LOGINPukul enam pagi, cahaya matahari pucat menyusup di sela gorden abu-abu kamar Clara. Cahaya itu membawa rasa cemas yang tak kunjung padam. Ia tidak benar-benar tidur semalam.
Pikirannya berputar antara wajah ibunya di rumah sakit dan tatapan tajam Adrian yang seolah ingin menguliti rahasianya. Clara bangkit, merasakan dinginnya lantai marmer menyedot sisa kehangatan dari telapak kakinya.
Di dalam lemari besar, ia menemukan sebuah dress selutut berwarna broken white. Itu pilihan Adrian—pakaian mahal yang kini terasa seperti seragam perang bagi Clara.
Ia merias wajahnya setipis mungkin untuk menonjolkan kecantikan alami. Persis seperti citra "menantu ideal" yang diinginkan keluarga konglomerat untuk dipamerkan kepada dunia luar.
pagi harinya, Adrian sudah menunggunya di lobi. Pria itu tampak sempurna dalam balutan setelan jas abu-abu gelap. Tidak ada ucapan selamat pagi atau pujian manis darinya.
Adrian melirik jam tangan mewahnya dengan raut tidak sabar. "Kau terlambat" ucapnya dingin, suaranya memantul di dinding lobi yang sunyi.
Clara tidak membalas. Ia mengikuti langkah lebar Adrian menuju mobil yang menunggu di teras. Di dalam kendaraan, Adrian menyodorkan selembar kertas kecil.
"Hafalkan ini sekarang," perintahnya tanpa menoleh. "Ini detail tentang pertemuan kita untuk versi Kakek. Kita bertemu di galeri seni Singapura setahun lalu."
"Aku tertarik pada seleramu, dan kita mulai berkencan secara privat. Jangan sampai ada satu detail pun yang meleset," tambah Adrian tajam.
Clara membaca kertas itu dengan perasaan mual. "Jadi, seluruh hidupku sekarang adalah kebohongan yang tersusun rapi dalam poin-poin?"
"Seluruh hidupmu adalah tentang memastikan satu miliar itu tidak sia-sia," balas Adrian datar. "Jangan hancurkan hari ini dengan kegagalan. Aku tidak membayar untuk itu."
Mobil memasuki gerbang besi raksasa rumah utama keluarga Wijaya. Tempat ini adalah pusat kekuasaan, di mana keputusan yang mampu mengguncang pasar saham diambil setiap hari.
Begitu turun, Adrian tiba-tiba meraih tangan Clara. Jemarinya menggenggam tangan Clara yang sedingin es dengan begitu posesif, hampir mencengkeram kuat.
"Berhenti memberontak," bisik Adrian. "Di dalam sana, kita adalah pasangan yang dimabuk cinta. Jika kau terlihat kaku, Kakek akan tahu dalam hitungan detik."
Adrian menatapnya tajam. "Ingat, dia ahli mencium bau ketakutan. Jangan buat aku menyesal telah memilihmu dari sekian banyak wanita di luar sana."
Clara mengatur napas, mencoba menenangkan debar jantungnya. Mereka melangkah masuk ke ruang makan luas, di mana seorang pria tua berambut putih duduk di ujung meja jati.
Tuan Besar Wijaya duduk dengan punggung tegak, menatap mereka dengan mata setajam elang. "Jadi, ini wanita yang membuat cucuku akhirnya menyerah pada pernikahan?" suara sang Kakek berwibawa.
Adrian menarik kursi untuk Clara dengan gerakan sopan yang palsu. "Dia spesial, Kek. Clara memiliki cara tersendiri membuatku tertarik sejak awal pertemuan kami di Singapura."
"Makanlah, Clara. Kau terlihat seperti tidak makan selama tiga hari," ucap Kakek sambil memperhatikannya saksama, seolah sedang membedah isi kepala Clara.
Clara memotong telur di piringnya dengan tangan gemetar. Ia menelannya dengan susah payah. Ingatannya melayang ke masa sepuluh tahun yang lalu saat keluarganya hancur.
Ia teringat ayahnya pulang dengan wajah hancur karena kebangkrutan yang disebabkan oleh pria di depannya ini. Keluarga Wijaya adalah alasan ayahnya kehilangan segalanya.
"Clara," panggil Kakek tiba-tiba. "Apa yang kau lihat dari cucuku ini? Adrian pria yang dingin dan menganggap manusia hanya sebagai angka. Mengapa kau mau menikah?"
Clara tertegun. Ini pertanyaan jebakan. Ia merasakan tatapan Adrian yang menusuk dari samping, menunggunya melakukan kesalahan fatal yang bisa merusak segalanya.
Clara meletakkan garpunya, menghapus sudut bibirnya dengan serbet secara tenang. Ia menatap langsung ke mata Tuan Besar Wijaya tanpa ada keraguan sedikit pun.
"Karena di balik dinding dingin itu, Adrian adalah pria yang tahu apa yang dia inginkan," ucap Clara jernih. "Dia tidak menjanjikan pelangi atau kata-kata manis yang kosong."
Clara melanjutkan tegas. "Dia memberikan kepastian. Dan bagi wanita yang sudah melihat betapa kejamnya dunia, kepastian jauh lebih berharga daripada cinta di atas awan."
Clara merasakan remasan lembut di tangannya di bawah meja. Adrian menatapnya. Untuk pertama kalinya, ada kilatan terkejut di mata pria itu atas kecerdikan jawaban Clara.
Kakek Wijaya terdiam, lalu tertawa kecil yang kering. "Jawaban yang cerdas. Kepastian, ya? Adrian memang selalu mendapatkan apa yang dia inginkan, dengan cara apa pun."
Tawa itu tiba-tiba berhenti. Sang Kakek meletakkan cangkir tehnya dengan dentingan tajam. Suasana seketika berubah menjadi mencekam.
"Untuk merayakan persatuan kalian, aku punya satu permintaan kecil," ucap sang Kakek. "Aku ingin kalian pindah ke rumah utama ini selama tiga bulan pertama pernikahan kalian."
Dunia seolah berhenti berputar bagi Clara. Pindah ke sini? Di bawah pengawasan ketat Kakek Wijaya? Ini benar-benar sebuah bencana bagi rencananya mencari bukti kejahatan mereka.
"Aku ingin memastikan cucuku tidak sedang bermain-main sebelum kuserahkan sisa saham perusahaan padanya," lanjut sang Kakek dengan nada mutlak yang tidak mungkin dibantah.
Clara menoleh ke arah Adrian, matanya memohon agar pria itu menolak. Namun, rahang Adrian mengeras. Ia tahu menolak kakeknya sama saja menyerahkan tahta perusahaannya.
"Tentu saja, Kek," suara Adrian terdengar tenang namun penuh tekanan. "Kami akan mulai pindah besok pagi. Kami akan sangat senang tinggal di sini bersama Kakek."
Clara merasa oksigen di sekitarnya menghilang. Mulai besok, ia tidak punya tempat bersembunyi. Setiap waktu akan dipantau secara ketat oleh seluruh penghuni mansion.
Itu berarti ia harus berbagi kamar dan tempat tidur yang sama dengan Adrian Wijaya. Tak ada lagi dinding pembatas yang melindunginya dari pria yang paling ia benci.
Namun, kejutan belum berakhir. Kakek tersenyum misterius sebelum mereka beranjak. "Ah, satu lagi. Minggu depan aku mengadakan pesta besar. Dan Clara, mantan tunangan Adrian akan datang sebagai tamu kehormatan."
Clara membeku. Ia melirik Adrian, dan untuk pertama kalinya, ia melihat topeng tenang pria itu retak sepenuhnya.
Clara tidak membuat keputusan malam itu.Bukan karena ragu.Melainkan karena ia tahu:keputusan yang terburu-buru selalu tampak heroik, tapi jarang bertahan.Pagi datang dengan hujan tipis.Langit abu-abu.Udara lembap.Clara tiba di kantor tanpa tas kerja besar.Hanya membawa notebook kecil dan ponsel.Ia tidak lagi punya agenda rapat.
Langkah itu datang pagi hari.Bukan diumumkan.Bukan dibacakan.Ia hadir dalam bentuk yang paling khas dari sistem yang tidak ingin terlihat represif:perubahan status.Clara mengetahuinya pukul 08.07.Saat ia mencoba mengakses agenda lintas unit—bukan untuk menulis, hanya membaca.Pesan itu muncul dengan nada datar:Akses Anda telah disesuaikan
Dampaknya tidak datang sebagai ledakan.Ia datang sebagai hening yang aneh.Pagi setelah publikasi, Clara bangun lebih awal dari biasanya.Bukan karena gelisah.Justru karena tidurnya terlalu nyenyak—tanda tubuhnya akhirnya berhenti menahan sesuatu.Ia membuka ponsel.Tidak ada banjir notifikasi.Tidak ada ucapan selamat.Tidak ada ancaman langsung.
Kebocoran itu tidak diumumkan.Ia terjadi seperti semua hal penting lain akhir-akhir ini:pelan, lalu sekaligus.Clara menyadarinya pukul 08.19.Bukan dari notifikasi resmi.Melainkan dari tatapan orang-orang yang berhenti terlalu lama ketika ia melintas di koridor.Ada yang ingin bicara.Ada yang ingin menghindar.Dan ada yang—untuk pertama kalinya—tidak lagi
Clara tidak mempublikasikan apa pun pagi itu.Justru karena itulah dampaknya mulai terasa.Ia datang ke kantor seperti biasa.Jam yang sama.Langkah yang sama.Namun sesuatu telah bergeser.Beberapa orang yang biasanya hanya mengangguk kini berhenti.Bukan untuk berbasa-basi.Tapi untuk memastikan satu hal:apakah Clara masih bicara.
Keputusan itu tidak diumumkan pagi-pagi.Tidak juga ditunda berhari-hari.Ia datang di waktu yang paling melelahkan:siang yang menggantung.Pukul 12.47, notifikasi masuk.Satu baris.Tanpa pendahuluan.Hasil Sidang Evaluasi Etik — DitetapkanClara sedang duduk di meja kerja sementara.Ruang kec







