LOGINClara tidak sempat pergi malam itu.
Ia duduk lama di tepi tempat tidur, tas kecil masih tergenggam di tangannya, hingga akhirnya tubuhnya terasa terlalu lelah untuk melangkah keluar. Rahasia itu masih aman—untuk sementara.
Namun ketenangan semu itu tidak bertahan lama.
Keesokan paginya, suasana rumah terasa berbeda.
Pelayan-pelayan bergerak lebih cepat, suara langkah kaki terdengar lebih sering di koridor. Dan yang paling jelas—wajah Adrian tampak lebih dingin dari biasanya.
Clara menyadarinya saat sarapan.
Ia baru saja duduk ketika Adrian meletakkan tabletnya dengan suara pelan, namun cukup keras untuk menarik perhatian.
“Kau ke mana semalam?”
Pertanyaan itu datang tiba-tiba.
Clara menegang.
“Kau membawa tas.”
“Aku hanya… berjalan sebentar di taman.”
Adrian menatapnya tanpa ekspresi.
Clara terdiam.
“Jawab,” katanya dingin.
“Aku butuh udara,” ucap Clara pelan. “Itu saja.”
Adrian tertawa kecil—tanpa humor.
Kata itu membuat Clara merasa seperti sedang diadili.
“Apa maksudmu?” tanyanya.
Adrian berdiri.
Jantung Clara berdegup kencang.
“Laporan apa?”
“Bahwa kau terlihat di klinik swasta dua hari lalu.”
Dunia Clara runtuh dalam sekejap.
“Aku—”
“Dan sebelum kau menyangkal,” potong Adrian tajam, “aku juga menerima foto.”
Ia menggeser tablet ke arahnya.
Di layar, terpampang sebuah foto buram—seorang wanita berpakaian mirip Clara, berdiri di depan sebuah klinik eksklusif.
Clara menatap layar itu dengan napas tercekat.
“Itu bukan—”
“Kau masih ingin berbohong?” suara Adrian meninggi. “Apa yang kau lakukan di sana?”
Clara menggenggam ujung meja.
“Aku tidak berselingkuh,” katanya cepat.
Alis Adrian terangkat.
Clara membeku.
Namun terlambat.
Tatapan Adrian berubah tajam.
Sunyi menyelimuti ruang makan.
“Aku hanya ingin memeriksakan kesehatan,” ujar Clara, suaranya gemetar.
“Kesehatan?” Adrian mendekat satu langkah. “Atau sesuatu yang ingin kau sembunyikan?”
Clara menelan ludah.
“Kau lupa satu hal,” lanjut Adrian dingin. “Pernikahan ini punya aturan. Dan kau melanggarnya.”
“Aku tidak melanggar apa pun,” bantah Clara lirih.
Adrian tersenyum tipis—senyum yang tidak pernah menyentuh matanya.
Siang itu, Clara dipanggil ke ruang kerja Adrian.
Maya ada di sana.
Wanita itu duduk santai di sofa, seolah ini bukan urusan serius. Saat Clara masuk, Maya mengangkat alis sedikit—ekspresi kemenangan yang nyaris tak terlihat.
“Kau duduk,” kata Adrian singkat.
Clara duduk di kursi di seberang meja.
Adrian melemparkan sebuah amplop cokelat ke atas meja.
“Apa ini?” tanya Clara.
“Laporan lengkap,” jawab Adrian. “Klinik, jadwal, dan… kemungkinan.”
Kata terakhir itu menggantung di udara.
Maya bersuara pelan.
Clara menoleh ke arahnya.
“Cukup,” potong Adrian. “Biarkan dia bicara.”
Maya menghela napas kecil.
Clara menatap Adrian.
“Tapi setelah mengingat sikapmu belakangan ini,” lanjut Maya lembut, “aku mulai khawatir.”
“Khawatir apa?” suara Clara meninggi. “Kau bahkan tidak tahu apa-apa!”
Maya menunduk, berpura-pura tersinggung.
Adrian mengepalkan tangannya di atas meja.
“Cukup,” katanya dingin. “Aku sudah mendengar cukup.”
Ia menatap Clara.
Clara berdiri, jantungnya berdegup kencang.
“Aku tidak berselingkuh,” katanya tegas meski matanya berkaca-kaca. “Aku tidak pernah mengkhianatimu.”
“Lalu apa yang kau sembunyikan?” bentak Adrian.
Clara terdiam.
Ia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya.
Keheningan itu menjadi jawaban terburuk.
Adrian tertawa pahit.
Ia berdiri, berjalan mendekat hingga berdiri tepat di depan Clara.
“Kau tahu kenapa aku benci kebohongan?” suaranya rendah namun tajam. “Karena ibuku menghancurkan ayahku dengan itu.”
Clara terkejut.
“Aku tidak seperti itu,” katanya lirih.
“Tapi kau membuatku merasa sama,” jawab Adrian dingin.
Air mata Clara jatuh.
“Aku hanya ingin melindungi sesuatu,” katanya terbata.
“Melindungi siapa?” tanya Adrian tajam. “Pria itu?”
Tamparan kata-kata itu menghancurkan sisa kekuatannya.
“Tidak ada pria lain!” teriak Clara.
“Cukup!” suara Adrian menggema di ruangan. “Aku tidak butuh sandiwara.”
Ia berbalik, menatap Maya.
Maya berdiri, menatap Clara sekilas sebelum melangkah keluar.
Pintu tertutup.
Tinggal mereka berdua.
“Apa yang kau inginkan dariku?” tanya Clara dengan suara hancur.
“Kejujuran,” jawab Adrian singkat.
Clara menutup mata.
Jika ia bicara sekarang…
Jika ia diam…
“Aku tidak bisa,” katanya akhirnya.
Adrian tersenyum tipis.
Ia berjalan kembali ke mejanya, mengambil sebuah map lain.
“Mulai hari ini,” katanya dingin, “kau tidak perlu lagi berpura-pura menjadi istriku di depan publik.”
Clara menatapnya, terkejut.
“Apa maksudmu?”
“Kita tetap menikah,” lanjut Adrian datar, “tapi kau akan tinggal terpisah. Tidak ada acara bersama. Tidak ada peran.”
Kata-kata itu terasa seperti vonis.
“Dan satu hal lagi,” tambahnya. “Aku akan menyelidiki ini sampai tuntas.”
Clara menggigil.
“Jika aku menemukan bahwa kau mengkhianatiku,” ucap Adrian pelan namun mematikan, “kau akan menyesal.”
Clara menunduk.
Di dalam perutnya, kehidupan kecil itu seolah ikut bergetar.
Ia menggenggam perutnya tanpa sadar.
Dan untuk pertama kalinya…
Malam itu, Clara dikunci dalam keheningan kamarnya.
Ia duduk di lantai, memeluk lutut, menangis tanpa suara.
Ia tidak bersalah…
Dan anak di dalam rahimnya—anak yang seharusnya menjadi pengikat—justru menjadi rahasia yang membuat segalanya runtuh.
Di balik pintu, Adrian berdiri lama.
Namun akhirnya, ia pergi.
Dan jarak itu…
Clara tidak membuat keputusan malam itu.Bukan karena ragu.Melainkan karena ia tahu:keputusan yang terburu-buru selalu tampak heroik, tapi jarang bertahan.Pagi datang dengan hujan tipis.Langit abu-abu.Udara lembap.Clara tiba di kantor tanpa tas kerja besar.Hanya membawa notebook kecil dan ponsel.Ia tidak lagi punya agenda rapat.
Langkah itu datang pagi hari.Bukan diumumkan.Bukan dibacakan.Ia hadir dalam bentuk yang paling khas dari sistem yang tidak ingin terlihat represif:perubahan status.Clara mengetahuinya pukul 08.07.Saat ia mencoba mengakses agenda lintas unit—bukan untuk menulis, hanya membaca.Pesan itu muncul dengan nada datar:Akses Anda telah disesuaikan
Dampaknya tidak datang sebagai ledakan.Ia datang sebagai hening yang aneh.Pagi setelah publikasi, Clara bangun lebih awal dari biasanya.Bukan karena gelisah.Justru karena tidurnya terlalu nyenyak—tanda tubuhnya akhirnya berhenti menahan sesuatu.Ia membuka ponsel.Tidak ada banjir notifikasi.Tidak ada ucapan selamat.Tidak ada ancaman langsung.
Kebocoran itu tidak diumumkan.Ia terjadi seperti semua hal penting lain akhir-akhir ini:pelan, lalu sekaligus.Clara menyadarinya pukul 08.19.Bukan dari notifikasi resmi.Melainkan dari tatapan orang-orang yang berhenti terlalu lama ketika ia melintas di koridor.Ada yang ingin bicara.Ada yang ingin menghindar.Dan ada yang—untuk pertama kalinya—tidak lagi
Clara tidak mempublikasikan apa pun pagi itu.Justru karena itulah dampaknya mulai terasa.Ia datang ke kantor seperti biasa.Jam yang sama.Langkah yang sama.Namun sesuatu telah bergeser.Beberapa orang yang biasanya hanya mengangguk kini berhenti.Bukan untuk berbasa-basi.Tapi untuk memastikan satu hal:apakah Clara masih bicara.
Keputusan itu tidak diumumkan pagi-pagi.Tidak juga ditunda berhari-hari.Ia datang di waktu yang paling melelahkan:siang yang menggantung.Pukul 12.47, notifikasi masuk.Satu baris.Tanpa pendahuluan.Hasil Sidang Evaluasi Etik — DitetapkanClara sedang duduk di meja kerja sementara.Ruang kec







