LOGINWanita ini tersentak. Dia mematung selama beberapa detik, sebelum akhirnya bahunya merosot turun, seolah seluruh tenaganya mendadak lenyap.“Harusnya saya sudah tahu, orang yang datang ke sini di jam-jam sepi seperti ini pasti tahu soal video sialan yang beredar itu dan sekarang mau memastikan sendiri," ucapnya dengan nada suara yang bergetar menahan emosi.Dia mengembuskan napas panjang, lalu menatap Kian dengan senyum geetir di wajahnya. “Ya, saya memang pemilik restoran ini. Nama saya dan nama restoran ini hancur setelah video itu viral.”Wanita ini mengembuskan napas kasar, lalu kembali bicara. “Sekarang, saya sudah tidak sanggup lagi membayar banyak pelayan seperti dulu. Uang tabungan saya habis. Makanya, terpaksa saya turun tangan sendiri menghandle semuanya bersama pelayan yang tersisa.”Kian diam mendengarkan, dia melihat jelas raut wajah wanita ini yang begitu frutasi.Wanita itu menghela napas kasar, tatapannya kosong tertuju ke koridor restonya yang tak seramai dulu meski
Tak butuh waktu lama.Pelayan wanita tasi kembali membawa nampan besar berisi makanan yang Kian dan Ginny pesan. Aroma harum dari uap makanan yang menguar di udara menusuk indera penciuman. Kian diam memperhatikan pelayan menyajikan satu persatu makanan yang dipesannya, tanpa menanyakan banyak hal lagi agar tak membuat pelayan ini merasa tak nyaman.“Silakan menikmati hidangannya.” Pelayan tersenyum ramah pada Kian dan Ginny.Kian mengangguk sambil membalas senyum pelayan ini. “Terima kasih, ya.”Pelayan mengangguk pelan, lalu membalikkan tubuhnya dan meninggalkan meja Kian.Setelah pelayan itu menjauh. Kian dan Ginny mulai mengambil sendok. Mereka mencicipi hidangan di atas meja satu per satu. Baru suapan pertama, gerakan mengunyah keduanya mendadak melambat. Mereka saling tatap dengan mata mereka yang membola lebar.“Bu Kian, jelas-jelas makanannya enak sekali,” bisik Ginny, dia tidak bisa menyembunyikan rasa takjubnya. “Bumbunya pas, dagingnya juga empuk.”“Benar.” Kian membalas
Rasa penasaran Kian semakin meledak. Dia tidak bisa tenang dan hanya duduk di kursinya.Kian harus mencari tahu lebih lanjut.Dia segera bangkit dari kursinya lalu berdiri dan melangkah keluar dari ruang kerja.Begitu menginjakkan kaki di luar, Kian menghampiri meja asistennya. “Ginny, ikut aku sekarang.” Kian berdiri di depan meja sambil menatap Ginny yang baru saja mendongak ke arahnya.Ginny segera berdiri dari duduknya. “Anda mau ke mana, Bu?” Ginny lebih dulu memastikan. “Kita datangi salah satu tempat makan yang pernah di-review buruk oleh Rose.” Kian bicara dengan nada pelan agar tak menarik perhatian karyawan lain.Ginny terkejut, tapi kemudian dengan sigap mengambil tasnya dan mengikuti langkah Kian meninggalkan ruang divisi menggunakan lift, lalu menuju area parkir.Mereka berkendara ke sebuah restoran yang lokasinya berada di area strategis kota. Tak butuh waktu lama hingga keduanya tiba di sana.Sampai Kian menyadari kalau suasana di luar bangunan tampak begitu lengang.
Begitu berhasil meninggalkan pusat kebugaran tanpa diikuti, Rose mengembuskan napas panjang. Jantungnya berdegup kencang, dan tangannya sedikit gemetar saat mencengkeram kemudi. Dia benar-benar panik setelah berhadapan langsung dengan Kian dan Arthur tadi.Sambil mengemudikan mobilnya membelah jalanan, Rose segera memasang earphone dan menghubungi sebuah nomor. Dia menunggu beberapa detik, sampai panggilan tersambung dan terdengar suara seorang wanita dari seberang telepon.“Pimpinan HW. Company baru saja menemuiku langsung di tempat pusat kebugaran.” Rose bicara dengan sangat cepat.“Apa yang mereka katakan kepadamu?” Rose mendengar suara wanita dari seberang panggilan, lalu dia menjelaskan, “Mereka mengajak mediasi. Mereka bilang siap tanggung jawab kalau produk mereka memang bermasalah.” Rose masih agak gelisah. Matanya yang menyorot panik sesekali melirik kaca spion untuk memastikan dia benar-benar tak dibuntuti. “Sekarang aku harus bagaimana? Orang-orang itu pasti tidak akan
Kian dan yang lain sangat terkejut mendengar penolakan dan pengusiran dari Rose–nama akun influencer yang mengkritik produk HW. Company.Penolakan Rose ini tentu membuat semua orang semakin yakin jika ada sesuatu di balik tindakan Rose membuat dan menyebar video tentang produk HW. Company.Kian benar-benar tidak menyangka jika harus menghadapi wanita seperti ini.Belum juga Kian mengeluarkan argumen untuk mendesak Rose agar mau duduk berdiskusi dengan mereka. Kian melihat Rose memutar tubuhnya dengan gerakan cepat lalu menyambar tas olahraga yang tergeletak di atas kursi.Namun, sebelum Rose pergi, Kian dengan sigap menggeser posisinya berdiri untuk menghalangi Rose pergi begitu saja.“Tunggu sebentar, Nona Rose.” Kian bicara dengan nada pelan dan sopan. Meski tak menyukai sikap wanita di depannya ini, tapi Kian tetap tersenyum lalu berkata, “Kami datang ke sini murni dengan niat baik. Video yang Anda unggah di akun Anda sudah menggiring opini publik dan menciptakan persepsi yang san
Setelah bicara dengan Ginny. Kian meninggalkan ruang kerjanya dan pergi ke lantai tempat ruangan suaminya berada.Kian melangkah cepat menyusuri koridor menuju ruang kerja Arthur begitu keluar dari lift yang baru saja terbuka di lantai ini. Saat tiba di depan pintu eksekutif, dia langsung mendorongnya lalu masuk dan mendapati suaminya tengah memeriksa beberapa dokumen di balik meja kebesarannya.“Arthur.” Kian memanggil lembut.Kian melihat tatapan suaminya kini teralihkan ke arahnya.“Kamu bawa kabar soal kasus video itu?” Arthur berdiri dari duduknya untuk menyambut kedatangan sang istri.Kian mengangguk-angguk pelan.Kian berjalan ke sofa dan mendudukkan diri di sana.Kian menunggu Arthur duduk di sampingnya, sebelum dia mulai menjelaskan semua hasil laporan yang tadi diberitahukan oleh Ginny termasuk kejanggalan terkait sikap influencer itu.Arthur mendengarkan dengan seksama, hingga keningnya berkerut dalam. “Rasanya memang sangat tidak masuk akal. Jika dia memang merasa dirugik
Arthur dan Kian menoleh bersamaan.Kini, tak jauh dari pandangan mereka, seorang anak kecil memegang senapan mainan berdiri memandang keduanya.Kian berdiri dari duduknya. Tatapannya terus tertuju ke anak laki-laki ini. “Arthur, dia ….” Arthur ikut berdiri..“Niel, kamu jangan nakal.”Sebelum Arth
Sore hari.Kian berjalan menghampiri Arthur yang sudah menunggu di depan lobby.“Jadi, siapakah orang yang ingin kita temui?” Kian berdiri di hadapan Arthur, senyumnya terangkat lebar untuk suaminya.“Nanti kamu akan lihat.” Arthur membuka pintu untuk Kian.Kening Kian berkerut, dia tatap penasaran
Arthur berdiri di samping meja kerjanya. Jemarinya mengusap tepian meja, memandangi tempat kerja yang selalu dibanggakannya bertahun-tahun ini.“Tuan.” Kendrick masuk ke dalam ruang kerja Arthur setelah menyapa.Kendrick meletakkan setumpuk berkas di atas meja.“Ini semua tawaran akuisisi dari bebe
Kian sudah selesai dengan Hendra. Dia keluar dari ruang kunjungan, tatapannya langsung tertuju pada Arthur yang menantinya. “Sudah selesai?” Arthur memastikan. Matanya menelisik ke setiap tubuh Kian, memastikan istrinya tak terluka. Kian mengangguk-angguk pelan. Meski yang dilakukannya tak bisa m







