LOGINLinda dan Rafka saling lirik mendengar apa yang Arthur katakan.Keduanya tetap tersenyum saat menatap lagi ke Arthur.“Tentu saja kami akan tetap menanyakan kabar kalian.” Linda mengelak.“Betul sekali. Bagaimanapun sekarang, hanya kami yang Kian miliki. Kami juga mencemaskannya, tapi syukurlah ternyata Kian menikah dengan pria kaya sepertimu.” Rafka mulai menjilat. Jangan sampai Arthur mengusir mereka sebelum rencananya berhasil.Arthur menatap dingin pada Linda dan Rafka.Tanpa kata, Arthur melangkah melewati Linda dan Rafka sambil menggandeng Kian menuju ruang makan.Linda menatap ke arah Arthur dan Kian pergi. Dia memberi isyarat ke suaminya untuk ikut menyusul keduanya.Setibanya di ruang makan.Arron sudah di sana, menyambut ramah ke semua orang.Linda dan Rafka menatap makanan yang tersaji di atas meja.Begitu mewah dan lengkap, penuh dengan lauk beraneka ragam, sangat bertolak belakang dengan mereka yang kadang makan seadanya.“Duduklah, ayo makan malam bersama.” Arron mempers
Kian terus di kamar setelah kedatangan paman dan bibinya di rumah.Sampai sore hari. Kian menghabiskan waktu mengerjakan pekerjaannya di kamar ketika pintu kamar terbuka.“Ini sudah di luar jam kerja, dan kamu masih duduk menatap laptopmu?”Suara Arthur mengalihkan tatapan Kian.Kian menoleh ke sang suami. Senyum Kian terangkat lebar.“Kamu sudah pulang.” Kian memegang pinggangnya ketika akan berdiri.“Duduk saja, tidak usah berdiri.” Arthur buru-buru mencegah Kian bangkit.Apalagi Arthur tahu bagaimana sulitnya Kian jika disuruh banyak bergerak dalam kondisi perut besar.Senyum Kian terangkat kecil. Dia kembali duduk dengan nyaman, menatap suaminya yang juga ikut duduk di sebelahnya.“Bagaimana kabarmu hari ini?” Tangan Arthur mengusap pelan rambut Kian, sebelum mengusap perut besar istrinya.“Lumayan baik.” Kian mengangguk kecil.“Lumayan?” Kening Arthur berkerut dalam. “Ada apa? Kenapa wajahmu sedikit lesu? Apa kamu kurang sehat?”Arthur menatap cemas.Kian menggeleng pelan sebelum
Kian menatap ke Linda dan Rafka yang sudah ada di hadapannya.Apa pun niatan keduanya, Kian tidak boleh lengah.Namun, karena Arron begitu bersemangat, Kian akan menunggu. Jika paman dan bibinya melakukan hal-hal yang tidak baik, maka dia akan bertindak.“Kian, bagaimana kabarmu?” Linda membuka kedua tangan ingin memeluk Kian.Sayangnya, Kian mundur. Kedua tangan memegang perut, menghindari pelukan sang bibi.Linda berdiri kaku karena penolakan Kian, bibirnya tersenyum canggung meski dalam hatinya kesal karena Kian menghindarinya.“Kalian paman dan bibinya Kian ternyata.”Sapaan Arron mengalihkan perhatian Linda dan Rafka ke pria tua ini.“Betul, betul sekali.” Linda melebarkan senyumnya saat menatap ke Arron.Linda dan suaminya saling lirik, senyum mereka penuh arti melihat barang-barang bermerk yang melekat di tubuh Arron.Arron mengulurkan tangan. “Aku Arron, kakeknya Arthur sekarang kakeknya Kian juga.”Menyadari Kian disambut baik di rumah mewah ini, Linda dan Rafka semakin memil
Setelah mendapat izin dari Arthur.Kian tetap bekerja meski semua harus dilakukan dari rumah.“Bu Kian. Pak Arthur tidak tahu kalau saya yang kasih buah potong kemarin ‘kan, Bu? Saya takut kena masalah, apalagi sekarang Ibu juga bekerja dari rumah.”Kian menatap staffnya yang datang ke rumah untuk meminta tanda tangan. Dia tersenyum melihat kepanikan di wajah bawahannya ini.“Tenang saja, dia tidak tahu.” Kian membubuhkan tanda tangan di berkas setelah bicara. “Kamu jangan cemas, aku juga tidak mungkin menyalahkanmu.”Tangan Kian menutup berkas, lalu dia mengulurkan ke staffnya.“Soal aku bekerja dari rumah, sebenarnya karena kandunganku yang sudah cukup besar, jadi memang sudah keputusan bersama. Kamu jangan khawatir, ya.” Kian tersenyum lembut setelah selesai bicara.Staff tersenyum lega. Dia menerima berkas yang Kian ulurkan. “Baik, Bu. Saya paham.”“Jika ada desain yang perlu didiskusikan, nanti kita lakukan rapat secara daring, ya.” Kian kembali tersenyum setelah bicara.“Saya m
Sore hari.Kian duduk di kamar sambil meluruskan kaki di kursi kecil. Tatapannya tertuju ke luar, memandang langit yang perlahan memerah.Tangannya mengusap pelan perutnya yang besar. Dia kekenyangan karena Arron membelikan es yang dia mau juga beberapa camilan.Saat sedang menikmati suasana sore. Kian dibuat terkejut ketika suaminya tiba-tiba muncul mengecup pipinya.“Kenapa? Capek?” Arthur duduk di kursi samping Kian. Dia meletakkan es boba di atas meja.Mata Kian mendelik.Arthur membeli es boba?Kian menoleh pada Arthur. Sambil menunjuk ke atas meja, Kiran bertanya, “Kamu beli es ini untukku?”Arthur mengangguk pelan. “Bukankah kamu tadi terus memandangi kedai es itu? Bukannya karena ingin ini?”Kian melipat bibirnya. Dia sudah kekenyangan minum es ini, dan sekarang suaminya juga membelinya.“Kenapa? Kamu tidak suka?” tanya Arthur karena ekspresi aneh di wajah Kian.“Suk-suka, kok.” Tangan Kian terulur ke es yang dibeli Arthur.Arthur membantu Kian mengambilkan es itu. Dia bahkan
Kian menggeleng.“Tiba-tiba saja sakit.” Melihat Kian yang merintih kesakitan. Arthur dengan segera meraup tubuh Kian ke dalam gendongan.Arthur keluar dari ruangan Kian dengan wajah panik.Beberapa staff di departemen desain terkejut dengan apa yang Arthur lakukan.“Apa Bu Kian mau melahirkan?”“Bukannya baru delapan bulan?”Mendengar ucapan kedua rekannya, wajah staff yang memberi buah potong ke Kian menegang.‘Apa jangan-jangan Bu Kian sakit setelah makan buah yang aku berikan? Mati aku, tahu gini tidak kukasih buah yang banyak mangganya,’ batin staff panik jika Arthur tahu lalu menyalahkan dirinya.Arthur membawa Kian ke rumah sakit.Bertemu dengan dokter yang biasa memeriksa Kian. Arthur berdiri cemas sambil memperhatikan dokter yang sedang memeriksa.“Bagaimana kondisinya? Dia belum mau melahirkan, kan?” Arthur memastikan.Dokter baru saja melakukan pengecekkan jalan lahir.Dokter menoleh Arthur yang tampak panik.“Belum ada pembukaan, Anda jangan cemas.”Setelah menjelaskan ke







