MasukMobil sedan hitam mewah itu melaju membelah kemacetan Jakarta, membawa Clara menjauh dari hiruk-pikuk kota menuju kawasan elit yang sunyi. Di sampingnya, Adrian duduk tegak, tatapannya dingin menatap layar tablet, seolah keberadaan Clara di sampingnya hanyalah sebuah benda mati.
Clara tidak berani membuka suara. Pikirannya kalut. Pagi tadi dia hanyalah gadis pengangguran yang diusir, dan sekarang, dia adalah istri kontrak dari CEO tempat ia melamar pekerjaan. "Jangan berpikir kamu bisa melarikan diri," suara berat Adrian memecah keheningan tanpa mengalihkan pandangan dari tabletnya. "Kontrak itu sah di mata hukum. Jika kamu mencoba kabur sebelum satu tahun, saya punya cara untuk membuat hidup kamu jauh lebih menderita daripada sekadar diusir oleh bibimu." Clara menelan ludah. "Saya mengerti," "Panggil Saya Adrian jika kita berdua saja, atau Sayang di depan orang lain. Bukankah sudah saya bilang?" Adrian menoleh, menatap Clara dengan sorot mata yang membuat jantung gadis itu berdegup kencang karena takut. "Dan mulai malam ini, kamu tinggal di penthouse. Jangan menyentuh barang-barang di ruang kerja saya dan jangan pernah membawa orang asing ke dalam." Tak lama kemudian, mobil berhenti di depan gedung pencakar langit dengan arsitektur futuristik. Clara dibawa naik oleh asisten Adrian menuju lantai paling atas. Pintu lift terbuka, memperlihatkan kemewahan yang belum pernah ia bayangkan. Ruang tamu luas dengan jendela kaca raksasa yang menampilkan pemandangan kota Jakarta di waktu senja. "ini kamar tamu," ujar Adrian datar sambil menunjuk sebuah pintu kayu di sudut lorong. "Dan itu kamar saya di seberang." Clara mengangguk, masih terpaku pada interior yang terasa terlalu megah untuknya. Namun, saat ia hendak melangkah ke kamarnya, Adrian mencengkeram lengan Clara, menariknya mendekat hingga tubuh mereka bersentuhan. "Ingat, Clara," bisik Adrian tepat di samping telinganya. "Malam ini ada acara makan malam dengan keluarga saya. Mereka akan datang ke sini. Bersiaplah dalam satu jam. Pakai gaun yang sudah disiapkan di tempat tidurmu, dan pastikan kamu berperan dengan baik." Adrian melepaskan cengkeramannya dan melangkah pergi menuju ruang kerjanya, meninggalkan Clara yang masih mematung dengan perasaan yang campur aduk. Clara bergegas masuk ke kamar tamu. Di atas tempat tidur king size yang empuk, tergeletak sebuah kotak beludru hitam berisi gaun satin berwarna deep red—sama seperti yang ia bayangkan dalam mimpinya yang buruk. Dengan tangan gemetar, ia mencoba mengenakan gaun itu. Saat ia melihat cermin, ia hampir tidak mengenali dirinya sendiri. Gaun itu pas di tubuhnya, membalut lekuk tubuhnya dengan elegan dan sangat berkelas. Ia terlihat seperti seorang wanita dari kalangan atas. Tepat saat ia selesai merapikan rambutnya, bel pintu depan berbunyi nyaring. Ting-tong. Clara tersentak. Ia melangkah keluar dari kamar, berniat mencari Adrian, namun langkahnya terhenti saat melihat pintu utama terbuka. Di sana, berdiri seorang wanita paruh baya dengan dandanan yang sangat mewah dan angkuh—Ibu Adrian, Nyonya Victoria Wijaya. Di sampingnya, berdiri sosok yang membuat darah Clara mendidih, Sonya, sepupunya yang jahat, yang entah bagaimana bisa berada di sana. Sonya menatap Clara dari ujung kaki hingga kepala dengan seringai licik yang sangat familiar. "Ternyata benar gosipnya," suara Sonya terdengar melengking, penuh penghinaan. "Jadi, pelayan yang diusir itu, adalah istri Adrian?" Adrian melangkah keluar dari ruang kerjanya, berdiri tepat di belakang Clara dengan tangan yang melingkar posesif di pinggangnya. Seringai tipis terukir di wajah pria itu. "Bukan sekadar istri, Saya," sahut Adrian dengan nada tenang namun menusuk. "Dia adalah satu-satunya wanita yang berhasil menaklukkan hatiku. Benar begitu... Sayang?" Clara menahan napas. Ia menatap Sonya yang wajahnya memerah karena marah dan tidak percaya, lalu menatap Adrian yang sedang menatapnya dengan tatapan tajam, menuntutnya untuk memainkan sandiwara ini. Belum sempat Clara menjawab, Ny. Victoria maju selangkah, menatap Clara dengan pandangan merendahkan. "Adrian, apa kamu sudah gila? Kamu membawa sampah dari jalanan untuk menjadi bagian dari keluarga Wijaya?" Suasana di ruang tamu itu membeku. Clara seolah terjebak dalam permainan itu. Suasana di ruang tamu yang luas itu terasa mencekam. Victoria masih menatap Clara dengan pandangan jijik, seolah-olah Clara adalah kotoran yang menempel di sepatunya yang mahal. Namun, fokus Clara sepenuhnya tertuju pada sosok wanita yang berdiri angkuh di samping Victoria. Sonya. Sepupunya yang tidak tahu diri itu berdiri dengan gaun merah yang mencolok, memegang tas tangan bermerek dengan gaya yang dibuat-buat. Clara tidak bisa menahan keterkejutannya lagi. Ia melepaskan tangan Adrian dari pinggangnya, melangkah maju dengan mata yang menyipit tajam. "Sonya? Apa-apaan ini? Kenapa kamu bisa ada di sini?,paman sedang sakit dan sekarang kamu berada disini?" Sonya mencoba tertawa kecil, suara tawanya terdengar sumbang dan penuh nada mengejek. "Apa maksud perkataanmu?Apa kamu takut, Clara? Takut kalau semua rahasiamu yang memalukan akan kubongkar di depan Tuan Adrian?" Victoria memotong dengan nada dingin, "Jaga mulutmu, Clara. Sonya adalah putri dari rekan bisnis Wijaya Group. Dia adalah tamu terhormat di sini, berbeda denganmu yang entah bagaimana caranya berhasil merayu putraku." Putri rekan Wijaya grup?,apa mereka tidak tahu jika Sonya juga berasal dari desa?,Batin Clara. Adrian tetap berdiri di belakang Clara, tangannya kembali melingkar di pinggang istrinya—kali ini dengan cengkeraman yang lebih erat,ia tidak membela Clara, melainkan menunggu Clara membalas hinaan itu. "Tamu terhormat?" Clara mengulang kata-kata itu dengan nada tidak percaya. "Dia adalah sepupuku, Nyonya Victoria. Dia dan ibunya adalah orang mengusirku ke jalanan saat hujan!ibunya,bibi sari memfitnahku mencuri perhiasannya" Sonya memutar bola matanya malas, lalu menatap Victoria seolah ia adalah korban. "Tante, lihat. dia masih saja berhalusinasi. Pantas saja dia di usir, dia memang tidak punya etika." Clara merasa dadanya sesak. Kebencian pada Sonya bercampur dengan rasa marah pada Adrian yang hanya diam membisu. Clara berbalik menatap Adrian, meminta pembelaan, namun pria itu justru memberikan senyuman tipis yang sangat sulit diartikan. "Apakah itu benar, Sonya?" tanya Adrian dengan suara bariton yang dingin. "Apa benar kamu yang membuat istri saya menderita di masa lalu?" Sonya tersenyum lebar, merasa malu karena mengira Adrian akan memihaknya. "Tentu saja, Adrian. Dia itu gadis yang tidak tahu diri dan penuh kebohongan. Aku hanya berusaha melindungimu dari wanita murahan seperti nya." Detik berikutnya, senyum di wajah Sonya lenyap seketika. Adrian menarik napas panjang, lalu melangkah maju satu langkah, menempatkan tubuhnya di depan Clara untuk melindunginya. "Menarik," desis Adrian. Ia menatap Sonya dengan tatapan sedingin es. "Kamu menyebut istriku wanita murahan, di depan suaminya sendiri?" Victoria terkesiap. "Adrian! Jangan bersikap kasar pada Tamu ibu!" "Tamu?" Adrian tertawa sinis. Ia mengeluarkan ponselnya dan memberikan kode pada pengawal pribadinya yang berdiri di pintu masuk. "Mulai detik ini, Sonya, kamu bukan lagi tamu. Kamu adalah orang yang paling tidak diinginkan di kediaman Wijaya." Clara tertegun. Adrian membelanya? Atau ini bagian dari sandiwara? Sonya pucat pasi. "Adrian, apa maksudmu?" "Keluar dari sini sekarang," perintah Adrian dengan suara rendah yang menggetarkan ruangan. Sonya gemetar hebat, ia melirik ke arah Clara dengan tatapan benci yang luar biasa, lalu melangkah pergi dengan tergesa-gesa tanpa berani menoleh lagi. Ruangan kembali hening. Adrian menoleh pada Clara, wajahnya kembali datar tanpa emosi. "Jangan terlalu senang, Saya hanya membela harga diri saya sendiri, bukan kamu." Adrian berbalik dan berjalan menuju meja bar, meninggalkan Clara yang masih gemetar karena syok. Namun, baru saja Clara ingin menarik napas lega, Nyonya Victoria berjalan mendekat, mencengkeram dagu Clara dengan kuku-kukunya yang panjang. "Jangan sombong dulu, kamu hanya gadis miskin," bisik Nyonya Victoria dengan nada tidak suka. "Aku akan mencari cara agar Putraku meninggalkanmu!"Suasana ruang tamu berubah mencekam.Clara masih memandangi tumpukan foto di atas meja dengan wajah pucat.Jemarinya gemetar saat mengambil salah satunya."Itu..."Foto dirinya yang sedang duduk sendirian di taman belakang mansion.Padahal hari itu tidak ada tamu.Tidak ada wartawan.Lalu...Siapa yang mengambil gambar itu?Tanpa sadar Clara merapatkan kedua lengannya sendiri.Merasa seolah ada sepasang mata yang terus mengawasinya.Adrian menyadari perubahan itu.Ia segera mengambil semua foto tersebut lalu memasukkannya kembali ke dalam amplop."Jangan lihat lagi."Nada suaranya tegas.Clara mengangkat kepala."Tapi...""Saya bilang cukup."Bukan karena marah.Melainkan karena Adrian tidak ingin Clara semakin ketakutan.Ia kemudian menoleh ke arah kepala keamanan."Panggil seluruh tim keamanan ke ruang rapat. Sekarang.""Baik, Tuan."Beberapa menit kemudian...Ruang rapat mansion dipenuhi para petugas keamanan.Adrian berdiri di ujung meja dengan wajah dingin."Mulai malam ini.""Ti
"Clara!"Wajah Adrian seketika berubah pucat.Tanpa memedulikan Zeva yang masih berdiri di belakangnya, ia langsung berlari menuju lift."Tahan liftnya!"Namun terlambat.Ting.Pintu lift telah menutup rapat."Brengsek!"Adrian memukul tombol lift berulang kali.Layar digital bergerak turun.Lantai 18...17...16...Ia tidak sanggup menunggu.Adrian segera berbalik."Tangga darurat."Pria itu berlari meninggalkan lobi, membuat para karyawan saling berpandangan bingung.Mereka belum pernah melihat CEO mereka kehilangan kendali seperti itu.Di sisi lain...Clara berdiri di dalam lift.Kotak bekal makan siang masih berada di pelukannya.Ia menatap pantulan dirinya di dinding lift yang mengilap.Perlahan sudut bibirnya terangkat.Senyum kecil.Namun air mata mulai mengalir tanpa bisa ditahan."Aku benar-benar bodoh..."gumamnya lirih.Seharusnya ia tidak datang.Seharusnya ia tidak berharap Adrian akan senang menerima bekal yang dibuatnya.Bukankah mereka hanya suami istri karena kontrak?
"Jangan pernah ikut campur lagi dalam rumah tangga saya." Suara Adrian terdengar dingin dari balik sambungan telepon. Di seberang sana, Victoria hanya terkekeh pelan. "Rumah tangga?" ulangnya santai. "Adrian, kalian hanya menikah karena kontrak. Ibu hanya mengembalikan semuanya ke jalur yang seharusnya." Rahang Adrian mengeras. "Kontrak atau bukan, Clara tetap istri saya." Victoria terdiam beberapa detik. "Lalu sampai kapan kamu mau mempertahankan pernikahan itu? Satu tahun? Setelah itu dia tetap akan pergi." Kalimat itu membuat Adrian terdiam. Ia tahu. Itulah isi kontrak yang ia buat sendiri. Namun entah sejak kapan, ia tidak pernah lagi menginginkan kontrak itu berakhir. "Saya akan mengurus rumah tangga saya sendiri." "Tidak perlu Ibu ikut campur." Tanpa menunggu jawaban, Adrian langsung memutus sambungan telepon. Tut. Ia melempar ponselnya ke atas meja dengan kesal. Beberapa detik kemudian, ia mengusap wajahnya kasar. "Pak..." Sekretarisnya kembali bersuara hati
Sinar matahari pagi menembus celah tirai kamar, menyinari ruangan yang sejak semalam dipenuhi keheningan.Clara masih terduduk di atas ranjang.Tatapannya kosong mengarah ke dinding.Semalaman ia hampir tidak memejamkan mata.Perkataan dokter.Sikap Adrian.Semuanya terus berputar di dalam kepalanya.Perlahan ia menoleh ke arah jam digital di atas nakas.08.00."Sudah pagi..."Clara mengusap wajahnya pelan.Ia mengira semua orang masih berada di bawah.Dengan langkah pelan, ia turun dari ranjang dan berniat keluar kamar untuk sarapan.Namun baru saja tangannya menyentuh gagang pintu...Tok... tok..."Permisi, Nyonya."Seorang pelayan mendorong troli makanan masuk ke dalam kamar.Di atasnya tersaji sarapan hangat lengkap dengan teh dan buah potong.Clara tampak bingung."Untukku?"Pelayan itu mengangguk sambil tersenyum sopan."Ya, Nyonya.""Nyonya Clara, Tuan Adrian sudah berangkat ke kantor sejak pagi."Clara terdiam.Pelayan itu melanjutkan,"Dan Nyonya Besar juga sedang pergi kelua
Sambungan adegannya bisa dibuat seperti ini:Pintu kamar perlahan terbuka.Klik.Clara yang masih terduduk di atas ranjang spontan mengangkat kepalanya.Adrian berdiri di ambang pintu.Raut wajah pria itu sulit dibaca.Tidak marah.Namun juga tidak setenang biasanya.Tatapannya lurus mengarah kepada Clara.Pelayan yang berjaga segera menundukkan kepala."Tuan.""Kalian keluar.""Baik, Tuan."Tak lama kemudian, kamar itu hanya menyisakan mereka berdua.Keheningan terasa begitu menyesakkan.Adrian melangkah perlahan mendekati ranjang.Ia berhenti tepat beberapa langkah di depan Clara."Seharusnya kamu sudah tahu kabar itu, Clara."Suaranya pelan.Namun terdengar sangat berat.Clara menundukkan kepala.Jemarinya saling menggenggam erat di atas selimut."A-Adrian... tunggu."Ia mengangkat wajah dengan mata yang dipenuhi kebingungan."Ini tidak seperti yang kamu pikir."Tatapan Adrian berubah."Lalu seperti apa?"Suara itu tetap tenang, tetapi menyimpan begitu banyak pertanyaan.Clara memb
Suara langkah kaki Adrian menggema di sepanjang koridor mansion.Napasnya masih memburu setelah bergegas pulang dari kantor.Begitu tiba di depan kamar, ia langsung melihat dokter keluarga, beberapa pelayan, dan Victoria berdiri di luar dengan wajah yang sulit diartikan."Dokter."Suara Adrian terdengar tegang."Ada apa dengan Clara?"Dokter itu menoleh lalu mengangguk hormat."Tuan Adrian, kondisi Nyonya Clara sudah mulai stabil."Adrian mengembuskan napas lega."Syukurlah.""Namun..." Dokter berhenti sejenak."Ada kabar yang perlu saya sampaikan."Adrian mengernyit."Apa itu?"Dokter tersenyum tipis."Selamat, Tuan.""Nyonya Clara kemungkinan besar sedang hamil."Deg!Adrian membeku.Matanya membelalak."H-hamil?"Dokter mengangguk pelan."Hasil pemeriksaan awal mengarah ke sana. Besok kami perlu melakukan pemeriksaan lanjutan untuk memastikan usia kehamilan dan kondisi janinnya."Namun Adrian seolah tidak lagi mendengar penjelasan dokter.Pikirannya mendadak kosong.Hamil...?Anak
"Pernikahan ini tidak boleh terjadi! Adrian dengarkan Ibu! Dia bukan wanita baik, kamu harus menikah dengan orang yang setara dengan kita!" teriak Victoria histeris. Suasana di dalam gedung yang tadinya tenang dan khidmat seketika pecah menjadi kekacauan. Suara teriakan Victoria menggema, memantul
Suasana lobi penthouse mendadak sunyi setelah kepergian Nyonya Victoria. Pelayan telah membereskan sisa-sisa perjamuan yang tegang itu. Clara berdiri mematung di dekat tangga, merasa energinya habis terkuras hanya untuk menghadapi calon ibu mertuanya itu. "Kemasi barang-barangmu se
Lampu kristal di atas meja makan panjang itu memantulkan cahaya yang menyilaukan, namun suasana di sekitarnya terasa lebih dingin daripada es di dalam gelas wine. Clara duduk di sisi kanan Adrian, sementara Victoria duduk di ujung meja. Pelayan mulai berdatangan, menyajikan hidangan pembuka berup
Clara merasakan kuku-kuku tajam Nyonya Victoria menekan kulit dagunya, namun alih-alih gemetar atau memalingkan wajah, ia justru menatap lurus ke dalam manik mata wanita di depannya. Rasa perih di pipinya akibat tamparan Sonya tadi justru membakar sisa-sisa ketakutan dalam dirinya. Dengan gerakan







