INICIAR SESIÓNJam tangan dial warna champagne menunjuk angka tujuh saat Ayu memasuki halaman depan Srirasa. Wanita itu berencana pulang dengan Surabaya Bus. Akan tetapi sebuah pesan singkat masuk dari Arka dan ia terpaksa memenuhi instruksi sang pencetus kontrak.
Restoran bergaya tropis modern memukau sejak pintu depan dibuka. Banyak orang menjamu teman dan keluarga di ruang makan utama. "Sial," gerutu Ayu sembari menggenggam gagang pintu. Ia menghela napas panjang. Sekelebat memori janggal beberapa hari belakangan melanda tajam. Begitu pintu VIP terbuka hawa sejuk menyapa kulit bersih Ayu. Ruang pilihan calon suami begitu tenang, tersembunyi, dan istimewa. Dibanding hiruk-pikuk resto yang amat hidup, suasana dalam ruang VIP jauh lebih kondusif. Sebatang pohon ficus tumbuh menjulang di sudut ruang. Dahannya membentuk kanopi rindang di bawah langit-langit. Seluruh elemen jadi kombinasi asri ketika dinding batu alam berpadu mesra dengan panel kayu warna hangat. Ayu melonggarkan kewaspadaan. Ketegangan mulai memudar saat pria bercardigan abu menyambut ramah. Tanpa aba-aba ia bangkit dari duduk manis. Menarik satu kursi dan kembali ke tempat dengan gestur persuasif. “Udah lama?” tanya Ayu formalitas. Si wanita menaruh tas selempang hitam di sandaran kursi. Sementara di meja tertata apik piring porselen putih, gelas kristal klasik, dan rangkaian bunga anggrek yang cantik. “Belum. Sekitar sepuluh menit,” jawab Arka sembari menikmati kehadiran senior perfumer. Ayu enggan. Sebelum membuka kembali percakapan si wanita berdehem tipis. “Berhutang penjelasan?” sindir Ayu dengan simpul bibir tipis. Mendapat ketidaksukaan secara implisit, Arka menurunkan senyuman. "Tentang apa?" sahut Arka memastikan. “Kamu CEO,” timpal Ayu seraya mengangkat gelas berisi air putih. Ia rasai aroma khas dari benda itu. Kemudian meminumnya tanpa ragu-ragu. “Ha… soal hari ini?” sahut sang CEO seraya melipat tangan di depan dada. "Heem. Kenapa enggak bilang?" "Kukira kau sudah tahu," dalih Arka ringan. Sang CEO mengalihkan pandangan pada ayam goreng utuh, sayur asem, dan sambal di meja makan. "Bagaimana aku bisa tahu? Info CEO muda dari Aussie saja kudapat dari junior," protes Ayu tak habis pikir. Perempuan itu menutup setengah wajah dengan jari-jari ramping. Ia belum menyentuh perjamuan utuh. Penuh kehati-hatian, dia menginginkan surat kontrak muncul sebelum sungguh-sungguh terlibat masalah besar. Arka menghembuskan napas panjang. Jabatan tertinggi makin membebani saat Ayu menanyakan terang-terangan. Hari ini sudah puluhan orang memanggilnya dengan status keparat. Ia tak mau wanita cantik berkemeja mocca ikut-ikutan arus. "Seharusnya kamu bisa menebak posisi apa yang calon suamimu miliki, Ay, sampai-sampai dia menawarkan kesempatan untuk pergi dari rumah,” kilah Arka enteng. Ayu menangkap gelagat tak bersalah. Dengan kata lain, sang CEO tidak membiarkan wanitanya mengambil celah. Kali ini Ayu menghela napas berat. Energinya terkuras di pergulatan aroma Scentara hingga senja. Berniat pulang. Ia rindu mengelus selimut motif maple yang lembut berteman wangi lavender kesukaan. "Kamu enggak berubah ya, Ar,” celetuk Ayu masam. “Ah, bukan. Sepertinya kau bertambah brengsek sekarang,” tambah Ayu dengan pandangan dongkol. Sang cinta pertama menyeringai senang. Mereka sama-sama keras kepala. Memiliki argumen logis untuk menjegal pertahanan satu sama lain. Sang lelaki tak lagi bersikap santai sementara si wanita melipat lengan dengan raut muka jengkel. "Baiklah, aku minta maaf. Aku salah, Ay,” ungkap Arka menutup tukar pendapat yang sia-sia. Di sisi lain, Ayu menggeleng pelan seraya mengembalikan tatapan dangkal. “Enggak. Sebenarnya aku cuma minta penjelasan. Bukan pegakuan salah atau benar.” Arka membalas pandangan Ayu dengan telaga mata sepadan. Tanpa membuka mulut. Tanpa kalimat pembelaan. “Andai aku tahu sejak awal, aku bisa lebih berhati-hati. Kita kerja dalam satu gedung. Meski jarang berhadapan langsung, kehidupanku setelah ini dipertaruhkan.” Arka berdehem singkat. Ia tak bermaksud menipu Ayu maupun memberikan kejutan kekanak-kanakan. “Aku tahu. Karena itulah kita akan merahasiakan pernikahan ini dari publik. Termasuk orang-orang di perusahaan." Arka memperlihatkan wajah serius. Dia mengambil dua map dari tas hitam dan menyerahkan salah satunya pada Ayu. Sang senior perfumer tak lagi menyerang Arka. Ia mengambil pulpen di saku kemeja dan fokus membaca tiap bait isi kontrak yang telah dipersiapkan. Dalam hal ini si wanita tak meminta macam-macam. Keluar dari rumah Anggara jahanam sudah jadi hadiah terbesar. Namun kompensasi perceraian yang tertulis begitu menggiurkan. Ayu penasaran sekaligus menimbang-nimbang, sejauh apa risiko yang akan ditanggung hingga Arka memberikan tanah, bangunan, serta rumah produksi parfum di bawah naungan Scentara. “Bisa jelaskan tentang kompensasi? Kenapa ada rumah produksi?” tanya Ayu dengan dahi berkerut. “Itu sebuah pengikat. Juga penguat ombak." "Maksudnya?" “Kita butuh alasan untuk bercerai, Ay. Tapi aku enggak mau merugikan salah satu pihak seperti KDRT maupun perselingkuhan. Jadi anggap saja kita pisah karena perbedaan visi misi," tutur Arka dengan pandangan lurus teduh. "Lalu?" "Aku mau hubungan kita memiliki bekas di lingkungan keluarga Banyu. Dengan memberimu anak perusahaan Scentara dan aku akan dikenal sebagai suami yang bercerai demi kebahagiaan orang tercinta. Statement di lingkaran kakek akan terbentuk seperti itu. Setelahnya aku enggak perlu nikah dengan siapapun. Kamu juga tetap bisa eksis di bidang kesukaanmu.” Ayu mengangguk paham. Arka melangkah dengan cara elegan. Dia ingin mendapatkan apa yang diinginkan tanpa perlu menjadi seonggok kotoran. "Selama kontrak berjalan kita akan bersikap layaknya suami istri. Di depan keluargaku terutama kakek. Jadi untuk satu tahun usahakan enggak punya kekasih, Ay, setelah perceraian silakan lakukan maumu." Ayu melirik sinis. Kalimat terakhir Arka menyenggol harga diri yang sensitif. "Poin tiga… apa konsekuensinya saat pernikahan kita diketahui publik?" Arka membenahi kacamata dan sekilas membaca ulang. "Bergantung. Sebatas apa mereka tahu. Jika hanya status suami istri. Enggak akan banyak perubahan dalam rencana. Tapi soal kontrak, aku enggak bisa jamin. Bisa jadi sulit atau bahkan lebih parah lagi." Arka menatap lurus. Menyelam pada telaga mata Ayu yang tak bisa diterjemahkan. Wanita itu terus mengayunkan pulpen di tangan kanan. Sesekali menggigit bibir, kemudian membalik kertas kontrak dengan tatapan berat. "Kamu keberatan, Ay?” tebak Arka sambil memangku dagu. Ayu menggeleng pelan. Wanita itu selesai membaca detail kertas bawaan. Dia diam bukan soal mau atau tidak. Akan tetapi ia ingin tahu bagaimana sang CEO membawanya keluar dari lingkaran setan yang mengurungnya puluhan tahun. “Ayo lakukan,” putus Ayu sambil mengangguk mantap. “Cepat tanda tangani dan aku mau pulang.” Arka menyeringai. Sesuai dugaan. Ayu masih jadi mawar di tengah semak benalu. Dia yang paling sering menyodorkan duri. Tapi dia tak sungguh-sungguh ingin melukai. "Oke. Sepakat. Tapi jangan buru-buru keluar dari sini,” pinta Arka seraya mengalihkan pandang ke arah hidangan. “Karena kita harus menghabiskan ayam yang sudah dipesan.” Ayu tak menggubris ocehan Arka. Ia fokus pada pulpen yang menggurat jejak dalam lembar terakhir kontrak. Kedua orang sama-sama memberi tanda. Mereka saling oper lalu memastikan dua belah pihak bertaut pada misi yang sama.Beberapa karyawan di meja samping mengintip lewat ujung mata. Mereka penasaran dengan kejadian yang ada di tempat Ayu dan Arka. Sosok CEO baru yang pertama kali makan di kantin sudah jadi bahan legit untuk berbisik-bisik. Ditambah, suasana di sekitar meja mereka kini terasa aneh. Udara seolah lebih sesak dan pengap daripada beberapa menit sebelumnya. Ayu menyesali keputusannya makan di kantin hari ini. Seharusnya ia membawa bekal dan makan di ruang piket. Atau mending tidak makan sama sekali. Lebih baik sang senior perfumer kelaparan daripada harus satu lokasi dengan calon suami di tengah krisis. Masih dalam zona kepura-puraan, Arka menurunkan sendoknya perlahan. Satu iris daging terakhir tenggelam ke dasar mangkuk. Seakan berniat meninggalkan Arka dan Ayu yang sibuk mencari alasan. Ayu menunduk sejenak. Ia berusaha mempertahankan wajah setenang mungkin sebelum akhirnya mengangkat kepala dan menatap lurus ke arah Arka. "Pak Arka!" Damar yang duduk beberapa kursi dari san
Kantin Scentara jadi sudut paling ramai di jam makan siang. Aroma tiga hidangan khusus menyebar dengan nuansa menggiurkan. Di antara semuanya, kuah rawon yang pekat nan gurih paling mudah menarik perhatian. Ayu dan para anggota tiba tepat waktu. Suasana terasa ramai tetapi belum masuk ke sesi kacau. Di sekelilingnya karyawan tampak sibuk dengan urusan masing-masing. Beberapa pegawai teladan masih membicarakan pekerjaan. Sementara yang lainnya sudah membahas rencana di akhir pekan. Semua bergerak dalam alur yang sudah biasa dilakukan. Mereka memilih makanan, ambil nampan, makan lahap, lalu kembali ke meja penuh tumpukan beban. “Ay, mau rawon, pecel, atau gado-gado?” tanya Riris sembari menggesek kartu makan. Ia berdiri di depan layar pemesanan sambil menatap plakat menu yang terpasang di samping kanan. “Gado-gado aja, Ris," jawab Ayu enteng. Minggu lalu senior perfumer mentraktir rekannya rujak uleg. Sekarang giliran Riris yang menggesek kartunya dua kali. Setelah menekan gambar
Kaca reflektif besar mengamankan ruangan Arka. Saat seharusnya cahaya menyentuh badan sang CEO yang suntuk, ia malah menolak dan hanya menunggu di luar jendela. Jam dinding hitam hampir menunjuk angka teratas ketika Arka mengangkat pandangan dari layar komputer. Ia diselimuti aura negatif yang tak teredam. Tatapan mata yang begitu dalam membuat lelaki itu makin tak tersentuh apapun dari luar. Sejak pagi Arka duduk di kursi empuk dengan pikiran runyam. Telepon berdering, dokumen silih berganti, dan beberapa kali sekretarisnya masuk membawa berkas darurat yang harus segera ditandatangani. Dengan semua keadaan itu, Arutala Banyu duduk santai di sofa tengah. Ia datang tanpa banyak bicara. Hanya sesekali melirik, kemudian memejamkan mata seakan merindukan ruang yang telah berpindah tuan. "Kenapa Paman masih di sini?" tanya Arka seraya bangkit dari kursi. CEO baru itu mengambil jeda. Ia bergabung dengan pamannya di sofa full leather untuk mengistirahatkan badan. Aru membuka mata.
Cahaya matahari menembus dinding kaca di butik pernikahan eksklusif. Deretan gaun pengantin tersusun anggun. Masing-masing menggantung elegan dengan pencahayaan lembut seolah maha karya. Beberapa manekin mengenakan gaun putih dengan ekor panjang bak angsa, sementara di seberang terpajang setelan formal pria dalam nuansa hitam, abu-abu, dan biru gelap. Ayu melangkah masuk dengan ekspresi kaku. Aroma white floral yang sejuk membuat moodnya terasa rapuh. Satu kesukaan dan satu kebencian. Tempat yang seharusnya jadi pelengkap kebahagiaan, berubah jadi muara amarah yang ditahan-tahan. "Lihat, Bu, calon pengantin yang gagal ada di sini," sindir perempuan muda dengan seringai menyebalkan. Ayu berhenti melangkah. Ia mengenali suara mungil yang dibuat-buat dari arah kanan. Tak lain dan tak bukan ialah Sitania Anggara. Adik satu-satunya dari Ayu Anindita. Seumur hidup Ayu tak pernah menyangka. Ia dan Sita berdiri di butik yang sama dengan nasib bagai dadu dalam kaleng kocokan. Peru
Jam klasik berbingkai kuningan tua berdetak lambat. Tak sungguh-sungguh mencegat waktu. Ia hanya menggoda dua orang yang kini diam di tempat. Sang tetua duduk tenang di kursi utama. Dengan satu keputusan sederhana, beliau menempatkan Ayu di sisi kiri dan Arka di sisi kanan. “Sampai kapan kalian akan begini?” Sang kakek berucap untuk pertama kali. Arka melirik sekilas ke arah calon istri. Ayu tampak sabar. Padahal Arka tahu perempuan itu pasti sedang menahan gusar. Dibalik suasana penuh beban sang calon istri begitu menawan. Malam ini Ayu mengenakan dress satin warna ivory dengan garis leher sederhana. Tidak ada perhiasan mencolok. Hanya anting mutiara klasik dan tatanan rambut sleek low ponytail yang menyiratkan kesan elegan. "Kenapa diam saja?" Kakek Arka mengulang pertanyaan sembari menautkan kedua tangan di atas meja. Pengawal yang ada di sisi fokus mendeteksi. Ia sigap menanggapi perintah jika sewaktu-waktu Kakek Arka berniat keluar dari ruang makan. "Ayu." "Ya, Ka
Ayu mengayunkan kakinya melewati batas lorong dan ruang kerja. Melihat kedua kawan berwajah tegang, ia mengangkat sudut bibir seraya melambaikan tangan. “Ay, gimana?” Dua kawan mendekat cepat. Ayu meletakkan map hitam dengan gerakan lebih berat dibanding dua jam lalu. Begitu barang bawaan terlepas dari tangan, ia langsung menarik kursi dan mengelus dagu. "CEO kita lumayan waras," hibur Ayu seraya menyapu pandang. Ia raih botol minum di sisi komputer dan meneguknya hingga tersisa setengah. "Lumayan?" Riris penasaran. Ia mengambil satu kursi dan duduk menghadap Ayu. "Dia enggak paksa launching produk lebih awal. Tapi Senior Deva dan Senior Anggi harus mempersiapkan formulasi parfum secepatnya." Ayu membuka map. Ia menyodorkan lembar pertama pada Riris dan Clara. Kemudian menunggu respons mereka atas keputusan rapat. "Oke. Sesuai prediksi,” komentar Clara sambil menepuk pundak Ayu. “Apa hanya kita yang diperketat, Ay?" "Semua, Ris." Ayu menyandarkan punggung ke kursi. "Jik







