Se connecterKian menyuapkan makanan ke mulut Arthur sebelum menjawab pertanyaan suaminya ini.Sambil mengaduk-aduk makanan di tempat yang Kian pegang, dia berkata, “Bukan sengaja menemui. Tapi tadi tak sengaja bertemu dengannya yang sedang berjualan koran.” Satu sudut alis Arthur tertarik ke atas. Dia ingin membuka suara, tapi Kian sudah kembali bicara.“Dia masih sangat kecil, tapi harus berjuang keras seperti itu.” Tatapan Kian kembali tertuju pada Arthur, senyumnya tampak getir. “Ayahnya sudah tiada, ibunya sakit-sakitan. Kamu bisa bayangkan, bagaimana bisa anak sekecil itu berpikiran dewasa, menjual koran demi obat dan sesuap nasi untuk perutnya dan perut ibunya?”“Kamu iba dan menolongnya?” Arthur langsung menebak ke mana arah cerita Kian.Kian tidak menyangka Arthur akan langsung mengatakan itu. Kian mengedikkan kedua bahu. “Ya, aku mana bisa diam melihat anak laki-laki itu melawan terik matahari hanya untuk recehan uang yang ingin dia dapatkan.”Arthur mengerutkan kening melihat ekspresi
Bocah kecil berwajah polos ini menggeleng.“Aku tidak mencuri, Ibu.” Kaylan menatap panik dan cemas.Saat dia mendengar suara batuk Sienna lagi, Kaylan segera pergi mengambil air putih.Kaylan kembali ke kamar, segelas air dia bawa dengan hati-hati.“Ibu, airnya minum dulu.” Kaylan bicara sambil mengulurkan gelas yang dibawanya ke Sienna.Sienna menerima gelas pemberian Kaylan. Dia minum lebih dulu untuk melegakkan tenggorokannya yang perih.Sienna mencoba tenang, setelahnya tatapan Sienna berubah sendu.Sienna melihat Kaylan yang menatap polos padanya.“Kay, Kay tidak mencuri, kan? Ibu mengajari Kay untuk tidak mencuri.” Sienna kali ini bicara dengan tenang.Emosi berlebih membuat kondisinya memburuk.Kaylan menggeleng.Sienna menarik napas dalam-dalam. Dia menekan emosi dan keterkejutannya melihat Kaylan membawa uang banyak, sebelum kembali bertanya, “Lalu, Kay dapat dari mana uang itu? Jujur ke Ibu, Ibu tidak akan marah.”Kaylan menurunkan pandangannya, matanya tertuju ke lembaran
Ginny menoleh pada Kian yang tak melanjutkan ucapannya.“Mienya kenapa, Bu?” Ginny memandang Kian yang diam terpaku. Ginny mencoba menarik ke arah mana tatapan Kian tertuju.“Bu.” Ginny mencoba menyadarkan Kian yang melamun.“Tunggu sebentar,” kata Kian sambil mengemudikan mobilnya lagi saat lampu sudah hijau.Ginny semakin bingung dengan sikap Kian. Tapi dia tetap mengangguk mengikuti perkataan Kian.Mobil berhenti di bahu jalan, area parkir yang tak mengganggu pengendara lain.“Anda mau ke mana, Bu?” Ginny bertanya lagi, dia benar-benar bingung dengan Kian.Kian tak membalas. Dia melepas sabuk pengaman, lalu turun dari mobil.Ginny ikut turun. Dia harus memastikan Kian baik-baik saja.Pandangan Kian tertuju pada anak kecil itu. Anak kecil yang kemarin dia beri sepotong burger.Kian melihat anak itu sibuk berjualan koran di pinggir jalan. Tempat berbahaya yang tak seharusnya menjadi tempat anak sekecil itu.Kian berhasil menyeberang.Dia berjalan menghampiri anak kecil yang sedang m
Arthur kembali ke kamar setelah selesai bicara dengan Arron.Tatapan Arthur tertuju pada Kian yang masih duduk di atas ranjang..“Kenapa belum tidur?” Arthur naik ke ranjang. Dia duduk di samping istrinya, satu tangan langsung merangkul pundak Kian.Kian tersenyum kecil. Dia tatap wajah Arthur begitu dalam.“Apa Kakek kesal karena aku tidak mau hamil lagi?” Kian memastikan.Sejak makan tadi, Kian resah dan bersalah karena sudah menghancurkan keinginan Arron yang ingin memiliki cicit.Bagaimanapun Kian menyadari jika Arthur harapan satu-satunya yang bisa melanjutkan garis keturunan keluarga Hadwin, lalu sekarang Kian malah tidak mau hamil lagi.Arthur mengusap lembut kepala Kian setelah mendengar pertanyaan istrinya.“Apa kamu memasukkan ucapan Kakek ke dalam hati?” Kecupan hangat didaratkan di pelipis Kian setelah Arthur bertanya.Kian menggeleng pelan.“Aku tidak memasukkannya ke dalam hati, hanya saja merasa tidak enak dan merasa bersalah padanya.” Kian memberikan tatapan sendu pada
Kian memeluk erat tubuh Arthur.Matanya terpejam dengan senyum kecil di wajahnya setelah selesai memberikan service ke suaminya.“Sudah tidak cemburu?” Meski tahu jika itu hanya alasan Arthur, tapi tetap saja Kian menggoda suaminya.Arthur membalas pelukan Kian. Dia mengecup kening Kian dengan lembut.“Kenapa aku harus cemburu? Pada akhirnya, aku tetaplah pemenangnya.”Candaan Arthur sukses membuat Kian memukul pelan lengan suaminya ini.“Kamu tidak mandi dulu?” Kian bangun dari pelukan Arthur.Tubuhnya kini hanya berbalut selimut. “Kakek pasti menunggu kita untuk makan malam, bangunlah dan bersihkan tubuhmu dulu.”Kian baru saja akan beranjak dari ranjang, ketika suaminya menarik pergelangan tangannya.Kian kembali jatuh ke pelukan Arthur. Dia menatap suaminya yang tersenyum kecil.“Kian.” Arthur mengusap lembut kening Kian. “Apa kamu benar-benar tidak mau memiliki anak lagi?” Arthur bertanya dengan sangat hati-hati.Mereka sering melakukan ini, tapi Kian meminta Arthur untuk memakai
“Mami.” Diana sudah ada di samping Kian sambil menggenggam tangan Kian.“Mami kenapa melamun? Burgernya, kenapa dikasih anak itu?” Diana kini menatap penasaran ke arah anak laki-laki tadi pergi.Kian menoleh pada Diana, dia menggeleng. “Anak itu lapar, tidak ada salahnya memberinya sedikit makanan.”Diana mengangguk-angguk. “Apa mamanya tidak kasih makan? Kenapa dia kotor sekali?” Diana kembali berceloteh.Kian tersenyum menanggapi perkataan Diana. “Sudah, kita masuk lagi dan makan. Habis ini Mami antar pulang.”Kian menggandeng tangan Diana untuk kembali ke dalam.Tapi sebelum masuk, tatapan Kian tertuju ke arah anak laki-laki itu pergi.Ada sesuatu yang membuat Kian tak bisa mengalihkan pandangan dari anak itu.**Sore hari.Kian duduk di depan meja riasnya. Tangannya mengusap make up di wajah, tapi tatapannya melayang jauh ke kejadian siang tadi.Sejak melihat anak tadi, perasaan Kian benar-benar gelisah. Dia tidak mengerti, kenapa senyum anak itu sangat mengganggu pikirannya.“Sa







