Share

Bab 7

Author: Nana Shina
last update publish date: 2026-09-17 12:24:28

Jam tangan dial warna champagne menunjuk angka tujuh saat Ayu memasuki halaman depan Srirasa. Wanita itu berencana pulang dengan Surabaya Bus. Akan tetapi sebuah pesan singkat masuk dari Arka dan ia terpaksa memenuhi instruksi sang pencetus kontrak.

Restoran bergaya tropis modern memukau sejak pintu depan dibuka. Banyak orang menjamu teman dan keluarga di ruang makan utama.

"Sial," gerutu Ayu sembari menggenggam gagang pintu. Ia menghela napas panjang. Sekelebat memori janggal beberapa hari belakangan melanda tajam.

Begitu pintu VIP terbuka hawa sejuk menyapa kulit bersih Ayu. Ruang pilihan calon suami begitu tenang, tersembunyi, dan istimewa.

Dibanding hiruk-pikuk resto yang amat hidup, suasana dalam ruang VIP jauh lebih kondusif. Sebatang pohon ficus tumbuh menjulang di sudut ruang. Dahannya membentuk kanopi rindang di bawah langit-langit. Seluruh elemen jadi kombinasi asri ketika dinding batu alam berpadu mesra dengan panel kayu warna hangat.

Ayu melonggarkan kewaspadaan. Ketegangan mulai memudar saat pria bercardigan abu menyambut ramah. Tanpa aba-aba ia bangkit dari duduk manis. Menarik satu kursi dan kembali ke tempat dengan gestur persuasif.

“Udah lama?” tanya Ayu formalitas. Si wanita menaruh tas selempang hitam di sandaran kursi. Sementara di meja tertata apik piring porselen putih, gelas kristal klasik, dan rangkaian bunga anggrek yang cantik.

“Belum. Sekitar sepuluh menit,” jawab Arka sembari menikmati kehadiran senior perfumer.

Ayu enggan. Sebelum membuka kembali percakapan si wanita berdehem tipis. “Berhutang penjelasan?” sindir Ayu dengan simpul bibir tipis. Mendapat ketidaksukaan secara implisit, Arka menurunkan senyuman.

"Tentang apa?" sahut Arka memastikan.

“Kamu CEO,” timpal Ayu seraya mengangkat gelas berisi air putih. Ia rasai aroma khas dari benda itu. Kemudian meminumnya tanpa ragu-ragu.

“Ha… soal hari ini?” sahut sang CEO seraya melipat tangan di depan dada.

"Heem. Kenapa enggak bilang?"

"Kukira kau sudah tahu," dalih Arka ringan. Sang CEO mengalihkan pandangan pada ayam goreng utuh, sayur asem, dan sambal di meja makan.

"Bagaimana aku bisa tahu? Info CEO muda dari Aussie saja kudapat dari junior," protes Ayu tak habis pikir.

Perempuan itu menutup setengah wajah dengan jari-jari ramping. Ia belum menyentuh perjamuan utuh. Penuh kehati-hatian, dia menginginkan surat kontrak muncul sebelum sungguh-sungguh terlibat masalah besar.

Arka menghembuskan napas panjang. Jabatan tertinggi makin membebani saat Ayu menanyakan terang-terangan. Hari ini sudah puluhan orang memanggilnya dengan status keparat. Ia tak mau wanita cantik berkemeja mocca ikut-ikutan arus.

"Seharusnya kamu bisa menebak posisi apa yang calon suamimu miliki, Ay, sampai-sampai dia menawarkan kesempatan untuk pergi dari rumah,” kilah Arka enteng. Ayu menangkap gelagat tak bersalah. Dengan kata lain, sang CEO tidak membiarkan wanitanya mengambil celah.

Kali ini Ayu menghela napas berat. Energinya terkuras di pergulatan aroma Scentara hingga senja. Berniat pulang. Ia rindu mengelus selimut motif maple yang lembut berteman wangi lavender kesukaan.

"Kamu enggak berubah ya, Ar,” celetuk Ayu masam. “Ah, bukan. Sepertinya kau bertambah brengsek sekarang,” tambah Ayu dengan pandangan dongkol.

Sang cinta pertama menyeringai senang. Mereka sama-sama keras kepala. Memiliki argumen logis untuk menjegal pertahanan satu sama lain. Sang lelaki tak lagi bersikap santai sementara si wanita melipat lengan dengan raut muka jengkel.

"Baiklah, aku minta maaf. Aku salah, Ay,” ungkap Arka menutup tukar pendapat yang sia-sia.

Di sisi lain, Ayu menggeleng pelan seraya mengembalikan tatapan dangkal. “Enggak. Sebenarnya aku cuma minta penjelasan. Bukan pegakuan salah atau benar.”

Arka membalas pandangan Ayu dengan telaga mata sepadan. Tanpa membuka mulut. Tanpa kalimat pembelaan.

“Andai aku tahu sejak awal, aku bisa lebih berhati-hati. Kita kerja dalam satu gedung. Meski jarang berhadapan langsung, kehidupanku setelah ini dipertaruhkan.”

Arka berdehem singkat. Ia tak bermaksud menipu Ayu maupun memberikan kejutan kekanak-kanakan. “Aku tahu. Karena itulah kita akan merahasiakan pernikahan ini dari publik. Termasuk orang-orang di perusahaan."

Arka memperlihatkan wajah serius. Dia mengambil dua map dari tas hitam dan menyerahkan salah satunya pada Ayu.

Sang senior perfumer tak lagi menyerang Arka. Ia mengambil pulpen di saku kemeja dan fokus membaca tiap bait isi kontrak yang telah dipersiapkan.

Dalam hal ini si wanita tak meminta macam-macam. Keluar dari rumah Anggara jahanam sudah jadi hadiah terbesar. Namun kompensasi perceraian yang tertulis begitu menggiurkan.

Ayu penasaran sekaligus menimbang-nimbang, sejauh apa risiko yang akan ditanggung hingga Arka memberikan tanah, bangunan, serta rumah produksi parfum di bawah naungan Scentara.

“Bisa jelaskan tentang kompensasi? Kenapa ada rumah produksi?” tanya Ayu dengan dahi berkerut.

“Itu sebuah pengikat. Juga penguat ombak."

"Maksudnya?"

“Kita butuh alasan untuk bercerai, Ay. Tapi aku enggak mau merugikan salah satu pihak seperti KDRT maupun perselingkuhan. Jadi anggap saja kita pisah karena perbedaan visi misi," tutur Arka dengan pandangan lurus teduh.

"Lalu?"

"Aku mau hubungan kita memiliki bekas di lingkungan keluarga Banyu. Dengan memberimu anak perusahaan Scentara dan aku akan dikenal sebagai suami yang bercerai demi kebahagiaan orang tercinta. Statement di lingkaran kakek akan terbentuk seperti itu. Setelahnya aku enggak perlu nikah dengan siapapun. Kamu juga tetap bisa eksis di bidang kesukaanmu.”

Ayu mengangguk paham. Arka melangkah dengan cara elegan. Dia ingin mendapatkan apa yang diinginkan tanpa perlu menjadi seonggok kotoran. "Selama kontrak berjalan kita akan bersikap layaknya suami istri. Di depan keluargaku terutama kakek. Jadi untuk satu tahun usahakan enggak punya kekasih, Ay, setelah perceraian silakan lakukan maumu."

Ayu melirik sinis. Kalimat terakhir Arka menyenggol harga diri yang sensitif. "Poin tiga… apa konsekuensinya saat pernikahan kita diketahui publik?"

Arka membenahi kacamata dan sekilas membaca ulang. "Bergantung. Sebatas apa mereka tahu. Jika hanya status suami istri. Enggak akan banyak perubahan dalam rencana. Tapi soal kontrak, aku enggak bisa jamin. Bisa jadi sulit atau bahkan lebih parah lagi."

Arka menatap lurus. Menyelam pada telaga mata Ayu yang tak bisa diterjemahkan. Wanita itu terus mengayunkan pulpen di tangan kanan. Sesekali menggigit bibir, kemudian membalik kertas kontrak dengan tatapan berat.

"Kamu keberatan, Ay?” tebak Arka sambil memangku dagu.

Ayu menggeleng pelan. Wanita itu selesai membaca detail kertas bawaan. Dia diam bukan soal mau atau tidak. Akan tetapi ia ingin tahu bagaimana sang CEO membawanya keluar dari lingkaran setan yang mengurungnya puluhan tahun.

“Ayo lakukan,” putus Ayu sambil mengangguk mantap. “Cepat tanda tangani dan aku mau pulang.”

Arka menyeringai. Sesuai dugaan. Ayu masih jadi mawar di tengah semak benalu. Dia yang paling sering menyodorkan duri. Tapi dia tak sungguh-sungguh ingin melukai.

"Oke. Sepakat. Tapi jangan buru-buru keluar dari sini,” pinta Arka seraya mengalihkan pandang ke arah hidangan. “Karena kita harus menghabiskan ayam yang sudah dipesan.”

Ayu tak menggubris ocehan Arka. Ia fokus pada pulpen yang menggurat jejak dalam lembar terakhir kontrak.

Kedua orang sama-sama memberi tanda. Mereka saling oper lalu memastikan dua belah pihak bertaut pada misi yang sama.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri Kontrak Sang CEO   Bab 92

    Tepat pukul tiga sore Ayu memasuki halaman depan My Story, sebuah restoran steak yang berpadu dengan coffee shop dalam satu bangunan. Tempat itu mengusung konsep modern dengan dominasi warna putih gading, hitam, dan cokelat muda. Perpaduan ketiganya menciptakan kesan bersih sekaligus hangat, menghadirkan suasana nyaman bagi siapa pun yang berkunjung. Bergeser ke sisi kanan, langit-langit kafe dirancang dengan lekukan geometris yang lembut. Dari luar tempat itu tampak ramai oleh pengunjung yang menikmati suasana estetik. Sebagian pengunjung memenuhi area makan, sementara yang lain memilih duduk di sisi coffee shop. Ada yang asyik berbincang dengan topik harian, ada juga yang sibuk dengan pekerjaan masing-masing sembari sesekali menyesap kopi. Ayu mengalihkan pandangan ke area outdoor. Di sana Baskara duduk tenang sambil mengusap layar ponsel. Jaket denim khasnya tersampir di sandaran kursi, sementara tubuh hanya dibalut kaus polo cokelat dan celana jeans biru tua. Begitu men

  • Istri Kontrak Sang CEO   Bab 91

    Riris muncul dengan napas tersengal. Gadis berkacamata itu tampak terburu-buru mencari seseorang. "Ris, ketok dulu kalau masuk," tegur Clara khawatir tim pemasaran tersinggung. "Sorry. Anu..." Riris mengalihkan perhatian pada senior perfumer. "Pak Hendrik minta kamu ke ruangannya, Ay." Situasi memburuk. Dengan gerakan gesit Ayu meletakkan kembali botol parfum di atas meja. Ia mengembuskan napas pendek sebelum mengangguk dan mengikuti Riris dari belakang. "Heh, mau kabur kemana kamu? Tanggung jawab, Bego!" celetuk Dika macam rem blong. "Mulutnya tolong dijaga, Pak!" Maudy yang sejak tadi bersabar melayangkan tatapan sinis. Andini menarik napas panjang, mempertahankan pikiran jernih yang hampir goyah dan pecah. "Begini, Pak Dika. Tolong jangan memperkeruh masalah. Kita tunggu keputusan pimpinan sampai besok pagi," tegur Sheila, ketua tim pemasaran tiga. “Maaf untuk semua kegaduhan yang terjadi.” Ayu membungkuk tipis. “Saya akan mencari sumber dari masalah ini dan menem

  • Istri Kontrak Sang CEO   Bab 90

    Ayu menyusuri lorong lantai dua menuju lift. Senyum manis menghiasi wajahnya sementara sebuah ponsel menempel di telinga kiri. Beberapa pegawai yang berpapasan dengannya memberikan anggukan hormat. Ayu membalas dengan gestur serupa tanpa sedikit pun mengalihkan perhatian dari percakapan di seberang sambungan. "Iya, Ma'am. Aku akan mampir ke kafe dalam waktu dekat." Sahutan protes terdengar menggemaskan di telinga Ayu. Perempuan yang sedang diajak bicara itu memiliki segudang kesibukan, mungkin jauh lebih padat daripada dirinya, tetapi perempuan itu tetap bersikukuh ingin bertemu. "Oh, ya? Di kelas fragrance? Pasti menyenangkan bertemu gadis yang mirip denganku." Ayu terkekeh. Ia bahkan spontan menutup mulut ketika tawanya sedikit lebih lepas daripada yang direncanakan. Disusul anggukan pelan seakan lawan bicara di seberang bisa melihat reaksinya. "He-em. Setelah Velvet Rain keluar aku punya banyak waktu luang. Jadi—" "Ayu!" Suara panggilan mendadak membuat senior perfume

  • Istri Kontrak Sang CEO   Bab 89

    Bisik-bisik lirih menyertai orang yang telah duduk di ruang rapat. Suasananya mengingatkan pada rapat pertama Arka sejak menjabat sebagai CEO Scentara. Namun kali ini ada sesuatu yang berbeda. Berbagai kabar simpang siur yang beredar sejak pagi menambah ketegangan di antara para peserta. Hampir seluruh kursi telah terisi. Hanya tersisa dua tempat duduk masing-masing di bagian ujung tengah meja dan sisi samping nomor dua. Beberapa anggota rapat mulai menduga-duga. Ada seseorang yang telah dilengserkan tanpa banyak pemberitahuan. "HeIen," panggil Hendrik kepada kepala bagian pemasaran. Perempuan itu hanya membalas dengan pandangan tenang. Sesekali ia membuka map di hadapannya kemudian mendongakkan wajah untuk menanggapi Hendrik di seberang. "Kursi wakil kepala itu—" Ucapan Hendrik terhenti ketika pintu ruang rapat mendadak terbuka lebar. Sekretaris Arka masuk lebih dahulu disusul sang CEO, dua staf khusus, dan seorang pemuda yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Arka

  • Istri Kontrak Sang CEO   Bab 88

    Dering telepon di meja samping ranjang memecah keheningan kamar. Arka yang masih memeluk Ayu erat terpaksa melonggarkan rengkuhannya untuk meraih ponsel dan menerima panggilan. "Halo." Lelaki itu menerima sapaan dan menyimak penjelasan singkat dari seseorang di seberang sambungan. Di sisi lain Ayu menggeliat kecil. Ia membuka mata dengan kesadaran yang belum pulih sepenuhnya. "Jam berapa sekarang?" tanyanya lirih. "Jam delapan, Sayang," jawab Arka tanpa melepaskan ponsel dari telinganya. Seseorang di ujung sambungan tiba-tiba menyela. "Maaf mengganggu waktu istirahat Anda bersama Senior Perfumer Ayu." "Tidak masalah. Silakan lanjutkan." Penelepon itu kembali menjelaskan informasi mengenai rapat mendadak yang akan diadakan besok, termasuk kehadiran seseorang dari pihak CEO. Sementara itu Ayu yang semula masih menikmati empuknya kasur dan elusan lembut Arka mendadak membeku. Telinga perempuan itu menangkap jelas bagaimana seseorang di seberang menyebut dirinya. Senior Perfumer A

  • Istri Kontrak Sang CEO   Bab 87

    "Aku enggak memaksamu untuk menyerahkan diri sepenuhnya." Suara Arka terdengar rendah. "Tapi setelah kontrak kita selesai, aku enggak akan pernah merasakan Purnama Pertama, Ay. Sampai kapanpun." Ayu berbalik. Ia meninggalkan Arka yang masih berdiri di tempatnya. Sementara dirinya kembali duduk di tepi ranjang. "Tapi kita bukan suami istri sungguhan, Ar. Aku..." Kalimatnya terhenti. Ada sesuatu yang mengganjal di dalam hati. Ayu semata-mata menolak bukan karena tak memiliki perasaan terhadap lelaki itu. Akan tetapi ada pertimbangan lain yang membuatnya sulit memberikan persetujuan. Hati kecilnya terusik oleh naluri. Sedangkan ia harus menghargai perempuan yang dicintai oleh suami. Bagaimana jika perempuan itu mengetahui bahwa Arka telah berbagi keintiman dengannya? Jika keadaan dibalik, Ayu tak yakin sanggup menerima kenyataan bahwa lelaki yang dicintainya memeluk perempuan lain. Di sisi lain Arka ikut berpindah. Ia berjongkok di hadapan Ayu lalu meraih kedua tangan perempua

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status