Partager

Bangkit untuk melawan

Auteur: Senja
last update Date de publication: 2026-03-08 19:28:39

Clara merasakan kuku-kuku tajam Nyonya Victoria menekan kulit dagunya, namun alih-alih gemetar atau memalingkan wajah, ia justru menatap lurus ke dalam manik mata wanita di depannya. Rasa perih di pipinya akibat tamparan Sonya tadi justru membakar sisa-sisa ketakutan dalam dirinya.

Dengan gerakan yang tenang namun, Clara memegang pergelangan tangan Nyonya Victoria dan menjauhkannya dari wajahnya dengan gerakan lembut.

"Silahkan" Clara Tersenyum tipis yang terlihat sangat dingin. "Tapi Adrian sangat takut kehilangan saya,dan saya ingin bertanya satu hal,"

Clara maju satu langkah, membuat jarak di antara mereka sangat tipis. Suaranya merendah, hanya bisa didengar oleh mereka berdua.

"Siapa yang akan lebih malu? Saya, wanita miskin yang tidak punya apa-apa untuk dipertaruhkan? Atau Anda, Nyonya yang harus mengaku pada seluruh kolega kelas atas bahwa putra anda tergila-gila pada wanita miskin seperti saya?"

wanita paruh baya itu membelalak. Wajahnya yang tertutup makeup tebal itu tampak menegang. Ia tidak menyangka bahwa gadis ini akan mempunyai nyali besar.

"Kamu.. berani sekali mengancamku!" desis Victoria, suaranya bergetar menahan murka.

"Saya tidak mengancam, saya hanya meluruskan kenyataan," jawab Clara dengan nada yang sangat sopan namun tegas. "Anda ingin menyingkirkan saya? Silakan mencobanya,Tapi pastikan bahwa Adrian tidak akan tahu hal ini"

Adrian yang sedang berdiri di meja bar, menghentikan gerakannya saat menuangkan whiskey. Ia tidak berbalik, namun telinganya menangkap setiap kata keberanian yang keluar dari mulut Clara. Seringai tipis yang jarang terlihat muncul di sudut bibirnya. Gadis ini bukan sekadar barang yang dia beli,tapi dia juga memiliki keberanian untuk melawan ibunya.

Victoria baru saja hendak mengangkat tangannya untuk membalas ucapan Clara, namun suara denting es batu dalam gelas Adrian menghentikannya.

"Ibu," panggil Adrian tanpa menoleh. "Jamuan makan malam akan segera dimulai. Jika Ibu masih ingin menjaga citra keluarga ini, sebaiknya Ibu duduk dan nikmati hidangannya. Atau... Ibu bisa pulang sekarang dan biarkan Aku mengurus istriku dengan caraku sendiri."

Victoria mendengus kasar. Ia merapikan gaunnya yang sedikit kusut dengan gerakan angkuh. "Kamu akan menyesal telah membawa orang miskin ke keluarga kita!"

Setelah Victoria melangkah pergi menuju ruang makan, suasana kembali sunyi. Clara menghela napas panjang, bahunya yang tegang perlahan turun.

Adrian berdiri tepat di belakangnya, napas pria itu terasa hangat di tengkuknya. "Berani sekali kamu berkata bahwa saya takut kehilangan kamu,Clara."

Clara berbalik, menatap dada bidang Adrian. "Bukankah itu kenyataannya? bapak membayar saya karena bapak butuh perisai dari nyonya Victoria?,dan bapak memaksa saya untuk menyetujui kontrak itu?"

Adrian mencengkeram pinggang Clara, menariknya hingga tidak ada jarak di antara mereka. Matanya yang coklatnya menatap dalam ke mata Clara.

"Kamu mungkin menang melawan Ibuku hari ini,tapi jangan lupa..." Adrian merendahkan suaranya,namun mampu membuat Clara menahan napas"Kontrak itu belum dimulai secara resmi. Dan malam ini, setelah tamu-tamu ini pulang, kamu akan tahu bahwa menjadi istri saya jauh lebih melelahkan daripada menghadapi orang seperti ibuku."

Adrian melepaskan cengkeramannya dan memberikan isyarat agar Clara menggamit lengannya. "Ayo. Tunjukkan pada mereka semua bagaimana cara seorang gadis miskin seperti mu bersikap seperti ratu di meja makan kelas atas."

Clara menggamit lengan Adrian,walaupun Clara merasa bahwa Adrian merendahkannya,namun dia berusaha mengendalikan emosinya.dan di meja makan nanti, ia tidak tahu jebakan apa lagi yang disiapkan Victoria atau bahkan Adrian sendiri. Namun satu hal yang pasti,Dia tidak akan tinggal diam.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Istri Kontrak Sang Miliarder    Pelaku sebenarnya

    Suasana ruang tamu berubah mencekam.Clara masih memandangi tumpukan foto di atas meja dengan wajah pucat.Jemarinya gemetar saat mengambil salah satunya."Itu..."Foto dirinya yang sedang duduk sendirian di taman belakang mansion.Padahal hari itu tidak ada tamu.Tidak ada wartawan.Lalu...Siapa yang mengambil gambar itu?Tanpa sadar Clara merapatkan kedua lengannya sendiri.Merasa seolah ada sepasang mata yang terus mengawasinya.Adrian menyadari perubahan itu.Ia segera mengambil semua foto tersebut lalu memasukkannya kembali ke dalam amplop."Jangan lihat lagi."Nada suaranya tegas.Clara mengangkat kepala."Tapi...""Saya bilang cukup."Bukan karena marah.Melainkan karena Adrian tidak ingin Clara semakin ketakutan.Ia kemudian menoleh ke arah kepala keamanan."Panggil seluruh tim keamanan ke ruang rapat. Sekarang.""Baik, Tuan."Beberapa menit kemudian...Ruang rapat mansion dipenuhi para petugas keamanan.Adrian berdiri di ujung meja dengan wajah dingin."Mulai malam ini.""Ti

  • Istri Kontrak Sang Miliarder    Ryan

    "Clara!"Wajah Adrian seketika berubah pucat.Tanpa memedulikan Zeva yang masih berdiri di belakangnya, ia langsung berlari menuju lift."Tahan liftnya!"Namun terlambat.Ting.Pintu lift telah menutup rapat."Brengsek!"Adrian memukul tombol lift berulang kali.Layar digital bergerak turun.Lantai 18...17...16...Ia tidak sanggup menunggu.Adrian segera berbalik."Tangga darurat."Pria itu berlari meninggalkan lobi, membuat para karyawan saling berpandangan bingung.Mereka belum pernah melihat CEO mereka kehilangan kendali seperti itu.Di sisi lain...Clara berdiri di dalam lift.Kotak bekal makan siang masih berada di pelukannya.Ia menatap pantulan dirinya di dinding lift yang mengilap.Perlahan sudut bibirnya terangkat.Senyum kecil.Namun air mata mulai mengalir tanpa bisa ditahan."Aku benar-benar bodoh..."gumamnya lirih.Seharusnya ia tidak datang.Seharusnya ia tidak berharap Adrian akan senang menerima bekal yang dibuatnya.Bukankah mereka hanya suami istri karena kontrak?

  • Istri Kontrak Sang Miliarder    Datang di waktu yang salah

    "Jangan pernah ikut campur lagi dalam rumah tangga saya." Suara Adrian terdengar dingin dari balik sambungan telepon. Di seberang sana, Victoria hanya terkekeh pelan. "Rumah tangga?" ulangnya santai. "Adrian, kalian hanya menikah karena kontrak. Ibu hanya mengembalikan semuanya ke jalur yang seharusnya." Rahang Adrian mengeras. "Kontrak atau bukan, Clara tetap istri saya." Victoria terdiam beberapa detik. "Lalu sampai kapan kamu mau mempertahankan pernikahan itu? Satu tahun? Setelah itu dia tetap akan pergi." Kalimat itu membuat Adrian terdiam. Ia tahu. Itulah isi kontrak yang ia buat sendiri. Namun entah sejak kapan, ia tidak pernah lagi menginginkan kontrak itu berakhir. "Saya akan mengurus rumah tangga saya sendiri." "Tidak perlu Ibu ikut campur." Tanpa menunggu jawaban, Adrian langsung memutus sambungan telepon. Tut. Ia melempar ponselnya ke atas meja dengan kesal. Beberapa detik kemudian, ia mengusap wajahnya kasar. "Pak..." Sekretarisnya kembali bersuara hati

  • Istri Kontrak Sang Miliarder    Melanjutkan pertunangan

    Sinar matahari pagi menembus celah tirai kamar, menyinari ruangan yang sejak semalam dipenuhi keheningan.Clara masih terduduk di atas ranjang.Tatapannya kosong mengarah ke dinding.Semalaman ia hampir tidak memejamkan mata.Perkataan dokter.Sikap Adrian.Semuanya terus berputar di dalam kepalanya.Perlahan ia menoleh ke arah jam digital di atas nakas.08.00."Sudah pagi..."Clara mengusap wajahnya pelan.Ia mengira semua orang masih berada di bawah.Dengan langkah pelan, ia turun dari ranjang dan berniat keluar kamar untuk sarapan.Namun baru saja tangannya menyentuh gagang pintu...Tok... tok..."Permisi, Nyonya."Seorang pelayan mendorong troli makanan masuk ke dalam kamar.Di atasnya tersaji sarapan hangat lengkap dengan teh dan buah potong.Clara tampak bingung."Untukku?"Pelayan itu mengangguk sambil tersenyum sopan."Ya, Nyonya.""Nyonya Clara, Tuan Adrian sudah berangkat ke kantor sejak pagi."Clara terdiam.Pelayan itu melanjutkan,"Dan Nyonya Besar juga sedang pergi kelua

  • Istri Kontrak Sang Miliarder    Kecewa nya Adrian

    Sambungan adegannya bisa dibuat seperti ini:Pintu kamar perlahan terbuka.Klik.Clara yang masih terduduk di atas ranjang spontan mengangkat kepalanya.Adrian berdiri di ambang pintu.Raut wajah pria itu sulit dibaca.Tidak marah.Namun juga tidak setenang biasanya.Tatapannya lurus mengarah kepada Clara.Pelayan yang berjaga segera menundukkan kepala."Tuan.""Kalian keluar.""Baik, Tuan."Tak lama kemudian, kamar itu hanya menyisakan mereka berdua.Keheningan terasa begitu menyesakkan.Adrian melangkah perlahan mendekati ranjang.Ia berhenti tepat beberapa langkah di depan Clara."Seharusnya kamu sudah tahu kabar itu, Clara."Suaranya pelan.Namun terdengar sangat berat.Clara menundukkan kepala.Jemarinya saling menggenggam erat di atas selimut."A-Adrian... tunggu."Ia mengangkat wajah dengan mata yang dipenuhi kebingungan."Ini tidak seperti yang kamu pikir."Tatapan Adrian berubah."Lalu seperti apa?"Suara itu tetap tenang, tetapi menyimpan begitu banyak pertanyaan.Clara memb

  • Istri Kontrak Sang Miliarder    Clara hamil dan kecurigaan Adrian

    Suara langkah kaki Adrian menggema di sepanjang koridor mansion.Napasnya masih memburu setelah bergegas pulang dari kantor.Begitu tiba di depan kamar, ia langsung melihat dokter keluarga, beberapa pelayan, dan Victoria berdiri di luar dengan wajah yang sulit diartikan."Dokter."Suara Adrian terdengar tegang."Ada apa dengan Clara?"Dokter itu menoleh lalu mengangguk hormat."Tuan Adrian, kondisi Nyonya Clara sudah mulai stabil."Adrian mengembuskan napas lega."Syukurlah.""Namun..." Dokter berhenti sejenak."Ada kabar yang perlu saya sampaikan."Adrian mengernyit."Apa itu?"Dokter tersenyum tipis."Selamat, Tuan.""Nyonya Clara kemungkinan besar sedang hamil."Deg!Adrian membeku.Matanya membelalak."H-hamil?"Dokter mengangguk pelan."Hasil pemeriksaan awal mengarah ke sana. Besok kami perlu melakukan pemeriksaan lanjutan untuk memastikan usia kehamilan dan kondisi janinnya."Namun Adrian seolah tidak lagi mendengar penjelasan dokter.Pikirannya mendadak kosong.Hamil...?Anak

  • Istri Kontrak Sang Miliarder    Altar

    "Pernikahan ini tidak boleh terjadi! Adrian dengarkan Ibu! Dia bukan wanita baik, kamu harus menikah dengan orang yang setara dengan kita!" teriak Victoria histeris. Suasana di dalam gedung yang tadinya tenang dan khidmat seketika pecah menjadi kekacauan. Suara teriakan Victoria menggema, memantul

  • Istri Kontrak Sang Miliarder    Tidur satu ranjang

    Suasana lobi penthouse mendadak sunyi setelah kepergian Nyonya Victoria. Pelayan telah membereskan sisa-sisa perjamuan yang tegang itu. Clara berdiri mematung di dekat tangga, merasa energinya habis terkuras hanya untuk menghadapi calon ibu mertuanya itu. "Kemasi barang-barangmu se

  • Istri Kontrak Sang Miliarder    Keberanian Clara

    Lampu kristal di atas meja makan panjang itu memantulkan cahaya yang menyilaukan, namun suasana di sekitarnya terasa lebih dingin daripada es di dalam gelas wine. Clara duduk di sisi kanan Adrian, sementara Victoria duduk di ujung meja. Pelayan mulai berdatangan, menyajikan hidangan pembuka berup

  • Istri Kontrak Sang Miliarder    Membela Clara

    Mobil sedan hitam mewah itu melaju membelah kemacetan Jakarta, membawa Clara menjauh dari hiruk-pikuk kota menuju kawasan elit yang sunyi. Di sampingnya, Adrian duduk tegak, tatapannya dingin menatap layar tablet, seolah keberadaan Clara di sampingnya hanyalah sebuah benda mati. Clara tidak berani

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status