Share

Keberanian Clara

Author: Senja
last update publish date: 2026-03-11 19:06:59

Lampu kristal di atas meja makan panjang itu memantulkan cahaya yang menyilaukan, namun suasana di sekitarnya terasa lebih dingin daripada es di dalam gelas wine. Clara duduk di sisi kanan Adrian, sementara Victoria duduk di ujung meja.

Pelayan mulai berdatangan, menyajikan hidangan pembuka berupa Escargot dan sup rumit yang dilengkapi dengan deretan alat makan perak yang membingungkan.

Victoria menyandarkan punggungnya, matanya menatap tajam ke arah tangan Clara. Ia sengaja memilih menu ini, berharap Clara akan kebingungan memilih sendok atau garpu yang benar dan mempermalukan dirinya sendiri.

"Di dunia kami, etiket adalah cerminan martabat," sindir Victoria sambil menyesap minumannya. "Seseorang tidak bisa hanya mengandalkan wajah cantik untuk duduk di meja Wijaya. Benar kan, Adrian?"

Adrian tidak menjawab. Ia justru sengaja meletakkan alat makannya, menunggu reaksi Clara. Ia ingin melihat sejauh mana Clara ini bisa bertahan di bawah tekanan.

Clara melirik deretan garpu di samping piringnya. Sejenak, ia teringat pada riset mendalam yang pernah ia lakukan saat membaca salah satu novel tentang kehidupan bangsawan Eropa. Ia menarik napas dalam, lalu dengan gerakan yang sangat tenang dan anggun, ia mengambil garpu paling kanan.

Ia memakan hidangan itu dengan tata cara yang sempurna—tanpa suara, tanpa kesalahan.

"Sup ini memiliki aroma tarragon yang sangat pas, Nyonya," ucap Clara setelah meletakkan sendoknya dengan posisi diagonal yang tepat. "Pilihan menu yang sangat klasik. Terima kasih atas jamuannya."

Victoria tertegun. senyum meremehkan di wajahnya memudar, digantikan oleh kerutan tipis di dahi. "Kamu... dari mana gadis desa sepertimu belajar cara makan seperti itu?"

"Membaca adalah jendela dunia, Nyonya. Dan saya adalah pembaca yang sangat tekun," jawab Clara tenang, matanya menatap lurus ke arah Calon ibu mertuanya tanpa ada rasa takut.

Adrian yang sejak tadi hanya menonton, tiba-tiba meraih tangan Clara di atas meja dan menggenggamnya erat.

"Istriku penuh dengan kejutan, Ibu. Itulah alasanku memilihnya. Dia tidak hanya cerdas, tapi juga sangat berkelas."

Namun, Victoria belum selesai. Ia memberikan isyarat pada pelayan untuk menuangkan wine merah ke gelas Clara. "Kalau begitu, sebagai menantu Wijaya, kamu tentu paham tentang koleksi wine pribadi kami. Coba katakan, tahun berapa vintage yang sedang kamu minum ini?"

Ini adalah jebakan. Tidak mungkin seseorang yang tidak pernah minum wine mahal bisa menebaknya hanya dari satu sesapan.

Clara menyesap sedikit cairan merah itu, membiarkannya menyentuh indra perasanya sejenak. Ia tahu ini saatnya bertaruh.

"Teksturnya sangat kaya, sedikit aroma kayu ek dan buah beri hitam yang kuat," Clara terdiam sejenak, mengingat-ingat data yang pernah ia baca. "Ini pasti Cabernet Sauvignon dari perkebunan di Bordeaux, Prancis. Jika tidak salah, tahun 2015. Tahun di mana panennya sangat sempurna, bukan?"

Suasana mendadak hening.Victoria bahkan hampir menjatuhkan gelasnya sendiri. Tebakan Clara benar.

"Cukup!" Victoria membanting serbetnya ke atas meja.

"Adrian, ikut Ibu ke ruang kerja sekarang. Ada hal yang harus kita bicarakan!"

Victoria bangkit dan melangkah pergi dengan wajah merah padam. Adrian perlahan melepaskan tangan Clara, lalu berdiri. Sebelum menyusul ibunya, ia membungkuk sedikit ke arah Clara.

"kamu mempermainkan peranmu dengan sangat bagus, Clara. kamu baru saja membuat ibuku kehilangan kata-kata untuk pertama kalinya" bisik Adrian.

Adrian melangkah mengikuti ibunya menuju ruang kerja, meninggalkan Clara yang masih duduk mematung di tengah megahnya ruang makan. Namun, pintu ruang kerja itu tidak tertutup rapat, sehingga Clara bisa mendengar dengan jelas percakapan penuh ketegangan di antara ibu dan anak itu.

"Apa yang kamu lakukan, Adrian?" suara Victoria terdengar tajam, bergetar karena amarah yang tak lagi bisa ia bendung. "Dia itu berbahaya! Dia tidak seperti wanita baik-baik. Dia mempermainkanmu!"

"Dia hanya istri di atas kertas, Ibu. Itu kesepakatan yang kubuat," jawab Adrian dengan nada dingin yang datar.

"Kesepakatan bisa dibatalkan! Berikan dia uang, berapa pun yang dia mau, lalu suruh dia keluar dari rumah ini malam ini juga! Aku tidak akan membiarkan sampah itu menjadi bagian dari silsilah keluarga Wijaya."

Clara yang berdiri di balik pilar ruang makan merasakan jantungnya berdegup kencang. Ia menahan napas, menanti jawaban Adrian.

Hening sejenak. Hanya terdengar suara ketukan jari Adrian di atas meja kayu.

"Aku tidak akan membatalkan kontrak itu," ucap Adrian tegas. Suaranya terdengar lebih berat, membuat Clara tanpa sadar mencengkeram ujung taplak meja. "Clara memiliki sesuatu yang tidak dimiliki wanita-wanita pilihan Ibu. Dia berbeda... selama satu tahun ke depan. Tidak ada yang boleh menyentuhnya, apalagi mengusirnya."

"Adrian! Apa kamu sudah gila? Apa kamu mulai jatuh cinta padanya?!" seru Victoria tak percaya.

Adrian tertawa kecil, sebuah tawa kering yang terdengar penuh ironi. "Cinta? Ibu tahu aku tidak percaya pada hal konyol seperti itu. Aku hanya menikmati permainannya. Lagipula, dia adalah perisai terbaik untuk menghadapi perjodohan busuk yang Ibu rencanakan."

Clara tidak sanggup mendengar lebih jauh. Ia merasa lemas, namun kepalanya segera tegak kembali. Ia tidak boleh terlihat lemah. Saat suara langkah kaki mendekat, Clara segera melangkah mundur, berpura-pura sedang berdiri menatap pemandangan kota di jendela besar ruang makan.

Pintu terbuka. Adrian keluar dengan wajah yang kaku, sementara Victoria menyusul di belakangnya dengan tatapan yang seolah siap membakar Clara hidup-hidup.

"Clara," panggil Victoria, suaranya kini terdengar lembut "Tadi aku bicara dengan putraku. Aku sudah menawarkan kompensasi yang sangat besar agar kamu pergi dari sini sekarang juga.aku akan memberikanmu uang,lebih banyak dari yang putraku berikan."

Clara berbalik perlahan. Ia melihat Adrian yang berdiri di sana, menatapnya dengan tatapan yang seolah menantang.

Clara tersenyum tipis. Ia melangkah mendekat, berdiri tepat di antara dua orang itu.

"Mungkin tawaran Nyonya menggiurkan," ucap Clara dengan nada yang sangat tenang, "tapi sepertinya saya tidak tertarik dengan uang Anda."

"Sombong sekali!" kata Victoria dengan suara yang agak meninggi.

"Bukan sombong," potong Clara cepat. Ia menatap ke arah Adrian. "Tapi saya sudah menandatangani kontrak dengan putra Anda. Dan sebagai orang yang berintegritas, saya tidak akan meninggalkan pekerjaan saya sebelum masa kontraknya habis. Jadi, Nyonya, sepertinya Anda harus bersabar melihat wajah saya di meja makan ini setiap hari."

Adrian menyipitkan mata. Ia tidak menyangka Clara akan berani menolak uang ibunya di depan matanya langsung.

"Kamu berani menantangku?" Victoria maju selangkah, tangannya yang kini sudah memakai sarung tangan sutra hampir menyentuh pipi Clara.

"Ibu," suara Adrian menyela, dingin,"Cukup. Clara akan tetap di sini. Dan jika Ibu mencoba melakukan sesuatu padanya, jangan salahkan aku jika aku memindahkan seluruh perusahaan ke luar negeri dan memutus akses Ibu ke rekening Wijaya."

Victoria terdiam, wajahnya pias. Ia tidak menyangka putranya akan mengancamnya demi seorang gadis miskin.Dengan tatapan penuh kebencian yang ditujukan kepada Clara,Victoria berbalik dan pergi meninggalkan penthouse dengan kemarahan yang tertahan.

Adrian mendekat dan membisikkan sesuatu yang membuat bulu kuduk Clara berdiri"Mulai malam ini, Tidur di kamar Saya,"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri Kontrak Sang Miliarder    Pelaku sebenarnya

    Suasana ruang tamu berubah mencekam.Clara masih memandangi tumpukan foto di atas meja dengan wajah pucat.Jemarinya gemetar saat mengambil salah satunya."Itu..."Foto dirinya yang sedang duduk sendirian di taman belakang mansion.Padahal hari itu tidak ada tamu.Tidak ada wartawan.Lalu...Siapa yang mengambil gambar itu?Tanpa sadar Clara merapatkan kedua lengannya sendiri.Merasa seolah ada sepasang mata yang terus mengawasinya.Adrian menyadari perubahan itu.Ia segera mengambil semua foto tersebut lalu memasukkannya kembali ke dalam amplop."Jangan lihat lagi."Nada suaranya tegas.Clara mengangkat kepala."Tapi...""Saya bilang cukup."Bukan karena marah.Melainkan karena Adrian tidak ingin Clara semakin ketakutan.Ia kemudian menoleh ke arah kepala keamanan."Panggil seluruh tim keamanan ke ruang rapat. Sekarang.""Baik, Tuan."Beberapa menit kemudian...Ruang rapat mansion dipenuhi para petugas keamanan.Adrian berdiri di ujung meja dengan wajah dingin."Mulai malam ini.""Ti

  • Istri Kontrak Sang Miliarder    Ryan

    "Clara!"Wajah Adrian seketika berubah pucat.Tanpa memedulikan Zeva yang masih berdiri di belakangnya, ia langsung berlari menuju lift."Tahan liftnya!"Namun terlambat.Ting.Pintu lift telah menutup rapat."Brengsek!"Adrian memukul tombol lift berulang kali.Layar digital bergerak turun.Lantai 18...17...16...Ia tidak sanggup menunggu.Adrian segera berbalik."Tangga darurat."Pria itu berlari meninggalkan lobi, membuat para karyawan saling berpandangan bingung.Mereka belum pernah melihat CEO mereka kehilangan kendali seperti itu.Di sisi lain...Clara berdiri di dalam lift.Kotak bekal makan siang masih berada di pelukannya.Ia menatap pantulan dirinya di dinding lift yang mengilap.Perlahan sudut bibirnya terangkat.Senyum kecil.Namun air mata mulai mengalir tanpa bisa ditahan."Aku benar-benar bodoh..."gumamnya lirih.Seharusnya ia tidak datang.Seharusnya ia tidak berharap Adrian akan senang menerima bekal yang dibuatnya.Bukankah mereka hanya suami istri karena kontrak?

  • Istri Kontrak Sang Miliarder    Datang di waktu yang salah

    "Jangan pernah ikut campur lagi dalam rumah tangga saya." Suara Adrian terdengar dingin dari balik sambungan telepon. Di seberang sana, Victoria hanya terkekeh pelan. "Rumah tangga?" ulangnya santai. "Adrian, kalian hanya menikah karena kontrak. Ibu hanya mengembalikan semuanya ke jalur yang seharusnya." Rahang Adrian mengeras. "Kontrak atau bukan, Clara tetap istri saya." Victoria terdiam beberapa detik. "Lalu sampai kapan kamu mau mempertahankan pernikahan itu? Satu tahun? Setelah itu dia tetap akan pergi." Kalimat itu membuat Adrian terdiam. Ia tahu. Itulah isi kontrak yang ia buat sendiri. Namun entah sejak kapan, ia tidak pernah lagi menginginkan kontrak itu berakhir. "Saya akan mengurus rumah tangga saya sendiri." "Tidak perlu Ibu ikut campur." Tanpa menunggu jawaban, Adrian langsung memutus sambungan telepon. Tut. Ia melempar ponselnya ke atas meja dengan kesal. Beberapa detik kemudian, ia mengusap wajahnya kasar. "Pak..." Sekretarisnya kembali bersuara hati

  • Istri Kontrak Sang Miliarder    Melanjutkan pertunangan

    Sinar matahari pagi menembus celah tirai kamar, menyinari ruangan yang sejak semalam dipenuhi keheningan.Clara masih terduduk di atas ranjang.Tatapannya kosong mengarah ke dinding.Semalaman ia hampir tidak memejamkan mata.Perkataan dokter.Sikap Adrian.Semuanya terus berputar di dalam kepalanya.Perlahan ia menoleh ke arah jam digital di atas nakas.08.00."Sudah pagi..."Clara mengusap wajahnya pelan.Ia mengira semua orang masih berada di bawah.Dengan langkah pelan, ia turun dari ranjang dan berniat keluar kamar untuk sarapan.Namun baru saja tangannya menyentuh gagang pintu...Tok... tok..."Permisi, Nyonya."Seorang pelayan mendorong troli makanan masuk ke dalam kamar.Di atasnya tersaji sarapan hangat lengkap dengan teh dan buah potong.Clara tampak bingung."Untukku?"Pelayan itu mengangguk sambil tersenyum sopan."Ya, Nyonya.""Nyonya Clara, Tuan Adrian sudah berangkat ke kantor sejak pagi."Clara terdiam.Pelayan itu melanjutkan,"Dan Nyonya Besar juga sedang pergi kelua

  • Istri Kontrak Sang Miliarder    Kecewa nya Adrian

    Sambungan adegannya bisa dibuat seperti ini:Pintu kamar perlahan terbuka.Klik.Clara yang masih terduduk di atas ranjang spontan mengangkat kepalanya.Adrian berdiri di ambang pintu.Raut wajah pria itu sulit dibaca.Tidak marah.Namun juga tidak setenang biasanya.Tatapannya lurus mengarah kepada Clara.Pelayan yang berjaga segera menundukkan kepala."Tuan.""Kalian keluar.""Baik, Tuan."Tak lama kemudian, kamar itu hanya menyisakan mereka berdua.Keheningan terasa begitu menyesakkan.Adrian melangkah perlahan mendekati ranjang.Ia berhenti tepat beberapa langkah di depan Clara."Seharusnya kamu sudah tahu kabar itu, Clara."Suaranya pelan.Namun terdengar sangat berat.Clara menundukkan kepala.Jemarinya saling menggenggam erat di atas selimut."A-Adrian... tunggu."Ia mengangkat wajah dengan mata yang dipenuhi kebingungan."Ini tidak seperti yang kamu pikir."Tatapan Adrian berubah."Lalu seperti apa?"Suara itu tetap tenang, tetapi menyimpan begitu banyak pertanyaan.Clara memb

  • Istri Kontrak Sang Miliarder    Clara hamil dan kecurigaan Adrian

    Suara langkah kaki Adrian menggema di sepanjang koridor mansion.Napasnya masih memburu setelah bergegas pulang dari kantor.Begitu tiba di depan kamar, ia langsung melihat dokter keluarga, beberapa pelayan, dan Victoria berdiri di luar dengan wajah yang sulit diartikan."Dokter."Suara Adrian terdengar tegang."Ada apa dengan Clara?"Dokter itu menoleh lalu mengangguk hormat."Tuan Adrian, kondisi Nyonya Clara sudah mulai stabil."Adrian mengembuskan napas lega."Syukurlah.""Namun..." Dokter berhenti sejenak."Ada kabar yang perlu saya sampaikan."Adrian mengernyit."Apa itu?"Dokter tersenyum tipis."Selamat, Tuan.""Nyonya Clara kemungkinan besar sedang hamil."Deg!Adrian membeku.Matanya membelalak."H-hamil?"Dokter mengangguk pelan."Hasil pemeriksaan awal mengarah ke sana. Besok kami perlu melakukan pemeriksaan lanjutan untuk memastikan usia kehamilan dan kondisi janinnya."Namun Adrian seolah tidak lagi mendengar penjelasan dokter.Pikirannya mendadak kosong.Hamil...?Anak

  • Istri Kontrak Sang Miliarder    Altar

    "Pernikahan ini tidak boleh terjadi! Adrian dengarkan Ibu! Dia bukan wanita baik, kamu harus menikah dengan orang yang setara dengan kita!" teriak Victoria histeris. Suasana di dalam gedung yang tadinya tenang dan khidmat seketika pecah menjadi kekacauan. Suara teriakan Victoria menggema, memantul

  • Istri Kontrak Sang Miliarder    Tidur satu ranjang

    Suasana lobi penthouse mendadak sunyi setelah kepergian Nyonya Victoria. Pelayan telah membereskan sisa-sisa perjamuan yang tegang itu. Clara berdiri mematung di dekat tangga, merasa energinya habis terkuras hanya untuk menghadapi calon ibu mertuanya itu. "Kemasi barang-barangmu se

  • Istri Kontrak Sang Miliarder    Bangkit untuk melawan

    Clara merasakan kuku-kuku tajam Nyonya Victoria menekan kulit dagunya, namun alih-alih gemetar atau memalingkan wajah, ia justru menatap lurus ke dalam manik mata wanita di depannya. Rasa perih di pipinya akibat tamparan Sonya tadi justru membakar sisa-sisa ketakutan dalam dirinya. Dengan gerakan

  • Istri Kontrak Sang Miliarder    Membela Clara

    Mobil sedan hitam mewah itu melaju membelah kemacetan Jakarta, membawa Clara menjauh dari hiruk-pikuk kota menuju kawasan elit yang sunyi. Di sampingnya, Adrian duduk tegak, tatapannya dingin menatap layar tablet, seolah keberadaan Clara di sampingnya hanyalah sebuah benda mati. Clara tidak berani

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status