Teilen

Menerima Takdir

last update Veröffentlichungsdatum: 24.05.2026 15:42:03

Kian sudah selesai dengan Hendra.

Dia keluar dari ruang kunjungan, tatapannya langsung tertuju pada Arthur yang menantinya.

“Sudah selesai?” Arthur memastikan. Matanya menelisik ke setiap tubuh Kian, memastikan istrinya tak terluka.

Kian mengangguk-angguk pelan. Meski yang dilakukannya tak bisa mengembalikan putranya, setidaknya Kian sudah meluapkan penyesalannya pernah bertemu dengan Hendra.

“Kita pulang sekarang?” tanya Kian.

Arthur mengangguk-angguk pelan. Dia menautkan jemari mereka, sebelu
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Istri Kilat Presdir Tampan    Ruang Diskusi

    Kian berdiri di depan Arthur yang sudah memakai kemeja rapi. Dasi kini dia ikatkan perlahan melingkar di kerah kemeja suaminya.“Jika sudah sehat, aku juga ingin masuk kerja. Tidak masalah jika tak digaji sampai pabrik mulai jalan.” Setelah bicara, Kian mengangkat pandangannya, bibirnya tersenyum lebar.Arthur menahan tawanya. “Kenapa? Kamu sudah rindu dengan suasana kantor?” Arthur memastikan.“Aku bosan tak melakukan apa pun di rumah. Jika di perusahaan, setidaknya aku bisa melakukan hal yang berguna untukmu.” Tatapan Kian penuh perhatian pada Arthur.Arthur mengembuskan napas pelan. Jari-jarinya merapikan helaian rambut Kian yang agak berantakan.“Lakukan apa yang ingin kamu lakukan. Tapi, suasana kantor tidak akan seperti dulu. Hari ini aku akan meminta pertimbangan Kendrick untuk merumahkan beberapa staff untuk efisiensi dan menjanjikan kembali pekerjaan setelah pabrik mulai berjalan. Tentu saja, mereka juga berhak memilih apakah akan tetap ingin bekerja di HW. Company atau tida

  • Istri Kilat Presdir Tampan    Sama-sama Berjuang

    Malam hari.Kian duduk di kamarnya, menunggu kedatangan Arthur.Sesekali Kian menatap ke arah pintu kamar, tapi belum ada tanda-tanda jika suaminya akan datang.Kian masih menunggu, sampai terdengar suara langkah kaki dari luar kamar.Saat Kian membuka pintu, tatapannya langsung tertuju pada Arthur.Suaminya sudah berdiri di hadapannya.“Kenapa kamu belum tidur?” Arthur menatap heran pada Kian.Kian mengambil jas yang ditenteng suaminya, setelahnya menarik masuk Arthur ke dalam.“Menunggumu, aku tidak bisa tidur sebelum melihatmu di rumah.”Arthur tersenyum melihat kondisi Kian sudah baik-baik saja setelah banyak hal yang mereka alami.Kian meminta suaminya duduk lebih dulu setelah dia meletakkan jas di keranjang pakaian kotor. Kian mengambilkan minum, memberikan perhatian kecil untuk suaminya yang lelah.“Terima kasih.” Arthur menenggak air putih pemberian Kian.Sedangkan Kian duduk di samping Arthur, menunggu sampai suaminya selesai minum.“Soal HW. Company, apa kamu benar-benar aka

  • Istri Kilat Presdir Tampan    Harus Melepas

    Arthur berdiri di samping meja kerjanya. Jemarinya mengusap tepian meja, memandangi tempat kerja yang selalu dibanggakannya bertahun-tahun ini.“Tuan.” Kendrick masuk ke dalam ruang kerja Arthur setelah menyapa.Kendrick meletakkan setumpuk berkas di atas meja.“Ini semua tawaran akuisisi dari beberapa perusahaan.” Kendrick bicara dengan tatapan sedih.“Apa Anda akan benar-benar melepas perusahaan ini, Tuan? Pabrik kita mulai dibangun, setelah selesai, kita bisa bangkit lagi, Tuan.” Kendrick benar-benar tidak bisa membiarkan dia dan karyawan lain kehilangan tempat bekerja mereka.“Setelah selesai dibangun, kita juga tidak tahu apakah perusahaan ini masih bisa berjalan saat waktunya tiba nanti.” Nada bicara Arthur berbalut keputusasaan. “Jika menjual perusahaan ini, setidaknya kamu dan para karyawan masih tetap bisa bekerja di sini.”Bola mata Kendrick membola. “Tidak, saya tidak akan bekerja di tempat yang tidak ada Anda.”Kendrick menolak dengan tegas.“Kita sudah bersama-sama, mengh

  • Istri Kilat Presdir Tampan    Menerima Takdir

    Kian sudah selesai dengan Hendra.Dia keluar dari ruang kunjungan, tatapannya langsung tertuju pada Arthur yang menantinya.“Sudah selesai?” Arthur memastikan. Matanya menelisik ke setiap tubuh Kian, memastikan istrinya tak terluka.Kian mengangguk-angguk pelan. Meski yang dilakukannya tak bisa mengembalikan putranya, setidaknya Kian sudah meluapkan penyesalannya pernah bertemu dengan Hendra.“Kita pulang sekarang?” tanya Kian.Arthur mengangguk-angguk pelan. Dia menautkan jemari mereka, sebelum mengajak Kian pergi dari kantor polisi.Keduanya masuk ke dalam mobil.Sebelum menyalakan mesin, Arthur mendapat panggilan dari Kendrick.“Ada apa?” tanya Arthur.“Tuan, penyidik sudah berhasil menangkap pelaku pembakaran pabrik beserta barang buktinya. Dan, Anda pasti tidak akan terkejut mendengar siapa dalang di belakangnya.”Arthur diam mendengar ucapan Kendrick, sampai dia berucap, “Hendra?”“Benar, Tuan. Dengan begini, kita benar-benar bisa menuntut Hendra sampai pria itu membusuk di penj

  • Istri Kilat Presdir Tampan    Akhir Dari Dimitri

    Di tempat lain.Arron baru saja keluar dari bandara di kota tempat dia mengasingkan Dimitri.Membawa beberapa orang bayaran, Arron ditemani Malvin menuju rumah tempat Dimitri tinggal.“Saya masih tidak menyangka Tuan Dimitri masih menyimpan dendam setelah mendapat kebaikan dari Anda. Jika bukan karena Anda, saat ini dia sudah mendekam di penjara.” Malvin ikut geram mengetahui Dimitri terlibat dalam kasus Hendra.“Aku terlalu berbaik hati padanya. Bahkan dia tak sadar, jika selama ini bisa hidup tenang karena aku diam.” Arron mengembuskan napas kasar. “Kali ini, aku tidak akan berbaik hati lagi.Malvin mengangguk pelan.Mobil mereka menuju ke area pedesaan. Tempat terpencil yang Arron siapkan untuk mengisolasi Dimitri, sayangnya Dimitri masih bisa berhubungan dengan Hendra atas bantuan Hendra.Beberapa waktu berlalu. Mereka tiba di tempat tujuan.Rumah kecil yang berada di tengah ladang yang sangat luas.Mobil berhenti di halaman rumah.Malvin lebih dulu keluar sebelum membukakan pintu

  • Istri Kilat Presdir Tampan    Menemui Hendra

    Arthur membawa Kian kembali ke kamar. Dia juga memanggil dokter untuk memeriksa Kian.“Bagaimana kondisi istri saya sekarang, Dok?” Arthur memastikan.Dokter menatap Kian yang duduk. Ekspresi wajah dan sorot mata Kian sudah berubah normal. “Meski ini sangat mengejutkan, tekanan kemarin mungkin hanya efek syok yang diterimanya. Noan Kian sudah baik-baik saja sekarang, hanya saja tetap harus mengontrol emosinya agar tidak semakin tertekan.” Arthur mengangguk-angguk pelan mendengarkan penjelasan Dokter.Dia kembali menatap pada Kian yang terlihat sangat sedih.“Kalau begitu terima kasih, Dok.”Dokter mengangguk sebelum berpamitan pergi.Arthur duduk di tepian ranjang. Dia menggenggam telapak tangan Kian.“Kamu boleh menangis dan kecewa, tapi aku berharap kita bisa melalui semua ini bersama.” Arthur mengusap lembut tangan Kian, sebelum kembali bicara. “Kita tetap harus melanjutkan hidup kita, Kian. Putra kita juga pasti ingin melihat kita bahagia. Dia sudah di surga, dia lebih bahagia d

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status