MasukArthur mengemudikan mobil menuju pabrik.Saat hampir tiba di area pabrik, tatapan Arthur tertuju pada kepulan asap hitam yang membumbung tinggi di udara.Jemari Arthur mencengkram erat setir kemudi. Jantungnya berdegup cepat, pikirannya terus tertuju pada kondisi pabrik milik keluarganya ini.Setibanya di area pabrik.Mobil-mobil pemadam kebakaran sedang sibuk memadamkan api.Begitu turun dari dalam mobil. Tatapan Arthur tertuju ke arah buruh pabrik yang gemetaran panik di seberang pabrik, beberapa di antaranya harus mendapat oksigen dari ambulance yang ada di sana.“Tuan.”Tatapan Arthur tertuju pada Kendrick yang berlari menghampirinya.“Bagaimana situasinya?” Arthur langsung memastikan.“Apinya menyebar hampir di seluruh gedung. Hampir delapan puluh persen bangunan habis terbakar, Tuan.” Tatapan Kendrick begitu pilu. Dia juga tak pernah membayangkan kejadian seperti ini akan terjadi.Arthur tetap tenang, sampai tatapannya tertuju ke karyawan yang beberapa di antara menangis karena
Di tempat persembunyian Hendra.Hendra duduk dengan satu kaki disilangkan.Telunjuknya mengetuk-ngetuk tepian kursi, matanya menyorot lurus ke depan.Dia baru saja mendapat kabar soal Arthur yang menggeledah rumahnya.Ternyata perkataan Anan benar, Arthur akhirnya tahu jika dialah yang membawa bayi Arthur.“Permainan ini akhirnya membosankan.” Bibir Hendra bergumam pelan.Hendra memejamkan mata, dia menarik napas dalam-dalam saat mengingat masa kecilnya.‘Kamu anak haram, sampai kapan pun kamu tidak akan pernah bisa diterima di keluarga Hadwin.’Suara Arron masih terngiang di telinganya, mencabik-cabik jantungnya.‘Kenapa kamu harus lahir? Kamu hanya bisa mempersulitku.’Keberadaannya hanya dianggap aib untuk Dimitri, walau pria itu tetap membesarkan dan mencukupi kebutuhannya secara diam-diam.‘Walau mengalir darah keluarga Hadwin. Dia hanya akan menjadi aib di keluarga ini. Demi melindungi nama baik keluarga, lebih baik dia tidak pernah tinggal di sini. Dan, kita anggap dia tak pern
Masih tidak ada jawaban yang ingin Arthur dengar.“Baiklah jika kalian ingin mengambil jalan yang sulit.” Telunjuk Arthur siap menarik pelatuk.“Ampun, Tuan.” Akhirnya salah satu pelayan bersujud di dekat kaki Arthur. “Kami tidak tahu ke mana Tuan pergi, beliau meninggalkan rumah sejak siang tadi.”Setelah pelayan tua ini bicara, pelayan lainnya ikut bicara.“Benar, Tuan. Tuan Hendra tidak mengatakan apa pun.”“Soal bayi yang Anda maksud, kami juga tidak pernah melihat. Tuan tidak pernah membawa bayi kemari, Anda bisa mengecek rekaman CCTV di rumah ini jika Anda tak percaya, Tuan.”Arthur menatap satu persatu pelayan yang kini menangis meminta ampun.Amarah sesaatnya benar-benar membuat Arthur lepas kendali.Telunjuknya dilepas dari pelatuk, arah senjata api kini turun ke bawah.“Kalian, tidak membohongiku?” Arthur memastikan.“Tidak, kami tidak berani.” Pelayan menjawab serempak.Napas Arthur begitu berat.Dia sudah menemukan pelakunya, tapi masih tak bisa membawa kembali putranya.“
Arthur mengajak Kendrick duduk.Sampai lembaran kertas berisi foto dari rekaman video yang Kendrick dapatkan, kini diulurkan pada Arthur.Arthur memperhatikan satu persatu gambar itu. Rahangnya mengeras hingga kedua pipinya tegang.Arthur mengenali postur dan tatanan rambut pria di gambar, meski wajahnya tak terlalu terlihat.“Tuan, ini rekaman saat dia datang dan pergi. Sebelumnya dia masuk taman tanpa membawa apa pun, lalu setelah keluar dari taman menuju mobil, dia menggendong sesuatu. Saya yakin itu bayi Anda.” Kendrick memperlihatkan rekaman kamera CCTV yang ada di tablet pintarnya.Tangan Arthur kini mengambil alih tablet, dia mengamati dengan seksama rekaman video yang tak terlalu jelas karena jarak kamera dengan tempat kejadian yang sedikit jauh.“Hendra.” Suara Arthur menggeram. “Beraninya kamu membawa putraku, lalu kamu datang kemari untuk bersandiwara jika kamu bersimpati pada kami!” Gigi-gigi Arthur bergemeletuk hebat.Tatapan Arthur menajam pada Kendrick, saat dia berkat
Hendra diam dengan sorot mata yang tajam.“Sebelum kita bisa memastikan apa yang sedang mereka lakukan, lebih baik Anda meninggalkan rumah lebih dulu untuk memastikan hal-hal yang tidak diinginkan.” Anan mendesak.Hendra menatap Anan yang sangat mencemaskannya.“Jika benar dia menemukan bukti tentangku, kamu tahu harus melakukan apa, Anan.”Anan mengangguk. “Saya mengerti, Tuan.”**Di rumah Arron.Kian mulai bisa makan meski tidak terlalu banyak. Dia juga harus memulihkan luka pasca operasi melahirkan.“Makanlah lebih banyak, Kian.” Arron menatap Kian yang baru saja menenggak segelas air.Tatapan Kian tertuju pada Arron.Beberapa hari ini, pria tua ini sangat mencemaskan Kian, membuatnya bersalah.“Iya, Kakek. Tapi aku sudah kenyang.” Senyum Kian diangkat kecil meski agak dipaksakan.Arron mengangguk-angguk pelan.Suasana ruang makan kembali hening.Sampai Kian berkata, “Aku mau melihat Arthur di ruang kerja dulu, Kek.”Arron mengangguk pelan.Kian bangkit dari duduknya.Kian berjala
Arthur duduk di ruang kerjanya.Jemarinya saling bertautan, tatapannya menyorot tak sabar, menunggu kedatangan Kendrick.Apa yang dikatakan Kendrick dari seberang panggilan, benar-benar membuat Arthur tak sabar.Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu.Tatapan Arthur terangkat ke arah pintu.Punggungnya menegak saat melihat Kendrick muncul dari balik pintu yang baru saja terbuka.“Informasi apa?” Arthur menatap tak sabar.Kendrick berjalan menghampiri Arthur.Dia mengulurkan tablet pintar yang dibawanya pada Arthur setelah berdiri di depan meja kerja.“Ini rekaman kamera jalan di dekat sebuah taman. Meski visualiasinya kurang jelas, tapi saya yakin jika itu adalah Siska.”Mata Arthur melebar.Dia segera mengambil tablet pintar dari tangan Kendrick.Dengan seksama, Arthur mengamati video ketika Siska turun dari taksi menggendong sesuatu.“Benar, ini Siska.” Jari-jari Arthur meremat sisi tablet. “Dia membawa bayiku ke mana?”Kendrick mengulurkan tangan dengan tubuh sedikit memb
Melangkah meninggalkan meja Kanaya setelah menyerahkan file desain revisi yang Kian buat. Kian sekarang masuk ke dalam lift, lalu naik menuju rooftop perusahaan.Ketika menginjakkan kaki di rooftop, tatapan Kian langsung tertuju pada Arthur. Suaminya sudah di sana, kini berdiri memandang ke hampara
Daniel terkapar dengan darah segar yang menggenang di lantai setelah Oliver mengambil ponselnya dan meninggalkannya begitu saja.Yang tanpa Oliver tahu, Daniel memiliki ponsel lain yang dia gunakan untuk menyimpan semua bukti-bukti kejahatan Oliver.Dengan napas yang berat dan kesad
Di rumah mewah Arron.Napas kasar berulang kali Arron embuskan. Kedua tangannya kini meremat kuat pangkal tongkat yang digenggamnya.“Apa Arthur sudah ada tanda-tanda mengajukan perceraian dengan wanita itu?” Tatapan Arron menajam saat tertuju pada Malvin–asisten pribadinya.Malvin menggeleng pelan
Saat jam istirahat.Kanaya masih duduk di belakang meja kerjanya. Matanya menelisik ke seluruh ruangan, memastikan sudah tidak ada satu karyawan pun yang tertinggal di ruang departemen desain, semuanya pergi ke kantin untuk makan siang.Bangkit dari duduknya, lalu melangkah menuju meja Kian. Kanaya







