Share

Bab 6

Author: Nana Shina
last update publish date: 2026-09-16 11:06:50

Deretan botol dengan kode-kode khusus tertata rapi di rak stainless. Beberapa mendekam dalam ruang terpisah sebagai hasil terbaik yang dapat diunduh satu atau dua bulan ke depan.

Di ruang lengang yang berteman benda-benda transparan seorang pimpinan teliti mengejar wewangian. Dengan jaket lab kebanggaan, kacamata square frame abu muda, dan sarung tangan khas perlindungan, tertulis nama Ayu Anindita di dada kiri atas sebagai tanda pengenal.

"Masih belum, Senior?" tanya satu-satunya lelaki yang ada di sana. Setengah berbisik antara gugup dan berharap segalanya segera berakhir.

Sang senior membeku. Ia kipas-kipaskan blotter strip sesaat kemudian diam lagi untuk memindai notes yang menyebar pelan. Senior perfumer itu sedang menguji penciuman. Belum seratus persen tepat. Ia masih menangkap sesuatu yang terlewat.

Ayu menggeser botol pertama. Ia beralih pada satu botol uji coba lalu kembali lagi pada botol yang menyita perhatian sejak awal. Dia merasa ada kurang, tetapi keempat anggota lain telah menganggap wangi itu berbaur sempurna dan siap keluar sarang.

"Kita coba sekali lagi,” putus Ayu seraya menebar sorot tenang.

"Astaga, Senior!" protes Damar sembari mengacak-acak rambut.

"Aku akan mempertajam rasio dengan penambahan floral notes di pertengahan. Bisa tuberose, iris, atau jasmine. Hasil yang tadi kurang keluar jadi…” jelas Ayu sembari menggeleng kepala perlahan.

"Tapi…" bantah si junior dengan wajah melas.

"Ini sudah yang kelima kali, Kak Ay," keluh gadis magang sambil berjongkok lesu. Tangan dan kakinya berat untuk menerima tugas baru. Namun dengan sisa-sisa tanggung jawab gadis itu bangkit dan melangkah menuju meja pojok. Membaca satu persatu kode dan mengambil vial-vial kecil berisi essence tambahan.

"Ay," panggil salah satu kawan di sekitar meja panjang.

"Ya?"

"Beneran kurang?"

Ayu tahu rekannya telah berusaha. Tidak ada yang salah dari mereka. Namun hidung wanita itu lebih sering menjaring celah aroma. Dalam jangka panjang kombinasi cacat bisa mengusik kestabilan harum.

Senior perfumer itu tak mau kerja keras tim sia-sia saat wangi yang diluncurkan ternyata berubah ke arah yang masam, anyir, atau berujung apek. Dia usahakan parfum dari tim akan jadi dambaan hingga akhir. Sampai based notes menguar bersamaan dengan angin. Penikmat parfum akan terus mengenang wangi itu sebagai sesuatu yang tiada gantinya.

"Oke. Gini aja, Ris. Kita tunggu lima belas menit lagi. Kita periksa apakah notes yang keluar di kertas ini masih sama. Kalau wanginya bertahan di level itu, bisa kita keluarkan bulan depan. Tapi kalau wanginya turun dan ada aroma gangguan, kita bikin lagi dengan tambahan rasio seperti yang aku bilang."

Helaan napas panjang kembali datang dari junior dan anak magang. Sementara dua kawan Ayu mengangguk paham. Mereka mulai menyisihkan botol yang telah diuji dan melangkah menuju meja rapat.

"Mar, jangan lupa kopi." Ayu mengingatkan tanpa menoleh. Dia tetap berkutat di meja panjang sementara rekan lainnya mengambil buku catatan besar.

"Senior mau minum kopi?" tanya si gadis magang. Ia bersiap ke arah loker untuk mengambil tas dan dompet.

Dua kawan Ayu tertawa ringan. Damar yang ada di samping langsung menarik tangan Santi sambil menatap sebal.

"Kenapa, Kak?" tanya Santi tanpa rasa berdosa.

"Maksud Ayu bukan gitu, San," ucap perempuan berkacamata sambil membenahi letak tatakan. "Tapi kamu sama Damar diminta endus kopi. Di rak sebelah tu. Biar hidung enggak bingung karena kebanyakan cium bebauan,” jelasnya penuh kesabaran.

"Oh iya lupa. Maaf Kak Ayu, Kak Riris."

Ayu menoleh seraya mengangguk tipis. Dia membiarkan empat orang lainnya berkutat dengan kertas dan pena. Sementara dia berjalan ke arah botol baru berisi racikan kasar dari rempah yang baru masuk minggu ini.

"Ngomong-ngomong kalian sudah sapa CEO baru?" tanya Clara sambil merapikan lembar mentahan.

"He, em. Kami datang di acara penyambutan. Kak Clara sama Kak Riris absen?" balas Damar sambil memutar-mutar pulpen.

"Aku harus ambil beberapa ekstrak di ruang penyimpanan pagi tadi. Jadi enggak bisa datang ke aula. Apa ada sesuatu yang menarik?"

"CEO kita tampan,” sahut Santi girang.

"Muda, kaya, penuh karisma. Pokoknya dominasinya luar biasa,” tambah Damar melengkapi.

"Katakan dengan jelas, Mar. Jika hanya begitu mana aku paham."

"Begini. Jika diibaratkan dengan notes, mungkin dia adalah musk."

"Enggak, Kak Damar. CEO kita lebih mirip cendana," bantah Santi lebih bertekad.

Di sisi ruang lain Ayu mengernyitkan dahi. Otomatis sang calon istri CEO mengguratkan ekspresi tak setuju. "Cendana apanya. Dia tidak hangat sama sekali,” gumam Ayu pada dirinya sendiri.

"Senior?"

"Ya?" sahut Ayu setengah kelabakan.

"Senior menginstruksikan sesuatu? Maaf kami terlalu asyik ngobrol."

"Oh enggak, San. Silakan lanjutkan obrolan. Aku akan memeriksa sampel minggu lalu sekali lagi." Ayu tersenyum canggung. Dia bergeser ke meja ujung sembari menarik satu bottler strip dari saku.

"Ay," panggil sang kawan sembari melepas kaca mata baca.

"Hem?"

"Kamu ke acara pembukaan CEO juga?"

"Iya, Ris. Kenapa?"

"CEO baru kita kayak gimana? Dia bakal mudah dilalui atau bakal jadi hambatan buat tim kita?"

"Dari segi kinerja aku belum bisa memastikan. Rapat pertama belum diadakan. Sementara pembukaan tadi sekadar pengenalan wujud. Seperti seorang paman yang memamerkan ponakan tampan,” ujar Ayu apa adanya. Riris dan Clara manggut-manggut. Ucapan sang pemimpin lebih mudah dipercaya.

"Kalau gitu secara pribadi menurutmu gimana, Ay? CEO kita," tanya Clara sambil memangku dagu. Perempuan berambut sebahu menanti jawaban dengan senyum madu. Ia ingin melihat apakah perempuan yang baru-baru ini kecewa mampu menyerap kesan dasyat dari lawan jenis.

"Ha?"

"Pak Arka. Menurutmu bagaimana?"

Sesaat Ayu menerawang botol kaca. Kemudian beralih pada meja rapat yang diisi keempat anggota.

"Dia seperti... vetiver."

"Vetiver?" balas Clara balik.

"He, em. Akar vetiver. Punya aroma tanah yang menyiratkan kesan tangguh. Aroma daun tipis dan kayu menenangkan. Juga..."

"Juga?"

"Bukan apa-apa," tutup Ayu dengan seringai iseng.

"Ah, senior enggak asik! Udah telanjur kepo nih," rengek Santi turut menunggu jawaban.

"Sudah selesai catatannya, Mar?"

"Sudah, Senior."

"Oke. Taruh semua di meja masing-masing. Kita bisa keluar sekarang.”

Ayu merapikan bekas bottler strips. Ia ambil sisa-sisa aroma yang tak berguna agar terpisah dari botol-botol berharga.

Kelima orang bebersih tangan dan menaruh jas lab di lemari besar. Setelah itu masing-masing orang mengambil barang di loker dan bersiap pulang.

"Ay, bareng sama Andini enggak?"

"Enggak. Hari ini mau pakai Surabaya Bus."

"Bareng aku aja, Kak," tawar Santi sembari memamerkan kunci NMax.

Ting!

Belum sempat menyahut, ponsel Ayu menerima notif khusus. Nomor asing. Mengingat profil lelaki setelan kelabu Ayu sadar si pengirim pesan adalah atasan baru.

'Ay, kita ketemu di resto Srirasa jam 7 malam. Aku sudah pesan meja atas namaku. Jangan terlambat. Tepati kata-katamu.'

Ayu melirik samping disusul helaan napas malas. Ia tutup ponsel tanpa membalas pesan sang CEO. Saat ini si wanita tidak tahu harus menghadapi Arka sebagai cinta pertama masa kuliah atau atasan di perusahaan.

"Kak Ay? Jadi bareng?" tawar Santi sekali lagi. Si anak magang diam-diam penasaran dengan pergantian ekspresi Ayu yang mencurigakan.

"Oh enggak dulu, San. Kamu boleh pulang duluan. Sampai ketemu besok ya."

"Baik. Sampai jumpa besok, Kak."

Satu persatu anggota pergi. Ayu masih berada di depan lab sembari menimbang-nimbang situasi. Apa dia harus datang? Jika tidak konsekuensi apa yang akan dihadapi?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri Kontrak Sang CEO   Bab 6

    Deretan botol dengan kode-kode khusus tertata rapi di rak stainless. Beberapa mendekam dalam ruang terpisah sebagai hasil terbaik yang dapat diunduh satu atau dua bulan ke depan. Di ruang lengang yang berteman benda-benda transparan seorang pimpinan teliti mengejar wewangian. Dengan jaket lab kebanggaan, kacamata square frame abu muda, dan sarung tangan khas perlindungan, tertulis nama Ayu Anindita di dada kiri atas sebagai tanda pengenal. "Masih belum, Senior?" tanya satu-satunya lelaki yang ada di sana. Setengah berbisik antara gugup dan berharap segalanya segera berakhir. Sang senior membeku. Ia kipas-kipaskan blotter strip sesaat kemudian diam lagi untuk memindai notes yang menyebar pelan. Senior perfumer itu sedang menguji penciuman. Belum seratus persen tepat. Ia masih menangkap sesuatu yang terlewat. Ayu menggeser botol pertama. Ia beralih pada satu botol uji coba lalu kembali lagi pada botol yang menyita perhatian sejak awal. Dia merasa ada kurang, tetapi keempat anggo

  • Istri Kontrak Sang CEO   Bab 5

    Memasuki gedung utama tak pernah seberisik ini. Meski pagi jadi momen menyegarkan. Di kuping Ayu sekarang berdengung gumam sekitar. Perempuan itu tak terbiasa dengan gosip. Dia cenderung jadi orang yang menepi dan tak banyak berargumen selain dalam profesionalitas kerja. Kini kisah cintanya jadi konsumsi publik. Ada yang mengasihani karena Ayu ditinggal H-sebulan pernikahan. Ada juga yang bertanya-tanya apa kurangnya hingga wanita penuh power dan feminim energi itu tersisihkan."Ayu!”Si pemilik nama melambaikan tangan ringan. Sepucuk senyum dia suguhkan. Bagaimanapun dia paham. Sang sahabat akan meraung seperti manusia serigala di bulan purnama jika dia bersikap acuh tak acuh.“Selamat datang kembali di Scentara, Sister!" sapa Andini seraya memeluk manja. Sahabat Ayu sejak magang itu terlihat cerah dengan balutan blazer butter dan celana panjang tone daffodil."Lebay deh, An. Ditinggal tiga hari doang," sahut Ayu ringan. Style pakaian wanita itu berkebalikan dengan Andini yang terang

  • Istri Kontrak Sang CEO   Bab 4

    Pelukan dari lelaki masa lalu masih terasa hangat. Tarikan napas dua orang dalam jarak dekat memberikan sensasi intim yang tak jelas. Ayu menunduk ragu. Dia tak berani menatap telaga mata Arka yang begitu dalam. Sementara Arka tak melepas intaian. Dengan mata sipit tajam pria itu meraba tiap lekuk wajah yang ia kecup semenit yang lalu."Ay, wajahmu merah,” celetuk Arka di momen yang tak tepat.Ayu buru-buru mendorong Arka untuk jauh. Wanita itu menutup setengah wajahnya dengan kepalan tangan. Malu. Dia tidak bisa menutupi kebutuhan akan perhatian dan sentuhan di masa-masa patah hati."Kamu enggak anggap serius kata-kata cintaku ‘kan?" tanya Arka sambil memiringkan kepala. Lelaki itu mencoba menggali ekspresi Ayu yang ditutup-tutupi."Jangan asal bicara! Aku tahu semua cuma kebohongan," gerutu Ayu sambil melangkah ke dalam ruang. Dia mendekati ranjang dengan langkah dan ayunan tangan ringan. Dia membiasakan diri. Lebih tepatnya si perempuan bekerja keras untuk terlihat santai dan nyama

  • Istri Kontrak Sang CEO   Bab 3

    Ayu kira Arka hanya basa-basi saat bilang mengajaknya ke cafe dekat taman. Ternyata lelaki itu serius. Dia mengambil tempat duduk menghadap city light arah timur. Berbanding terbalik dengan pemandangan yang Ayu nikmati sebelum badai kebohongan melanda.Menunggu sekitar sepuluh menit. Pesanan Arka datang. Nasi pulen, rawon bumbu original, dan teh oolong tanpa gula. Ayu tersenyum. Makanan milik sang cinta pertama amat berbeda dengan suguhan di meja makan keluarga."Mau, Ay?" tawar Arka tanpa menoleh. Lelaki itu mengaduk kuah rawon sambil memastikan isian."Hem?""Kamu ngelihat makananku sampai kayak gitu. Mau?" tanya Arka sekali lagi. Kali ini dia mengangkat wajah. Menatap lurus perempuan bergaun biru yang dia bilang sebagai kekasih tercinta sejak mahasiswa."Oh enggak. Sorry."Ayu mengelus hidung seraya berdehem halus. Perempuan itu tak bermaksud mempermasalahkan selera Arka. Sejak dulu dia tahu, lelaki itu pecinta rawon dan empal goreng udang. Saat kuliah dia hanya bisa makan menu itu

  • Istri Kontrak Sang CEO   Bab 2

    Gemuruh hati tak akan pernah didengar oleh angin. Bukan soal lelaki maupun kekasih. Namun sejak kecil dia sudah mendapat lubang luar biasa besar dari orang yang seharusnya paling dicintai.Ayu Anindita. Ibu Bapaknya tak pernah menginginkan sebuah kelahiran. Dalam data panti dia tidak sungguh-sungguh ditulis sebagai anak buangan. Tetapi cerita akan pertemuan Suster Endang dengannya yang masih merah dan menginginkan ASI masih jadi legenda tak terbantahkan.Saat umur sepuluh tahun Ayu diadopsi oleh keluarga Anggara sebagai ritual. Anak mereka tercinta sakit-sakitan sejak bayi. Orang pintar bilang keadaan akan membaik jika ada anak berenergi positif menyertai.Siapa anak itu? Anak yang disekap di taman bunga tapi hanya berbekal duri dan tanah kotoran? Ya. Tak lain dan tak bukan Ayu.Sejak masuk ke rumah bak istana dia selalu menancapkan jati diri. Dia tidak akan mengharapkan sebuah keluarga yang utuh. Berkali-kali orang tua angkatnya pun memberi batas serupa.Dari gurat takdir yang kasar

  • Istri Kontrak Sang CEO   Bab 1

    Jika kesialan adalah tropi penghargaan dia akan memilikinya segudang penuh. Berkali melompat, menghindar, hingga mengubur bulat-bulat nasib buruk. Dia selalu jadi pemenang dalam perlombaan sebagai tumbal.Anniversary kedua. Saat tangan membawa hadiah dan kue cokelat merah muda Ayu melihat sang calon suami bercumbu mesra dengan adik satu-satunya. Di apartemen yang ia cicil. Di sofa merah marun yang dia beli tahun lalu."Jangan salahkan Kak Baskara, Kak! Semua salahku! Maafkan aku...," pinta si adik bersimpuh meminta pengampunan. Dia terisak. Akan tetapi suaranya terasa seperti sebuah tawa kemenangan.Kaku. Tubuh perempuan yang dikhianati tak mampu memberi respons terbaik. Dia hanya mampu berdiri dengan tatapan hambar. Tak ada makian. Tak ada kekerasan brutal."Sayang ayo bangun. Aku enggak mau anak kita yang ada di dalam perutmu kesakitan."Ucapan calon suami Ayu menyadarkan si wanita dari situasi miris. Perempuan itu buru-buru menoleh. Dia melempar tatapan sinis sekaligus jijik."Anak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status