LOGIN
'Menikahimu? Apa kamu pikir aku bodoh?'
'Aku tidak pernah mencintaimu, aku hanya memanfaatkanmu agar bisa mencapai tujuanku. Sekarang aku sudah naik jabatan menjadi seorang manager, jadi aku tidak membutuhkanmu lagi. Baguslah kalau kamu tahu, aku tidak perlu capek-capek menjelaskan.'
Tangan kanan Kiandra Shaylin menekan dadanya kuat-kuat ketika kalimat yang diucapkan mantan kekasihnya terus terngiang jelas di kepalanya.
Beberapa saat lalu, dia memergoki kekasihnya berselingkuh.
Lebih parahnya, selingkuhan Julian adalah Kanaya–teman sekolah Kian. Teman yang tahu susah dan senangnya Kian, teman yang tahu bagaimana perjuangan Kian selama ini. Kini mengkhianatinya.
Miris!
Senyum getir berhias di wajahnya mengiringi langkah kakinya yang diseret paksa saat menyusuri jalanan yang Kian lewati. Gadis berusia dua puluh tujuh tahun itu akhirnya menghentikan langkah tepat di tepi pembatas jembatan. Dia berdiri diam menghadap pembatas jembatan, tatapannya kini tertuju ke sungai besar yang cukup dalam.
Tatapan Kian begitu sendu saat bibir mungilnya bergerak pelan. “Ternyata, selama ini kamu hanya membodohiku saja.”
Setelahnya senyum Kian berubah begitu getir. Kian menarik napas dalam-dalam, sedikit menengadahkan wajah, membiarkan bias cahaya menyilaukan matanya. Dia terus mempertahankan posisinya untuk menghentikan air mata yang siap mengalir dari pelupuk matanya. Walau apa yang dilakukannya sia-sia. Buliran bening itu tetap menetes perlahan membasahi wajahnya.
Bodoh!
Selama ini, Kian bekerja paruh waktu tak hanya satu pekerjaan tanpa lelah untuk membantu biaya Julian melanjutkan kuliah agar bisa dipromosikan untuk naik jabatan di perusahaan tempat Julian bekerja.
Dia dan Julian pernah berjanji akan menikah setelah Julian mendapatkan jabatan manager di perusahaan besar di pusat kota.
Namun hari ini, Kian menelan kenyataan pahit. Dia mendatangi rumah Julian untuk membahas kelanjutan rencana pernikahan mereka yang sudah diatur sebelumnya, tapi malah perselingkuhan kekasih dan sahabatnya yang harus disaksikannya.
Dan tadi, dengan tenang Kanaya berucap, “Maaf, Kian. Kami selama ini memang saling mencintai. Tapi Julian terlalu berhati lembut hingga tak tega jujur padamu soal hubungan kami.”
Munafik! Bibir Kanaya memang sangat manis dalam berucap, sampai-sampai membuat Kian percaya jika Kanaya adalah teman terbaiknya, padahal faktanya Kanaya adalah musuh dalam selimut.
Tadi, saat tangan Kian begitu gatal ingin meremas mulut Kanaya, Julian menghalanginya dengan berucap, “Kanaya tidak bersalah. Kamu yang terlalu berharap padaku, membuatku jadi tidak bisa menolakmu.”
Kian meremat udara di depan wajahnya, geram bercampur sakit rasanya meremas dadanya.
“Bodoh, memang benar aku yang bodoh. Bagaimana bisa aku tidak menyadari hubungan mereka dan bisa-bisanya aku menganggap mereka lebih dari apa pun dalam hidupku?!”
Ingin rasanya dia berteriak keras, tapi sesak yang menekan dadanya, membuat Kian hanya bisa menghela napas berat.
Kian menyeka air mata yang terus menetes begitu saja dari pelupuk mata, senyumnya begitu getir di wajahnya. Sekuat apa pun dia menahan sakitnya, tapi tetap saja terasa, perih.
Kian menatap arus sungai yang ada di bawah jembatan. Jika dia lompat? Apa dia bisa terbawa arus lalu menyusul kedua orang tuanya?
Lagi-lagi Kian tersenyum getir, jantungnya seperti diremas kuat begitu nyeri. Saat kedua tangannya memegang pegangan jembatan yang hanya setinggi batas pahanya, Kian terkejut saat mendengar suara decit ban begitu memekakkan telinga.
Kepalanya menoleh ke arah samping, bola mata Kian membulat lebar melihat sebuah mobil melesat cepat ke arahnya.
Namun, sebelum mobil itu mencapai di tempat Kian berdiri, mobil itu sudah terbanting ke kiri sebelum menabrak pembatas jembatan dengan sangat keras dan akhirnya masuk ke dalam sungai.
“Ya Tuhan!” pekik Kian sangat syok.
Kian melongok ke bawah, melihat mobil yang ada di bawah sana perlahan tenggelam.
“Ah … aku berpikir untuk bunuh diri, tapi aku bisa berenang dan sekarang malah ada orang bodoh mengemudi ugal-ugalan dan masuk sungai!” geram Kian karena panik.
Tanpa pikir panjang, Kian terjun dalam sekali lompatan masuk ke dalam sungai. Kian masuk ke dalam air, mengimbangi gerak mobil yang perlahan tertelan pelan oleh dalamnya sungai itu.
Saat Kian terus berenang ke bawah hingga sejajar dengan bagian depan mobil, tatapannya tertuju pada sosok pria yang memejamkan mata duduk di belakang stir mobil.
‘Tampan sekali,’ batin Kian menatap pria yang tak sadarkan diri dan terjebak di dalam mobil yang terus tenggelam menuju dasar sungai.
Kian berenang lebih dekat. Melihat kaca jendela di pintu yang tidak tertutup sempurna, memberikan kesempatan untuk Kian menyelamatkan pria di dalam mobil.
Mencoba memasukkan satu tangan ke dalam, Kian berhasil menekan tombol untuk membuka pintu mobil itu. Dengan udara yang mulai menipis di paru-paru, Kian membuka pintu tepat saat mobil menyentuh dasar sungai.
Saat akan membangunkan pria di dalam mobil, Kian sangat terkejut melihat darah mulai menyatu dengan air sungai. Hampir saja Kian kehilangan keseimbangan dan napasnya karena tersentak, dia bisa menguasai diri, lalu bergegas melepas sabuk pengaman yang menyilang di depan dada pria ini.
‘Dia berat sekali,’ batin Kian saat sudah merangkul lengan pria yang ditolongnya.
Dia berenang dengan satu tangan, sekuat tenaga membawa pria yang tak dikenalnya ini untuk naik ke permukaan.
Begitu mereka sampai di permukaan. Kian masih harus bekerja keras menarik tubuh pria ini ke tepi. Dengan napas terengah, Kian berhasil membaringkan pria ini di rerumputan.
“Aku sudah menyelamatkanmu, jangan bilang aku harus membuat napas buatan juga,” gerutu Kian masih dengan napas tersengal sambil duduk memulihkan tenaganya, tatapannya tertuju ke pria muda yang ditolongnya.
Beruntung, pria itu tiba-tiba terbatuk-batuk. Mengeluarkan air dari mulut, hingga akhirnya kelopak mata pria itu sedikit terbuka.
Kian membuang napas lega. Dia mendekat pelan ke pria ini, menatap pria yang ternyata terluka di bagian perut sebelum dia bertanya, “Siapa namamu?”
“Arthur.”
Suara berat itu meluncur dari bibir pria bernama Arthur ini.
“Baiklah, Arthur. Aku akan membawamu ke rumah sakit. Tunggu di sini, aku akan mencari bantuan.”
Kian bersiap berdiri, tapi pergelangan tangannya ditahan oleh Arthur, membuat Kian menatap bingung ke pria ini.
“Ja-ngan ke ru-mah sa-kit.”
“Apa?” Kian tidak bisa mendengar jelas suara terbata Arthur, sebelum dia bisa mengonfirmasi apa yang didengarnya, pria ini sudah tidak sadarkan diri.
“Hei, bangun. Jangan pingsan! Arthur!” Kian mencoba membangunkan Arthur, tapi sia-sia.
Menatap panik pada Arthur, Kian meneguk ludah kasar dan kebingungan.
“Bagaimana ini? Aku harus membawanya ke mana?”
Kian tertunduk ragu. Dia menoleh pada Arthur dan melihat tatapan penuh harap dari suaminya.Kian menarik napas dalam-dalam. Dia memang bertindak gegabah karena sakit hati mengetahui pelaku tabrak lari yang selama ini dia cari, kini juga membencinya.“Aku akan berusaha, Kek.” Senyum Kian terangkat lebar saat Arron memandangnya. Dia lalu menoleh pada Arthur, tatapannya penuh rasa bersalah karena sempat terprovokasi berita yang belum jelas kepastiannya.“Maafkan aku yang sudah marah tanpa mendengarkan penjelasanmu.”Arthur sangat lega mendengar ucapan Kian. “Tidak perlu minta maaf, Ki. Yang terpenting sekarang, kita mencari tahu siapa yang mengirimimu informasi itu, sehingga kita bisa mengambil sikap yang benar.”Kian mengangguk pelan.Saat itu, ponsel Arthur berdering. Dia melihat nama Kendrick terpampang di layar.“Halo, bagaimana?” Arthur langsung bicara begitu ponsel menyentuh telinga.
Arron diam beberapa saat mendengar apa yang Arthur katakan. Napasnya berembus pelan, dia menatap sang cucu lagi. “Apa yang mau kamu bahas?”“Soal semua perbuatan Oliver padaku selama ini. Mungkin sudah waktunya Kakek tahu, setelah aku mencoba menahan diri untuk tidak memedulikan semua kelakuannya demi nama baik Hadwin.”Arron melihat sorot mata Arthur yang penuh kilatan amarah.Arthur mulai menjelaskan, dari beberapa kasus kecelakaan yang menimpanya, sampai dia diserang orang tak dikenal dan hampir mati tenggelam setelah tertusuk, Arthur tidak meninggalkan satu detail pun kejadian yang sudah dialaminya karena kelakuan Oliver.“Aku diam selama ini karena tidak mau memicu keributan. Oliver tak sekali dua kali berusaha membunuhku. Dan, Kian bisa menjadi salah satu saksi, kalau aku pernah terluka dan hampir mati tenggelam.” Arthur menoleh pada Kian setelah selesai bicara.Kian menyadari semua tatapan tertuju padanya. Akhirnya dia ikut bicara. “Soal Arthur terjebak di dalam mobil yang masu
Arthur mendekat pada Kian. Dia mencoba kembali membujuk. “Aku benar-benar bisa menjelaskan semuanya, Ki. Kita duduk dulu dan selesaikan semuanya sekarang.”Kian memalingkan muka dari Arthur, dadanya sakit sampai membuatnya tak mampu membendung air matanya.Arron mengembuskan napas kasar. Dia yakin ada kesalahpahaman di antara keduanya sehingga Arthur sampai membujuk seperti ini.“Apa yang Arthur katakan benar. Jika memang Arthur salah, cobalah bicara dulu agar dia bisa memperbaiki kesalahannya.”Kian terdiam beberapa saat sambil menghapus jejak air mata di wajahnya. Demi menghargai Arron, Kian setuju untuk bicara.Arron mengajak Kian dan Arthur ke ruang keluarga. Di sana, Arron menatap bergantian Arthur dan Kian yang hanya diam.“Ada apa? Coba ceritakan dan jangan lari jika ada masalah.” Arthur menoleh pada Kian setelah mendengar ucapan Arron.“Ki, kumohon dengarkan penjelasanku.” Arthur mulai bicara. “Aku benar-benar tidak tahu menahu soal tragedi itu. Waktu itu, Carla memang mendat
Kian duduk di tepian ranjang, sesekali matanya melirik ke jam dinding, memperhatikan sudah berapa lama dia duduk di sana dengan perasaan gelisah.Arthur sudah pergi lebih dari satu jam, tapi belum juga ada kabar dari suaminya ini.Apa Arthur benar-benar akan memutus hubungan dengan Carla? Ataukah Arthur akan sekali lagi mengalah karena rasa bersalah?Kian tidak mengerti, kenapa untuk masalah ini, sulit sekali baginya percaya dengan apa yang Arthur janjikan tadi, mungkin karena sebelumnya Arthur sangat perhatian ke Carla.“Benar, bagaimanapun Carla sebelumnya begitu dekat dengan Arthur. Mungkinkah Arthur akan memaafkannya begitu saja?” Membayangkan pemikirannya sendiri, hati Kian mendadak nyeri. Dia tidak terima jika Arthur membiarkan Carla menginjak harga dirinya sebagai seorang istri.Kian memandangi ponsel di tangan, jempolnya siap menekan nomor Arthur, dia benar-benar tidak bisa tenang.Namun, sebelum jarinya sempat menekan tombol panggil, Kian sudah lebih dulu mendapat sebuah pesa
Arthur benar-benar datang ke rumah keluarga Carla saat siang hari.Dia disambut ibu Carla ketika baru saja akan masuk ke dalam rumah.“Arthur, sudah sangat lama kamu tidak datang main ke sini?”Sambutan ramah dari wanita paruh baya ini, tidak membuat Arthur mengubah sikapnya. Tatapannya masih dingin dengan wajah datarnya.“Di mana Carla?”Arthur bicara dengan nada datar.“Dia ada di kamarnya.”Tanpa menunggu dipersilakan, Arthur masuk ke dalam rumah itu begitu saja.Sedangkan ibu Carla begitu panik karena sikap Arthur yang begitu dingin. Dia ikut masuk karena takut Arthur melakukan sesuatu pada Carla.Tepat sebelum Arthur mencapai kamar Carla, dia sudah lebih dulu melihat Carla yang keluar dari kamar.Carla tersentak melihat kedatangan Arthur, apalagi sorot mata Arthur yang tak biasa.“A-Arthur, kenapa kamu datang ke sini? Apa ada masalah?” Carla bersikap biasa karena kabur sekarang pun percuma.“Apa yang kamu lakukan padaku semalam? Apa kamu sudah merencanakannya dari lama?” Tanpa ba
Arthur membuka mata saat merasakan sesuatu yang menyilaukan matanya. Dia perlahan menatap ke jendela kamar yang sudah terbuka gordennya.Bangun lalu duduk di atas ranjang dengan tubuh yang sangat lemah, Arthur mengusap tengkuknya dengan kasar.“Kenapa sangat lelah sekali?” Arthur bergumam lirih.“Sudah bangun.”Arthur menoleh ke arah suara Kian berasal. Dia melihat Kian yang sedang berjalan menghampiri.“Ternyata sudah pagi? Sejak kapan aku tidur?” Arthur masih menggosok tengkuk yang kaku. Perlahan dia mengangsurkan kedua kaki ke lantai.“Minum jusnya biar segar.” Segelas jus segar Kian ulurkan pada Arthur.Arthur minum lebih dulu, setelah selesai dia menoleh pada Kian yang duduk di sampingnya.“Kenapa aku tidak ingat kalau tidur? Dan, ini sudah pagi?”Melihat kebingungan di wajah suaminya. Kian tersenyum kecil.“Kamu benar-benar tidak ingat dengan kejadian semalam?” Kian memastikan.Arthur menggeleng pelan. Dia diam beberapa saat sebelum kembali menatap Kian.“Seingatku, semalam aku m







