LOGINClara tidak tidur malam itu. Sejak jam di dinding menunjukkan pukul dua pagi, ia hanya berbaring menatap langit-langit kamar yang tampak seperti bayangan hitam raksasa yang siap menelannya. Alat tes kehamilan itu masih tersembunyi di laci meja rias, terbungkus kain sutra tipis, seolah dengan begitu kenyataan pahit itu bisa ikut terkubur dan tak pernah terendus oleh siapa pun.
Namun, setiap kali ia memejamkan mata, dua garis merah samar itu kembali muncul di benaknya, berpendar seperti tanda bahaya.
Ia bangkit perlahan, kakinya yang dingin menyentuh lantai marmer tanpa alas. Ia berjalan ke jendela besar yang menghadap ke taman belakang mansion. Langit Jakarta masih gelap, hanya lampu-lampu jalan yang berpendar seperti saksi bisu dari kegelisahannya yang tak berujung. Tangannya secara naluriah menyentuh perutnya yang masih sangat datar. Di sana, di balik kulit dan ototnya, ada kehidupan kecil yang sedang berjuang untuk tumbuh.
Anak Adrian. Hasil dari malam tanpa perasaan yang dilakukan hanya demi memenuhi klausul kontrak dan tuntutan warisan.
Clara menelan ludah yang terasa seperti kerikil tajam. Ia tahu satu hal dengan pasti—jika Adrian tahu sekarang, pria itu tidak akan menunjukkan binar bahagia. Ia membayangkan wajah dingin Adrian yang akan mengeras, atau lebih buruk lagi, Adrian mungkin akan menganggap bayi ini sebagai "kesalahan teknis" yang mengancam kebebasannya. Kehamilan ini tidak pernah ada dalam rencana bisnis mereka yang rapi.
Beberapa hari berikutnya berjalan seperti siksaan yang merambat lambat. Clara berusaha sekuat tenaga untuk bertingkah normal. Ia tetap turun untuk sarapan di meja panjang yang mencekam itu, menyapa para pelayan dengan senyum kecil yang dipaksakan, dan berusaha hadir di setiap acara teh sore bersama Kakek Wijaya. Namun, tubuhnya mulai melakukan pemberontakan yang sulit dikendalikan.
Ia harus memutar otak untuk menolak kopi paginya karena aromanya saja sudah membuat perutnya bergejolak hebat. Ia harus membuang beberapa botol parfum mahalnya karena wangi floral yang dulu ia sukai kini terasa seperti racun bagi indra penciumannya. Dan yang paling sulit, ia sering merasa sangat lelah hingga tulang-tulangnya terasa seperti lumpur, padahal ia tidak melakukan aktivitas apa pun.
Dan tentu saja, Adrian—pria dengan insting predator itu—mulai memperhatikannya.
“Kenapa kau hanya mengaduk-aduk makananmu, Clara?” tanya Adrian suatu pagi, tanpa mengalihkan pandangan dari tablet yang menampilkan grafik saham yang fluktuatif.
Clara membeku, garpunya berdenting pelan saat menyentuh piring porselen. “Aku… hanya sedang tidak terlalu lapar, Tuan Adrian. Mungkin efek cuaca yang tidak menentu.”
“Kau tidak sedang menyembunyikan penyakit, kan?” Adrian menoleh, menatapnya dengan pandangan yang menyelidik, seolah sedang mencari retakan di balik topeng ketenangan Clara.
Pertanyaan itu terdengar seperti prosedur pengecekan kualitas barang, bukan kekhawatiran seorang suami.
“Tidak,” jawab Clara cepat, terlalu cepat hingga suaranya sedikit meninggi.
Adrian mengangguk singkat, kembali pada dunianya yang dingin. “Pastikan kau menjaga kondisi fisikmu. Aku tidak ingin ada masalah atau pembatalan acara mendadak hanya karena kau jatuh sakit. Minggu depan ada peresmian proyek baru, dan kau harus mendampingiku.”
Masalah. Kata itu menghujam jantung Clara. Bayi di dalam rahimnya adalah "masalah" terbesar bagi pria di depannya ini.
Siang itu, saat Adrian sudah berangkat ke kantor, Maya kembali muncul tanpa undangan. Wanita itu masuk ke ruang tamu dengan langkah percaya diri yang angkuh, mengenakan gaun sutra berwarna krem yang membalut tubuhnya dengan sempurna.
“Adrian ada?” tanyanya pada pelayan dengan nada memerintah, lalu pandangannya jatuh pada Clara yang sedang mencoba menyesap teh jahe untuk meredakan mualnya.
“Oh,” Maya tersenyum samar, senyum yang tidak pernah mencapai matanya. “Kau ada di sini, rupanya.”
Clara berdiri, mencoba menjaga martabatnya sebagai nyonya rumah, meskipun kepalanya terasa sedikit berdenyut. “Ada keperluan apa, Maya? Adrian sedang di kantor.”
Maya duduk tanpa diminta, menyilangkan kaki jenjangnya dengan anggun. “Bisnis. Seperti biasa. Aku membawa beberapa dokumen yang tertinggal.” Ia menatap Clara tajam, matanya memicing saat melihat wajah Clara yang pucat. “Kau terlihat sangat buruk hari ini. Sakit?”
“Hanya kurang tidur,” jawab Clara singkat.
Maya mendekat, suaranya merendah, menjadi bisikan yang penuh racun. “Kau tahu, Adrian sedang berada di bawah tekanan besar dari dewan komisaris. Aku hanya ingin memastikan kau tidak menambah bebannya dengan drama kesehatan atau apa pun itu. Pria seperti Adrian tidak butuh beban tambahan di rumahnya.”
Kata-kata itu halus, namun menusuk tepat di ulu hati Clara. Sebelum Clara sempat membalas, suara langkah kaki berat terdengar. Adrian sudah pulang lebih awal.
“Maya,” sapa Adrian datar saat masuk ke ruang tamu.
“Kau lama sekali,” sahut Maya santai, berdiri dan menyentuh lengan Adrian dengan gerakan yang terlalu akrab bagi Clara. “Aku hampir bosan menunggu di sini bersama... istrimu.”
Tatapan Adrian beralih ke arah Clara yang tampak kaku. “Kenapa kau masih di ruang tamu? Bukankah kau bilang ingin istirahat?”
“Aku hanya menyambut tamu, Adrian,” jawab Clara jujur.
Adrian mengerutkan kening, tampak tidak nyaman. “Tidak perlu. Urusan Maya adalah urusanku. Masuk ke ruang kerjaku, Maya. Kita harus bicara serius.”
Tanpa menunggu balasan dari Clara, Adrian berjalan pergi diikuti Maya yang sempat menoleh ke arah Clara dengan senyum kemenangan yang tersirat. “Jangan terlalu berharap banyak pada posisi ini, Clara,” bisik Maya tepat saat ia melewati Clara.
Malam itu, rahasia itu meledak dalam bentuk mual yang tak tertahankan. Clara berlari ke kamar mandi, mengunci pintu, dan memuntahkan seluruh isi perutnya hingga tubuhnya bergetar hebat. Ia terduduk lemas di lantai ubin yang dingin, napasnya tersengal-sengal. Air mata jatuh tanpa bisa ia bendung lagi. Ia menutup mulutnya dengan tangan, berusaha menahan isak tangis agar suaranya tidak keluar melewati celah pintu. Ia tidak ingin siapa pun tahu. Tidak sekarang, tidak di rumah yang penuh dengan mata-mata ini.
Keesokan paginya, suasana semakin mencekam saat Adrian memanggilnya ke ruang kerja—ruangan terlarang yang jarang ia injaki.
“Duduk,” perintah Adrian singkat. Ia duduk di balik meja mahoni besarnya, menatap laporan di depannya sebelum menatap Clara dengan pandangan yang bisa membekukan darah siapa pun. “Beberapa pelayan melaporkan kau sering terlihat mual dan mengunci diri di kamar mandi. Apa yang sebenarnya terjadi?”
Clara menunduk, tangannya meremas ujung blusnya. “Aku hanya... kelelahan dan mungkin salah makan.”
“Jangan berbohong padaku, Clara,” ucap Adrian dingin. “Aku tidak suka kejutan, terutama kejutan yang bisa memengaruhi stabilitas posisiku.”
Clara mengangkat kepalanya, mencoba mengumpulkan keberanian yang tersisa. “Aku tidak berbohong. Aku akan baik-baik saja setelah beberapa hari istirahat.”
Adrian menatapnya lama, matanya seolah menembus tengkorak Clara untuk mencari kebenaran. “Baik. Tapi ingat satu hal—jangan pernah mencoba melakukan sesuatu yang besar tanpa sepengetahuanku. Aku pemilik kontrak ini, dan aku pemilik hidupmu selama satu tahun ini.”
Namun, di dalam hatinya, Clara tahu bahwa kontrak itu sudah robek secara emosional. Pengkhianatan visual terjadi sore itu saat ia tanpa sengaja melihat pintu ruang kerja Adrian yang sedikit terbuka. Di dalam sana, ia melihat Maya berdiri sangat dekat dengan Adrian. Tangan Maya menyentuh lengan Adrian dengan lembut, dan Adrian... pria dingin itu tidak menyingkirkan tangan wanita itu. Pemandangan itu lebih menyakitkan daripada mual yang ia rasakan setiap pagi.
Malam itu juga, Clara mengambil keputusan besar. Ia harus memastikan kondisi bayinya ke dokter lain yang tidak berafiliasi dengan keluarga Wijaya. Ia harus bersiap untuk kemungkinan terburuk.
Saat ia sedang bersiap pergi dengan tas kecil berisi alat tes tersebut, pintu kamar terbuka. Adrian berdiri di sana, menatapnya dengan curiga.
“Kau mau ke mana di jam segini?” tanya Adrian tajam.
“Aku... hanya butuh udara segar,” jawab Clara, mencoba menyembunyikan tasnya di balik tubuh.
“Kau menyembunyikan sesuatu, Clara. Aku bisa merasakannya,” Adrian melangkah mendekat, auranya sangat mengintimidasi. “Jangan pernah membuatku curiga padamu. Kau tahu apa yang terjadi pada orang-orang yang mencoba mengkhianatiku.”
“Aku tidak mengkhianatimu, Adrian. Aku hanya ingin sendiri!” Clara berseru, suaranya pecah oleh tekanan yang sudah melampaui batas.
Keheningan panjang menyelimuti mereka. Adrian akhirnya mendengus, memutar tubuhnya untuk pergi. “Lakukan sesukamu. Tapi jangan pernah lupa posisimu di rumah ini hanyalah karena tanda tangan di atas kertas itu.”
Pintu tertutup dengan dentuman keras. Clara merosot di tepi tempat tidur, tangannya kembali mendekap perutnya yang masih rata namun berisi seluruh dunianya kini.
“Maafkan Ibu, Nak,” bisiknya dalam isak tangis yang tertahan. “Ibu akan melindungimu... meski harus lari dari pria yang kau panggil Ayah itu.”
Di balik pintu, Adrian sebenarnya sempat terdiam, merasa ada sesuatu yang salah, namun egonya menutup segala pintu empati. Jarak di antara mereka telah menjadi jurang yang tak mungkin lagi diseberangi, dan pelarian itu kini bukan lagi sekadar pilihan, melainkan keharusan untuk bertahan hidup.
Clara tidak membuat keputusan malam itu.Bukan karena ragu.Melainkan karena ia tahu:keputusan yang terburu-buru selalu tampak heroik, tapi jarang bertahan.Pagi datang dengan hujan tipis.Langit abu-abu.Udara lembap.Clara tiba di kantor tanpa tas kerja besar.Hanya membawa notebook kecil dan ponsel.Ia tidak lagi punya agenda rapat.
Langkah itu datang pagi hari.Bukan diumumkan.Bukan dibacakan.Ia hadir dalam bentuk yang paling khas dari sistem yang tidak ingin terlihat represif:perubahan status.Clara mengetahuinya pukul 08.07.Saat ia mencoba mengakses agenda lintas unit—bukan untuk menulis, hanya membaca.Pesan itu muncul dengan nada datar:Akses Anda telah disesuaikan
Dampaknya tidak datang sebagai ledakan.Ia datang sebagai hening yang aneh.Pagi setelah publikasi, Clara bangun lebih awal dari biasanya.Bukan karena gelisah.Justru karena tidurnya terlalu nyenyak—tanda tubuhnya akhirnya berhenti menahan sesuatu.Ia membuka ponsel.Tidak ada banjir notifikasi.Tidak ada ucapan selamat.Tidak ada ancaman langsung.
Kebocoran itu tidak diumumkan.Ia terjadi seperti semua hal penting lain akhir-akhir ini:pelan, lalu sekaligus.Clara menyadarinya pukul 08.19.Bukan dari notifikasi resmi.Melainkan dari tatapan orang-orang yang berhenti terlalu lama ketika ia melintas di koridor.Ada yang ingin bicara.Ada yang ingin menghindar.Dan ada yang—untuk pertama kalinya—tidak lagi
Clara tidak mempublikasikan apa pun pagi itu.Justru karena itulah dampaknya mulai terasa.Ia datang ke kantor seperti biasa.Jam yang sama.Langkah yang sama.Namun sesuatu telah bergeser.Beberapa orang yang biasanya hanya mengangguk kini berhenti.Bukan untuk berbasa-basi.Tapi untuk memastikan satu hal:apakah Clara masih bicara.
Keputusan itu tidak diumumkan pagi-pagi.Tidak juga ditunda berhari-hari.Ia datang di waktu yang paling melelahkan:siang yang menggantung.Pukul 12.47, notifikasi masuk.Satu baris.Tanpa pendahuluan.Hasil Sidang Evaluasi Etik — DitetapkanClara sedang duduk di meja kerja sementara.Ruang kec







