Clara tidak menyangka bahwa ujian berikutnya akan datang secepat ini, bahkan sebelum ia sempat membongkar seluruh koper di kamar barunya di kediaman utama Wijaya. Pagi itu, keheningan paviliun pecah oleh kedatangan seorang pelayan senior yang membawa sebuah kotak beludru hitam berukuran besar.
“Ini kiriman dari Tuan Adrian untuk Anda, Nyonya. Tuan menyuruh anda untuk mengikutinya di sebuah acara” ucap pelayan itu dengan nada formal yang kaku, khas para pekerja di rumah utama yang seolah selalu mengawasi setiap gerak-geriknya.
Clara membuka kotak tersebut dengan jemari gemetar. Di dalamnya terbaring sebuah gaun malam berwarna biru tua dari bahan sutra charmeuse yang mengilap lembut. Potongannya elegan, sederhana, namun siapa pun yang melihatnya akan tahu harganya setara dengan biaya hidup orang biasa selama setahun. Gaun itu indah, namun bagi Clara, itu terasa seperti seragam baru untuk sandiwara berikutnya.
Malam itu, acara diadakan di sebuah hotel mewah di pusat kota untuk merayakan kerja sama strategis Wijaya Group. Begitu memasuki ballroom, Clara langsung disambut oleh kemegahan yang mengintimidasi. Lampu kristal raksasa membiaskan cahaya ke segala arah, berdenting halus saat terkena embusan pendingin ruangan. Aroma parfum mahal bercampur dengan bau sampanye premium memenuhi udara, menciptakan atmosfer yang penuh dengan kepalsuan kelas atas.
Clara turun dari mobil, tangannya secara insting mencari pegangan, dan ia menemukan lengan jas Adrian. Adrian tampak sangat sempurna—mungkin terlalu sempurna untuk manusia biasa. Jas hitam yang membalut tubuh tegapnya tidak memiliki satu pun lipatan yang salah. Namun, dingin yang terpancar dari tubuh pria itu jauh lebih beku daripada udara malam Jakarta.
Mereka tidak berjalan berdampingan. Adrian melangkah setengah langkah di depan, seolah-olah Clara hanyalah asisten atau aksesori yang kebetulan ikut terbawa.
“Adrian! Akhirnya sang pengantin baru muncul juga!” Seorang pria paruh baya, salah satu investor terbesar perusahaan, menyapa dengan tawa menggelegar.
Adrian menjabat tangan pria itu dengan senyum bisnis yang terlatih. “Maaf terlambat, Pak Surya. Ada beberapa urusan yang harus diselesaikan dulu.”
Pak Surya beralih menatap Clara, matanya menelisik dari ujung kepala hingga ujung kaki. “Dan ini… sang wanita beruntung itu?”
“Istriku, Clara,” jawab Adrian singkat. Hanya dua kata. Tanpa bumbu pujian, tanpa tatapan hangat. Ia mengatakannya seolah-olah sedang memperkenalkan model terbaru dari salah satu anak perusahaannya.
Clara memaksakan sebuah senyum tipis. “Senang bertemu dengan Anda, Pak Surya.”
Namun, belum sempat percakapan berlanjut, Adrian sudah menarik tangannya dan melangkah pergi menuju kerumunan eksekutif lainnya, meninggalkan Clara berdiri mematung di tengah lantai dansa yang ramai. Ia merasa seperti sebuah pulau terpencil di tengah lautan manusia.
“Kau terlihat sangat… pasrah malam ini.”
Suara sinis itu membuat Clara menoleh. Maya. Wanita itu berdiri dengan gaun merah menyala yang sangat kontras dengan gaun biru Clara. Maya adalah putri dari salah satu mitra bisnis utama Wijaya, dan semua orang tahu bahwa dialah yang seharusnya menjadi istri Adrian jika kontrak ini tidak pernah ada.
“Maya,” sapa Clara pelan.
“Jangan terlalu tegang, Clara. Gaun itu… ah, Adrian selalu punya selera bagus untuk barang-barang yang ia beli,” sindir Maya sambil menyesap minumannya. “Dia sering membelikanku perhiasan saat aku masih sering mendampinginya di acara-acara seperti ini. Rasanya aneh melihat orang lain yang memakainya sekarang.”
Dada Clara berdenyut sakit. “Aku tidak tahu kau punya hubungan sedekat itu dengan suamiku.”
Maya tertawa pelan, suara tawa yang mengejek. “Suami? Oh, ayolah. Semua orang di lingkaran ini tahu bahwa pernikahan ini hanyalah langkah strategis untuk menenangkan kakeknya. Kontrak pernikahan bukan hal baru bagi kami, Clara. Kau tidak perlu berpura-pura di depanku.”
Dunia Clara seakan runtuh saat itu juga. Ternyata sandiwara yang ia pikir sangat rahasia, justru menjadi bahan bisik-bisik di belakang punggungnya. Ia menoleh ke arah Adrian yang sedang tertawa kecil bersama seorang investor wanita di seberang ruangan. Pria itu tampak sangat bebas, seolah-olah keberadaan Clara di ruangan ini sama sekali tidak membebani pikirannya.
Puncak penghinaan itu terjadi saat pembawa acara naik ke atas panggung.
“Malam ini adalah malam yang spesial bagi Wijaya Group. Dan tentu saja, kehormatan besar bagi kita semua dengan kehadiran CEO kita, Tuan Adrian Wijaya!”
Tepuk tangan membahana. Adrian melangkah ke atas panggung dengan penuh wibawa. Sorotan lampu spotlight yang terang membuatnya tampak seperti dewa di antara manusia.
“Kita juga kehadiran Nyonya Wijaya yang baru,” lanjut pembawa acara dengan nada antusias. “Apakah Nyonya Wijaya berkenan naik ke panggung untuk mendampingi sang suami?”
Hening menyergap ruangan itu selama beberapa detik yang terasa seperti keabadian. Seluruh mata tertuju pada Clara. Clara menatap Adrian, mencari setitik ajakan atau uluran tangan di mata pria itu. Ia menunggu dengan jantung yang berdebar kencang, siap melangkah meski kakinya gemetar.
Satu detik. Dua detik.
Adrian tidak bergerak. Ia tidak menatap Clara. Pria itu justru meraih mikrofon dengan gerakan yang tenang, tanpa emosi.
“Tidak perlu,” suara Adrian menggema di seluruh ballroom, dingin dan mematikan. “Istriku belum terbiasa dengan sorotan publik. Dia lebih suka berada di belakang layar.”
Bisik-bisik langsung menjalar seperti api di antara para tamu. Clara bisa merasakan tatapan belas kasihan, ejekan, dan cemoohan menusuk kulitnya. Wajahnya terasa panas seolah-olah baru saja ditampar di depan umum. Adrian baru saja menegaskan kepada dunia bahwa Clara tidak cukup pantas untuk berdiri sejajar dengannya.
Clara tidak sanggup lagi. Ia berbalik dan setengah berlari menuju balkon hotel, mencari udara segar untuk paru-parunya yang terasa meledak. Di sana, di bawah langit malam yang gelap, ia memegang pagar pembatas dengan tangan yang mendingin.
Tak lama, suara langkah kaki terdengar di belakangnya. Adrian muncul, masih dengan ekspresi datarnya yang menyebalkan.
“Apa yang kau lakukan di sini? Orang-orang akan mulai bertanya-tanya jika kau menghilang terlalu lama,” tanya Adrian tanpa basa-basi.
Clara berbalik, matanya berkaca-kaca namun ia menolak untuk menangis. “Kau mempermalukanku, Adrian. Kau membuatku terlihat seperti pajangan rusak yang kau sembunyikan.”
Adrian menghela napas panjang, tampak terganggu. “Aku sudah bilang ini hanya formalitas, Clara. Jangan terlalu sensitif. Aku melindungimu dari pertanyaan wartawan yang bisa menghancurkanmu dalam sekejap.”
“Melindungiku? Atau melindungi reputasimu karena punya istri sepertiku?” suara Clara bergetar karena amarah dan luka yang meluap.
“Berhenti bersikap dramatis,” sahut Adrian tajam. “Kau tahu apa yang tertulis di kontrak. Kau mendapatkan uangnya, aku mendapatkan statusnya. Tidak ada ruang untuk perasaan terluka di sini.”
Clara tertawa getir. “Kau benar. Aku memang hanya barang sewaan. Terima kasih telah mengingatkanku.”
Sepanjang perjalanan pulang, mobil itu terasa seperti peti mati yang berjalan. Sesampainya di rumah utama, Clara langsung berlari menuju kamarnya tanpa menoleh lagi ke arah Adrian. Ia menutup pintu rapat-rapat, bersandar di baliknya, dan akhirnya membiarkan air mata yang sejak tadi ia tahan jatuh membanjiri pipinya.
Di tengah isak tangisnya yang sunyi, Clara tiba-tiba merasakan sensasi aneh di perutnya—sebuah rasa mual yang tiba-tiba menyerang, disertai dengan pusing yang membuat dunianya berputar. Ia memegangi perutnya, tidak menyadari bahwa di dalam sana, sebuah rahasia baru sedang mulai tumbuh—sebuah rahasia yang kelak akan menjadi satu-satunya alasan baginya untuk meninggalkan neraka mewah ini selamanya.
Malam itu, Clara menyadari satu hal yang tak terbantahkan. Di mata Adrian Wijaya, ia bukan siapa-siapa. Namun, dalam rahimnya, ia baru saja membawa sesuatu yang akan menjadi kelemahan terbesar sang CEO suatu hari nanti.