ANMELDEN“Bagaimana kondisi cucuku, Dok? Dia baik-baik saja, kan?” Arron mengulang pertanyaannya karena tak sabar menunggu balasan dari dokter.Dokter tersenyum kecil melihat kecemasan di raut wajah Arron.“Anda tenang saja, Tuan Arron.” Dokter menoleh sekilas ke ranjang tempat Kian terbaring, sebelum kembali memandang Arron. “Cucu Anda baik-baik saja.”“Tapi, kenapa dia jatuh pingsan? Keningnya juga terluka, apa dia mengalami benturan keras sampai membuat kondisinya tidak baik?” Arron mencecar berdasarkan kondisi Kian yang tidak baik-baik saja tadi.Dokter tersenyum. “Cucu Anda pingsan bukan karena semua kondisi fisiknya itu, Tuan Arron. Tapi, berdasarkan hasil pemeriksaan luar. Cucu Anda ini sedang hamil.”“Ham … apa?” Arron menatap tak percaya. “Kamu bilang, cucuku hamil?” “Betul.” Dokter mempertegas. “Tapi, untuk memastikan apakah pemeriksaan yang saya lakukan tidak salah, saya akan memanggil dokter kandungan untuk memeriksanya.”Kedua kaki Arron begitu lemas, bukan karena sedih tapi rasa
Sebelum pelatuk tertarik sempurna. Telunjuk Oliver kembali ke posisi semula ketika melihat siapa yang sekarang berdiri di hadapannya sambil merentangkan kedua tangan.Oliver berhenti meluncurkan peluru dari dalam senjatanya.“Hentikan. Oliver, kumohon berhenti.”Tangan Oliver perlahan turun dari udara saat melihat mata Kian yang berkaca-kaca. Dia tidak pernah menyangka kalau Kian ternyata ada di mobil bersama Arthur.“Menyingkir, Kian.” Oliver kembali mengangkat tangannya, mengarahkan senjata pada Kian.“Kian … pergi.”Kian melirik ke belakang. Suaminya terkapar di sana dan tidak mungkin baginya pergi meninggalkan Arthur sendiri.Saat kembali menatap pada Oliver, Kian berusaha tenang walau wajahnya merah padam karena Oliver benar-benar sudah di luar kendali.“Hentikan semua ini, Oliver. Aku tahu, bukan ini yang kamu inginkan, bukan?”Ujung pistol mengarah ke kening Kian, setelah Oliver mendengar apa yang Kian ucapkan. “Tahu apa kamu tentangku?”“Aku memang tidak tahu apa pun tentangmu
Arthur langsung melepas sabuk pengamannya. Wajahnya begitu panik melihat kening Kian terluka.“Kian, mana yang sakit lagi?” Arthur memperhatikan Kian yang memejamkan mata sambil menahan sakit. Seketika membuatnya panik luar biasa.Arthur membuka pintu mobil. Dia ingin segera mengeluarkan Kian dari dalam mobil agar bisa dibawa ke rumah sakit.Ketika baru saja menginjakkan kaki di luar mobil, sebuah tangan sudah lebih dulu menarik kerah kemeja Arthur.Arthur tersentak. Sampai matanya melebar tak percaya melihat siapa yang ada di hadapannya saat ini.“Sepertinya, malam ini menjadi malam keberuntunganku.” Oliver mencengkram kuat kerah kemeja Arthur.Mata Arthur menyorot tajam. “Apa pun niatanmu malam ini. Aku sedang tidak berniat meladenimu.”Oliver geram karena ucapan Arthur yang dianggapnya sombong. “Bahkan setelah perusahaan yang akan kamu warisi kebakaran, dan sekarang nyawamu di ujung tanduk. Kamu masih bisa bersikap angkuh?!”Tidak mau meladeni semua tindakan gila Oliver karena menc
Arthur masuk ke dalam mobil van. Dia duduk di salah satu kursi, menatap ke layar monitor yang ada di dalam mobil.“Kalian menemukan apa?” tanya Arthur dengan tatapan terus tertuju ke rekaman CCTV di layar.Kendrick berada di dekat Arthur. Dia mulai menjelaskan.“Sebelum kebakaran terjadi. Kamera CCTV di pos menangkap gerak-gerik pemotor yang mencurigakan.” Kendrick memberi isyarat anak buahnya untuk memutar rekaman video yang dilihatnya.Arthur mengamati dengan seksama pemotor yang Kendrick maksud. Pria memakai jaket kulit hitam dan helm fullface hitam yang dilihatnya dalam rekaman, memang sangat mencurigakan.“Setelah pria itu pergi, terdengar suara ledakan dari lantai ruangan Anda sebelum api menyebar luar, dan menit berikutnya seorang pria keluar dari lobby.”Kini Kendrick memperlihatkan rekaman dari kamera lain yang ada di area depan lobby.Arthur diam mengamati rekaman yang Kendrick perlihatkan. Sampai punggungnya agak menegak.“Putar ulang rekaman pemotor tadi, lalu berhentikan
Kian baru saja membuka mata setelah tangannya meraba sisi ranjang dan tak menemukan keberadaan suaminya.Duduk di atas ranjang dengan mata mengerjab beberapa kali, Kian memandangi sekitar. Tidak ada tanda-tanda suaminya di kamar.“Arthur.”Kian memanggil nama suaminya, tapi tidak ada balasan sama sekali.Mengangsurkan kaki ke lantai, Kian meninggalkan ranjang dan melangkah menuju pintu.Saat menuruni anak tangga, Kian melihat Malvin yang berjalan mengarah ke pintu depan. Kian melanjutkan langkahnya sampai tiba di anak tangga terakhir.Ketika menoleh ke arah ruang keluarga, Kian masih tak mendapati Arthur di sana. Hanya ada sang kakek yang duduk diam sendirian.“Kek.” Kian melangkah menghampiri Arron.Arron menoleh saat mendengar suara Kian. Wajahnya yang tadi tegang, seketika berubah tenang bahkan Arron memulas senyum pada Kian.“Kamu sudah bangun.”Kian mengangguk.
Arthur baru saja akan masuk ke dalam kamar lagi untuk menemani Kian ketika suara ponsel yang ada di saku celananya berdering.Arthur berhenti melangkah, tangannya mengeluarkan ponsel dan melihat nama Kendrick di layar.“Ada apa?” Arthur langsung bicara begitu menjawab panggilan itu.“Tuan, terjadi kebakaran di ruang kerja Anda. Beberapa pemadam kebakaran sudah dikerahkan untuk memadamkan api.”“Apa?” Mata Arthur membola lebar.Kakinya berputar kembali ke arah tangga. Dia melangkah cepat sambil masih terhubung dengan panggilan Kendrick.“Aku akan segera ke sana.”Arthur mengakhiri panggilan. Dia mempercepat langkah menuruni anak tangga.Sampai pandangan Arthur tertuju pada Malvin yang berdiri di ruang keluarga bersama Arron.“Kek, ada yang harus aku sampaikan ….” Sebelum Arthur melanjutkan kalimatnya, dia sudah lebih dulu melihat wajah tegang Arron.Arthur menatap pada Malvin, sepertinya asisten sang kakek sudah memberitahu soal kebakaran di perusahaan.“Kakek sudah tahu soal kebakaran







