baron, tangannya mengepal di sisi tubuh, seolah menahan getaran yang menyesakkan dada.
“Pengantin pria,” ucap Imam Agung lagi dengan suara tenang. “Anda boleh mencium istri Anda.”
Lucy menegang seketika.
Ia refleks menoleh, mendapati Kaelith sudah menatapnya. Tatapan tenang, nyaris bukan seperti seorang kaisar kejam yang melekat pada citranya.
Kaelith menatap Lucy dalam, seolah memastikan Lucy benar-benar siap.
“Ini… bukan ciuman pertamamu, bukan?”
Lucy terdiam sesaat. Pipinya menghangat, tapi ia menggeleng pelan. “Aku… tak pernah melakukannya dengan siapapun.”
Kaelith sedikit terkejut, tapi tak lama tatapannya melembut. “Kalau begitu,” katanya pelan. “Betapa beruntungnya aku menjadi yang pertama.”
Satu tangan Kaelith terangkat perlahan menuju pipi, sementara yang lain melingkar mantap di pinggang Lucy. Dalam gerakan ringan, Kaelith menarik Lucy mendekat.
Lalu bibirnya menyentuh lembut bibir Lucy.
Tak ada lumatan, hanya ciuman sopan, terlalu lembut tapi cukup memberikan efek yang hebat di tubuh Lucy.
Begitu Kaelith menarik diri, napas mereka masih berjarak dekat.
“Selesai,” ucap Imam Agung lalu mengangguk singkat.
Tak ada sorak, tak ada tepuk tangan. Semua saksi tetap hening menyaksikan momen sakral itu.
“Apakah…” Lucy berbisik pelan. “Aku sudah menjadi Permaisuri Velcarion?”
Kaelith menggeleng. “Belum resmi. Di mata dunia, aku masih seorang kaisar yang melajang.”
Lucy meringis kecil, jelas lupa dengan fakta bahwa pernikahan mereka masih menjadi rahasia kekaisaran.
Kaelith tersenyum kecil, membubuhkan satu kecupan singkat tambahan di bibir Lucy. “Tapi kau sudah jadi istriku.”
Tak hanya para saksi yang terkejut melihat tingkah sang “kaisar kejam” yang tak biasa, Lucy pun mengerjap bingung, semburat merah perlahan merayap di wajahnya.
Aku… sudah resmi menikah dan menjadi istri Kaelith.
Ia menggigit kecil bibir bawahnya, secuil keraguan terselip di hatinya, tak yakin apakah ia pantas berdiri di samping Kaelith, entah sebagai istri maupun seorang permaisuri ke depannya.
Dan pada akhirnya pernikahan sederhana itu selesai. Keduanya turun altar, menghampiri Leon yang masih terdiam dan tak memberikan reaksi.
Lucy mendekat lebih dulu. “Aku akan baik-baik saja, Leon,” ucapnya pelan, seolah membaca semua kekhawatiran yang tak terucap.
Leon menghela napas, lalu mengangguk singkat. “Kalau kau terluka lagi, bahkan sedikit saja, aku akan datang ke istana.”
Tatapannya beralih pada Kaelith yang sudah berdiri tepat di samping Lucy. “Dan saat itu terjadi, akan kupastikan kepalanya lah yang akan melayang.”
“Leon!”
Namun Kaelith tidak tersinggung. Sama sekali.
Ia justru menatap Leon dengan tenang, seolah ancaman itu bukan ditujukan pada seorang kaisar, melainkan pada seorang pria yang memang pantas diperingatkan.
“Ancaman yang adil,” jawab Kaelith datar. “Dan aku menerimanya.”
Lucy menoleh cepat, kaget. “Yang Mulia—”
Pandangan Kaelith beralih pada Lucy, lalu meraih tangannya dengan gerakan lembut, seolah ia sudah melakukannya berulang kali.
“Saat itu terjadi,” lanjutnya sambil menatap Leon, “Kau tidak perlu datang ke istana. Aku akan memastikan diriku sendiri yang bertanggung jawab.”
Leon terdiam. Ia menatap tangan Lucy yang digenggam Kaelith, lalu menatap wajah kakaknya.
Lucy terlihat… tak seperti bangsawati yang dipaksa menikah, bukan pula seperti wanita yang tertekan. Tentu saja ia terlihat gugup, tapi jiwanya utuh.
“Jaga dirimu, Kak” ucap Leon akhirnya, suaranya lebih pelan. “Dan jangan terlalu percaya pada siapapun. Bahkan padanya.”
Lucy tersenyum kecil. “Akan aku ingat.”
Ia memeluk Leon singkat, seolah takut merusak momen yang rapuh itu. Leon membalasnya sebentar, lalu melepaskannya lebih dulu.
“Pergilah,” katanya. “Sebelum aku berubah pikiran dan merebutmu kembali darinya.”
Kaelith memberi anggukan hormat singkat. Bukan sebagai kaisar, melainkan sebagai suami yang menghargai wali istrinya.
Tangan Lucy melingkar di lengan Kaelith, keduanya berjalan keluar kuil menuju kereta kekaisaran hitam milik Kaelith.
Tak ada rakyat yang bersorak, dan tak ada iring-iringan kekaisaran yang megah. Hanya perjalanan sunyi menuju tempat yang hanya Kaelith ketahui.
Di dalam kereta kekaisaran, suasana terasa tenang, hampir hening.
Lucy duduk berseberangan dengan Kaelith. Matanya tak lepas dari cincin di jari manisnya. Pantulannya memantulkan cahaya samar dari jendela kereta, dan justru dinginnya logam menghangatkan hatinya.
Cincin pernikahan yang simpel, tanpa lambang berlebihan. Namun beratnya terasa nyata, seolah cincin melambangkan janji yang tak bisa dilepaskan.
“Apa kau sekarang sedang menyesali keputusanmu menikah denganku?”
Lucy mengangkat kepala, jelas terkejut. “Apa…?” Namun ia buru-buru menggeleng. “Mana mungkin, Yang Mulia…”
“Jawaban yang cepat,” ujar Kaelith, nada suaranya ringan, tapi sorot matanya serius.
Lucy menatap kembali cincin itu, lalu perlahan mengepalkan jarinya. “Aku hanya… sedang mencoba memahami semuanya,” ucapnya jujur. “Dalam satu hari, aku kehilangan banyak hal. Dan tak lama… aku mendapatkan sesuatu yang besar.”
Kaelith tidak langsung menjawab.
“Jika suatu hari kau merasa ingin mundur,” ucapnya akhirnya, “Katakan padaku. Aku tidak akan mengikatmu dengan kebohongan.”
Lucy menatapnya lama, lalu tersenyum kecil. “Kalau begitu… jangan lepaskan aku lebih dulu.”
Kaelith menahan senyum tipis.
Beberapa jam kemudian, mereka tiba di sebuah mansion batu yang tersembunyi di balik hutan pinus. Bangunannya sederhana untuk ukuran milik seorang kaisar, tapi kokoh dan sunyi.
Semua lokasi terlihat aman, tidak ada lambang kekaisaran mencolok dan penjagaan yang berlebihan.
Lucy sempat terpana sesaat.
Kaelith memperhatikannya dari belakang. “Kau menyukainya?”
Lucy menoleh, lalu mengangguk pelan. “Iya, Yang Mulia,” jawabnya jujur. “Tempat ini… menakjubkan, dan juga aman”
Kaelith tersenyum tipis. Senyum kecil yang jarang ia perlihatkan pada siapa pun. “Itu memang tujuannya.”
Lucy baru menyadari keberadaan Sylar dan Xander yang berdiri tak jauh di belakang Kaelith, bersama seorang pelayan wanita muda yang wajahnya asing. Ketiganya terlihat tenang, dan kepalanya sedikit menunduk penuh hormat.
Lucy menyadari ada kemiripan samar di fitur wajah mereka, seperti berasal dari keluarga yang sama.
Lucy melirik mereka sejenak, lalu kembali menatap Kaelith. “Apakah…” Ia ragu sejenak sebelum melanjutkan, “Kita akan tinggal di sini?”
“Ya,” jawab Kaelith tanpa ragu. “Untuk sementara.”
Ia melangkah mendekat, suaranya direndahkan, seolah hanya untuk Lucy. “Kau akan tinggal di sini, bukan di istana.”
Ada jeda singkat, cukup lama untuk membuat Lucy menahan napas.
“Aku akan beberapa kali mengunjungimu,” lanjut Kaelith. “Tempat ini lebih aman, daripada istanaku sendiri.”
Lucy mengangguk pelan. Ada rasa lega yang merayap di dadanya.
Jauh dari istana… itu berarti jauh dari bisik-bisik bangsawan, tatapan penuh penilaian, juga dari masa lalu yang meninggalkan luka menganga.
“Aku mengerti,” ucap Lucy akhirnya.
Kaelith menoleh memberi isyarat singkat. Pelayan wanita itu segera melangkah maju dan membungkuk hormat pada Lucy, lalu memberi isyarat halus ke arah dalam mansion.
“Beristirahatlah,” kata Kaelith sebelum berpisah. “Lalu bersiaplah. Setelah itu… temui aku di kamar utama.”
Lucy ragu sejenak. “Untuk… apa?”
Kaelith menatapnya dengan senyum kecil yang tak sepenuhnya bisa ditebak.
“Apa lagi?” katanya pelan. “Tentu saja untuk malam pertama kita sebagai suami istri.”
Lucy menegang di tempat, jantungnya seperti berhenti sesaat.Suara itu… ia sangat mengenalinya.Ia menoleh perlahan, tubuhnya seketika lemas saat melihat sosok yang ia takutkan terlihat nyata di hadapannya. Perempuan berambut perak itu tampak terkejut, sebelum senyum manis yang penuh racun menyusup ke wajahnya, seolah pertemuan ini adalah kebetulan yang ia nantikan.Seraphine.Beberapa langkah di belakangnya berdiri Eldric, dengan ekspresi terkejut yang cepat disembunyikan di balik sikap bangsawan yang terlatih.Lucy refleks menarik napas. Tangannya tanpa sadar mengepal di sisi tubuh.“Seraphine…” ucapnya pelan, nyaris tak terdengar di tengah riuh pasar.Namun Seraphine tidak langsung menjawabnya. Pandangannya justru tertuju pada sosok di sisi Lucy.Kaelith.Wajah Seraphine berubah seketika. Senyum kecil yang sempat muncul langsung tertahan. Ia segera melangkah maju setengah langkah, lalu menundukkan kepala dengan anggun.“Hormat kepada Yang Mulia Kaisar, Cahaya Agung Velcarion.”Eld
Lucy terdiam cukup lama setelah kalimat itu terucap.Pergi bulan madu…Kata-kata itu terasa ringan di mulut Kaelith, seolah ia hanya menawarkan jalan-jalan di hutan pinus, bukan perjalanan bersama seorang kaisar dan istrinya yang baru saja ia nikahi.Lucy menatapnya ragu. “Bulan madu?” ulangnya pelan, seakan memastikan ia tidak salah dengar.Kaelith mengangguk kecil. “Ya.”Nada suaranya datar, tapi matanya tidak. Sorot matanya terlihat seperti… penawaran yang sungguh-sungguh.“Apa… istana tidak akan keberatan?” tanya Lucy hati-hati. “Maksudku, kau baru saja—”“Seorang kaisar juga butuh liburan,” potong Kaelith tenang. “Dan tidak semua urusan harus kuselesaikan sendiri.”Lucy menunduk. Jarinya meremas gaunnya. Ia tak pernah membayangkan dirinya akan diajak pergi berlibur seperti ini. Setelah semua yang terjadi, setelah kehancuran harga dirinya, setelah pernikahan yang lebih terasa seperti penyelamatan daripada kisah cinta yang romantis.Terlebih, ini bukan hanya pergi berlibur biasa. I
Sylar mengangguk. “Benar, Nyonya.”Lucy melirik sekeliling, lalu kembali menatapnya.Tentu ia mengenal nama Sylar. Salah satu ksatria terkuat yang selalu berada di sisi Kaelith. Pengalaman perangnya tak terhitung, dan posisinya terlalu penting untuk dilepas begitu saja. Namun mengapa Kaelith menugaskan ksatria seperti itu untuk mendampingi Lucy yang… tak terlalu membutuhkannya?“Mengapa Anda… ditugaskan pada saya?” tanyanya hati-hati. “Bukankah biasanya Anda mendampingi Yang Mulia Kaisar?”Sylar tidak langsung menjawab, tapi raut wajahnya tetap tenang. “Atas perintah langsung dari Yang Mulia Kaisar, Nyonya.”Lucy menelan liurnya susah payah. Beberapa kemungkinan sempat terlintas, membuat dadanya sedikit menegang.“Di sini… aman, kan?” tanya Lucy lemah di akhir kalimat.“Tentu, Nyonya,” jawab Sylar tanpa ragu. “Yang Mulia hanya ingin memastikan Anda selalu didampingi.”Lucy mengerjap bingung. “...Didampingi?”“Sebagai istri dari seorang kaisar, Anda berhak memiliki ksatria pengawal sen
Lucy terbangun saat cahaya pagi menyusup tipis dari balik tirai jendela. Untuk sesaat, ia lupa di mana dirinya berada. Langit-langit kamar itu terlalu tinggi, terlalu mewah, tampak begitu asing.Lalu ia teringat.Pernikahan itu. Mansion itu. Dan Kaelith…Ia langsung menoleh ke arah sampingnya. Sisi lain ranjang itu sudah kosong dan dingin.Tatapannya lalu jatuh pada selembar kertas kecil di atas meja samping, dan ia langsung tahu siapa yang meninggalkannya.Ada hal yang harus kuselesaikan. Aku akan segera kembali dan makan malam denganmu. — Kaelith.Tulisan itu singkat, rapi, tanpa embel-embel yang berlebihan.Lucy melipat kertas itu kembali dengan hati-hati, lalu menyimpannya ke laci. Ia pun tak tahu kenapa ia melakukannya. Mungkin karena itu satu-satunya hal sederhana yang terasa… menyenangkan.Tak lama kemudian, ketukan pelan terdengar di pintu.Pelayan wanita yang kemarin diperkenalkan Kaelith masuk dengan langkah hati-hati. Lucy sempat terpaku, sebelum refleks hendak bangkit send
Malam sepenuhnya jatuh saat Lucy berdiri di depan pintu kamar utama.Tangannya terangkat setengah, ragu untuk mengetuk atau tidak. Jantungnya pun berdetak keras, menggema hingga telinga dan nyaris menutupi suara napasnya sendiri.Apakah… kita akan benar-benar melakukannya…Pikiran itu muncul begitu saja, membuat tenggorokannya mengering. Lucy menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, mencoba menenangkan diri. Mereka sudah menikah secara sah di mata dewa. Tidak ada yang salah dengan berada di sini, apalagi jika nantinya harus melakukannya dengan sang suami.Namun tetap saja, rasanya jauh lebih berat dari yang ia duga.Ia menarik napas panjang, sebelum akhirnya mendorong pintu perlahan.Cahaya lampu di dalam menyambutnya lembut. Di sana, Kaelith terlihat bersandar santai di tempat tidur, mengenakan pakaian tidur sederhana berwarna gelap. Sebuah buku terbuka di tangannya, rambut tebalnya terurai, ekspresinya tenang, jauh dari citra kaisar yang selama ini dikenal Lucy.Saat mendengar pintu ter
“Dengan ini, di hadapan Dewa Cahaya dan saksi yang hadir, Yang Mulia Kaisar Kaelith Rhaelis Vortigan del Velcarion dan Lucy Eleonora Mortayne dinyatakan sah sebagai suami dan istri.”Lucy nyaris tak bernapas saat Imam Agung Kekaisaran mengucapkan doa penutup. Cincin di jari manisnya masih terasa dingin, asing, seolah mengingatkan bahwa semua ini nyata.Ia sudah resmi menjadi istri Kaelith.Hari itu, pernikahan mereka berlangsung khidmat di kuil kecil yang cukup jauh dari ibu kota. Tidak ada bangsawan, tidak ada sorak perayaan hadirin tamu, tidak pula saksi yang berlebihan.Hanya ada Imam Agung Kekaisaran yang berdiri di hadapan altar, memastikan ikatan itu sah di mata Dewa Cahaya dan hukum kekaisaran, sebuah ikatan yang tidak dapat diputuskan oleh kuasa manus







