Share

Membela Clara

Author: Senja
last update Petsa ng paglalathala: 2026-03-07 13:47:03

Mobil sedan hitam mewah itu melaju membelah kemacetan Jakarta, membawa Clara menjauh dari hiruk-pikuk kota menuju kawasan elit yang sunyi. Di sampingnya, Adrian duduk tegak, tatapannya dingin menatap layar tablet, seolah keberadaan Clara di sampingnya hanyalah sebuah benda mati.

Clara tidak berani membuka suara. Pikirannya kalut. Pagi tadi dia hanyalah gadis pengangguran yang diusir, dan sekarang, dia adalah istri kontrak dari CEO tempat ia melamar pekerjaan.

"Jangan berpikir kamu bisa melarikan diri," suara berat Adrian memecah keheningan tanpa mengalihkan pandangan dari tabletnya. "Kontrak itu sah di mata hukum. Jika kamu mencoba kabur sebelum satu tahun, saya punya cara untuk membuat hidup kamu jauh lebih menderita daripada sekadar diusir oleh bibimu."

Clara menelan ludah. "Saya mengerti,"

"Panggil Saya Adrian jika kita berdua saja, atau Sayang di depan orang lain. Bukankah sudah saya bilang?" Adrian menoleh, menatap Clara dengan sorot mata yang membuat jantung gadis itu berdegup kencang karena takut. "Dan mulai malam ini, kamu tinggal di penthouse. Jangan menyentuh barang-barang di ruang kerja saya dan jangan pernah membawa orang asing ke dalam."

Tak lama kemudian, mobil berhenti di depan gedung pencakar langit dengan arsitektur futuristik. Clara dibawa naik oleh asisten Adrian menuju lantai paling atas. Pintu lift terbuka, memperlihatkan kemewahan yang belum pernah ia bayangkan. Ruang tamu luas dengan jendela kaca raksasa yang menampilkan pemandangan kota Jakarta di waktu senja.

"ini kamar tamu," ujar Adrian datar sambil menunjuk sebuah pintu kayu di sudut lorong. "Dan itu kamar saya di seberang."

Clara mengangguk, masih terpaku pada interior yang terasa terlalu megah untuknya. Namun, saat ia hendak melangkah ke kamarnya, Adrian mencengkeram lengan Clara, menariknya mendekat hingga tubuh mereka bersentuhan.

"Ingat, Clara," bisik Adrian tepat di samping telinganya.

"Malam ini ada acara makan malam dengan keluarga saya. Mereka akan datang ke sini. Bersiaplah dalam satu jam. Pakai gaun yang sudah disiapkan di tempat tidurmu, dan pastikan kamu berperan dengan baik."

Adrian melepaskan cengkeramannya dan melangkah pergi menuju ruang kerjanya, meninggalkan Clara yang masih mematung dengan perasaan yang campur aduk.

Clara bergegas masuk ke kamar tamu. Di atas tempat tidur king size yang empuk, tergeletak sebuah kotak beludru hitam berisi gaun satin berwarna deep red—sama seperti yang ia bayangkan dalam mimpinya yang buruk.

Dengan tangan gemetar, ia mencoba mengenakan gaun itu. Saat ia melihat cermin, ia hampir tidak mengenali dirinya sendiri. Gaun itu pas di tubuhnya, membalut lekuk tubuhnya dengan elegan dan sangat berkelas. Ia terlihat seperti seorang wanita dari kalangan atas.

Tepat saat ia selesai merapikan rambutnya, bel pintu depan berbunyi nyaring.

Ting-tong.

Clara tersentak. Ia melangkah keluar dari kamar, berniat mencari Adrian, namun langkahnya terhenti saat melihat pintu utama terbuka. Di sana, berdiri seorang wanita paruh baya dengan dandanan yang sangat mewah dan angkuh—Ibu Adrian, Nyonya Victoria Wijaya. Di sampingnya, berdiri sosok yang membuat darah Clara mendidih, Sonya, sepupunya yang jahat, yang entah bagaimana bisa berada di sana.

Sonya menatap Clara dari ujung kaki hingga kepala dengan seringai licik yang sangat familiar.

"Ternyata benar gosipnya," suara Sonya terdengar melengking, penuh penghinaan. "Jadi, pelayan yang diusir itu, adalah istri Adrian?"

Adrian melangkah keluar dari ruang kerjanya, berdiri tepat di belakang Clara dengan tangan yang melingkar posesif di pinggangnya. Seringai tipis terukir di wajah pria itu.

"Bukan sekadar istri, Saya," sahut Adrian dengan nada tenang namun menusuk. "Dia adalah satu-satunya wanita yang berhasil menaklukkan hatiku. Benar begitu... Sayang?"

Clara menahan napas. Ia menatap Sonya yang wajahnya memerah karena marah dan tidak percaya, lalu menatap Adrian yang sedang menatapnya dengan tatapan tajam, menuntutnya untuk memainkan sandiwara ini.

Belum sempat Clara menjawab, Ny. Victoria maju selangkah, menatap Clara dengan pandangan merendahkan. "Adrian, apa kamu sudah gila? Kamu membawa sampah dari jalanan untuk menjadi bagian dari keluarga Wijaya?"

Suasana di ruang tamu itu membeku. Clara seolah terjebak dalam permainan itu.

Suasana di ruang tamu yang luas itu terasa mencekam. Victoria masih menatap Clara dengan pandangan jijik, seolah-olah Clara adalah kotoran yang menempel di sepatunya yang mahal. Namun, fokus Clara sepenuhnya tertuju pada sosok wanita yang berdiri angkuh di samping Victoria.

Sonya. Sepupunya yang tidak tahu diri itu berdiri dengan gaun merah yang mencolok, memegang tas tangan bermerek dengan gaya yang dibuat-buat.

Clara tidak bisa menahan keterkejutannya lagi. Ia melepaskan tangan Adrian dari pinggangnya, melangkah maju dengan mata yang menyipit tajam. "Sonya? Apa-apaan ini? Kenapa kamu bisa ada di sini?,paman sedang sakit dan sekarang kamu berada disini?"

Sonya mencoba tertawa kecil, suara tawanya terdengar sumbang dan penuh nada mengejek. "Apa maksud perkataanmu?Apa kamu takut, Clara? Takut kalau semua rahasiamu yang memalukan akan kubongkar di depan Tuan Adrian?"

Victoria memotong dengan nada dingin, "Jaga mulutmu, Clara. Sonya adalah putri dari rekan bisnis Wijaya Group. Dia adalah tamu terhormat di sini, berbeda denganmu yang entah bagaimana caranya berhasil merayu putraku."

Putri rekan Wijaya grup?,apa mereka tidak tahu jika Sonya juga berasal dari desa?,Batin Clara.

Adrian tetap berdiri di belakang Clara, tangannya kembali melingkar di pinggang istrinya—kali ini dengan cengkeraman yang lebih erat,ia tidak membela Clara, melainkan menunggu Clara membalas hinaan itu.

"Tamu terhormat?" Clara mengulang kata-kata itu dengan nada tidak percaya. "Dia adalah sepupuku, Nyonya Victoria. Dia dan ibunya adalah orang mengusirku ke jalanan saat hujan!ibunya,bibi sari memfitnahku mencuri perhiasannya"

Sonya memutar bola matanya malas, lalu menatap Victoria seolah ia adalah korban. "Tante, lihat. dia masih saja berhalusinasi. Pantas saja dia di usir, dia memang tidak punya etika."

Clara merasa dadanya sesak. Kebencian pada Sonya bercampur dengan rasa marah pada Adrian yang hanya diam membisu. Clara berbalik menatap Adrian, meminta pembelaan, namun pria itu justru memberikan senyuman tipis yang sangat sulit diartikan.

"Apakah itu benar, Sonya?" tanya Adrian dengan suara bariton yang dingin. "Apa benar kamu yang membuat istri saya menderita di masa lalu?"

Sonya tersenyum lebar, merasa malu karena mengira Adrian akan memihaknya. "Tentu saja, Adrian. Dia itu gadis yang tidak tahu diri dan penuh kebohongan. Aku hanya berusaha melindungimu dari wanita murahan seperti nya."

Detik berikutnya, senyum di wajah Sonya lenyap seketika. Adrian menarik napas panjang, lalu melangkah maju satu langkah, menempatkan tubuhnya di depan Clara untuk melindunginya.

"Menarik," desis Adrian. Ia menatap Sonya dengan tatapan sedingin es. "Kamu menyebut istriku wanita murahan, di depan suaminya sendiri?"

Victoria terkesiap. "Adrian! Jangan bersikap kasar pada Tamu ibu!"

"Tamu?" Adrian tertawa sinis. Ia mengeluarkan ponselnya dan memberikan kode pada pengawal pribadinya yang berdiri di pintu masuk. "Mulai detik ini, Sonya, kamu bukan lagi tamu. Kamu adalah orang yang paling tidak diinginkan di kediaman Wijaya."

Clara tertegun. Adrian membelanya? Atau ini bagian dari sandiwara?

Sonya pucat pasi. "Adrian, apa maksudmu?"

"Keluar dari sini sekarang," perintah Adrian dengan suara rendah yang menggetarkan ruangan.

Sonya gemetar hebat, ia melirik ke arah Clara dengan tatapan benci yang luar biasa, lalu melangkah pergi dengan tergesa-gesa tanpa berani menoleh lagi.

Ruangan kembali hening. Adrian menoleh pada Clara, wajahnya kembali datar tanpa emosi. "Jangan terlalu senang, Saya hanya membela harga diri saya sendiri, bukan kamu."

Adrian berbalik dan berjalan menuju meja bar, meninggalkan Clara yang masih gemetar karena syok. Namun, baru saja Clara ingin menarik napas lega, Nyonya Victoria berjalan mendekat, mencengkeram dagu Clara dengan kuku-kukunya yang panjang.

"Jangan sombong dulu, kamu hanya gadis miskin," bisik Nyonya Victoria dengan nada tidak suka.

"Aku akan mencari cara agar Putraku meninggalkanmu!"

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Istri Kontrak Sang Miliarder    Tuduhan Untuk Clara

    Suasana aula yang tadinya dipenuhi kemewahan kini berubah menjadi mencekam dan dingin. Sirine ambulans yang meraung di luar gedung seolah menjadi latar belakang pengadilan dadakan di tengah aula. Adrian berdiri dengan napas memburu, tangannya menggenggam erat sebuah botol kaca kecil yang ditemukan di dalam tas tangan satin milik Clara."Clara... jelaskan padaku kenapa racun ini ada di tasmu?" desis Adrian. Matanya yang tadi menatap penuh gairah, kini hanya menyisakan kilatan kemarahan dan kekecewaan.Clara yang baru saja mencoba mencerna situasi mengerikan ini langsung tersentak kaget. Wajahnya yang cantik kini pucat pasi seputih gaun pengantinnya."A-apa?" tanya Clara dengan suara bergetar, ia benar-benar bingung dengan apa yang baru saja terjadi."JELASKAN INI!" bentak Adrian, suaranya menggelegar menghancurkan keheningan aula. Ia melangkah maju, memperpendek jarak hingga napasnya yang panas menerpa wajah Clara."Ibuku memang tidak menyukaimu, Clara! Dia mungkin jahat padamu, tapi k

  • Istri Kontrak Sang Miliarder    Victoria keracunan

    Suasana Pesta masih menyisakan keriuhan di aula utama, namun Adrian seolah tidak peduli lagi dengan para tamu pentingnya. Ia menarik tangan Clara dengan langkah lebar, membawa istrinya menuju sebuah ruangan privat yang tenang di bagian belakang gedung. Begitu pintu tertutup rapat, suasana sunyi seketika menyergap, hanya menyisakan deru napas mereka berdua.Adrian menyudutkan Clara ke dinding pintu, mengurung tubuh mungil wanita itu dengan kedua lengan kokohnya. Tatapannya yang gelap dan intens seolah ingin melahap Clara saat itu juga."Kamu luar biasa tadi," bisik Adrian, suaranya rendah dan serak, mengirimkan getaran aneh ke seluruh tubuh Clara. "Cara kamu membungkam wanita itu... benar-benar menunjukkan siapa Nyonya Wijaya yang sebenarnya."Tangan Adrian naik, menyelipkan anak rambut Clara ke belakang telinga, lalu jemarinya turun mengelus rahang istrinya dengan sangat posesif."Tapi sekarang," lanjut Adrian sambil mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka bersentuhan, "aku ingin m

  • Istri Kontrak Sang Miliarder    Resepsi

    Aula dengan aura elegan. Lampu kristal yang menggantung di langit-langit gedung memancarkan cahaya keemasan, memantul pada deretan gelas kristal dan dekorasi bunga lily yang memenuhi setiap sudut ruangan. Alunan musik klasik dari kelompok orkestra menambah kesan prestisius pada malam yang sakral ini.Adrian dan Clara melangkah perlahan menuju tengah lantai dansa untuk melakukan First Dance mereka sebagai suami istri. Adrian melingkarkan tangannya dengan posesif di pinggang ramping Clara, sementara Clara menyandarkan tangannya yang sedikit gemetar di bahu kokoh pria itu."Adrian... aku tidak pandai berdansa," bisik Clara lirih, merasa gugup di bawah sorotan lampu dan ratusan pasang mata.Adrian menatap dalam ke netra Clara, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang jarang ia tunjukkan. "Ikuti saja langkahku. Aku akan mengajarimu," jawabnya dengan suara bariton yang menenangkan.Adrian semakin mengeratkan pegangannya, menarik tubuh Clara hingga menempel sempurna pada tubuh te

  • Istri Kontrak Sang Miliarder    Malam pernikahan

    Langkah kaki Clara di atas karpet beludru merah itu terasa begitu ringan namun pasti. Setiap pasang mata di ruangan itu tertuju padanya, namun Clara hanya fokus pada satu titik,Adrian. Pria itu berdiri tegak di ujung altar, mengenakan setelan tuksedo hitam yang sangat pas, menatap Clara dengan tatapan kagum.Di barisan depan, bisik-bisik kekaguman mulai terdengar dari para rekan bisnis Adrian."Nona Clara begitu cantik, Tuan," bisik Mark, salah satu rekan kerja Adrian, saat pria itu lewat di dekatnya. Adrian menoleh, matanya berkilat tidak senang mendengar pujian yang dirasanya terlalu akrab itu.Mark yang tidak menyadari perubahan aura Adrian malah melanjutkan dengan nada bercanda yang berbahaya. "Jika Anda suatu saat mencampakkannya, berikan saja padaku."Anton, kolega Adrian yang lain, ikut menimpali sambil mengangguk setuju. "Benar. Walaupun rumor mengatakan Nona Clara berasal dari desa, tapi lihatlah dia. Sangat cantik dan penampilannya sangat menarik. Dia punya pesona yang berbe

  • Istri Kontrak Sang Miliarder    Altar

    "Pernikahan ini tidak boleh terjadi! Adrian dengarkan Ibu! Dia bukan wanita baik, kamu harus menikah dengan orang yang setara dengan kita!" teriak Victoria histeris. Suasana di dalam gedung yang tadinya tenang dan khidmat seketika pecah menjadi kekacauan. Suara teriakan Victoria menggema, memantul di dinding-dinding aula yang megah, menghancurkan momen sakral yang tengah dipersiapkan.Wajah wanita itu merah padam, meronta di tengah kepungan para ajudan yang berusaha menahannya agar tidak mendekat ke arah altar.Adrian mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Urat lehernya menegang, menunjukkan amarah yang sudah mencapai puncaknya."Ibu! Jangan ikut campur! Ingat, Ibu sudah kelewat batas kemarin!" bentak Adrian dengan suara menggelegar, membuat beberapa pekerja dekorasi di sekitar mereka menghentikan aktivitasnya karena takut.Victoria tidak menyerah. Ia mengalihkan pandangan tajamnya pada Clara yang berdiri mematung di samping Adrian. Clara hanya bisa menundu

  • Istri Kontrak Sang Miliarder    Survei Gedung

    Langkah kaki Adrian yang tegas menggema di Anak tangga,meninggalkan suasana mencekam yang seolah membekukan udara di sekitarnya. Clara menyusul dari belakang sambil sibuk merapikan pakaiannya yang kusut. Hatinya bergejolak, di satu sisi ia merasa terlindungi oleh sikap Adrian yang begitu protektif, namun di sisi lain, keposesifan pria itu mulai terasa seperti jeruji besi yang perlahan mengurungnya.Adrian berhenti tepat di depan barisan pelayan yang sudah menunduk ketakutan. Tatapannya dingin menyapu satu per- satu wajah mereka dengan kemarahan yang tertahan."Ingat, malam di mana calon istri saya dijebak bukan berarti kalian semua akan lolos begitu saja," ucap Adrian, suaranya rendah namun penuh penekanan yang mengerikan. "Kali ini mungkin saya membiarkan kalian bernapas. Tapi setelah acara pernikahan kita nanti... lihat saja kepala siapa yang akan saya ledakkan."Ancaman itu bukan sekadar gertakan. Para pelayan gemetar hebat, bahkan beberapa di antaranya hampir kehilangan kekuatan u

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status