Share

6. Kunjungan Kaisar

Author: ICARUS
last update Last Updated: 2025-12-15 15:56:38

“Terima kasih sudah menerima kedatanganku.” 

Lucy dan Leon menunduk bersamaan, menyambut kedatangan Kaisar Kaelith di kediaman kakak beradik itu.

Setelah percakapan malam itu, Lucy tak menunggu lama. Esok paginya, ia segera memberi kabar pada Kaelith bahwa Leon sudah “memberi restu”.

Namun tentu saja Kaelith harus datang sendiri dan memberitahu tujuannya.

Dan hari itu, mereka bertiga bertemu di aula teh kediaman Baron Mortayne. Hanya ada mereka bertiga dan kedua pengawal Kaelith yang berjaga di luar pintu.

Sebelum datang, Kaelith sempat meminta agar Lucy meliburkan semua pelayang yang ada di kediaman Baron Mortayne. Tentu saja permintaan itu membuat sang kepala keluarga bingung.

Dan kebingungannya terjawab saat melihat pria yang dimaksud adalah Kaelith, teman masa kecil sang kakak sekaligus penguasa kejam di kekaisaran Velcarion.

“Kau pasti sudah dengar maksud kedatanganku hari ini apa, Baron Mortayne,” lanjut Kaelith setelah dipersilakan duduk, suaranya terdengar tenang sekaligus tegas.

Leon tidak langsung menjawab. Ia duduk tegak, dan wajahnya terlihat jauh lebih serius dari biasanya.

Apalagi, di hadapannya sekarang duduk seorang kaisar. Fakta bahwa pria penguasa kekaisaran datang terang-terangan untuk meminta restunya.

“Saya sudah mendengarnya dari kakak saya,” jawab Leon akhirnya. “Namun, saya ingin mendengarnya langsung dari Yang Mulia.”

Lucy menoleh sekilas ke arah adiknya. Ada ketegangan yang tak bisa disembunyikannya. Meski Leon sudah resmi mendapat gelar Baron, tapi di mata Lucy, pemuda itu masih menjadi adik kecilnya.

Ia menoleh lagi menatap Kaelith, sedikit penasaran dengan apa yang akan dikatakan pria itu pada adiknya.

Dengan postur santai dan punggung bersandar ringan di kursi, Kaelith berucap dengan tegas, 

“Aku datang meminta restu untuk menikahi kakakmu.”

Lalu hening.

Lucy menunduk, jemarinya saling meremas di pangkuan. Mendengar kata menikah secara langsung membuat jantungnya berdetak tak karuan, terlebih saat diucapkan di hadapan adiknya sendiri.

Ia mendengar Leon menarik napas dalam. “Saya perlu tahu alasannya,” ucapnya pelan. “Kenapa Yang Mulia Kaisar, seorang penguasa di Kekaisaran Velcarion yang Agung ini ingin menikah dengan kakak saya yang hanya berasal… dari keluarga Baron rendahan.”

Tatapan Kaelith masih terpaku pada Leon, tenang dan tidak tersinggung sedikitpun. “Karena aku menginginkannya.”

Jawaban singkat itu membuat Leon mengernyit, jelas tidak puas dengan jawaban itu.

“Itu bukan jawaban yang cukup untuk menyerahkan kakak saya pada seorang kaisar,” ucapnya tegas. “Terlebih setelah apa yang terjadi padanya.”

Lucy refleks mengangkat wajahnya, hendak menyela sikap adiknya yang sudah kelewatan. Bagaimanapun, yang sedang ia hadapi adalah seorang kaisar. Ia bisa saja ditebas di tempat jika ucapannya menyinggung sang kaisar.

Namun, belum sempat menyela, Kaelith sudah lebih dulu berbicara.

“Aku sudah menunggu lama,” ucapnya. Suaranya tetap datar, tapi ada sesuatu yang lebih dalam dari yang terdengar. “Kesempatan ini… tidak datang begitu saja.”

Lucy tertegun mendengar pernyataan Kaelith.

Apa... maksudnya Kaelith?

Sementara Leon menatap Kaelith lebih tajam.

“Menunggu?”

Kaelith tersenyum samar, sebelum kembali berucap, “Aku sudah menunggunya lama, sejak kami masih kecil.”

Lucy menahan napas. Jika ini hanya sandiwara… Kaelith sudah berlebihan. Namun entah mengapa, sorot matanya terlalu jujur, seperti tak dibuat-buat.

“Saat itu, aku hanya pangeran kedua yang tidak memiliki banyak pilihan selain mengabdi pada kekaisaran.”

Tatapannya beralih pada Lucy sesaat, sebelum kembali pada Leon.

“Dan ketika aku tahu pertunangannya gagal,” ucapnya, “Aku tidak melihatnya sebagai kesempatan semata. Aku melihat sebagai titik di mana aku akhirnya bisa bergerak dan meraihnya.”

Leon menyandarkan punggungnya ke kursi, mencoba mencerna setiap kata yang terucap oleh Kaelith. “Jadi, Yang Mulia datang bukan karena kasihan?”

“Tentu bukan,” jawab Kaelith tanpa ragu. 

“Apakah Anda benar-benar menyukai kakak saya?” tanya Leon lagi, kali ini lebih tajam.

Kaelith tidak langsung menjawab. Ia menarik napas pelan, seolah menimbang sesuatu yang tidak perlu diucapkan terlalu jauh.

“Karena aku memilihnya,” katanya akhirnya. “Dan aku tidak terbiasa memilih sesuatu yang tidak bisa kupastikan.”

Dan kemudian hening lagi.

Lucy merasakan jantungnya berdetak lebih cepat. Ada bagian dari dirinya yang ingin menyangkal, ingin mengatakan bahwa ini terlalu berlebihan dan berisiko. 

Namun ada pula bagian lain yang diam-diam merasa… dipilih.

Leon mengusap wajahnya dengan satu tangan. “Jika ini tentang politik—”

“Ini bukan aliansi politik,” potong Kaelith. “Dan untuk saat ini, pernikahan ini akan bersifat rahasia.”

Lucy tersentak. Leon mengangkat kepalanya perlahan, ada sorot tajam samar di matanya saat mendengar kalimat itu.

“Rahasia…?” cicit Leon pelan, tangannya mengepal di atas pangkuannya.

Kaelith mengangguk.  “Ada beberapa hal yang harus aku selesaikan terlebih dahulu.”

“Apa maksud Anda, Yang Mulia?”

“Kau tahu, Baron Mortayne, aku naik takhta dengan kudeta,” ucap Kaelith tenang. “Aku membunuh seluruh keluargaku dan melawan bangsawan yang mengkhianati kekaisaran.”

Leon terdiam, menunggu.

“Musuhku tidak hanya berasal dari luar istanaku dan Kekaisaran Velcarion,” lanjut Kaelith. “Mereka yang masih hidup dengan tenang di istana mereka… juga musuhku.”

Leon masih tak bersuara. Kalimat itu terdengar serius untuk disebut manipulasi.

Setelah terdiam cukup lama, Leon akhirnya kembali bersuara,

“Bagaimana jika…” ucap Leon akhirnya. “Saya memberi syarat bahwa Yang Mulia tidak boleh memiliki selir jika ingin menikahi kakak saya?”

Lucy menoleh cepat mendengar perkataannya. “Leon!”

Namun tak ada keterkejutan di wajah Kaelith, hanya sudut bibirnya yang naik seperti menahan tawa.

“Permintaan yang berani,” ucapnya akhirnya. “Jika saja kau bukan calon kakak iparku, kepalamu jelas sudah melayang detik ini juga.”

Leon tidak gentar. Punggungnya tetap tegak, dagunya terangkat sedikit. “Saya bukan menantang Yang Mulia,” ucapnya tenang. “Saya hanya memastikan kakak saya tidak kembali menjadi korban.”

Lucy menahan napas. Ia ingin menarik lengan Leon dan menghentikannya. Namun Kaelith justru tersenyum tipis.

“Aku tidak seperti kakakku yang menjijikan,” kata Kaelith, “Kau bisa membunuhku dan naik takhta menggantikanku jika aku mengkhianati kakakmu.”

Ia menggeser posisi duduknya condong sedikit ke depan.

“Aku tidak berencana mengambil selir,” lanjutnya tanpa ragu. “Tidak sekarang, dan tidak juga nanti.”

Lucy membeku mendengar kalimat itu. Kaelith… terdengar serius dengan ucapannya dan itu membuat hatinya menghangat.

Leon pun terdiam sesaat, jelas tidak menyangka jawaban itu akan keluar dengan begitu mudah.

“Sebagai kaisar,” sambung Kaelith, “Aku bisa saja berbohong, memberikan janji kosong, lalu melanggarnya setelah mendapat apa yang kuinginkan.”

Ia berhenti sejenak, lalu menatap Leon lurus. “Tapi aku tidak pernah membangun kekuasaanku dengan janji yang tidak bisa kutepati.”

Keheningan kembali jatuh di aula teh itu.

“Jika aku menikah,” ucap Kaelith lagi, “Maka wanita itu akan berdiri di sisiku. Bukan di belakang, bukan di bawah bayang-bayang selir.”

Lucy merasakan dadanya menghangat. Kata-kata itu terlalu berbahaya untuk didengar, dan ia masih terlalu takut untuk mempercayainya.

Namun ia… ingin percaya pada Kaelith.

Leon menghela napas panjang. “Dan keselamatannya?”

“Akan menjadi tanggung jawabku sepenuhnya,” ucapnya tanpa ragu. “Siapa pun yang menyentuhnya tanpa izinku, berarti menantangku langsung sebagai kaisar.”

Nada suaranya tetap tenang. Justru ketenangan itulah yang membuat ancamannya terasa nyata dan berbahaya.

Namun mendengar itu, Lucy tidak tahu harus merasa lega… atau takut dengan “calon suaminya”.

Leon terdiam cukup lama, lalu bangkit berdiri. Lucy refleks ikut berdiri, panik. Namun Leon tidak menatap Kaelith dengan sorot permusuhan. Ia hanya menatapnya dengan kewaspadaan seorang adik yang terlalu cepat dipaksa tumbuh dewasa.

“Saya tidak bisa memberi jawaban sendiri,” ucap Leon akhirnya. “Bukan untuk hal yang… mendadak seperti ini.”

Kaelith ikut berdiri. “Aku tidak pernah berniat mengambil keputusan itu darimu.”

Leon menoleh ke arah dinding aula, tempat dua lukisan tua tergantung berdampingan. Wajah ayah dan ibu mereka, membeku dalam senyum yang tak lagi bisa menjawab apa pun.

“Kakak saya,” ucap Leon pelan. “Bukan hanya milik saya. Dia milik keluarga kami.”

Leon melangkah menuju figura itu. Lucy dan Kaelith mengikutinya.

Pria itu berdiri di depan figura orang tua mereka, lalu menunduk dalam. Lucy mengikuti, matanya terasa panas.

Adiknya benar, sejak pertunangan itu, semua hal terjadi begitu mendadak. Begitu cepat.

Dan Lucy juga tak menyangka setelah dikhianati sang kekasih, ia akan langsung “dilamar” oleh kaisar.

Lucy menoleh ke arah Kaelith yang berdiri di sisi mereka, lalu tanpa diminta, pria itu ikut menundukkan kepala.

“Saya, Kaelith Vortigan,” ucapnya dengan suara rendah. “Datang bukan sebagai kaisar yang menuntut, tapi sebagai pria yang meminta izin.”

Lucy terkejut. Leon pun perlahan mengangkat wajahnya.

Kaelith menoleh, menatap Lucy yang juga sedang menatapnya. Keduanya saling bertatapan, dan untuk sesaat, sorot dingin yang biasa melekat pada dirinya seketika melunak. Lalu, Kaelith tersenyum tipis.

“Aku tidak bisa menjanjikan hidup yang tenang sebagai istriku,” lanjut Kaelith. “Tapi aku bersumpah, selama aku bernapas, Lucy tidak akan berdiri sendirian lagi.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri Kesayangan Yang Mulia Kaisar Kaelith   12. Reuni

    Lucy menegang di tempat, jantungnya seperti berhenti sesaat.Suara itu… ia sangat mengenalinya.Ia menoleh perlahan, tubuhnya seketika lemas saat melihat sosok yang ia takutkan terlihat nyata di hadapannya. Perempuan berambut perak itu tampak terkejut, sebelum senyum manis yang penuh racun menyusup ke wajahnya, seolah pertemuan ini adalah kebetulan yang ia nantikan.Seraphine.Beberapa langkah di belakangnya berdiri Eldric, dengan ekspresi terkejut yang cepat disembunyikan di balik sikap bangsawan yang terlatih.Lucy refleks menarik napas. Tangannya tanpa sadar mengepal di sisi tubuh.“Seraphine…” ucapnya pelan, nyaris tak terdengar di tengah riuh pasar.Namun Seraphine tidak langsung menjawabnya. Pandangannya justru tertuju pada sosok di sisi Lucy.Kaelith.Wajah Seraphine berubah seketika. Senyum kecil yang sempat muncul langsung tertahan. Ia segera melangkah maju setengah langkah, lalu menundukkan kepala dengan anggun.“Hormat kepada Yang Mulia Kaisar, Cahaya Agung Velcarion.”Eld

  • Istri Kesayangan Yang Mulia Kaisar Kaelith   11. Bulan Madu

    Lucy terdiam cukup lama setelah kalimat itu terucap.Pergi bulan madu…Kata-kata itu terasa ringan di mulut Kaelith, seolah ia hanya menawarkan jalan-jalan di hutan pinus, bukan perjalanan bersama seorang kaisar dan istrinya yang baru saja ia nikahi.Lucy menatapnya ragu. “Bulan madu?” ulangnya pelan, seakan memastikan ia tidak salah dengar.Kaelith mengangguk kecil. “Ya.”Nada suaranya datar, tapi matanya tidak. Sorot matanya terlihat seperti… penawaran yang sungguh-sungguh.“Apa… istana tidak akan keberatan?” tanya Lucy hati-hati. “Maksudku, kau baru saja—”“Seorang kaisar juga butuh liburan,” potong Kaelith tenang. “Dan tidak semua urusan harus kuselesaikan sendiri.”Lucy menunduk. Jarinya meremas gaunnya. Ia tak pernah membayangkan dirinya akan diajak pergi berlibur seperti ini. Setelah semua yang terjadi, setelah kehancuran harga dirinya, setelah pernikahan yang lebih terasa seperti penyelamatan daripada kisah cinta yang romantis.Terlebih, ini bukan hanya pergi berlibur biasa. I

  • Istri Kesayangan Yang Mulia Kaisar Kaelith   10. Apakah Kau Ingin Pergi Bulan Madu?

    Sylar mengangguk. “Benar, Nyonya.”Lucy melirik sekeliling, lalu kembali menatapnya.Tentu ia mengenal nama Sylar. Salah satu ksatria terkuat yang selalu berada di sisi Kaelith. Pengalaman perangnya tak terhitung, dan posisinya terlalu penting untuk dilepas begitu saja. Namun mengapa Kaelith menugaskan ksatria seperti itu untuk mendampingi Lucy yang… tak terlalu membutuhkannya?“Mengapa Anda… ditugaskan pada saya?” tanyanya hati-hati. “Bukankah biasanya Anda mendampingi Yang Mulia Kaisar?”Sylar tidak langsung menjawab, tapi raut wajahnya tetap tenang. “Atas perintah langsung dari Yang Mulia Kaisar, Nyonya.”Lucy menelan liurnya susah payah. Beberapa kemungkinan sempat terlintas, membuat dadanya sedikit menegang.“Di sini… aman, kan?” tanya Lucy lemah di akhir kalimat.“Tentu, Nyonya,” jawab Sylar tanpa ragu. “Yang Mulia hanya ingin memastikan Anda selalu didampingi.”Lucy mengerjap bingung. “...Didampingi?”“Sebagai istri dari seorang kaisar, Anda berhak memiliki ksatria pengawal sen

  • Istri Kesayangan Yang Mulia Kaisar Kaelith   9. Ksatria Pengawal

    Lucy terbangun saat cahaya pagi menyusup tipis dari balik tirai jendela. Untuk sesaat, ia lupa di mana dirinya berada. Langit-langit kamar itu terlalu tinggi, terlalu mewah, tampak begitu asing.Lalu ia teringat.Pernikahan itu. Mansion itu. Dan Kaelith…Ia langsung menoleh ke arah sampingnya. Sisi lain ranjang itu sudah kosong dan dingin.Tatapannya lalu jatuh pada selembar kertas kecil di atas meja samping, dan ia langsung tahu siapa yang meninggalkannya.Ada hal yang harus kuselesaikan. Aku akan segera kembali dan makan malam denganmu. — Kaelith.Tulisan itu singkat, rapi, tanpa embel-embel yang berlebihan.Lucy melipat kertas itu kembali dengan hati-hati, lalu menyimpannya ke laci. Ia pun tak tahu kenapa ia melakukannya. Mungkin karena itu satu-satunya hal sederhana yang terasa… menyenangkan.Tak lama kemudian, ketukan pelan terdengar di pintu.Pelayan wanita yang kemarin diperkenalkan Kaelith masuk dengan langkah hati-hati. Lucy sempat terpaku, sebelum refleks hendak bangkit send

  • Istri Kesayangan Yang Mulia Kaisar Kaelith   8. Malam Pertama

    Malam sepenuhnya jatuh saat Lucy berdiri di depan pintu kamar utama.Tangannya terangkat setengah, ragu untuk mengetuk atau tidak. Jantungnya pun berdetak keras, menggema hingga telinga dan nyaris menutupi suara napasnya sendiri.Apakah… kita akan benar-benar melakukannya…Pikiran itu muncul begitu saja, membuat tenggorokannya mengering. Lucy menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, mencoba menenangkan diri. Mereka sudah menikah secara sah di mata dewa. Tidak ada yang salah dengan berada di sini, apalagi jika nantinya harus melakukannya dengan sang suami.Namun tetap saja, rasanya jauh lebih berat dari yang ia duga.Ia menarik napas panjang, sebelum akhirnya mendorong pintu perlahan.Cahaya lampu di dalam menyambutnya lembut. Di sana, Kaelith terlihat bersandar santai di tempat tidur, mengenakan pakaian tidur sederhana berwarna gelap. Sebuah buku terbuka di tangannya, rambut tebalnya terurai, ekspresinya tenang, jauh dari citra kaisar yang selama ini dikenal Lucy.Saat mendengar pintu ter

  • Istri Kesayangan Yang Mulia Kaisar Kaelith   7. Pernikahan Rahasia Velcarion

    “Dengan ini, di hadapan Dewa Cahaya dan saksi yang hadir, Yang Mulia Kaisar Kaelith Rhaelis Vortigan del Velcarion dan Lucy Eleonora Mortayne dinyatakan sah sebagai suami dan istri.”Lucy nyaris tak bernapas saat Imam Agung Kekaisaran mengucapkan doa penutup. Cincin di jari manisnya masih terasa dingin, asing, seolah mengingatkan bahwa semua ini nyata.Ia sudah resmi menjadi istri Kaelith.Hari itu, pernikahan mereka berlangsung khidmat di kuil kecil yang cukup jauh dari ibu kota. Tidak ada bangsawan, tidak ada sorak perayaan hadirin tamu, tidak pula saksi yang berlebihan.Hanya ada Imam Agung Kekaisaran yang berdiri di hadapan altar, memastikan ikatan itu sah di mata Dewa Cahaya dan hukum kekaisaran, sebuah ikatan yang tidak dapat diputuskan oleh kuasa manus

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status