เข้าสู่ระบบArthur dan Kendrick pergi ke ruang departemen desain.Sesampainya di sana, tatapan Arthur langsung tertuju ke salah satu staff yang kemarin ikut rapat dengan Air Company.Langkah Arthur begitu lebar, mendekat dengan sorot mata yang siap menyambar apa pun yang ada di hadapannya.Para staff di departemen desain langsung berdiri melihat kedatangan Arthur.Sampai Arthur tiba di depan meja salah satu staff.Tatapannya seolah siap melahap staffnya ini.“Si-siang, Pak. Apa ada yang bisa saya bantu?” tanya Staff tergagap.“Apa instruksi kemarin kurang jelas?” Suara Arthur tegas dan penuh penekanan.
Arthur menatap Hendra.Keningnya berkerut dalam mendengar Hendra satu pendapat dengannya.Hendra menatap pada Arthur yang diam. Dia juga memandang semua orang yang kini menatap padanya.Hendra mencondongkan tubuh ke depan. Dia menarik sedikit tepian jasnya, sebelum kembali bicara.“Informasi yang diberikan Air Company belum sepenuhnya terverifikasi benar. Mereka bahkan belum bisa menunjukkan bukti transaksi yang valid, seperti informasi yang kita terima. Lalu, kenapa kita harus menekan dan menuduh Kiandra sebagai pelaku utamanya?” Hendra menatap satu persatu pemegang saham juga jajaran direksi di ruangan ini.“Tapi email dan nama yang dicatut, benar-benar mengarah pada Kiandra Shaylin, manager departemen des
Kian menatap punggung Arthur. Suaminya masih menerima panggilan.Sampai Arthur menjauhkan ponsel dari telinga lalu menoleh ke arah Kian lagi.“Ada apa? Kamu harus ke kantor sekarang?” Kian memastikan.Arthur tersenyum. Dia melangkah mendekat ke ranjang Kian. Dia tidak ingin membuat Kian cemas dan semakin memperburuk kondisi Kian.“Ada berkas yang harus ditandatangani pagi ini juga, karena itu aku harus ke kantor.” Arthur mengusap-usap lembut rambut Kian.Kian mengangguk-angguk.“Kalau begitu pergilah, hati-hati di jalan.” Kian tersenyum meski terkesan dipaksakan.Arthur mengambil jasnya. Dia meningga
Malam hari.Kian masih belum tidur.Dia duduk sambil bermain ponsel.Seharian ini, perasaannya gelisah.Kondisi tubuhnya mendadak turun lagi, sampai-sampai tekanan darahnya turun dan membuat Dokter cemas.“Apa dia lembur?” Kian menatap jam di layar ponsel.Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Tapi Arthur belum juga datang.Kian ingin menghubungi, tapi takut mengangguk.Dia hanya bisa menghela napas kasar.“Dia sudah bekerja keras. Dia pasti lelah.”Kian bersalah. J
Semua tatapan langsung tertuju pada Arthur.Bagaimana bisa nama Kiandra Shaylin, tertulis di berkas sebagai penjual desain?Nama dan alamat email yang tertera, memang milik Kian di perusahaan HW. Company.Jemari Arthur mencengkram, meremat tepian kertas yang ada di tangannya.Sebelum telapak tangannya menghantam meja dengan sangat kuat.“Apa kalian sedang ingin memfitnah? Bagaimana bisa kalian menuduh Kiandra, istriku. Sebagai penjual desain ini?!” Suara Arthur menggeram tertahan.“Saya berani bersumpah, Pak. Pembuat desain yang menjualnya pada saya, memang bernama Kiandra ini.” Kepala Tim Desain Air Company membalas cepat. “Desainnya dikirim via emai
Arthur berada di ruang kerjanya. Dia mendengarkan laporan dari anak buahnya yang diterima oleh Kendrick.Mengetahui Hendra benar-benar datang lagi membawa bunga dan buah untuk Kian, cukup membuat Arthur tak suka.“Bagaimana, Tuan? Apa tetap berikan pada Kian?” Kendrick memastikan sebelum memberi perintah.Tatapan Arthur menajam. “Suruh mereka saja yang makan, atau buang saja!”Kendrick melipat bibirnya.Seharusnya dia sudah bisa menebak keputusan Arthur, tapi masih saja mencoba bertanya.Kendrick segera mengirim pesan balasan sesuai dengan yang Arthur katakan.Setelahnya Kendrick kembali menatap pada Arthur.
Daniel terkapar dengan darah segar yang menggenang di lantai setelah Oliver mengambil ponselnya dan meninggalkannya begitu saja.Yang tanpa Oliver tahu, Daniel memiliki ponsel lain yang dia gunakan untuk menyimpan semua bukti-bukti kejahatan Oliver.Dengan napas yang berat dan kesad
Masih dengan pakaian dan tangan berlumuran darah Kian. Arthur pergi ke tempat Julian disekap.Begitu masuk ke sebuah ruangan yang gelap. Tatapan tajam Arthur tertuju pada sosok yang terikat di atas kursi.Perlahan, kakinya melangkah mendekat. Jas yang dipakainya dilepas lantas dilempar serampangan,
Bola mata Arthur membola lebar mendengar ucapan Kian. Namun, sebelum dia mengelak, Kian sudah lebih dulu berkata.“Tenang saja, aku akan menjaga batasan.”Arthur menatap Kian yang tersenyum manis padanya.“Walau sebenarnya, Pak Oliver menawariku menjadi asistennya.”“Apa?” Suara Arthur ketika terk
Kian melangkah keluar dari kamar mandi dengan rambut tergulung handuk. Langkah Kian terhenti kala tatapannya tertuju pada Arthur yang berdiri di dekat jendela.Punggung lebar, tubuh tegap begitu sempurna, jika ada yang mengatakan kalau Arthur adalah orang kaya, Kian pasti akan percaya karena Arthur







