로그인Tangis Kian semakin pecah setelah berhasil melepas sesak di dadanya hingga kini begitu lega.Tubuh Kian bergetar hebat sampai Arron harus merangkul pundaknya. Arron mengusap lengan Kian dengan perlahan untuk menenangkan. Meski Arron sendiri tak mampu membendung rasa hangat yang menjalar di dadanya setelah mengetahui siapa cicitnya.“Kaylan benar-benar bayiku, Kek. Dia bayiku yang hilang.” Suara Kian bergetar.Arron mengangguk-angguk. “Kita menemukannya.”Sienna menatap penuh rasa bersalah. Air matanya ikut luruh melihat tangis Kian yang membuat seluruh tubuhnya ikut bergetar.Sienna benar-benar tidak menyangka bahwa wanita baik hati yang selama ini menolongnya adalah ibu kandung dari bayi yang dia selamatkan lima tahun lalu.Mungkin, inilah yang dinamakan takdir.Dengan tubuh gemetar, Sienna bangkit dari duduknya lalu berlutut di lantai marmer, tepat di dekat kaki Kian.“Kian ... maafkan aku. Demi Tuhan, maafkan aku.” Suara Sienna terisak, dia menatap Kian yang kini memandangnya. “Aku
Arron sangat terkejut mendengar rengekan Kian. Sampai tatapan Arron kini tertuju pada Sienna.Arron menatap Sienna yang diam dan seperti ingin menangis.Arron melihat Kian yang sudah tidak bisa bersikap tenang, sehingga kini Arron yang berusaha menengahi. “Sienna, apa Kaylan benar-benar anak kandungmu? Aku harap kamu jujur, Sienna.” Meski nada suaranya pelan, tapi terselip penekanan di setiap katanya.Sienna menatap pada Arron, air matanya menetes begitu saja saat melihat tatapan penuh harap dari Arron.Sienna meremas jemarinya, ada kilat ketakutan yang menyorot dari matanya.“Soal ini … bisakah kalian mendengarkan penjelasanku?” Setelah bicara, tiba-tiba Sienna menjatuhkan lutut di marmer.Kian dan Arron terkejut melihat sikap Sienna, sampai Sienna kembali bicara.“Aku memang bukan ibu kandungnya. Tapi aku juga tidak tahu siapa orang tua Kaylan. Kumohon kalian percayalah padaku, aku tidak pernah berniat jahat. Aku sudah sangat berusaha selama ini menjaganya. Aku mohon.” Sienna mencen
Sienna dan Kian melangkah keluar dari kamar. Lalu Kian menutup pintu dengan pelan agar tidak mengganggu Kaylan istirahat.Begitu keduanya sudah ada di depan kamar Kaylan, tatapan Kian langsung tertuju pada Sienna. Sorot matanya tak bisa lagi menyembunyikan kegelisahan dan rasa penasaran yang sedang menguasai hatinya.Kian menatap pada Sienna yang tampak bingung karena ajakannya.Kian lebih dulu menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskan perlahan.“Sienna, aku ingin menanyakan sesuatu padamu, tapi aku harap kamu bisa jujur padaku.” Suara Kian sedikit tertahan. Napasnya seperti mau meledak di dadanya.Melihat perubahan sikap Kian yang biasanya tenang dan lembut menjadi sedikit agresif, Sienna mengangguk pelan untuk menjawab pertanyaan Kian.Kian mencoba tenang, lalu dia mulai bertanya, “Sienna, aku ingin tanya soal tanda lahir di lengan kiri Kaylan. Apa tanda kemerahan agak ungu itu memang bawaan sejak dia lahir?”Sienna terkejut. Dia melihat tatapan emosional dari sorot mata Kian set
Tatapan Kian masih tak teralihkan dari lengan Kaylan.Tanda kemerahan sedikit ungu, tak menggoyahkan tatapan Kian sama sekali.Dada Kian berdesir hebat, jantungnya berdegup kencang hingga menimbulkan rasa sesak yang menyesakkan rongga dadanya. Mata Kian tiba-tiba berkaca-kaca, panas dan basah mengaburkan pandangannya.Ingatan Kian ditarik paksa, mundur ke lima tahun lalu.Kian teringat pada bayangan bayi mungilnya yang hilang tanpa jejak, bayi yang memiliki tanda lahir yang persis sama di tempat yang sama seperti milik Kaylan.“Kay ....” Suara Kian bergetar. Dia menahan napasnya sejenak. “Bibi boleh tanya sesuatu? Apa ... apa sejak kecil Kaylan sudah punya tanda lahir berwarna merah di lengan kiri ini?” Tatapan Kian kini tertuju pada wajah Kaylan, matanya menyorot penuh harap.Kaylan melirik ke lengannya. Namun, tepat di saat Kaylan hendak menjawab pertanyaan itu, terdengar suara pintu terbuka yang mengalihkan pandangan Kaylan dan Kian.Sienna melangkah masuk ke dalam kamar dengan n
Kian membantu Kaylan turun dari ranjang pemeriksaan dengan sangat hati-hati setelah menyelesaikan semua administrasi dan berpamitan dengan guru Kaylan.Kian menggandeng tangan Kaylan untuk menuju area parkir rumah sakit.“Kaylan.” Kian menoleh pada Kaylan. Dia menatap ke perban yang menempel di kening kanan anak itu. “Boleh Bibi tahu, tadi kenapa Kaylan bisa sampai jatuh di lapangan?”Kaylan hanya menatap pada Kian. Bibirnya terkatup rapat, dari sorot matanya seolah menyiratkan jika dia tidak ingin mengatakan apa yang terjadi.Kian mengembuskan napas pelan melihat sikap diamnya Kaylan. Dia memilih tak terlalu memaksa.“Ya sudah, kalau Kay belum mau cerita tidak apa-apa. Kita pulang sekarang, ya.” Tatapan Kian begitu lembut pada Kaylan.Kaylan mengangguk-angguk. Dia semakin mempererat genggaman tangan pada Kian yang begitu hangat dan halus.Begitu sampai di area parkir. Kian memastikan Kaylan duduk dengan nyaman di dalam mobil. Baru setelahnya dia melajukan mobil menuju rumah.Di sepan
Kian meninggalkan perusahaan dengan tergesa-gesa. Dia mengemudikan mobilnya membelah jalanan menuju sekolah Kaylan.Wajah Kian pucat pasi, dia tak bisa menutupi kegelisahan dan kepanikannya. Bahkan beberapa kali Kian menekan klakson dengan sangat kuat ketika ada mobil yang melaju menghambat perjalanannya.Kian sangat ketakutan mendengar kabar jika Kaylan jatuh dan kepalanya berdarah sampai harus dilarikan ke rumah sakit. Bahkan napasnya mendadak sesak karena dia menahan air matanya agar tidak luruh.Begitu tiba di rumah sakit yang dekat dengan sekolah Kaylan. Kian segera menuju ke UGD.Sesampainya di sana, tatapan Kian tertuju pada guru Kaylan yang berdiri di depan ruang pemeriksaan.Kian bergegas menghampiri, begitu sampai di depan guru Kaylan, Kian langsung bertanya, “Miss, apa yang terjadi?”Guru Kaylan menatap penuh rasa bersalah pada Kian.“Begini, tadi waktu pelajaran olahraga. Kaylan berdiri di dekat Diana. Tapi entah kenapa, tiba-tiba anak-anak berteriak, pas saya cek, Kaylan
Keesokan harinya.Arthur terbangun dengan wajah terkejut. Dia baru saja mimpi sangat buruk sampai membuat wajahnya memucat.Arthur menetralkan detak jantungnya, sebelum menoleh ke samping untuk melihat kondisi Kian.Hingga betapa terkejutnya Arthur ketika tak mendapati Kian di sisi ranjang.“Kian.”
Arthur berdiri di sisi ranjang. Wajahnya pucat dan panik melihat kondisi Kian yang seperti ini.Tidak menangis, tidak tertawa.Kian diam dengan tatapan kosongnya.“Bagaimana kondisinya, Dok?” Arthur bertanya setelah Dokter selesai memeriksa Kian.Dokter menoleh pada Arthur, kepalanya menggeleng.“U
Waktu seperti berhenti mendengar apa yang baru saja Arthur katakan.Jantung Arron berdegup kencang, napasnya sampai tertahan sejenak.“Ap-apa maksudmu, Arthur?” Arron benar-benar tak percaya dengan apa yang didengarnya.“Bayi kami sudah meninggal, Kek. Bajingan itu membunuhnya.” Arthur memeluk sema
Dengan kecepatan tinggi. Arthur mengemudikan mobil menembus jalanan yang tidak terlalu padat.Matanya melirik ke layar layar yang sudah disinkron ke GPS lokasi Kendrick kini berada.Tidak peduli bagaimanapun caranya, hari ini Arthur harus bisa mendapatkan Hendra.Memacu mobilnya dengan kecepatan se







