Mag-log inHari berikutnya.Arthur di ruang keluarga sedang menandatangani berkas-berkas yang Kendrick bawa.Dia mengambil cuti beberapa hari untuk menemani Kian, tapi tetap mengurus pekerjaan yang Kendrick ajukan.“Apa kondisi Kian sudah lebih baik?” Kendrick memberanikan diri bertanya. Arthur menggeleng tanpa menoleh pada Kendrick. “Semakin memburuk,” katanya sambil membubuhkan tandatangan.Arthur menoleh pada Kendrick, dia melihat keterkejutan di wajah asistennya ini.Arthur menghela napas kasar. “Semalam, dia terus menangis saat tidur. Aku tidak tahu lagi, bagaimana caranya menenangkannya.”Arthur menghela napas putus asa.Kendrick terdiam. Siapa pun akan bingung jika berada di posisi Arthur dan Kian.“Di perusahaan, sudah menyebar berita tentang hilangnya bayi Anda karena selebaran dan sayembara yang Anda sebar. Sayangnya, tetap saja belum ada yang tahu atau melihat bayi Anda.”Napas kembali Arthur hela kasar. “Hari ini, aku berencana mengajak Kian berkeliling ke panti-panti untuk memastik
Arthur terkejut mendengar suara Kian yang begitu keras.Arthur cemas kondisi Kian memburuk jika emosinya meledak.“Kian, tenangkan dirimu dulu.” Satu tangan Arthur merangkul pundak Kian, dia mencoba menahan sang istri agar tidak semakin terpancing amarah.Kian terus memandang pada Linda. Sorot mata Kian penuh kekecewaan dan penyesalan.“Jika, jika saja aku tahu kalau kalian sejahat ini. Seharusnya sejak lama aku memutus hubungan dengan kalian.” Suara Kian berat tertahan. “Aku masih memandang kalian sebagai keluarga, tapi apa yang kalian lakukan? Kalian membuatku kehilangan putraku.”Wajah Linda memucat. Dia tidak menyangka Kian mengeluarkan kata-kata kasar dan lantang seperti ini.“Aku benar-benar tidak tahu apa yang kamu katakan. Aku ditahan di sini, dan Siska juga tidak tahu keberadaannya. Lalu kamu tiba-tiba datang menanyakan apakah Siska ke sini? Lalu aku suruh jawab apa, hah?” Tatapan Linda begitu panik.Dada Kian benar-benar sesak. Tak mendapat petunjuk keberadaan bayinya, sekar
Selebaran sketsa bayi Kian sudah disebar. Imbalan yang ditawarkan juga tidak sedikit demi bisa menemukan bayi mereka.Sudah dua hari. Tapi belum juga ada kabar.“Apa belum ada yang menghubungi?” Kian gelisah.Arthur menggeleng pelan. “Kita harus tetap bersabar.”Kian menatap pilu. Rasanya sudah sangat lama dia kehilangan bayinya.“Apa dia baik-baik saja? Siapa yang memberinya susu? Apa dia tidur dengan nyenyak?” Mata Kian berkaca-kaca.Arthur langsung memeluk Kian.“Kamu yakin dia baik-baik saja, kan? Maka dia akan baik-baik saja.”Mendengar ucapan Arthur, Kian memejamkan mata. Cairan bening menetes dari matanya.Kian tidak tahu, apakah dia yakin bayinya baik-baik saja. Yang jelas, dia gelisah, takut, dan sedih.Dia tidak bisa tidur dengan lelap, tidak bisa makan dengan lahap. Bagaimana bisa dia tetap baik-baik saja jika tidak tahu di mana bayinya sekarang.Kian berusaha kuat hanya untuk suaminya, memberikan kepercayaan agar suaminya bisa fokus menjadi bayinya.Hari ketiga. Kian suda
Arthur berdiri sambil menatap Dokter yang sedang mengobati jahitan yang kembali terbuka akibat gerakan Kian karena emosi tadi.Arthur melihat tatapan Kian yang kosong. Kondisi Kian saat ini, lebih menyakitkan dari kehilangan bayi mereka.“Pak Arthur, jahitannya sudah dibersihkan dan ditutup ulang.” Dokter menoleh sekilas pada Kian setelah selesai bicara. “Kami ikut turut berduka, semoga bayi kalian segera ditemukan.”Arthur tak membalas perkataan dokter.Tatapan Arthur terus saja tertuju pada Kian.Setelah dokter dan perawat pergi. Arthur mendekati Kian yang hanya diam.Tatapan Kian begitu kosong, terlihat jelas kehampaan dalam sorot matanya.Arthur dengan hati-hati menggenggam telapak tangan Kian, setelah mengecup punggung tangan Kian, Arthur bicara.“Kita pasti akan menemukannya. Kita tidak akan menyerah untuk terus mencarinya.” Suara Arthur sedikit bergetar.Kehilangan bayinya sudah sangat menyakitkan untuk Arthur, ditambah kondisi Kian yang seperti ini membuat dadanya seperti dic
Di luar kamar.Arron menunduk menyembunyikan tangisnya.Hatinya begitu ngilu mendengar teriakan dari Kian.“Tuan.” Malvin hanya bisa diam menatap kepedihan yang juga Arron rasakan.“Kenapa harus begini? Kenapa harus cicitku yang menjadi korban?” Arron tak bisa membendung air matanya.Malvin hanya bisa tertunduk diam. Untuk saat ini, tidak ada satu pun yang tak bersedih.Di dalam kamar.Kian masih terus menangis. Arthur masih terus memeluk, membiarkan tangan Kian memukuli lengannya.“Kembalikan bayiku, aku mau bayiku, Arthur.” Suara Kian mulai memelan, serak karena teriakan yang tak ada hentinya.“Aku janji akan membawanya kembali, Kian. Kumohon sekarang tenangkan dirimu dulu.” Arthur masih belum melepas pelukan.Kini Arthur menundukkan kepala, matanya terpejam menahan air mata yang siap jatuh dari pelupuk matanya.Kian masih sesenggukan, tubuhnya benar-benar lemas, bahkan kata-kata sudah tak sanggup lagi keluar dari bibirnya.Arthur masih terus memeluk, sesekali dia mencium pipi Kian
Arthur mencoba untuk tenang. Matanya terpejam beberapa saat sebelum menoleh pada Kendrick lagi.“Selidiki, ke mana Siska sebelum pergi ke stasiun, pasti ada jejak yang memperlihatkan ke mana saja dia pergi membawa bayiku.” Tatapan Arthur masih begitu merah.“Baik, Tuan. Akan segera saya laksanakan.” Kendrick mengangguk.“Juga, minta orang untuk mengecek setiap bayi yang baru saja lahir, bagaimanapun caranya aku harus menemukan bayiku.” Suara Arthur sedikit menggeram.Kendrick kembali mengangguk pelan.“Lalu, sekarang apa rencana Anda terhadap Kian, Tuan? Anda ingin jujur padanya atau ingin membohonginya dengan memberikan bayi lain?” Kendrick memastikan.Arthur diam beberapa saat. Napasnya berembus kasar, sebelum dia berkata, “Sepertinya lebih baik jujur. Jika aku membohonginya, maka masalahnya akan semakin membesar.”Kendrick mengangguk-angguk pelan. “Saya mengerti, Tuan.”Setelah meminta polisi untuk segera menangani kasus ini. Arthur kembali ke rumah sakit tempat Kian dirawat sendir
Kian melangkah keluar dari kamar mandi dengan rambut tergulung handuk. Langkah Kian terhenti kala tatapannya tertuju pada Arthur yang berdiri di dekat jendela.Punggung lebar, tubuh tegap begitu sempurna, jika ada yang mengatakan kalau Arthur adalah orang kaya, Kian pasti akan percaya karena Arthur
Melangkah meninggalkan meja Kanaya setelah menyerahkan file desain revisi yang Kian buat. Kian sekarang masuk ke dalam lift, lalu naik menuju rooftop perusahaan.Ketika menginjakkan kaki di rooftop, tatapan Kian langsung tertuju pada Arthur. Suaminya sudah di sana, kini berdiri memandang ke hampara
Di rumah mewah Arron.Napas kasar berulang kali Arron embuskan. Kedua tangannya kini meremat kuat pangkal tongkat yang digenggamnya.“Apa Arthur sudah ada tanda-tanda mengajukan perceraian dengan wanita itu?” Tatapan Arron menajam saat tertuju pada Malvin–asisten pribadinya.Malvin menggeleng pelan
Supervisor lagi-lagi dibuat terkejut dengan reaksi Kian.Kian langsung menoleh pada Arthur, suaminya berdiri tenang sambil berucap, “Kenapa tidak lihat dulu?”“Bolehkah?” Kian memastikan.Melihat Arthur mengangguk-angguk pelan, Kian akhirnya menggeser posisi berdirinya, berpindah ke depan etalase y







