LOGINGema langkah kaki Adrian yang menghantam lantai marmer perlahan memudar. Keheningan yang tertinggal terasa jauh lebih menyesakkan daripada kebisingan pesta pernikahan tadi. Clara berdiri mematung di lobi mansion, merasa seperti titik kecil yang tak berarti di bawah langit-langit setinggi sepuluh meter.
Lampu kristal raksasa memancarkan cahaya menyilaukan, namun tak mampu menghangatkan hatinya yang membeku. Tempat ini bukan rumah; ini adalah monumen kekuasaan keluarga Wijaya. Kini, Clara hanyalah salah satu pajangan baru di dalamnya.
Dengan sisa tenaga, Clara menyeret ekor gaun pengantinnya menuju paviliun barat. Ia menyusuri lorong panjang yang dihiasi lukisan abstrak mahal yang tampak angkuh. Tak ada foto keluarga yang hangat atau bunga segar. Hanya ada baja, kaca, dan batu alam yang memberikan kesan dingin.
"Semuanya terasa seperti es," gumamnya pelan sambil membuka pintu kamar.
Clara disambut ruangan monokrom yang kaku. Tak ada kelopak mawar di atas ranjang atau lilin aromaterapi layaknya kamar pengantin. Ruangan itu rapi dan tidak memiliki jejak kehidupan manusia—sama seperti pemilik mansion ini.
Ia berjalan menuju cermin besar, menatap pantulannya. Wanita cantik dengan gaun ratusan juta, namun sorot matanya redup. Clara mencoba meraih ritsleting di punggungnya, tapi tangannya bergetar hebat. Desain gaun itu terlalu rumit untuk dilepas sendirian.
"Sial," umpatnya frustrasi saat kait gaun itu tersangkut. "Kenapa semuanya harus sesulit ini?"
Lima belas menit ia berjuang hingga jemarinya memerah. Air mata akhirnya jatuh membasahi pipi. Melepas gaun pengantin sendirian menjadi simbol pahit: di rumah ini, ia harus memikul segala beban tanpa sandaran siapa pun. Ia harus kuat, atau dinding dingin mansion ini akan melumatnya.
Setelah berganti dengan jubah sutra, Clara mendekati meja rias. Sebuah map kulit hitam sudah menunggu dengan posisi presisi. Itu adalah salinan kontrak yang ia tanda tangani.
Pasal 4: Pihak Kedua dilarang keras memasuki ruang kerja pribadi Pihak Pertama tanpa izin.
"Ancaman keamanan?" Clara mendengus pelan. "Dia menganggapku sebagai mata-mata daripada seorang istri."
Matanya beralih ke poin berikutnya yang paling berat.
Pasal 7: Pihak Kedua wajib mendampingi Pihak Pertama dalam setiap acara resmi dengan menunjukkan citra pasangan yang harmonis.
"Harmonis?" Clara tertawa hambar. "Bagaimana mungkin kami terlihat harmonis di depan dunia jika saling bicara saja tidak pernah?"
Tok! Tok!
Ketukan keras itu membuat Clara tersentak. Belum sempat ia memberi izin, pintu sudah terbuka. Adrian Wijaya berdiri di sana dengan kemeja putih yang kancing atasnya terbuka. Aura dominasinya seketika memenuhi ruangan, membuat udara terasa menipis.
"Kau belum tidur?" tanya Adrian datar sambil menyapu pandangan ke seisi ruangan.
"Aku sedang mempelajari ulang kontrak kita, Tuan Adrian," jawab Clara, berusaha menjaga suaranya agar tetap stabil.
Adrian melangkah masuk tanpa memedulikan jarak privasi. Ia meletakkan map emas di meja, tepat di samping kontrak Clara.
"Besok pukul tujuh pagi, pengemudi menjemputmu. Ada sarapan dengan dewan komisaris, lalu kunjungan ke rumah utama untuk menemui kakekku," ucap Adrian tanpa bantahan.
Clara mengernyit jengkel. "Secepat itu? Pernikahan kita bahkan belum lewat dua puluh empat jam. Apa aku tidak diberi waktu untuk bernapas?"
"Dunia bisnis tidak mengenal waktu istirahat, Clara. Dan pernikahan ini adalah bagian dari bisnis," sahut Adrian tajam.
Ia menatap Clara dengan pandangan meremehkan. "Kakekku memiliki indra keenam untuk mencium kepalsuan. Jadi, pastikan kau memakai pakaian yang sudah disiapkan asistenku di lemari."
"Apa ada yang salah dengan pilihanku?" tanya Clara membela diri.
"Jangan berpenampilan seperti orang miskin yang baru memenangkan lotre," balas Adrian dingin. "Kau adalah istri Adrian Wijaya sekarang. Berperlakulah sesuai status itu jika ingin ibumu tetap dirawat."
Wajah Clara memanas mendengar penghinaan itu. Ia menarik napas dalam dan menatap langsung ke mata hitam Adrian yang sekeras batu.
"Anda membayar satu miliar untuk peranku, Tuan Adrian. Saya pastikan Anda mendapatkan kualitas akting terbaik," balas Clara berani. "Saya akan menjadi istri yang paling mencintai Anda di depan kakek Anda, hingga dia tidak akan curiga bahwa cucunya adalah pria yang tidak punya hati."
Adrian mendekat satu langkah lagi, membuat Clara terdesak ke pinggiran meja rias. Aroma parfum maskulinnya yang tajam menyerang indra penciuman Clara.
"Bagus. Pertahankan nyalimu itu," bisik Adrian rendah. "Tapi jangan pernah lupa kau hanyalah pajangan. Jika kau membuat kesalahan kecil di depan kakekku, kontrak ini hangus."
Ia memberikan penekanan pada setiap kata dengan nada mengancam. "Ibumu akan dikeluarkan dari rumah sakit dalam waktu kurang dari satu jam jika kau gagal. Apa aku cukup jelas?"
Clara mengepalkan tangan hingga kuku-kukunya melukai telapak tangannya sendiri. "Sangat jelas. Saya mengerti bahwa bagi Anda, nyawa seseorang hanyalah angka di atas kertas."
Adrian menatapnya sesaat lebih lama sebelum berbalik dan melangkah keluar tanpa kata perpisahan. Pintu tertutup dengan suara dentuman final, meninggalkan Clara dalam kesunyian yang mencekam.
Clara merosot duduk di tepi tempat tidur yang terlalu luas. Jadwal besok pagi adalah ujian sesungguhnya. Jika Adrian adalah serigala, maka keluarganya adalah kawanan pemangsa yang jauh lebih berbahaya.
"Besok pagi, sandiwara ini benar-benar dimulai," bisiknya pada kegelapan.
Clara mematikan lampu, membiarkan kegelapan menelan tubuhnya yang gemetar. Ia tahu bahwa mulai besok, ia tidak hanya harus berbohong pada dunia, tapi juga harus mulai membohongi hatinya sendiri. Tantangan pertama baru saja dimulai.
Clara tidak membuat keputusan malam itu.Bukan karena ragu.Melainkan karena ia tahu:keputusan yang terburu-buru selalu tampak heroik, tapi jarang bertahan.Pagi datang dengan hujan tipis.Langit abu-abu.Udara lembap.Clara tiba di kantor tanpa tas kerja besar.Hanya membawa notebook kecil dan ponsel.Ia tidak lagi punya agenda rapat.
Langkah itu datang pagi hari.Bukan diumumkan.Bukan dibacakan.Ia hadir dalam bentuk yang paling khas dari sistem yang tidak ingin terlihat represif:perubahan status.Clara mengetahuinya pukul 08.07.Saat ia mencoba mengakses agenda lintas unit—bukan untuk menulis, hanya membaca.Pesan itu muncul dengan nada datar:Akses Anda telah disesuaikan
Dampaknya tidak datang sebagai ledakan.Ia datang sebagai hening yang aneh.Pagi setelah publikasi, Clara bangun lebih awal dari biasanya.Bukan karena gelisah.Justru karena tidurnya terlalu nyenyak—tanda tubuhnya akhirnya berhenti menahan sesuatu.Ia membuka ponsel.Tidak ada banjir notifikasi.Tidak ada ucapan selamat.Tidak ada ancaman langsung.
Kebocoran itu tidak diumumkan.Ia terjadi seperti semua hal penting lain akhir-akhir ini:pelan, lalu sekaligus.Clara menyadarinya pukul 08.19.Bukan dari notifikasi resmi.Melainkan dari tatapan orang-orang yang berhenti terlalu lama ketika ia melintas di koridor.Ada yang ingin bicara.Ada yang ingin menghindar.Dan ada yang—untuk pertama kalinya—tidak lagi
Clara tidak mempublikasikan apa pun pagi itu.Justru karena itulah dampaknya mulai terasa.Ia datang ke kantor seperti biasa.Jam yang sama.Langkah yang sama.Namun sesuatu telah bergeser.Beberapa orang yang biasanya hanya mengangguk kini berhenti.Bukan untuk berbasa-basi.Tapi untuk memastikan satu hal:apakah Clara masih bicara.
Keputusan itu tidak diumumkan pagi-pagi.Tidak juga ditunda berhari-hari.Ia datang di waktu yang paling melelahkan:siang yang menggantung.Pukul 12.47, notifikasi masuk.Satu baris.Tanpa pendahuluan.Hasil Sidang Evaluasi Etik — DitetapkanClara sedang duduk di meja kerja sementara.Ruang kec







