LOGINHalo, terima kasih yang sudah membaca kisah ini, maaf jika saya hanya bisa update 1 bab, semoga kalian tetap setia membaca kisah Arthur dan Kian sampai akhir.
Di perusahaan HW. Company.Kian melangkah keluar dari lift lalu menuju ke ruang kerjanya.Saat melewati kubikel milik Ginny, Kian memanggil asistennya itu hanya dengan isyarat matanya yang membuat Ginny langsung berdiri dari duduknya.Begitu Kian melangkah masuk ke dalam ruang kerja pribadinya, Ginny mengikuti Kian lalu berdiri di depan meja dengan beberapa berkas tebal di dalam dekapannya.Ginny menunggu Kian duduk lebih dulu, sebelum dia menyampaikan informasi yang dimilikinya.“Bagaimana hasil penyelidikannya?” Kian langsung bertanya saat tatapannya tertuju pada Ginny.Ginny meletakkan berkas yang dibawanya di atas meja lalu mendorong pelan ke arah Kian. “Ini laporan hasil penyelidikan dari tim terkait kasus video viral yang heboh kemarin, Bu.”Tangan Kian terulur ke arah map yang baru saja Ginny letakkan, lalu segera membuka lembar pertama pada berkas laporan tersebut dan membaca dengan seksama. “Jadi, bagaimana hasil investigasinya, Ginny?”Kian bertanya dengan tatapan tertuju ke
Kaylan masih menatap bingung pada semua orang, sampai tatapan Kaylan tertuju pada Sienna.Kaylan melihat Sienna yang tersenyum hangat ke arahnya.Dia akhirnya mengangguk pelan.“Selama ada Ibu, aku akan melakukan apa pun.” Kaylan menatap bergantian pada Kian dan Arthur.Kian tersenyum dengan tatapan gemas mendengar balasan Kaylan. Namun, dia tidak marah jika Kaylan masih bergantung pada Sienna. Bagaimanapun Sienna tetap ibu pertama bagi Kaylan.Kian mengusap lembut kedua pipi Kaylan, dengan tatapan hangat dia berkata, “Tentu saja, Ibu akan di sini bersama kita. Bahkan Ibu mulai sekarang tidak akan susah payah cari uang lagi. Karena di sini, semua kebutuhan Ibu dan Kay akan tercukupi. Apa Kay senang?”Senyum Kaylan begitu lebar. Dia mengangguk-angguk pelan. “Senang.”Kian memeluk Kaylan dengan erat, bahkan dia mencium berkali-kali pucuk kepala Kaylan dengan penuh kasih sayang.**Malam semakin larut.Kian berdiri di dekat ranjang Kaylan, kedua tangannya memeluk lengan satu sama lain sa
Di ruang makan.Kaylan makan dengan lahap meski kondisinya kurang baik.Kaylan sejak tadi memperhatikan Sienna. Dia menyadari kalau mata ibunya merah seperti habis menangis.“Apa Ibu tadi nangis? Kenapa Ibu banyak diamnya?” Kaylan menatap penuh rasa penasaran.Sienna langsung tersenyum setelah mendengar pertanyaan Kaylan. Dia menggeleng pelan.“Tidak, kenapa kamu bertanya seperti itu, Sayang?” Sienna menatap gemas karena pertanyaan Kaylan.“Karena mata Ibu merah, juga Ibu seperti sedih.” Tatapan Kaylan berubah sendu pada Sienna.Sienna semakin melebarkan senyumnya. Dia tidak mau membuat Kaylan banyak pikiran.Sebelum melanjutkan ucapannya. Sienna lebih dulu menyuapi Kaylan.“Ibu hanya sedang senang saja, sampai tidak sadar menangis dan mata Ibu jadi merah.” Sienna menjelaskan dengan kalimat yang mudah Kaylan cerna.Kaylan mengangguk-angguk karena mulutnya penuh dengan makanan yang masih dia kunyah.Kaylan menelan makanan di mulutnya, lalu dia kembali bicara. “Terus, kenapa tadi Bibi K
Setelah Liza dan Diana berpamitan untuk pulang, serta Sienna yang masih menemani Kaylan makan di dapur.Suasana di ruang keluarga kediaman Arron berangsur tenang. Kini, hanya tersisa Kian, Arthur, dan Arron yang duduk bersama di ruang keluarga.Arthur menatap Kian yang sudah tenang dan bisa tersenyum lepas.“Ki, kenapa kamu tadi tidak memberitahuku soal video yang sedang viral di sosmed?” Arthur mulai membahas masalah di perusahaan.Sebelum Kian menjawab pertanyaan suaminya, ternyata sudah lebih dulu terdengar Arron bicara.“Ada apa dengan video itu? Apa masalahnya sampai begitu ramai?”Tatapan Arthur tertuju pada sang kakek, napas Arthur mengembuskan berat lalu dia menjelaskan. “Ada seorang influencer yang melakukan review buruk di media sosial. Dia mengklaim jika produk makanan kita buruk dan bahkan membuat mual sampai muntah.”Arthur menjeda kalimatnya beberapa saat, lalu kembali bicara. “Efek dari video itu menyebar sangat cepat, Kek. Sampai siang tadi, sudah mulai terjadi penurun
Sore hari.Semua orang masih berkumpul di ruang keluarga kediaman Arron. Saat masih berbincang hangat satu sama lain, melupakan penat karena pekerjaan, tatapan Kian teralih ke ujung ruangan. Kian melihat Kaylan yang berjalan pelan-pelan ke arah semua orang duduk.“Kaylan.” Kian langsung berdiri. Dia buru-buru menghampiri Kaylan yang tampak masih mengantuk.Begitu tiba di hadapan Kaylan, Kian berlutut lalu memasang senyum manis di wajahnya. “Kaylan, Sayang, kamu sudah bangun? Bagaimana? Apa kepalamu masih pusing?”Kaylan mengerjapkan matanya pelan, lalu menggeleng kecil. “Tidak, Bibi. Kepalaku sudah tidak pusing lagi, kok.”Kian bernapas lega mendengar balasan dari Kaylan, setidaknya luka di kening Kaylan tidak terlalu parah.Mata Kian tiba-tiba panas saat memandangi wajah Kaylan. Setelah lima tahun, akhirnya dia bisa melihat bayinya, walau Kian kehilangan banyak waktu dan tak bisa menemani Kaylan tumbuh.Yang terpenting sekarang. Kian bisa melihat Kaylan lagi.Kian memeluk erat tubu
Kian terkejut mendengar pengakuan dari Liza.Mata Kian melebar, tatapannya kini beralih pada Diana yang masih diam menunduk. Perlahan Kian membuang keterkejutannya. Dia tidak ingin membuat Diana semakin takut.Kian berlutut di hadapan Diana, lalu memegang lembut kedua pundak gadis kecil yang jadi anak angkatnya ini. “Diana, lihat Mami, Sayang.” Kian bicara dengan nada suara yang sangat lembut.Kian melihat Diana yang masih diam tertunduk, bahkan Diana semakin menyembunyikan wajahnya di belakang kaki Liza.“Tidak apa-apa, Mami tidak akan marah.” Kian membujuk. “Kemarilah, tidak apa-apa, hm.”Kian melihat Diana yang perlahan mengangkat pandangan ke arahnya.Kian tersenyum dengan tangan kanan yang terulur ke arah Diana agar mau mendekat padanya.“Kemarilah, tidak apa-apa. Mami tidak akan menggigit.” Kian kembali bicara dengan nada candaan agar Diana tak merasa takut jika hanya melihat tatapan darinya.Perlahan Diana akhirnya melangkah maju. Kini dia berdiri di samping Liza, dia masih me
Keesokan harinya.Kian langsung turun ke bawah untuk melihat Kaylan.Dia cemas karena semalam Kaylan tidur sebelum makan.Kian takut Kaylan kelaparan dan tidak berani memberitahu siapa pun.Saat masuk ke dalam kamar. Kian langsung mencari keberadaan Kaylan.Tapi dia tak menemukan anak itu di kamar.
Wajah Kaylan begitu kaku, matanya membola lebar saat melihat siapa yang ada di hadapannya sekarang.Pandangan Kaylan sedikit diturunkan saat dia berkata, “Aku lapar.” Arthur menatap Kaylan yang tak berani memandangnya ini. “Lapar? Bukankah ada susu kotak dan camilan di kamarmu? Atau kamu makan yan
Arthur melirik sekilas ke istrinya. Dia melihat bagaimana tatapan Kian yang penuh kasih pada Kaylan.Arthur mungkin egois, tapi dia tidak bisa mengabaikan kebahagiaan Kian.Dia sadar, hidup mereka, bukan hanya berpusat padanya saja. Lagi pula, Kian sudah banyak melakukan banyak hal untuk keluarga
Sienna lebih dulu memandang pada Kaylan, lalu dia kembali menatap Kian.“Kaylan berkata kalau Anda punya anak tapi tidak ada di sana, apa itu benar? Saya hanya penasaran saja, karena Anda sangat baik mau memberikan pakaian anak Anda untuk Kaylan.”Sienna bicara dengan sangat hati-hati.Tapi melihat







