LOGINSelebaran sketsa bayi Kian sudah disebar. Imbalan yang ditawarkan juga tidak sedikit demi bisa menemukan bayi mereka.Sudah dua hari. Tapi belum juga ada kabar.“Apa belum ada yang menghubungi?” Kian gelisah.Arthur menggeleng pelan. “Kita harus tetap bersabar.”Kian menatap pilu. Rasanya sudah sangat lama dia kehilangan bayinya.“Apa dia baik-baik saja? Siapa yang memberinya susu? Apa dia tidur dengan nyenyak?” Mata Kian berkaca-kaca.Arthur langsung memeluk Kian.“Kamu yakin dia baik-baik saja, kan? Maka dia akan baik-baik saja.”Mendengar ucapan Arthur, Kian memejamkan mata. Cairan bening menetes dari matanya.Kian tidak tahu, apakah dia yakin bayinya baik-baik saja. Yang jelas, dia gelisah, takut, dan sedih.Dia tidak bisa tidur dengan lelap, tidak bisa makan dengan lahap. Bagaimana bisa dia tetap baik-baik saja jika tidak tahu di mana bayinya sekarang.Kian berusaha kuat hanya untuk suaminya, memberikan kepercayaan agar suaminya bisa fokus menjadi bayinya.Hari ketiga. Kian suda
Arthur berdiri sambil menatap Dokter yang sedang mengobati jahitan yang kembali terbuka akibat gerakan Kian karena emosi tadi.Arthur melihat tatapan Kian yang kosong. Kondisi Kian saat ini, lebih menyakitkan dari kehilangan bayi mereka.“Pak Arthur, jahitannya sudah dibersihkan dan ditutup ulang.” Dokter menoleh sekilas pada Kian setelah selesai bicara. “Kami ikut turut berduka, semoga bayi kalian segera ditemukan.”Arthur tak membalas perkataan dokter.Tatapan Arthur terus saja tertuju pada Kian.Setelah dokter dan perawat pergi. Arthur mendekati Kian yang hanya diam.Tatapan Kian begitu kosong, terlihat jelas kehampaan dalam sorot matanya.Arthur dengan hati-hati menggenggam telapak tangan Kian, setelah mengecup punggung tangan Kian, Arthur bicara.“Kita pasti akan menemukannya. Kita tidak akan menyerah untuk terus mencarinya.” Suara Arthur sedikit bergetar.Kehilangan bayinya sudah sangat menyakitkan untuk Arthur, ditambah kondisi Kian yang seperti ini membuat dadanya seperti dic
Di luar kamar.Arron menunduk menyembunyikan tangisnya.Hatinya begitu ngilu mendengar teriakan dari Kian.“Tuan.” Malvin hanya bisa diam menatap kepedihan yang juga Arron rasakan.“Kenapa harus begini? Kenapa harus cicitku yang menjadi korban?” Arron tak bisa membendung air matanya.Malvin hanya bisa tertunduk diam. Untuk saat ini, tidak ada satu pun yang tak bersedih.Di dalam kamar.Kian masih terus menangis. Arthur masih terus memeluk, membiarkan tangan Kian memukuli lengannya.“Kembalikan bayiku, aku mau bayiku, Arthur.” Suara Kian mulai memelan, serak karena teriakan yang tak ada hentinya.“Aku janji akan membawanya kembali, Kian. Kumohon sekarang tenangkan dirimu dulu.” Arthur masih belum melepas pelukan.Kini Arthur menundukkan kepala, matanya terpejam menahan air mata yang siap jatuh dari pelupuk matanya.Kian masih sesenggukan, tubuhnya benar-benar lemas, bahkan kata-kata sudah tak sanggup lagi keluar dari bibirnya.Arthur masih terus memeluk, sesekali dia mencium pipi Kian
Arthur mencoba untuk tenang. Matanya terpejam beberapa saat sebelum menoleh pada Kendrick lagi.“Selidiki, ke mana Siska sebelum pergi ke stasiun, pasti ada jejak yang memperlihatkan ke mana saja dia pergi membawa bayiku.” Tatapan Arthur masih begitu merah.“Baik, Tuan. Akan segera saya laksanakan.” Kendrick mengangguk.“Juga, minta orang untuk mengecek setiap bayi yang baru saja lahir, bagaimanapun caranya aku harus menemukan bayiku.” Suara Arthur sedikit menggeram.Kendrick kembali mengangguk pelan.“Lalu, sekarang apa rencana Anda terhadap Kian, Tuan? Anda ingin jujur padanya atau ingin membohonginya dengan memberikan bayi lain?” Kendrick memastikan.Arthur diam beberapa saat. Napasnya berembus kasar, sebelum dia berkata, “Sepertinya lebih baik jujur. Jika aku membohonginya, maka masalahnya akan semakin membesar.”Kendrick mengangguk-angguk pelan. “Saya mengerti, Tuan.”Setelah meminta polisi untuk segera menangani kasus ini. Arthur kembali ke rumah sakit tempat Kian dirawat sendir
Bola mata Arthur melebar.Rahangnya mengeras, matanya memerah menahan kesedihan dan ketakutan yang begitu beras.“Bagaimana bisa? Apa maksudmu?” Suara Arthur pelan tertahan.Kendrick mengembuskan napas pelan. Sejenak dia menurunkan pandangan sebelum kembali memandang Arthur.“Saya antar melihatnya sendiri.”Kendrick mengajak Arthur pergi ke rumah sakit lain dekat stasiun tempat Siska dibawa.Sesampainya di sana.Kendrick membawa Arthur melewati koridor menuju kamar mayat.“Apa maksudnya? Apa Siska meninggal?” Arthur menatap penasaran.Kendrick mengangguk pelan. “Dia meninggal di tempat.”Arthur menghentikan langkahnya.“Lalu bagaimana dengan bayiku? Apa ada yang menolongnya?” Arthur menatap penuh harap. Bagaimana caranya menyampaikan ke Kian jika terjadi sesuatu pada bayinya.Kendrick melihat kepanikan dari sorot mata Arthur, apalagi kedua tangan Arthur kini mencengkram kuat lengannya.“Tuan, polisi masih menyelidiki kasus ini. Mereka juga sudah mengecek rekaman kamera CCTV di sekitar
Arthur duduk di kursi tunggu depan kamar inap Kian.Berulang kali dia mengguyar kasar rambutnya ke belakang.Arthur bingung. Jika Kian bangun nanti, lalu bayi mereka belum juga ditemukan, apa yang harus dia katakan pada Kian.Arthur menyandarkan kepala ke belakang, wajahnya menengadah, matanya terpejam untuk sekadar menenangkan pikirannya.“Arthur.”Arthur membuka mata mendengar suara sang kakek.Dia menegakkan tubuhnya, tatapannya kini tertuju pada Arron.Pria tua ini menatap sendu ke arahnya.“Kek.” Suara Arthur hampir habis. Kebingungan yang melandanya, menekan kata-kata berhenti di ujung lidahnya.Arron mendekat bersama Malvin. Dia duduk di samping Arthur.“Bagaimana kondisi Kian?” Arron mencemaskan Kian.Arthur terdiam sejenak. Dia mengembuskan napas berat.“Kian belum tahu soal bayinya. Aku benar-benar tidak bisa memberitahunya.” Kepala Arthur tertunduk setelah bicara.“Malvin sudah meminta bantuan polisi lalu lintas untuk mencari pelakunya. Semoga bayi Kian segera ditemukan.”A
Daniel terkapar dengan darah segar yang menggenang di lantai setelah Oliver mengambil ponselnya dan meninggalkannya begitu saja.Yang tanpa Oliver tahu, Daniel memiliki ponsel lain yang dia gunakan untuk menyimpan semua bukti-bukti kejahatan Oliver.Dengan napas yang berat dan kesad
Bola mata Arthur membola lebar mendengar ucapan Kian. Namun, sebelum dia mengelak, Kian sudah lebih dulu berkata.“Tenang saja, aku akan menjaga batasan.”Arthur menatap Kian yang tersenyum manis padanya.“Walau sebenarnya, Pak Oliver menawariku menjadi asistennya.”“Apa?” Suara Arthur ketika terk
Kian melangkah keluar dari kamar mandi dengan rambut tergulung handuk. Langkah Kian terhenti kala tatapannya tertuju pada Arthur yang berdiri di dekat jendela.Punggung lebar, tubuh tegap begitu sempurna, jika ada yang mengatakan kalau Arthur adalah orang kaya, Kian pasti akan percaya karena Arthur
Supervisor lagi-lagi dibuat terkejut dengan reaksi Kian.Kian langsung menoleh pada Arthur, suaminya berdiri tenang sambil berucap, “Kenapa tidak lihat dulu?”“Bolehkah?” Kian memastikan.Melihat Arthur mengangguk-angguk pelan, Kian akhirnya menggeser posisi berdirinya, berpindah ke depan etalase y







