เข้าสู่ระบบLampu kristal di atas meja makan panjang itu memantulkan cahaya yang menyilaukan, namun suasana di sekitarnya terasa lebih dingin daripada es di dalam gelas wine. Clara duduk di sisi kanan Adrian, sementara Victoria duduk di ujung meja.
Pelayan mulai berdatangan, menyajikan hidangan pembuka berupa Escargot dan sup rumit yang dilengkapi dengan deretan alat makan perak yang membingungkan. Victoria menyandarkan punggungnya, matanya menatap tajam ke arah tangan Clara. Ia sengaja memilih menu ini, berharap Clara akan kebingungan memilih sendok atau garpu yang benar dan mempermalukan dirinya sendiri. "Di dunia kami, etiket adalah cerminan martabat," sindir Victoria sambil menyesap minumannya. "Seseorang tidak bisa hanya mengandalkan wajah cantik untuk duduk di meja Wijaya. Benar kan, Adrian?" Adrian tidak menjawab. Ia justru sengaja meletakkan alat makannya, menunggu reaksi Clara. Ia ingin melihat sejauh mana Clara ini bisa bertahan di bawah tekanan. Clara melirik deretan garpu di samping piringnya. Sejenak, ia teringat pada riset mendalam yang pernah ia lakukan saat membaca salah satu novel tentang kehidupan bangsawan Eropa. Ia menarik napas dalam, lalu dengan gerakan yang sangat tenang dan anggun, ia mengambil garpu paling kanan. Ia memakan hidangan itu dengan tata cara yang sempurna—tanpa suara, tanpa kesalahan. "Sup ini memiliki aroma tarragon yang sangat pas, Nyonya," ucap Clara setelah meletakkan sendoknya dengan posisi diagonal yang tepat. "Pilihan menu yang sangat klasik. Terima kasih atas jamuannya." Victoria tertegun. senyum meremehkan di wajahnya memudar, digantikan oleh kerutan tipis di dahi. "Kamu... dari mana gadis desa sepertimu belajar cara makan seperti itu?" "Membaca adalah jendela dunia, Nyonya. Dan saya adalah pembaca yang sangat tekun," jawab Clara tenang, matanya menatap lurus ke arah Calon ibu mertuanya tanpa ada rasa takut. Adrian yang sejak tadi hanya menonton, tiba-tiba meraih tangan Clara di atas meja dan menggenggamnya erat. "Istriku penuh dengan kejutan, Ibu. Itulah alasanku memilihnya. Dia tidak hanya cerdas, tapi juga sangat berkelas." Namun, Victoria belum selesai. Ia memberikan isyarat pada pelayan untuk menuangkan wine merah ke gelas Clara. "Kalau begitu, sebagai menantu Wijaya, kamu tentu paham tentang koleksi wine pribadi kami. Coba katakan, tahun berapa vintage yang sedang kamu minum ini?" Ini adalah jebakan. Tidak mungkin seseorang yang tidak pernah minum wine mahal bisa menebaknya hanya dari satu sesapan. Clara menyesap sedikit cairan merah itu, membiarkannya menyentuh indra perasanya sejenak. Ia tahu ini saatnya bertaruh. "Teksturnya sangat kaya, sedikit aroma kayu ek dan buah beri hitam yang kuat," Clara terdiam sejenak, mengingat-ingat data yang pernah ia baca. "Ini pasti Cabernet Sauvignon dari perkebunan di Bordeaux, Prancis. Jika tidak salah, tahun 2015. Tahun di mana panennya sangat sempurna, bukan?" Suasana mendadak hening.Victoria bahkan hampir menjatuhkan gelasnya sendiri. Tebakan Clara benar. "Cukup!" Victoria membanting serbetnya ke atas meja. "Adrian, ikut Ibu ke ruang kerja sekarang. Ada hal yang harus kita bicarakan!" Victoria bangkit dan melangkah pergi dengan wajah merah padam. Adrian perlahan melepaskan tangan Clara, lalu berdiri. Sebelum menyusul ibunya, ia membungkuk sedikit ke arah Clara. "kamu mempermainkan peranmu dengan sangat bagus, Clara. kamu baru saja membuat ibuku kehilangan kata-kata untuk pertama kalinya" bisik Adrian. Adrian melangkah mengikuti ibunya menuju ruang kerja, meninggalkan Clara yang masih duduk mematung di tengah megahnya ruang makan. Namun, pintu ruang kerja itu tidak tertutup rapat, sehingga Clara bisa mendengar dengan jelas percakapan penuh ketegangan di antara ibu dan anak itu. "Apa yang kamu lakukan, Adrian?" suara Victoria terdengar tajam, bergetar karena amarah yang tak lagi bisa ia bendung. "Dia itu berbahaya! Dia tidak seperti wanita baik-baik. Dia mempermainkanmu!" "Dia hanya istri di atas kertas, Ibu. Itu kesepakatan yang kubuat," jawab Adrian dengan nada dingin yang datar. "Kesepakatan bisa dibatalkan! Berikan dia uang, berapa pun yang dia mau, lalu suruh dia keluar dari rumah ini malam ini juga! Aku tidak akan membiarkan sampah itu menjadi bagian dari silsilah keluarga Wijaya." Clara yang berdiri di balik pilar ruang makan merasakan jantungnya berdegup kencang. Ia menahan napas, menanti jawaban Adrian. Hening sejenak. Hanya terdengar suara ketukan jari Adrian di atas meja kayu. "Aku tidak akan membatalkan kontrak itu," ucap Adrian tegas. Suaranya terdengar lebih berat, membuat Clara tanpa sadar mencengkeram ujung taplak meja. "Clara memiliki sesuatu yang tidak dimiliki wanita-wanita pilihan Ibu. Dia berbeda... selama satu tahun ke depan. Tidak ada yang boleh menyentuhnya, apalagi mengusirnya." "Adrian! Apa kamu sudah gila? Apa kamu mulai jatuh cinta padanya?!" seru Victoria tak percaya. Adrian tertawa kecil, sebuah tawa kering yang terdengar penuh ironi. "Cinta? Ibu tahu aku tidak percaya pada hal konyol seperti itu. Aku hanya menikmati permainannya. Lagipula, dia adalah perisai terbaik untuk menghadapi perjodohan busuk yang Ibu rencanakan." Clara tidak sanggup mendengar lebih jauh. Ia merasa lemas, namun kepalanya segera tegak kembali. Ia tidak boleh terlihat lemah. Saat suara langkah kaki mendekat, Clara segera melangkah mundur, berpura-pura sedang berdiri menatap pemandangan kota di jendela besar ruang makan. Pintu terbuka. Adrian keluar dengan wajah yang kaku, sementara Victoria menyusul di belakangnya dengan tatapan yang seolah siap membakar Clara hidup-hidup. "Clara," panggil Victoria, suaranya kini terdengar lembut "Tadi aku bicara dengan putraku. Aku sudah menawarkan kompensasi yang sangat besar agar kamu pergi dari sini sekarang juga.aku akan memberikanmu uang,lebih banyak dari yang putraku berikan." Clara berbalik perlahan. Ia melihat Adrian yang berdiri di sana, menatapnya dengan tatapan yang seolah menantang. Clara tersenyum tipis. Ia melangkah mendekat, berdiri tepat di antara dua orang itu. "Mungkin tawaran Nyonya menggiurkan," ucap Clara dengan nada yang sangat tenang, "tapi sepertinya saya tidak tertarik dengan uang Anda." "Sombong sekali!" kata Victoria dengan suara yang agak meninggi. "Bukan sombong," potong Clara cepat. Ia menatap ke arah Adrian. "Tapi saya sudah menandatangani kontrak dengan putra Anda. Dan sebagai orang yang berintegritas, saya tidak akan meninggalkan pekerjaan saya sebelum masa kontraknya habis. Jadi, Nyonya, sepertinya Anda harus bersabar melihat wajah saya di meja makan ini setiap hari." Adrian menyipitkan mata. Ia tidak menyangka Clara akan berani menolak uang ibunya di depan matanya langsung. "Kamu berani menantangku?" Victoria maju selangkah, tangannya yang kini sudah memakai sarung tangan sutra hampir menyentuh pipi Clara. "Ibu," suara Adrian menyela, dingin,"Cukup. Clara akan tetap di sini. Dan jika Ibu mencoba melakukan sesuatu padanya, jangan salahkan aku jika aku memindahkan seluruh perusahaan ke luar negeri dan memutus akses Ibu ke rekening Wijaya." Victoria terdiam, wajahnya pias. Ia tidak menyangka putranya akan mengancamnya demi seorang gadis miskin.Dengan tatapan penuh kebencian yang ditujukan kepada Clara,Victoria berbalik dan pergi meninggalkan penthouse dengan kemarahan yang tertahan. Adrian mendekat dan membisikkan sesuatu yang membuat bulu kuduk Clara berdiri"Mulai malam ini, Tidur di kamar Saya,"Suara langkah kaki Adrian menggema di sepanjang koridor mansion.Napasnya masih memburu setelah bergegas pulang dari kantor.Begitu tiba di depan kamar, ia langsung melihat dokter keluarga, beberapa pelayan, dan Victoria berdiri di luar dengan wajah yang sulit diartikan."Dokter."Suara Adrian terdengar tegang."Ada apa dengan Clara?"Dokter itu menoleh lalu mengangguk hormat."Tuan Adrian, kondisi Nyonya Clara sudah mulai stabil."Adrian mengembuskan napas lega."Syukurlah.""Namun..." Dokter berhenti sejenak."Ada kabar yang perlu saya sampaikan."Adrian mengernyit."Apa itu?"Dokter tersenyum tipis."Selamat, Tuan.""Nyonya Clara kemungkinan besar sedang hamil."Deg!Adrian membeku.Matanya membelalak."H-hamil?"Dokter mengangguk pelan."Hasil pemeriksaan awal mengarah ke sana. Besok kami perlu melakukan pemeriksaan lanjutan untuk memastikan usia kehamilan dan kondisi janinnya."Namun Adrian seolah tidak lagi mendengar penjelasan dokter.Pikirannya mendadak kosong.Hamil...?Anak
Ruang makan keluarga pagi itu terasa jauh lebih sunyi dibanding biasanya.Sudah satu minggu berlalu sejak insiden yang mengubah segalanya.Satu minggu penuh Adrian mencoba memperbaiki keadaan.Mengirim bunga.Membelikan makanan favoritnya.Bahkan pulang lebih awal hanya untuk makan malam bersama.Namun hasilnya tetap sama.Clara tidak lagi mengusirnya.Tidak lagi menangis saat melihatnya.Tetapi juga tidak memberinya kesempatan untuk mendekat.Sikap wanita itu sopan.Terlalu sopan.Dan justru itu yang membuat Adrian semakin tersiksa.Karena Clara memperlakukannya seperti orang asing.Seperti rekan kerja.Bukan suami.Di ujung meja makan, Victoria menyaksikan semuanya dalam diam.Selama seminggu ini ia memang tidak membuat masalah.Tidak ada sindiran.Tidak ada jebakan.Tidak ada pertengkaran.Namun bukan berarti kebenciannya terhadap Clara berkurang.Justru semakin besar.Setiap kali melihat Adrian yang selalu memperhatikan Clara, dadanya dipenuhi rasa tidak suka.Menurutnya, semua in
Adrian membeku.Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak tahu harus berkata apa. Semua penjelasan, semua permintaan maaf, terasa tidak berguna di hadapan tatapan Clara yang begitu asing.Wanita itu masih berada di hadapannya, namun terasa sangat jauh.Jauh lebih jauh dibandingkan saat mereka belum saling mengenal."Pak Adrian..."Panggilan itu kembali menghantamnya.Biasanya Clara memanggil namanya dengan lembut, kadang dengan nada kesal yang membuat Adrian diam-diam ingin mendengarnya lebih lama. Namun sekarang, dua kata sederhana itu terdengar seperti garis pemisah yang tidak bisa ia lewati.Adrian menelan ludah."Baik," ucapnya lirih.Clara tampak terkejut. Ia tidak menyangka Adrian akan menyerah semudah itu.Pria itu perlahan turun dari ranjang. Tatapannya jatuh pada bekas cambukan yang masih terlihat di lengan Clara.Dadanya kembali sesak.Ia adalah penyebab semua luka itu."Dokter akan datang sebentar lagi," katanya pelan. "Aku tidak akan masuk lagi tanpa izinmu."Clara ti
Cambuk kulit di tangan Adrian terlepas begitu saja, jatuh ke lantai marmer dengan suara berdebam yang memecah keheningan kamar. Pria yang biasanya berdiri angkuh penuh otoritas itu seketika luruh. Lututnya menghantam lantai, berlutut tepat di samping tempat tidur tempat Clara meringkuk ketakutan."Clara... demi Tuhan, maafkan saya... maafkan saya, Clara," suara Adrian bergetar hebat, air mata yang jarang sekali menetes kini mulai mengalir membasahi wajahnya yang tegang.Ia mencoba meraih ujung gaun Clara yang robek, namun Clara menyentak tubuhnya menjauh, semakin merapatkan diri ke sudut dinding. Tatapan mata Clara kosong, namun tersirat trauma yang sangat mendalam."Jangan mendekat... tolong, jangan pukul lagi..." rintih Clara dengan suara yang hampir habis. Setiap kata yang keluar dari bibir Clara seperti belati yang menghujam tepat di jantung Adrian."Tidak, Clara! Tidak akan pernah lagi! Aku monster, aku bodoh!" Adrian memukul kepalanya sendiri dengan keras, merutuki kebodohannya
Suasana aula yang tadinya dipenuhi kemewahan kini berubah menjadi mencekam dan dingin. Sirine ambulans yang meraung di luar gedung seolah menjadi latar belakang pengadilan dadakan di tengah aula. Adrian berdiri dengan napas memburu, tangannya menggenggam erat sebuah botol kaca kecil yang ditemukan di dalam tas tangan satin milik Clara."Clara... jelaskan padaku kenapa racun ini ada di tasmu?" desis Adrian. Matanya yang tadi menatap penuh gairah, kini hanya menyisakan kilatan kemarahan dan kekecewaan.Clara yang baru saja mencoba mencerna situasi mengerikan ini langsung tersentak kaget. Wajahnya yang cantik kini pucat pasi seputih gaun pengantinnya."A-apa?" tanya Clara dengan suara bergetar, ia benar-benar bingung dengan apa yang baru saja terjadi."JELASKAN INI!" bentak Adrian, suaranya menggelegar menghancurkan keheningan aula. Ia melangkah maju, memperpendek jarak hingga napasnya yang panas menerpa wajah Clara."Ibuku memang tidak menyukaimu, Clara! Dia mungkin jahat padamu, tapi k
Suasana Pesta masih menyisakan keriuhan di aula utama, namun Adrian seolah tidak peduli lagi dengan para tamu pentingnya. Ia menarik tangan Clara dengan langkah lebar, membawa istrinya menuju sebuah ruangan privat yang tenang di bagian belakang gedung. Begitu pintu tertutup rapat, suasana sunyi seketika menyergap, hanya menyisakan deru napas mereka berdua.Adrian menyudutkan Clara ke dinding pintu, mengurung tubuh mungil wanita itu dengan kedua lengan kokohnya. Tatapannya yang gelap dan intens seolah ingin melahap Clara saat itu juga."Kamu luar biasa tadi," bisik Adrian, suaranya rendah dan serak, mengirimkan getaran aneh ke seluruh tubuh Clara. "Cara kamu membungkam wanita itu... benar-benar menunjukkan siapa Nyonya Wijaya yang sebenarnya."Tangan Adrian naik, menyelipkan anak rambut Clara ke belakang telinga, lalu jemarinya turun mengelus rahang istrinya dengan sangat posesif."Tapi sekarang," lanjut Adrian sambil mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka bersentuhan, "aku ingin m
"Pernikahan ini tidak boleh terjadi! Adrian dengarkan Ibu! Dia bukan wanita baik, kamu harus menikah dengan orang yang setara dengan kita!" teriak Victoria histeris. Suasana di dalam gedung yang tadinya tenang dan khidmat seketika pecah menjadi kekacauan. Suara teriakan Victoria menggema, memantul
Langkah kaki Adrian yang tegas menggema di Anak tangga,meninggalkan suasana mencekam yang seolah membekukan udara di sekitarnya. Clara menyusul dari belakang sambil sibuk merapikan pakaiannya yang kusut. Hatinya bergejolak, di satu sisi ia merasa terlindungi oleh sikap Adrian yang begitu protektif,
Suasana lobi penthouse mendadak sunyi setelah kepergian Nyonya Victoria. Pelayan telah membereskan sisa-sisa perjamuan yang tegang itu. Clara berdiri mematung di dekat tangga, merasa energinya habis terkuras hanya untuk menghadapi calon ibu mertuanya itu. "Kemasi barang-barangmu se
Clara merasakan kuku-kuku tajam Nyonya Victoria menekan kulit dagunya, namun alih-alih gemetar atau memalingkan wajah, ia justru menatap lurus ke dalam manik mata wanita di depannya. Rasa perih di pipinya akibat tamparan Sonya tadi justru membakar sisa-sisa ketakutan dalam dirinya. Dengan gerakan







